Sakura's Petals

Sakura's Petals
Pencarian



DI ISTANA


Putra Mahkota menatap pohon sakura yang berada tepat di sebelah gedung istana, yang dulu merupakan kediaman Ibunya saat masih menjadi putri mahkota. Jika Hwa Ryong menjadi putri mahkota, tentu ia akan tinggal di sini, pikirnya.


Ia sedang mengikuti kupu-kupu yang terbang di dekatnya, ketika kemudian terlihat olehnya seorang pria berpakaian menteri sedang berbincang dengan bawahannya.


“Itu...”


Kasim Hyun menengok sebentar, lalu menjawab. “Itu Menteri Pertahanan, Shim Ho Dong, Yang Mulia.”


“Menteri Pertahanan?”


Putra Mahkota berjalan menjauh, sebelum kemudian berhenti setelah ia mendengar nama Hwa Ryong keluar dari mulut Tuan Shim.


“Kau sudah menemukan Hwa Ryong?”


Bawahannya dengan sedikit ketakutan, menggeleng. “Pasar, motel, rumah makan, bahkan tempat gisaeng pun sudah kami datangi, tapi tampaknya Nona tidak pergi ke satupun tempat itu, Tuan.”


Tuan Shim mendesah keras. “Cari lagi di tempat lain, tapi tetap awasi tempat-tempat itu.”


Bawahannya mengangguk, lalu melenggang pergi. Tuan Shim hendak berjalan pergi, tapi ia dikejutkan oleh Putra Mahkota yang sedang berjalan ke arahnya.


“Jeoha!” Tuan Shim menunduk hormat.


Putra Mahkota dengan hati-hati bertanya. “Hwa Ryong. Siapa itu?”


Tuan Shim ragu menjawab pertanyaan Putra Mahkota, namun ia tahu bahwa akan percuma berbohong, apalagi ketika Putra Mahkota sudah mendengar pembicaraannya sejak tadi. “Shim Hwa Ryong, dia adalah putri hamba, Jeoha.”


Putra Mahkota menelan ludahnya. “Apa ada yang terjadi padanya?”


“Ah, itu. Putri saya kabur dari rumah dan sampai saat ini belum kembali, Yang Mulia.”


Jantung Putra Mahkota serasa melompat saat ini. “Kabur? Apa ia akan baik-baik saja?”


“Saya akan segera menemukannya, jadi ia pasti akan baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkannya, Jeoha. Kalau begitu, saya permisi dulu, Yang Mulia.”


Tuan Shim pun melewati rombongan Putra Mahkota. Matanya tanpa sengaja menangkap tahi lalat di leher Kasim Hyun. Tahi lalat besar di leher seperti yang dideskripsikan oleh Seol. Matanya terbelalak. Tidak, ini tidak mungkin, pikirnya. Ia pun berlalu dengan kebingungan.


Muka Putra Mahkota pucat pasi. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”


Kasim Hyun mendekat. “Apa Yang Mulia baik-baik saja?”


Tak menghiraukan pertanyaan kasimnya, Putra Mahkota melenggang pergi menuju Balai Istana. Dengan cara apapun, ia telah bertekad untuk bisa keluar dari istana untuk menemukan Hwa Ryong, kekasihnya.


DI BALAI UTAMA ISTANA KEDIAMAN RAJA


“Inspeksi mendadak?”


Putra Mahkota yang sedang duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya, mengangguk. “Benar, Ahbamama. Ada kabar bahwa pedagang ilegal dari Cina datang hari ini. Saya ingin mengecek secara langsung masalah ini, Ayahanda.”


Ratu menggeleng. “Tidak, kau tidak boleh keluar istana. Ibu tidak akan mengijinkan.”


“Uhmamama.”


“Kau akan kabur lagi, kan, seperti dulu? Ibu tidak akan mengijinkanmu melakukannya lagi.”


Putra Mahkota mendesah. “Uhmamama. Bagaimanapun juga saya adalah Putra Mahkota, saya harus mulai belajar untuk mengemban tanggung jawab seperti ini. Salah satunya dengan melakukan inspeksi yang jelas Ahbamama tidak bisa melakukannya seperti dulu. Seja berharap Uhmamama dapat mengerti.”


Ratu menyergah. “Jeonha!”


Raja mendesah. “Aku tidak akan hidup selamanya. Sudah waktunya, Putra Mahkota melakukan hal-hal seperti ini mulai dari sekarang.”


Ratu terdiam. Perasaannya sungguh tak rela namun tak dapat dipungkiri, pernyataan Putra Mahkota adalah benar adanya. Putra Mahkota telah dewasa dan tidak mungkin berdiam di istana semata. Untuk menjadi raja yang berwawasan luas dan bijaksana, ia harus melihat rakyatnya.


“Terima kasih, Ahbamama, Uhmamama.”


DI PASAR


“Yunti, apa yang sedang kau lakukan di sini?”


Yunti turun dari kudanya. Sambil menarik tali kekang kudanya, ia menghampiri Hwa Ryong. “Bukankah seharusnya pertanyaan itu kuajukan padamu?” balasnya, geli. Sungguh suatu kebetulan yang aneh Hwa Ryong berada di luar kediamannya, pikirnya.


“Apa yang kau lakukan di sini? Kudengar kau sedang dikurung dalam rumah. Lantas, kenapa kau bisa keluar? Jangan bilang... kau kabur?”


Tiba-tiba terdengar suara derap langkah orang banyak, samar-samar juga terdengar suara mereka sedang memanggil orang. “Agassi! Agassi! Anda harus segera pulang. Agassi!”


Hwa Ryong menyeret Yunti pergi. Setelah sampai di suatu tempat yang agak sepi, Hwa Ryong pun menjelaskan semuanya. Pertemuan pertamanya dengan Putra Mahkota yang dikenalnya sebagai Yoon Oppa. Cinta yang ia rasakan pada Putra Mahkota. Dan keinginannya untuk pergi bersamanya. Pangeran Yunti hanya bisa menelan ludahnya, kasar dengan mata terbelalak.


“Kau mencintai pria itu?” tanyanya, pelan walau dalam hati ia sungguh marah.


Hwa Ryong mengangguk, penuh keyakinan. “Aku tahu bahwa kau juga tidak menginginkan pernikahan ini, bukan? Kita adalah sahabat sejak masih kecil dan aku tahu persis wanita seperti apa yang kau suka. Dan jelas, bukanlah aku. Jadi, bagaimana? Kau mau membantuku? Dengan membantuku, kau takkan punya kewajiban untuk menikahiku.”


Muka Yunti memerah, marah. Ia menarik nafas panjang, mencoba menahan segala emosi yang bergejolak dari dalam hatinya. Jika ia marah di depan Hwa Ryong dan menumpahkan seluruh isi perasaannya sekarang, keadaan akan menjadi semakin buruk dan ia tak ingin Hwa Ryong menghilang dari hadapannya lagi. “Baiklah. Kalau begitu, ikut aku. Bersembunyi di pasar bukanlah ide yang bagus. Mereka berkeliaran di mana-mana dan peluangmu untuk ditangkap sangat besar.”


Hwa Ryong mengangguk. “Benar juga.”


“Untuk sementara ini, bersembunyilah di kediamanku.”


Hwa Ryong tersenyum. “Terima kasih, Yunti.” Setelah Yunti naik di kudanya, ia menarik Hwa Ryong naik juga. Mereka pun naik kuda bersama di tengah malam.


DI SAAT YANG SAMA DI BAGIAN PASAR YANG LAIN


“Kalian semua sudah mendapat sketsa wajahnya?”


Para prajurit menjawab serempak. “Iya, Jeoha.”


“Cari gadis itu sampai ketemu. Begitu kalian menemukannya, segera bawa dia ke hadapanku. Ingat, perlakukan dia dengan baik seolah dia adalah aku. Apa kalian mengerti?”


Para prajurit berlutut. “Kami mengerti, Jeoha.”


Putra Mahkota menatap lembar sketsa wajah Hwa Ryong sendu. “Kau di mana, Hwa Ryong-ah?”


_____________________________________________


" Kamu adalah matahari, bulan, dan bintangku. "


- NN


Gambaran Pakaian Hwa Ryong :