
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
“Agassi, makanlah sedikit. Raut muka Anda semakin lama semakin pucat. Jika Yang Mulia Pangeran melihat Anda seperti ini, dia pasti akan khawatir.”
Hwa Ryong menatap tajam pelayan itu. “Aku akan makan setelah menemui Pangeran Yunti. Karena itu, cepat panggil dia.”
“Pangeran Yunti sedang pergi saat ini, Nona. Begitu Yang Mulia pulang, kami akan langsung memintanya menemui Anda. Tapi Anda harus makan dulu, Nona.”
Hwa Ryong menggeleng, lalu membaringkan badannya ke kasur. “Kau bisa bawa makanannya pergi.”
“Agassi! Jika Anda begini terus, Anda bisa sakit.”
Hwa Ryong tidak menjawab lagi. Pelayan itu pun dengan berat hati akhirnya membawa nampan berisi makanan itu pergi. Air mata Hwa Ryong menetes lagi. Aku benar-benar harus pergi dari sini, pikirnya. Ia pun berpikir keras sembari berbaring.
MALAM HARINYA...
Yunti datang pada malam harinya, membawa sekitar dua puluh pengawal tambahan bersamanya. Ia membawa pengawal-pengawal itu untuk menjaga agar Hwa Ryong tidak kabur.
“Jagalah tempat ini. Jangan biarkan siapapun masuk atau gadis yang berada di kamar itu kabur. Apa kalian mengerti?”
“Ya, Yang Mulia Pangeran.”
Seorang pelayan pun menghampiri Yunti. “Yang Mulia!” panggilnya, lalu membungkuk hormat.
“Ada apa?”
Pelayan itu mendesah. “Nona tidak mau menyentuh makanannya seharian ini dan sekarang ia mengunci kamarnya dari dalam sehingga kami tidak bisa masuk, Yang Mulia. Kami juga mendengar suara kaca pecah di dalam. Kami takut jika terjadi sesuatu yang buruk terjadi, Yang Mulia.”
Yunti terbelalak. “Apa?” Ia segera lari ke kamar Hwa Ryong yang terletak di belakang gedung utama rumahnya.
Suara barang dibanting terdengar semakin keras saat Yunti melewati lorong menuju kamar Hwa Ryong. “Cepat bawa Pangeran Yunti ke sini! Apa kalian tidak mendengarku? Aku tidak akan membuka pintunya sampai kau membawa Pangeran Yunti padaku.”
Yunti mempercepat langkahnya. Pelayan-pelayan yang berada di depan kamar Hwa Ryong langsung membungkuk hormat begitu melihat Yunti. “Hwa Ryong-ah, buka pintunya. Kau memintaku datang, bukan? Sekarang, aku sudah berada di sini, jadi buka pintunya.”
Suara barang dibanting akhirnya berhenti. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu, tak lama kemudian pintunya pun terbuka. Hwa Ryong berdiri di depan Yunti. Mukanya begitu pucat, sementara tangannya tergores dengan darah masih menetes deras. Yunti langsung memeluknya, membuat Hwa Ryong terkesiap. Begitu juga pelayan-pelayan yang menjaganya. Pelayan-pelayan itu langsung berjalan menjauh dari kamar.
Hwa Ryong meronta dalam pelukan Yunti. “Apa sih yang kau lakukan?” Ia terlalu lemah untuk melawan Yunti sehingga usahanya tidak membuahkan hasil. Ia tetap berada dalam pelukan Yunti. “Lepaskan aku sekarang atau aku...”
Yunti tiba-tiba melepas pelukannya. Ia menatap tajam Hwa Ryong. “Atau apa? Membunuhku? Apa kau ini anak kecil? Tubuhmu sudah lemah sejak kecil. Tidak makan seharian, apa kau ingin sakit? Melepaskan pelukanku saja tidak bisa. Jangan keras kepala dan makan sekarang.”
“Maksudmu, mengurungmu?” Hwa Ryong langsung menatap tajam, mengiyakan. “Kulakukan ini untukmu, Hwa Ryong. Aku sedang berusaha untuk menyelamatkanmu juga pria yang kau cintai itu.”
“Apa maksudmu?”
“Apa kau pikir kau bisa begitu saja bebas dari hukuman jika kau melanggar janji pernikahan kita? Hanya tinggal beberapa saat lagi dekrit pemberian gelar fujin kepadamu akan tiba. Apa kau pikir menolak pemberian Kaisar Qing bisa membuatmu tetap hidup? Pria itu juga akan dihukum berat, sama sepertimu. Apa kau menginginkannya?”
Muka Hwa Ryong memerah, marah. “Apa kau sedang mengancamku sekarang?”
“Bukan mengancammu, aku hanya berusaha mengingatkanmu.”
Hwa Ryong tiba-tiba merasa begitu lelah. Ia tidak pernah memikirkan konsekuensi yang akan ia hadapi jika mereka tertangkap. Apa yang dikatakan Yunti benar. Ia tidak bisa membuat Yoon Oppa terluka karena tindakannya. Apakah beginilah akhirnya? Cinta dan semua kebahagiaan yang selama ini ia mimpikan setelah bertemu dengan Yoon Oppa akhirnya hanya tetap menjadi mimpi. Air matanya menetes. Ia berbalik dan berjalan menuju kasurnya. “Tinggalkan aku. Aku ingin istirahat sekarang.”
Yunti menatap Hwa Ryong, pilu. “Apa kau tidak ingin mendengar alasan lainnya?” Hwa Ryong tetap berjalan menuju kasurnya. Yunti pun berjalan cepat ke arahnya, lalu memeluknya dari belakang.
“Lepas. Lepaskan aku.”
“Aku mencintaimu.”
Hati Hwa Ryong serasa dipukul dengan palu. “Kau pasti bercanda.”
“Aku mencintaimu dan ini bukan lelucon.”
Hwa Ryong begitu kaget. Cinta monyetnya di masa lalu akhirnya berbalas. Hwa Ryong tidak pernah bisa mengelak bahwa ia pernah sesaat mencintai Yunti. Tapi Yunti selama itu pula tak pernah membalas cintanya. Karena itulah, ia berusaha melupakan Yunti dan berada di sampingnya hanya sebagai teman. “Tapi...”
Yunti memeluk Hwa Ryong lebih erat. “Aku tahu aku dulu selalu mengabaikanmu. Saat itu aku memang belum menyadari perasaanku padamu. Tapi begitu kita bersama sebagai teman, aku mulai merasa ada sesuatu yang kurang. Dan akhirnya aku sadar bahwa aku mencintaimu lebih dari siapapun juga. Tapi ketika aku sadar, aku tahu bahwa kau telah kehilangan perasaanmu padaku. Karena itu, aku akan berusaha mengembalikannya lagi. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi. Aku akan membuatmu melupakan pria itu, aku berjanji. Jadi, jangan tinggalkan aku.”
“Benarkah?” tanya Hwa Ryong. Hwa Ryong akhirnya tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Ia pun limbung dan jatuh pingsan dalam pelukan Yunti. Samar-samar ia bisa mendengar suara Yunti memanggil namanya. “Hwa Ryong-ah! Hwa Ryong-ah! Apa ada orang di luar? Cepat panggil tabib!”
___________________________________________
" Aku tidak ingin orang lain mencuri hatimu, mencium bibirmu, atau berada dalam pelukanmu, karena itu semua adalah milikku. "
- NN
Gambaran Pakaian seorang Pangeran Dinasti Qing :