
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
Suara barang pecah memenuhi ruangan. Yunti yang berjalan menuju ruangan hanya bisa mendesah.
“Hentikan, Hwa Ryong-ah.” ucapnya, begitu memasuki ruangan.
Hwa Ryong dengan muka sangat pucat tidak memedulikan Yunti, terus membanting barang-barang yang ada di dalam ruangan.
“Baiklah, aku akan membiarkanmu melampiaskan kemarahanmu, tapi kau harus makan. Sudah sejak malam itu, kau tidak makan sedikitpun. Tubuhmu begitu lemah, hingga bisa pingsan sewaktu-waktu. Kumohon, makanlah sedikit.”
“Makan, katamu? Jangankan makan, aku akan berhenti minum air jika kau tidak juga membiarkanku ke istana.”
“Kumohon, menyerahlah. Oleh Kaisar Qing, kau telah dilantik menjadi fujinku alias istri utamaku.”
Hwa Ryong terdiam dan berhenti tiba-tiba. “Yunti-ah, apakah kau memang benar mencintaiku? Jika kau memang benar mencintaiku, kau tentu bisa melepaskanku. Kau tahu benar bahwa hatiku hanya milik Yoon Oppa.”
Yunti tiba-tiba naik pitam. Ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali dari Hwa Ryong sejak dua hari yang lalu. Dan ia sudah muak mendengarnya. Ia menarik tubuh Hwa Ryong, lalu menyendok makanan dari mangkuk yang sempat terjatuh dari meja dan mulai menyuapkan makanan ke mulut Hwa Ryong dengan paksa. Namun, Hwa Ryong tak mau kalah. Ia tetap menutup mulutnya.
Yunti semakin tak sabar. Ia kemudian menutup hidung Hwa Ryong. Karena kehabisan nafas, Hwa Ryong dengan pasrah membuka mulutnya. Saat itulah, Yunti mulai menyuapkan makanan ke arah mulut Hwa Ryong. Hwa Ryong berusaha meronta, membuatnya tersedak tiba-tiba. Raut kesal Yunti langsung berganti raut khawatir. Ia menepuk punggung Hwa Ryong pelan saat Hwa Ryong terbatuk-batuk hebat.
Usai batuknya reda, Hwa Ryong langsung berdiri dan bergerak menjauh dari Yunti. “Jangan pernah dekati aku lagi.”
“Maafkan aku. Tapi, kau sungguh harus makan, Hwa Ryong-ah.”
“Apa pedulimu jika aku tidak makan? Kau sendiri tidak pernah memikirkan kebahagiaanku. Kau egois dan hanya memikirkan dirimu sendiri.”
Yunti merasa tersudut. Ia menyerah mendekati Hwa Ryong, sama seperti dua malam sebelumnya. “Bawakan makanan lagi dari dapur dan jangan biarkan ia kabur.” ucapnya pada pelayan yang berjaga.
DI KEDIAMAN KELUARGA EO
“Apa masih tidak ada kabar mengenai Putri Mahkota?” tanya Mi Kyung pada pelayannya.
“Belum ada, Nona.”
“Bagus. Dengan begini, aku tidak perlu turun tangan menyingkirkannya. Aku sungguh ingin tahu orang seperti apa yang menculik Putri Mahkota hingga seberani itu melakukannya. Ia pasti sudah bosan hidup.” kekehnya, pelan.
“Hamba sempat mendengar desas-desus dari istana bahwa Pangeran Dinasti Qing ke empat belas yaitu Pangeran Yunti, yang menculik Putri Mahkota, Nona.”
“Pangeran Qing? Bagaimana bisa?”
“Menteri Shim dan Kaisar Qing bersahabat erat, melebihi hubungan Raja dan Kaisar. Menteri Shim pernah menyelamatkan nyawa Kaisar saat masih menjadi Pangeran. Oleh karena merasa berutang budi, Kaisar berjanji jika ia diangkat menjadi Kaisar, ia akan menikahkan anaknya laki-laki kepada anak perempuan Menteri Shim. Awalnya, Menteri Shim setuju dengan perjanjian tersebut. Menteri Shim tinggal di Qing selama sepuluh tahun sebagai utusan Joseon. Putri Mahkota dan Pangeran Yunti pun berteman sejak kecil. Namun, Menteri Shim kemudian menolak perjanjian itu karena ingin kembali ke Joseon saat mendengar bahwa Raja, sahabatnya yang lain dalam kesulitan saat terdapat banyak kemiskinan di daerah.”
Mi Kyung mendengus. “Jika saja, ia tetap diam di Beijing, aku tentu sudah memiliki Putra Mahkota.”
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
Tidak seperti hari lainnya, Hwa Ryong dipakaikan pakaian seorang fujin. Hatinya terasa tak enak. Tapi ia tak bisa melawan para pelayan Yunti yang memaksanya memakai pakaian itu. Setelah selesai berpakaian, Hwa Ryong ditinggal sendirian di dalam kamar. Sesaat kemudian, Yunti masuk ke dalam kamar.
“Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi aku tak lagi punya pilihan. Hanya dengan cara ini, aku bisa membuatmu menjadi milikku.”
“Apa maksudmu?”
Yunti merangsek maju. Ia melepas topi yang ia pakai, sebuah tindakan yang langsung membuat Hwa Ryong panik.
“Apa yang kau lakukan?” Di saat yang sama, tangan Yunti berpindah ke jubahnya, ia melepas pakaiannya satu persatu. “Yunti! Kau pasti sudah gila. Hentikan dan pakai pakaianmu lagi.”
Terlambat, kini Yunti hanya memakai jubah dalamnya saja. Yunti pun bergerak mendekati Hwa Ryong. Dengan paksaan, ia mencium bibir Hwa Ryong dan membuatnya tersudut di dinding. Hwa Ryong langsung meronta dan berteriak minta tolong. “Oppa, kumohon tolong aku. Yoon-Oppa!” Tanpa sengaja, tangan Hwa Ryong mencakar wajah Yunti. Yunti langsung gelap mata. Ia nampak begitu marah.
Dengan kasar, ia mendorong Hwa Ryong ke kasur hingga kepala Hwa Ryong terantuk meja yang ada di sebelah kasur. “Apa bedanya aku dengannya? Aku yakin cintaku sebanding dan tidak kalah dengannya. Lantas kenapa aku tidak bisa memilikimu? Betapa kejamnya kau, membuatku merasakan sakit hati dan rindu yang rasanya sakit seperti kematian setiap hari karena aku tidak bisa memilikimu!”
Hwa Ryong terdiam. Kepalanya terasa berdenyut sakit.
Air mata Yunti pun jatuh. “Betapa hina dan memalukannya diriku hingga seorang Pangeran sepertiku harus melakukan ini untuk bisa memilikimu, sementara ia tidak perlu berusaha apa-apa dan muncul begitu saja dalam hidupmu untuk merebutmu dariku yang telah menanti sekian lamanya.”
Yunti terisak. Hwa Ryong nampak kaget. Tiba-tiba ia merasa bersalah. Keheningan yang panjang pun terjadi dalam ruangan. Yunti berdiri sambil menangis, sementara Hwa Ryong duduk di kasur dan menunduk.
Tiba-tiba Hwa Ryong bangkit berdiri. “Kau benar. Aku begitu kejam padamu. Maafkan aku, Yunti-ah. Jika memang hal ini bisa membuatmu terhibur, aku bisa melakukannya.” Hwa Ryong melepas pakaiannya. Atasannya pun terlepas. “Tapi biarkan aku pergi setelahnya.”
“Apa?” Yunti berhenti menangis.
“Aku takkan kembali ke Yoon Oppa ataupun padamu untuk membuatnya adil. Aku sudah bersalah menyakiti kalian berdua. Aku telah seenaknya saja menuduhmu padahal aku sendirilah yang telah bersikap egois.” Hwa Ryong mulai bergerak melepas bagian luar roknya. “Aku akan menemui Tuhan untuk memintaNya memberkati kalian berdua setelah aku pergi.”
“Apa maksudmu? Kau akan...”
“Gadis yang bercita-cita untuk menemukan kebahagiaannya telah merampas kebahagiaan orang lain, tentu, ia tidak pantas hidup lagi.”
“Hwa Ryong-ah?”
Hwa Ryong mendekat ke arah Yunti. Ia memeluk Yunti erat. Yunti bisa merasakan sesuatu yang hangat merambat di bagian perutnya. Ia segera melepas pelukan Hwa Ryong dan langsung terkesiap. Sebuah pecahan vas menancap di perut Hwa Ryong.
“Hwa Ryong-ah! Apa yang telah kau lakukan? Kau sudah gila!” seru Yunti, saat melihat darah telah mengubah warna dalaman Hwa Ryong yang putih menjadi merah. Pecahan vas yang tertanam di tubuh Hwa Ryong pun meluncur jatuh ke lantai saat tubuh Hwa Ryong mulai limbung. “Apa ada orang di luar? Cepat panggilkan tabib!”
_____________________________________________
" Hanya dalam kegelapan, kamu dapat melihat bintang. "
- Marthin Luther King Jr
Gambaran Visual Hwa Ryong :