Sakura's Petals

Sakura's Petals
Selir Baru



Kabar bahwa dayang calon selir baru akan dilantik, menyeruak cepat di istana sehari setelahnya. Hwa Ryong yang saat itu sedang bersiap untuk bertemu dengan Putra Mahkota, mendengar itu dari dayang yang secara tidak sengaja berbincang di sekitarnya. Chima merah dan dangui kuning kesukaannya yang ia sengaja pakai hari itu seketika kehilangan citranya. Suasana hatinya seketika memburuk.


“Yang Mulia tidak apa-apa?” tanya Kepala Dayang Noh, yang tahu benar suasana hati tuannya.


Hwa Ryong mengangguk. “Ya, mari kita pergi.”


Sepanjang perjalanan menuju Balai Istana Timur, tempat kediaman Putra Mahkota, Hwa Ryong hanya bisa berjalan sambil menunduk. Ia memegang dadanya yang serasa sesak. Di tengah jalan, tanpa ia sadari, seseorang telah berdiri di hadapannya, membuat Hwa Ryong tanpa bisa dihindari menabrak orang itu.


“Apa yang sedang kau pikirkan, Hwa Ryong?”


Hwa Ryong segera salah tingkah ketika tahu bahwa orang yang ditabraknya adalah Putra Mahkota. “Ah, Yang Mulia! Maafkan aku. Anda tidak apa-apa?”


“Bagaimana jika ternyata yang ada di hadapanmu ini danau? Kau bisa terjatuh ke parit danau dan tenggelam.” ucap Putra Mahkota, khawatir.


Hwa Ryong memutuskan untuk mengubur rasa sedihnya saat melihat muka suami yang ia cintai terlihat khawatir. “Tapi aku tahu benar bahwa kau akan menyelamatkanku, jadi aku tidak takut apapun.”


Putra Mahkota meraih tangan Hwa Ryong dan memegangnya erat. “Kau ini memang pandai berkata-kata. Tapi, tolong dengarkan suamimu ini. Kau harus lebih hati-hati, kau mengerti?”


Tawa geli menyeruak dari sela bibir Hwa Ryong. “Baik, suamiku yang kusayang.”


Putra Mahkota seketika tersipu malu dan menepuk kepala Hwa Ryong, sayang. “Kapan aku bisa menang darimu?”


Mereka terkekeh geli bersama. Putra Mahkota dan Putri Mahkota pun menghabiskan waktu bersama di taman istana. Sebelum kemudian, Putra Mahkota memutuskan untuk menghabiskan malam bersama Hwa Ryong. Di tengah kemesraan itu, rasa sedih Hwa Ryong seolah hilang tak bersisa. Digantikan dengan rasa bahagia yang begitu membuncah hingga rasanya hatinya bisa meledak kapan saja.


Keesokan paginya, urusan mendadak di Balai Utama memaksa Putra Mahkota untuk segera pergi, meninggalkan Hwa Ryong yang masih terlelap karena kelelahan tidur di kediamannya. Sekitar satu jam setelah Putra Mahkota beranjak, Kepala Dayang Noh segera berusaha membangunkan Putri Mahkota.


“Yang Mulia? Anda harus segera bersiap.”


Hwa Ryong mengusap matanya, lelah. “Baiklah.”


Ia pun dengan enggan bangkit dari tempat tidur dan segera dilayani untuk bersiap. Hwa Ryong sedang merapikan rambutnya ketika ada seorang dayang di luar ruangan berkata dengan keras kepada temannya. “Kasihan benar, Putri Mahkota kita. Belum lewat tiga hari dari hari malam pertama, Ratu sudah sibuk melantik calon selir untuk Putra Mahkota. Apa yang harus kita lakukan? Apakah Putri Mahkota akan kehilangan cinta dari Putra Mahkota nanti? Aku takut Putri Mahkota akan dilengserkan kalau selir baru berhasil merebut hati Putra Mahkota.” Hati Hwa Ryong serasa ditusuk seribu pisau saat mendengar itu. Hwa Ryong bukan sedih karena kedudukannya terancam. Ia lebih takut mendengar kemungkinan bahwa Putra Mahkota tidak lagi mencintainya. Bahkan pemikiran saja, sanggup membuat hatinya sakit luar biasa. Hwa Ryong tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika itu memang terjadi.


Kepala Dayang Noh yang juga ikut mendengar, segera melenggang keluar dan memarahi dayang-dayang itu. Tapi Hwa Ryong segera menyusulnya dan menghentikan Kepala Dayang Noh.


“Hentikan. Apa yang mereka katakan memang benar adanya. Tidak ada alasan untuk memarahi mereka.”


Kepala Dayang Noh hanya mendesah. “Tapi, Yang Mulia...”


Ucapannya membuat dayang yang mendengar itu berdecak kagum. Namun mereka tidak tahu bahwa di tiap kata yang diucap Hwa Ryong, hati Hwa Ryong seolah ditembus pecahan kaca. Kepala Dayang Noh pun segera melenggang pergi mengikuti tuannya yang sudah beranjak ke ruang ganti.


BALAI ISTANA


Sementara itu di Balai Istana, Putra Mahkota mendengar kabar mengenai selir baru untuknya untuk pertama kalinya.


“Apa, Uhmamama? Apa Uhmamama serius?”


Ratu mengangguk, walau jujur dalam hatinya, ia merasa ragu. “Iya, Seja. Mempunyai banyak selir akan baik untukmu. Keluarga mereka akan menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan dan itu berarti mereka bisa membantu menyelesaikan permasalahan negeri ini dengan apa yang mereka miliki.”


“Tapi...”


Raja ikut ambil bicara. “Jujur saja, aku kurang setuju mengenai pelantikan selir baru untuk Putra Mahkota, Ratu.”


“Saya mengerti kekhawatiran Yang Mulia untuk Putri Mahkota, Jeohna. Tapi urusan negara lebih penting dari apapun. Adalah tugas kita untuk memastikan rakyat kita bahagia. Dan salah satu caranya adalah mencari banyak dukungan kepada Keluarga Kerajaan, terutama kepada Putra Mahkota. Keluarga Eo adalah salah satu keluarga yang paling mampu dan layak untuk membantu Putra Mahkota.”


Raja terdiam, begitu pula Putra Mahkota. Putra Mahkota langsung teringat raut wajah sedih istrinya kemarin sore. Apakah mungkin ini sebabnya, tanyanya dalam hati.


“Ibunda akan memastikan bahwa calon selir baru yang diangkat adalah orang yang layak dan baik hati, Seja. Kau tahu benar bahwa Ibunda menyayangi Putri Mahkota seperti meyayangimu. Ibunda berjanji ibunda akan memantau penuh calon selir baru ini sehingga ia takkan pernah bisa menyakiti Putri Mahkota sedikitpun. Jadi kau tidak perlu khawatir, jika memang ini yang sekarang membuatmu khawatir.”


Putra Mahkota berada dalam perasaan dilema yang besar. Ia jelas sudah berjanji kepada Yunti untuk menjaga Hwa Ryong dengan baik. Namun, belum berselang tiga hari dari malam pertama mereka, masalah lain yang dapat merenggut kebahagiaan Hwa Ryong telah muncul. Putra Mahkota mendesah keras. Ia juga bukanlah sosok yang dapat mengesampingkan kepentingan negara. Keluarga Eo adalah keluarga yang terkenal kaya dan mampu untuk membiayai kekurangan dana yang dimiliki Keluarga Kerajaan.


Keputusan Ratu untuk mencarikan selir juga tidak salah sama sekali. Baginya, untuk menjadi Putra Mahkota, penerus Raja, ia diharuskan mencari dukungan sebanyak mungkin. Dan mendapat dukungan dari Keluarga Eo yang merupakan keluarga calon selirnya, bukanlah hal yang buruk sama sekali. Walau sebenarnya, Putra Mahkota tahu bahwa Keluarga Shim, keluarga Hwa Ryong juga sama kuat dan seterkenal Keluarga Eo. Putra Mahkota sebenarnya tidak seserakah itu untuk mendapatkan kekuasaan. Tapi mendapatkan dukungan dua keluarga berpengaruh sekaligus di tangannya adalah hal yang dapat menjamin kenaikan tahtanya di kemudian hari.


Ia menghela nafas dalam, sebelum menjawab, “Jika memang ini keinginan Uhmamama, biarlah itu terjadi untuk kepentingan negeri ini.”


____________________________________________


"Aku melihatmu sempurna dan aku jatuh cinta. Kemudian aku melihat dirimu tak sempurna dan semakin jatuh cinta karenanya. "


- NN


Pakaian Hwa Ryong sebagai Putri Mahkota :