
DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA
“Apa? Kau melihat pergerakan dari dalam kediaman Yunti?”
“Benar, Jeoha.” ucap Kasim Hyun. “Para pengawal Qing nampak kebingungan saat keluar dari rumah dan saat mereka kembali, mereka kembali bersama beberapa tabib.”
“Tabib?”
“Ya, Jeoha.”
“Entah kenapa, tiba-tiba perasaanku tidak enak. Apakah mungkin?”
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
“Lukanya cukup dalam dan ia kehilangan banyak darah. Tanpa tabib yang lebih ahli, kami rasa ia tidak akan bisa tertolong, Yang Mulia.”
“Apa maksudmu? Di mana aku bisa mendapatkan tabib yang lebih ahli?”
“Jujur saja, tak ada tabib yang lebih ahli dibanding tabib istana, Yang Mulia. Hanya istana yang sanggup menyembuhkan luka separah ini.”
Yunti mulai panik. “Lakukan saja yang terbaik yang bisa kau lakukan, kau mengerti?”
“Tapi, Yang Mulia, saya tidak bisa...”
Yunti telah melenggang pergi. Ia merasa pusing. Ia tidak mungkin membawa Hwa Ryong kembali ke istana, tapi ia tak lagi punya pilihan lain. Membawa Hwa Ryong ke Qing adalah sesuatu yang tidak mungkin, mengingat betapa jauhnya tempat itu. Istana Joseon adalah satu-satunya harapan agar Hwa Ryong kembali membuka matanya. Yunti pun serasa disadarkan. Ia baru sadar bahwa Hwa Ryong tidak hanya milik dirinya, namun Putra Mahkota, ayah dan ibunya, juga negara ini, Joseon. Membuat Hwa Ryong meninggalkan Joseon, meninggalkan tanah kelahiran dan orang tuanya, dan tinggal bersama dengan dirinya yang selama ini hanya dianggap sebagai teman, sama sekali bukan hal yang dilakukan orang yang mencintainya dengan sepenuh hati. Ia baru sadar bahwa ia begitu egois. Ia begitu memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak tahu betapa besar pengorbanan yang harus diberikan Hwa Ryong jika harus menikahi dirinya. Hwa Ryong akan hidup mendekam di istana Qing seperti mendekam di penjara. Hwa Ryong akan hidup bagaikan boneka tak bernyawa karena takkan lagi bisa mengecap kebahagiaan. Sesuatu yang baru ia sadari adalah hal yang mengerikan dan mampu membuat hatinya hancur. Mencintainya tidak selalu harus memiliki. Ia baru sadar kalimat itu saat melihat Hwa Ryong sekarat. Hal itu telah ditekankan Hwa Ryong ataupun Putra mahkota berkali-kali untuknya, tapi kecemburuan telah membutakan matanya. Betapa bodoh, tuli, dan butanya dirinya hingga tak pernah menyadarinya.
Dengan berat hati, ia pun mendesah. “Siapkan tandu untuk membawanya ke istana.”
Pengawalnya tampak kaget. “Tapi...”
“Cepat lakukan persiapannya!”
“Baik, Yang Mulia.”
DI BALAI ISTANA UTAMA
“Pangeran Yunti berada di luar, katamu?”
“Benar, Jeohna.”
Putra Mahkota langsung turun dari singgasananya dan berjalan keluar Balai Utama, disusul kemudian Ratu.
Putra Mahkota berjalan cepat menyusuri lorong istana dan dengan berlari ke arah gerbang istana. Begitu sampai, Yunti dan Putra Mahkota saling bertatapan.
“Apa yang membuatmu kemari?”
Yunti membuka pintu tandu, menampakkan Hwa Ryong yang tergolek lemas di dalamnya. Putra Mahkota terkejut setengah mati.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA
Hwa Ryong pun dirawat oleh tabib istana terbaik. Putra Mahkota dan Yunti menunggu di luar kamar dengan raut pucat. Tak terbayangkan bagaimana hidup mereka jika terjadi sesuatu pada Hwa Ryong.
Putra Mahkota menatap Yunti dengan tatapan membunuh. “Aku takkan membiarkanmu pergi setelah apa yang terjadi hari ini.”
Yunti menatap Putra Mahkota, pasrah. Ia sadar bahwa apa yang telah ia lakukan adalah salah. Tidak sepantasnya Hwa Ryong diculik dan diperlakukan seperti tahanan olehnya. “Kau bisa membunuhku jika itu bisa membuat hatimu lega.”
Mata Putra Mahkota membelalak kaget. Jawaban Yunti bukanlah sesuatu yang ia harapkan atau prediksi. Tatapannya yang nanar kepada Yunti sekarang berganti menjadi tatapan bingung. “Kau..”
“Sudah kuputuskan untuk tak lagi menyakiti Hwa Ryong. Sebagai sahabatnya selama sepuluh tahun, aku harus menghargai keputusannya dan berhenti memaksakan cintaku padanya.” Yunti tampak sedih saat mengucapkan isi hatinya. “Aku merasa sangat bersalah melihat kondisinya yang seperti ini. Ia bahkan sanggup berniat mengakhiri hidupnya untukmu. Sesuatu yang membuktikan bahwa aku takkan bisa merebut hatinya karena hatinya telah menjadi milikmu. Aku akan berusaha mencabut dekrit Ayahanda dan membatalkannya sehingga kalian bisa bersatu. Tapi ada satu hal yang kuinginkan darimu sebelum kemudian aku akan merelakan Hwa Ryong sepenuhnya kepadamu.” Yunti menoleh ke arah Putra Mahkota setelah sekian lama terus menunduk. “Berjanjilah bahwa kau akan menjaganya dan membuatnya bahagia.” ucapnya, tulus.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Putra Mahkota memandang Yunti terkesima. “Aku berjanji, walau untuk memenuhi janji itu aku harus mempertaruhkan nyawaku, aku akan tetap menjaganya.”
“Baguslah.” ucap Yunti. Ia pun berjalan menjauh dari Putra Mahkota. “Aku akan kembali ke Qing sekarang.”
Setelah Yunti tak lagi terlihat, Putra Mahkota memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Putri Mahkota. Tabib telah merawat luka Hwa Ryong dan sekarang sedang sibuk meracik obat di depan kamar.
Putra Mahkota bisa melihat raut pucat Hwa Ryong dari kejauhan. Hatinya bagai teriris seketika. Hwa Ryong rela mencoba mengakhiri hidupnya untuk dirinya. Ia juga mengingat betul pertemuan pertama mereka di mana Hwa Ryong memberanikan diri untuk menolongnya walau itu membuat kakinya robek dan kehilangan banyak darah. Ia juga ingat betul saat Hwa Ryong melemparkan tubuhnya untuk mencoba melindungi Putra Mahkota saat ada bandit yang datang. Hwa Ryong bahkan mencoba melindungi Ratu dengan tubuhnya sendiri. Hwa Ryong selalu terluka saat berada di sisinya. Seketika, rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya. Tiba-tiba, ia merasa bahwa sikap Yunti tidak selalu salah. Yunti pasti sedih melihat Hwa Ryong terluka di sisinya dan mencoba merebut Hwa Ryong darinya untuk melindungi Hwa Ryong. Tetesan air mata turun di pipinya, sesuatu yang jarang terjadi. Putra Mahkota hanya pernah menangis sekali. Itupun di pemakaman ibu kandungnya.
“Aku berjanji bahwa aku akan mencintaimu dan selalu membuatmu bahagia, Hwa Ryong. Jadi, kumohon bangunlah sehingga aku bisa segera mulai membahagiakanmu.”
Seolah Hwa Ryong bisa mendengar itu, mata Hwa Ryong terbuka perlahan. Hal yang pertama ia lihat adalah langit-langit kamarnya yang dihiasi dengan ukiran bunga sakura. Ini pasti istana, pikirnya lega.
“Hwa Ryong-ah!”
“O-oppa?” ucapnya, lemah sekaligus lega.
“Maafkan aku. Selama ini aku gagal menjadi suamimu. Aku gagal menjagamu. Aku gagal membahagiakanmu.”
Dengan tenaga yang masih lemah, Hwa Ryong mengusap air mata Putra Mahkota dan menghapusnya. “Jika Oppa ingin membahagiakanku, tolong jangan menangis di hadapanku seperti ini. Tiap air mata yang jatuh dari pipimu, seolah merebus hatiku, Oppa.” Putra Mahkota mencoba tersenyum yang kemudian dibalas senyuman pula oleh Hwa Ryong. “Maafkan aku juga, Oppa. Aku selalu membuatmu khawatir selama ini.”
Putra Mahkota mengetuk ujung hidung Hwa Ryong, gemas. “Kau ini memang nakal. Dalam sebulan saja, kau sudah dirawat empat kali oleh tabib, kau tahu itu? Lukamu yang dulu saja belum mengering.” Hwa Ryong terkekeh geli. “Luka yang kau dapat setelah menjadi Putri Mahkota jauh lebih banyak daripada yang didapatkan oleh jenderal. Aku curiga. Jangan-jangan kau ini jenderal, ya, di masa lalu?” Putra Mahkota berhasil menghibur Hwa Ryong. Senyuman tulus dan kekehan geli pun memenuhi ruangan itu.
___________________________________________
" Cinta bukan hanya sebuah perasaan saja, namun se buah komitmen, dan di atas segalanya sebuah pengorbanan. "
- picturequotes.com
Singgasana Kekaisaran Dinasti Qing