Sakura's Petals

Sakura's Petals
Berangkat



DI KEDIAMAN KELUARGA SHIM


“Berhari-hari tidak ada kabar satupun tentang anak kita, apakah kau ini sama sekali tidak khawatir padanya? Ia bisa saja celaka atau terluka di luar sana sendirian. Apa kau ini benar ayahnya?” cerca Nyonya Shim begitu sampai di kamar suaminya. Ia berdiri dengan raut muka marah.


Tuan Shim mendesah. “Aku sudah mengirimkan seluruh pasukan pribadi kita untuk mencarinya. Cepat atau lambat kita akan menemukannya, aku janji. Jadi, duduklah dan jangan buat dirimu sakit.”


Nyonya Shim mendesah, lalu duduk di atas bantal duduk di depan kasur suaminya dengan kesal.


“Jika kau harus memilih, mana yang akan kau pilih? Joseon atau Dinasti Qing?”


Nyonya Shim menatap suaminya, tak percaya. “Apakah ini saat yang tepat untuk membahas masalah politik itu lagi denganku?”


“Jawab saja.” desak suaminya.


Nyonya Shim mendengus. “Joseon memang tanah air kita. Kita lahir dan dibesarkan di sini, tapi tak bisa dipungkiri tinggal di Joseon bagaikan tinggal di rumah yang lantainya dibangun di atas tanah curam dan berpasir yang sewaktu-waktu dapat rubuh. Sementara itu, Dinasti Qing bagaikan rumah yang dibangun di atas bebatuan. Kokoh dan sulit dirubuhkan. Jika aku harus memilih, aku akan memilih Dinasti Qing. Tapi apa maksud semua ini?”


“Ini tentang Hwa Ryong.”


“Hwa Ryong?” ulang Nyonya Shim, cemas.


“Kurasa akan terjadi perselisihan besar di Joseon dan kita harus siap dengannya. Aku bimbang antara setia pada negara ini atau mengkhianatinya. Aku merasa begitu bersalah dan mencoba menanyakan pendapatmu.”


“Jangan berbicara hal yang tak bisa kumengerti seperti ini. Tidak bisakah kau menjelaskan semuanya padaku? Aku ini ibunya dan aku berhak tahu.”


“Yang Mulia Pangeran Yunti mencintai anak kita, Hwa Ryong. Tapi Hwa Ryong mencintai Yang Mulia Putra Mahkota. Itulah yang sebenarnya terjadi.”


Nyonya Shim menatap suaminya, tak percaya lalu mendengus. Ia kemudian bangkit berdiri. “Cukup sudah! Kau pasti sudah gila mengarang cerita seperti ini. Jika kau memang tak lagi peduli pada anak kita, aku yang akan keluar mencarinya sendiri.”


Tuan Shim hanya bisa menatap istrinya pergi. Ia nampak begitu lelah, menghadapi semuanya. Takdirnya, takdir putrinya, begitu pula takdir Joseon dan takdir Dinasti Qing.


DI KEDIAMAN PRIBADI PUTRA MAHKOTA


Hari pemilihan putri mahkota pun tiba. Hwa Ryong berada di kamarnya di vila kerajaan. Dayang-dayang membantunya memakai pakaian. Jeogori kuning dan chima merah, pakaian wajib pemilihan Putri Mahkota membuatnya semakin cantik.


Putra Mahkota yang baru saja tiba di kamar Hwa Ryong hanya bisa terdiam, terpana. Baru ketika Hwa Ryong menoleh ke arahnya, ia berdehem dan tersenyum. “Kau sudah siap?”


Para dayang berangsek pergi meninggalkan ruangan. Putra Mahkota melangkah mendekat. Ia memperbaiki hiasan rambut di kepala Hwa Ryong, setelah itu menoleh ke arah sekitar, kemudian dengan ringan dan cepat, ia mencium kening Hwa Ryong.


Hwa Ryong terperangah. Ia memegangi dahinya, kaget sekaligus malu. “Oppa!” bisiknya, setengah berseru. “Sudah kubilang berhenti melakukan ini.”


Putra Mahkota tersenyum lebar. “Kau sebentar lagi akan jadi istriku yang sah. Jadi, apa salahnya melakukannya?”


Hwa Ryong mengerucutkan bibirnya. “Tapi, aku masih belum tentu memenangkan pemilihannya.”


Putra Mahkota melihat rasa ragu dari raut muka gadis yang ia cintai itu. Ia pun menangkupkan tangannya di muka Hwa Ryong. “Lakukan saja sebaik mungkin yang kau bisa. Aku yakin kau bisa meyakinkan orang istana bahwa tidak ada gadis yang dapat melawan gadis pilihanku untuk menjadi Putri Mahkota.”


Hwa Ryong akhirnya tersenyum. “Gadis pilihan?”


“Ah, aku belum mengatakannya hari ini, ya?”


Hwa Ryong tersenyum.


“Kau jahat, Oppa.”


“Bagaimana jika aku tidak terpilih nanti? Kau akan mengatakannya pada gadis lain, kalau begitu?” canda Hwa Ryong.


Putra Mahkota langsung menjawab. “Itu takkan terjadi. Pasti takkan terjadi karena kau adalah milikku dan aku adalah milikmu.”


Hwa Ryong tertawa geli. Hatinya terasa begitu bahagia hingga rasanya nyaris sulit untuk memercayainya. Cinta yang dulu ia pikir kekanak-kanakan menjadi sesuatu yang penting bagi dirinya sekarang. Entah apa yang akan terjadi, jika ternyata kegembiraannya berakhir sampai di sini. Namun, ia berusaha untuk tidak memikirkannya dan fokus menemukan jalan untuk memenangkan pemilihan.


DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI


Seseorang berpakaian pengawal berjalan melewati lorong dengan langkah tergesa-gesa. Begitu pelayan membukakan pintu, tampak Yunti sedang duduk di kasurnya.


Pengawal itu membungkuk. “Rombongan Putra Mahkota sudah berangkat dari vila kerajaan, Yang Mulia.”


“Kau sudah siapkan bandit-banditnya?”


Pengawal itu mengangguk.


“Ingat, culik Hwa Ryong diam-diam dan jangan sakiti dia ataupun Putra Mahkota. Ambil beberapa barang dari rombongan mereka seolah-olah mereka itu perampok. Apa kau mengerti?”


“Baik, Yang Mulia.”


“Pergilah sekarang.”


Pengawal itu pun undur diri dan mulai mengenakan topengnya.


DI PASAR


Sebuah gama mewah diturunkan di tempat yang sepi di pasar. Nyonya Shim membuka jendela dari dalam gama. Mukanya begitu pucat dan matanya tampak begitu merah, dikarenakan kurang tidur dan terlalu banyak menangis.


“Apa masih tidak ada tanda-tanda keberadaan Hwa Ryong?”


“Belum, Nyonya.” jawab pelayannya. “Bagaimana jika anda kembali saja dan beristirahat? Nyonya tidak tidur semalaman, Nyonya juga tidak menghabiskan sarapan Nyonya. Saya khawatir Nyonya akan sakit jika terus-terusan begini.”


“Sudah, jangan khawatirkan aku. Dan cepat temukan putriku.” desah Nyonya Shim. “Apa kau sudah menyiapkan selebarannya?”


“Ya, kami sudah menyiapkan sesuai permintaan Nyonya untuk menambah jumlah uang hadiahnya menjadi 50 nyang. Sekarang ini, para pengawal tengah menyebarkannya di pasar.”


“Baguslah.” desahnya, lega.


___________________________________________


" Takdir bukanlah hal yang telah ditentukan, takdir adalah sesuatu yang kita buat dan tentukan sendiri. "


- Sadhguru


Gambaran Pakaian Hwa Ryong saat berangkat :