
Rombongan Raja dan Putra Mahkota pun tiba di kuil setelah dengan tergesa-gesa berangkat karena mendengar kabar Putri Mahkota terluka.
Putra Mahkota dengan satu loncatan besar, turun dari tandunya, tak sabar. Ia langsung menyerbu masuk ke salah satu ruang kuil yang di pintunya berjejer dayang-dayang, yang beberapa di antaranya adalah tabib.
Putra Mahkota mengabaikan protokol dan menyeruak masuk, tanpa memberi salam. Ratu hanya menoleh sebentar ke arah Putra Mahkota, sebelum kemudian fokus membantu Hwa Ryong berbaring.
“Jeoha!” panggil Hwa Ryong, ingin bangkit duduk lagi. Tapi, kemudian dihalangi oleh Ratu, yang kemudian membantunya berbaring lagi.
Nafas Putra Mahkota seketika tersengal, khawatir. Ia menjatuhkan diri di samping kasur Hwa Ryong yang kini berbaring. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Rombongan kami diserang oleh bandit di tengah perjalanan menuju kemari. Putri Mahkota melindungi ibumu ini. Jika saja Putri Mahkota tidak berlari menyelamatkan Ibu, Ibu mungkin takkan bisa selamat.”
Putra Mahkota meraih tangan Hwa Ryong, pelan. Yang kemudian disertai ringisan kesakitan Hwa Ryong karena tangan yang diraih adalah tangannya yang sedang terluka. Putra Mahkota langsung urung melakukannya dan hanya membelai tangannya pelan. “Apakah begitu sakit?”
“Tidak, Jeoha. Jeoha tidak perlu mengkhawatirkan saya.”
“Kenapa saat aku tidak berada di sisimu, selalu saja ada yang terjadi? Kau membuatku tidak bisa tenang saat meninggalkanmu, walaupun hanya sekejap saja.”
“Maafkan hamba, Yang Mulia.”
Ratu kemudian menyela. “Biarkan ia istirahat. Putri Mahkota kehilangan cukup banyak darah karena lukanya tadi. Kau bisa berbincang dengannya setelah ia sudah kembali pulih.”
Putra Mahkota pun meninggalkan ruangan dengan raut setengah keberatan, namun ia sempat melayangkan senyum menenangkan ke arah Hwa Ryong. Hwa Ryong membalas senyum Putra Mahkota, lemah.
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
“Dasar bodoh!” teriak Yunti, sambil melemparkan isi cangkir tehnya ke arah pengawal setianya.
“Maafkan kecerobohan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak mengira bahwa Yang Mulia Putri Mahkota akan melindungi Yang Mulia Ratu.”
“Ceroboh, katamu? Apa kau tahu dengan satu kata itu saja, bisa membunuhnya? Cepat pergi dari sini sebelum aku memenggal kepalamu.”
“Yang Mulia! Hamba mohon ampuni hamba.” kata pengawal itu sambil berlutut.
“Cepat pergi, kataku!”
ISTANA DALAM
Suasana istana dalam serasa begitu damai setelah insiden kecil tersebut. Ratu berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi mertua yang begitu perhatian dan baik terhadap menantunya, Putri Mahkota.
“Jadi, kau mengajar anak-anak yang terlantar di jalanan?”
Hwa Ryong mengangguk, pelan. “Benar, Yang Mulia.”
“Panggil saja aku Ibunda.” tegur Ratu, pelan. “Kau begitu berhati mulia hingga mau mengajari anak-anak jalanan. Jadi, kini tidak ada orang yang mengajari mereka menggantikanmu, Putri Mahkota?”
Hwa Ryong menggeleng. “Tidak ada, Ibunda.”
Ratu terlihat berpikir keras, lalu melayangkan senyum lebar. “Aku akan membiarkanmu pergi ke luar istana untuk bertemu mereka dan mengajar mereka. Kurasa, ini bisa jadi contoh yang baik untuk para bangsawan untuk mengabdi pada masyarakat.”
“Anda begitu mulia dan baik hati, Ibunda.”
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
Namun, badai mulai berhembus dari luar istana ketika Yunti menerima surat dari ayahnya.
Sebuah surat yang menyatakan bahwa Hwa Ryong adalah calon fujin, istri utama dari Yunti oleh Kaisar Qing. Sebuah emblem emas khas kerajaan Qing terpampang di bagian bawah perkamen. Yunti membaca surat itu seksama, tersenyum makin lebar setelah membaca tiap kata di dalamnya. Hwa Ryong kini telah menjadi miliknya, pikirnya. Tak ada seorang pun lagi yang bisa menghalanginya memiliki gadis yang telah menjadi cinta pertamanya belasan tahun yang lalu.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA
Di saat yang sama, Putra Mahkota berjalan memutar ke sana ke mari di dalam kediamannya. Suara langkah kaki mendekati kamar membuatnya menoleh seketika.
“Jeoha, ini Kasim Hyun.”
“Apa ada pergerakan dari Pangeran Yunti?”
“Ya, Yang Mulia. Saya melihat seorang kurir Kerajaan Qing memasuki kediaman Pangeran Yunti sekitar sejam yang lalu.”
“Yang kukhawatirkan akhirnya terjadi juga. Dia pasti takkan tinggal diam. Dan tak kusangka, ia begitu licik.”
“Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang, Yang Mulia?”
Putra Mahkota mengerutkan dahinya, berusaha berpikir keras. Sebelum kemudian, Dayang Han, kepala dayang Putra Mahkota mengumumkan kedatangan Putri Mahkota.
“Jeoha, Yang Mulia Putri Mahkota ingin menghadap.”
Putra Mahkota lantas menyuruh Kasim Hyun pergi. “Persilahkan ia masuk.”
Hwa Ryong pun memasuki ruangan. Dengan dangui ungu muda dan chima merah muda pemberian khusus Ratu padanya, ia melangkah masuk dengan anggun. Senyum memenuhi wajahnya. Sesuatu yang selalu berhasil menghapus segala beban di hati Putra Mahkota.
“Jeoha.” panggilnya, lembut.
Putra Mahkota balas tersenyum.
“Apa Oppa sedang sibuk?”
Putra Mahkota menggeleng. “Tidak.”
“Lantas, kenapa ada Kasim Hyun tadi?”
Putra Mahkota hampir saja tersedak. “Hmmm, tidak. Aku memanggilnya untuk menanyakan jadwal besok.”
“Benarkah?”
“Iya.” jawab Putra Mahkota, gugup. “Apa yang membuatmu kemari? Seharusnya, biarkan Oppa saja yang datang berkunjung ke kediamanmu.”
“Sebenarnya...” Hwa Ryong lantas bangkit berdiri. Ia mengeluarkan tali pengukur baju dari dalam danguinya. “Besok, Ibunda mengajakku membuat baju bersama. Dan aku ingin membuat baju untuk Oppa. Jadi, sekarang...” Hwa Ryong berjalan mendekat ke arah Putra Mahkota, lalu menarik berdiri Putra Mahkota.
Dengan gesit kemudian, Hwa Ryong mengambil ukuran tubuh Putra Mahkota. Hingga tiba saatnya, mengukur bagian dada Putra Mahkota, wajah Hwa Ryong mulai memerah, malu. Putra Mahkota tersenyum geli, lalu kemudian meraih Hwa Ryong dalam pelukannya.
“Apa yang membuat tersipu seperti itu? Bukankah seharusnya hal seperti ini biasa saja, apalagi mengingat status kita yang sudah menikah?”
Hwa Ryong makin tersipu. “Oppa.” tegurnya, sambil berusaha melepaskan diri.
“Berhentilah meronta. Biarkan kebahagiaan yang selama ini tak pernah kurasakan di istana memenuhi hatiku.”
Hwa Ryong mendongak, menatap wajah Putra Mahkota, bingung. “Maksud Oppa?”
“Kau ini memang lamban.” jawab Putra Mahkota, sambil terkekeh pelan. Kemudian, dengan lembut ia mencium ringan bibir Hwa Ryong. Hwa Ryong yang tidak sempat memejamkan mata, hanya bisa terbelalak kaget. Sedetik kemudian, Putra Mahkota telah melepaskan pelukannya dan kembali duduk di singgasananya, meninggalkan Hwa Ryong berdiri linglung sambil terus memegangi bibirnya.
“Apa aku harus melakukannya setiap hari agar kau terbiasa?”
Hwa Ryong tersadar dari lamunannya. “Ah, Oppa ini.” dengusnya, lalu melenggang pergi. Namun, kemudian kembali lagi, memberikan penghormatan singkat, lalu berbalik lagi ke arah pintu keluar.
Tingkah Hwa Ryong membuat Putra Mahkota tertawa geli, namun tak lama kemudian rautnya berubah khawatir. Ia teringat, bahwa sebentar lagi akan terjadi badai di istana.
_______________________________________________
" Berjalanlah bersamaku di kehidupan ini, dan aku akan memiliki segalanya yang kuperlukan untuk perjalanan hidupku. "
- Lifehacks.io
Gambaran Pakaian Hwa Ryong