
Seisi istana gempar. Berita Putri Mahkota jatuh pingsan tersebar di seluruh bagian istana. Tak terkecuali, kediaman Ratu. Ratu yang begitu keras pada Hwa Ryong selama ini, ikut khawatir pada menantunya. Sejujurnya, ia sama sekali tidak membenci Hwa Ryong, malah menyukainya. Hanya saja, demi mempertahankan posisi keluarganya di deretan nama keluarga kerajaan, ia harus melakukannya.
“Bagaimana keadaan Putri Mahkota sekarang?”
Dayang kepercayaan Ratu, Dayang Kim, menggeleng. “Tidak seberapa baik, Mama. Kata tabib, tubuh Yang Mulia Putri Mahkota begitu lemah sekarang ini disebabkan kurang istirahat. Tabib sedang berusaha memberinya obat pembangkit tenaga, tapi tidak ada tanda-tanda beliau akan segera pulih.”
DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA
“Apa kalian sudah bosan hidup? Cepat, katakan apa yang sebenarnya terjadi! Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu.”
Putra Mahkota dengan wajah berangnya membuat Dayang Noh dan Kasim Hyun mengerut ketakutan.
“Jeoha! Ampuni kami. Tapi ini adalah urusan Istana Dalam dan kami tidak bisa seenaknya memberitahukannya pada Anda.”
“Aku adalah Putra Mahkota negeri ini! Apa ada hal yang tidak boleh kuketahui dari istriku sendiri? Cepat beritahukan segalanya padaku! Aku berjanji akan menjamin hidup kalian, jadi cepat katakan!”
Kasim Hyun dan Dayang Noh saling bertatapan satu sama lain. Dayang Noh akhirnya angkat bicara. “Sebenarnya...”
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
“Apa?”
“Ya, kami baru saja mendengar bahwa Putri Mahkota jatuh sakit, Yang Mulia.”
Yunti langsung beranjak dari kursinya. Pengawalnya segera bergerak, menghalangi. “Jangan menampakkan diri dulu, Yang Mulia. Jika keluarga kerajaan mengetahui bahwa Anda berada di sini. Anda tidak akan bisa bergerak secara leluasa di Joseon.”
Yunti mendengus kasar. Ia membanting seluruh barang yang ada di atas meja. “Yoon sialan! Apa saja sih yang ia lakukan hingga menyakiti Hwa Ryong? Aku takkan membiarkan ia menyakitinya lebih jauh lagi. Kita harus segera bergerak. Bagaimana dengan surat itu?”
“Sudah hampir tiba, Yang Mulia. Kita hanya perlu menunggu sebentar lagi.”
“Bagus.”
DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA
“Yang Mulia, Putra Mahkota ingin menghadap Anda.”
Ratu yang sedang dilanda rasa bersalah, terkesiap kaget. Kenapa Putra Mahkota berada di sini, pikirnya. “Persilahkan dia masuk.”
Belum selesai kata-kata Ratu, Putra Mahkota telah merangsek masuk.
“Seja?” panggil Ratu, kaget. “Apa yang...” kata-kata Ratu terhenti saat melihat ekspresi geram di wajah Putra Mahkota.
“Ibunda mungkin adalah wanita yang telah membesarkan dan melindungiku. Tapi ibunda tidak punya hak untuk melakukan hal seperti itu pada Putri Mahkota. Jika ibunda tidak menyukainya, limpahkanlah padaku dan jangan menyiksanya.”
Ratu bingung berkata-kata sejenak. “Menyiksanya? Ibu tidak melakukan apapun selain demi dirimu, Seja. Ibu ingin dia menjadi istri terbaik untukmu.”
Putra Mahkota mendesah. “Jika Ibunda melakukannya demi aku, seharusnya Ibunda memperlakukannya dengan baik, tidak meng-anak-tiri-kannya seperti itu.”
“Apa maksudmu?”
“Apa ini gara-gara sanak saudara Ibunda, Eo Mi Kyung? Gara-gara dia, Ibunda membenci Hwa Ryong, yang terpilih sebagai Putri Mahkota?”
“Tidak!” bantah Ratu.
“Ibunda mengajarkan padaku bahwa seorang keluarga kerajaan tidak boleh memihak oleh karena keuntungan pribadi. Kini, ke mana perginya kata-kata itu? Ibunda seharusnya ingat, bahwa membenci Putri Mahkota, berarti membenciku juga, yang merupakan suaminya!”
“Seja!”
Putra Mahkota pun melenggang keluar tanpa berpamitan dulu. Meninggalkan Ratu di singgasananya dengan raut bingung dan sedih.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA
“Apa yang terjadi?” tanya Hwa Ryong, lemah.
“Kau pingsan.”
Hwa Ryong terdiam sejenak lalu mendesah, ia berusaha bangkit dari kasurnya. “Aku harus memberi salam kepada Yang Mulia Raja dan Ratu.”
Putra Mahkota mendesah. “Kau tidak perlu melakukannya. Istirahatlah, jangan memperburuk kesehatanmu.”
“Tapi...”
“Seisi istana tahu bahwa kau jatuh sakit, jadi tidurlah dan jangan pikirkan apapun. Ayahanda maupun Ibunda pasti akan mengerti.”
Hwa Ryong bisa mendengar nada marah dari suara Putra Mahkota, karena itulah ia terdiam dan menurut. Ia berbaring lagi dan mulai memejamkan mata, tidur.
DI BALAI KEDIAMAN RATU
“Maafkan aku, Mi Kyung. Tapi aku tak bisa melakukannya lagi.”
Mi Kyung menatap Yang Mulia Ratu, bingung. “Tapi kenapa, Yang Mulia? Apa karena Putri Mahkota jatuh sakit?”
“Sebagian karena hal itu, sebagian karena ia dicintai oleh Seja. Aku tak bisa melukai Seja dengan melukai Putri Mahkota.”
Mi Kyung mendesah. Hatinya begitu sakit saat mendengar Hwa Ryong begitu dicintai Putra Mahkota dari mulut Ratu sendiri. “Lantas, Yang Mulia, akan meninggalkan klan Eo tanpa penerus di keluarga kerajaan?”
Ratu terdiam.
“Maafkan hamba, berbicara begitu lancang. Tetapi Yang Mulia adalah ratu tanpa penerus. Jika hamba tak bisa menjadi menantu kerajaan sebagai selir Putra Mahkota, klan Eo takkan lagi memiliki kedudukan di istana. Bagaimana bisa Yang Mulia melupakan jasa-jasa klan terhadap Yang Mulia?”
“Aku tahu. Tapi aku tak bisa berbuat banyak. Kau tahu jelas itu.”
“Apa hubungan Yang Mulia dengan Yang Mulia Putra Mahkota baik-baik saja saat ini?” tanya Mi Kyung, tiba-tiba.
Ratu terhenyak.
“Hamba yakin setelah kedatangan Putri Mahkota, hubungan Yang Mulia dengan Putra Mahkota memburuk, bukan? Tidakkah itu menunjukkan bahwa Putri Mahkota membawa pengaruh buruk? Hamba yakin Putri Mahkota membayar tabib untuk mengatakan ia sakit. Putri Mahkota telah merencakan semua ini agar Putra Mahkota membenci Yang Mulia.”
“Tapi...”
“Tapi, Putri Mahkota bukan gadis seperti itu? Bagaimana bisa Yang Mulia mengenal seseorang begitu mudahnya dalam beberapa waktu saja? Kita semua belum tahu persis seperti apa Putri Mahkota. Bisa saja ia serigala berbulu domba yang akan menerkam seisi istana tanpa kita sadari.”
Ratu berpikir keras. Ia cukup yakin bahwa Putri Mahkota adalah gadis yang polos dan jujur, berdasarkan pengalamannya dalam menilai dayang istana. Tetapi, kini ia mulai goyah. Perkataan Mi Kyung ada benarnya, pikirnya. Ia tak pernah bertengkar separah itu dengan Putra Mahkota sebelumnya, sebelum Putri Mahkota muncul.
“Baiklah. Aku akan terus bersikap dingin pada Putri Mahkota, tapi dengan satu syarat.” Ratu terdiam sejenak, lalu melanjutkan. “Ketika aku merasa sudah cukup, aku akan berhenti. Dan tak ada seorang pun atau alasan apapun untuk menghalangi keputusanku. Apa kau mengerti?”
“Ya, hamba mengerti, Yang Mulia.”
_______________________________________________
" Dunia tidak akan hancur karena orang yang berbuat jahat, tapi dunia akan hancur karena orang yang membiarkan orang lain berbuat jahat di depannya. "
- Albert Einstein
Gambaran Kediaman Hwa Ryong