Sakura's Petals

Sakura's Petals
Putri Mahkota



DI RUANG PEMILIHAN


“Coba kalian beri penjelasan mengenai peran Putri Mahkota. Dimulai dari Wol Hee.”


Kim Wol Hee langsung menjawab, “Putri Mahkota adalah wanita berkedudukan tertinggi di Joseon setelah Ratu dan Ibu Suri. Putri Mahkota juga adalah calon Ratu Joseon dan merupakan ibu dari calon Raja Joseon.”


Eo Mi Kyung menjawab, “Putri Mahkota adalah wanita berkedudukan luhur, berbudi pekerti, lembut namun tegas, cerdas, dan juga setia. Putri Mahkota membawa beban berat sebagai menantu kerajaan dan diharuskan menjadi teladan bagi seluruh wanita istana bersama Ratu. Ia juga harus mencintai rakyatnya.”


Hwa Ryong menghela nafasnya pelan, mencoba mencari jawaban yang lebih baik, namun tak kunjung menemukannya. Ia pun memutuskan untuk menjawab sesuka hatinya. “Putri Mahkota adalah istri Putra Mahkota.”


Yang Mulia Raja dan Ratu tersenyum, bingung. “Apa itu saja?”


Hwa Ryong tersenyum hormat. “Putri Mahkota memang seseorang yang berkedudukan penting, mempunyai tanggung jawab sebagai wanita istana, ataupun diharuskan memiliki kepribadian baik, tapi yang terpenting adalah Putri Mahkota harus sepenuhnya menjadi bayangan Putra Mahkota.”


Seluruh gadis lainnya menoleh ke arahnya. Hwa Ryong melanjutkan, “Sebelum menjadi wanita istana maupun wanita berkedudukan mulia, bukankah Putri Mahkota merupakan pasangan seumur hidup Putra Mahkota? Putri Mahkota harus menjadi orang yang paling mengerti Putra Mahkota, rela berkorban deminya, dan juga mencintainya dengan seluruh hati dan jiwanya. Walau apapun yang terjadi, Putri Mahkota akan setia bersamanya, menjadi pelindung jika diperlukan, dan menjadi penghibur bagi Putra Mahkota. Tugas-tugas Putri Mahkota sebenarnya adalah kewajibannya untuk melayani suaminya dan itu bukanlah karena kekuasaan ataupun keluhurannya. Tapi, karena Putri Mahkota sebagai istri, ingin membantu Putra Mahkota, suaminya.”


Yang Mulia Raja dan Ratu menatap Hwa Ryong, tak percaya. Yang Mulia Ratu sambil menelan ludah, menatap ke arah Eo Mi Kyung yang juga sedang terkejut. Yang Mulia Ratu yang diminta membantu keponakan jauhnya, menempati posisi Putri Mahkota, kini tak berkutik. Rencananya berakhir begitu Yang Mulia Raja bertepuk tangan untuk Hwa Ryong. “Kurasa aku telah menemukan menantu yang selama ini selalu kucari.”


DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA


Putra Mahkota sedang mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, ketika kemudian Kasim Hyun menyeruak masuk tanpa memberi salam.


“Jeoha! Jeoha!”


Putra Mahkota menatap Kasim Hyun, bingung. “Ada apa?” Raut wajahnya tiba-tiba berubah sedih. “Apa jangan-jangan Hwa Ryong tidak terpilih?”


Kasim Hyun menggeleng. “Nona Hwa Ryong, ia. Nona terpilih menjadi Putri Mahkota.”


Putra Mahkota terbelalak, lalu kemudian tersenyum lebar. Ia segera keluar dari ruangannya.


DI BALAI PENERIMAAN SELIR


“Agassi, silahkan diminum tehnya sebelum dingin.” ucap dayang istana, sambil menyuguhkan teh ke arah Mi Kyung.


Mi Kyung yang sedang duduk berhadapan dengan Wol Hee di gasebo istana, langsung meneguk cepat tehnya kesal. Sementara Wol Hee terus menerus berbicara.


“Hwa Ryong memang hebat. Ia cantik, cerdas, bertalenta, dan juga baik hati. Aku sama sekali tidak keberatan kalah darinya. Ia sepertinya, dilahirkan memang untuk mendapatkan posisi itu. Aku beruntung bisa bertemu dan mengenal wanita sehebat dia. Aku harap setelah hari ini, ia akan sering-sering memanggil kita berdua ke istana. Apalagi setelah kita tak lagi bisa menikah dengan orang lain dan hanya bisa menjadi selir Putra Mahkota. Bagaimana menurutmu, Mi Kyung?”


Mi Kyung terdiam. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kekecewaannya. Ia menuang sendiri teh ke gelasnya, lalu meneguknya lagi. Air mata hampir jatuh dari pipinya. Impiannya menjadi istri Putra Mahkota sirna sudah bersama kemenangan Hwa Ryong sebagai Putri Mahkota. Benar, jika bukan karena gadis itu, ia bisa mewujudkan impiannya. Benar, karena gadis sialan itu, pikirnya.


DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA


“Silahkan masuk, Yang Mulia.”


Hwa Ryong yang masih tidak terbiasa dengan sebutan itu, menelan ludah. Ia melihat ke sekitar. Sebuah ruangan yang luasnya tiga kali lebar kamarnya di rumah. Ruangan yang disekat tiga lapis pembatas ruangan itu dihiasi berbagai ornamen khas wanita yang begitu indah. Terdapat lukisan bunga sakura dengan bulan sebagai latarnya di belakang kasurnya. Ruangan yang dipenuhi warna merah muda itu terlihat begitu mewah dan cantik, membuat Hwa Ryong sejenak melupakan rasa rindunya pada rumah.


“Apa ada Yang Mulia tidak sukai? Kami akan segera memperbaikinya, jika ada yang membuat Anda tidak nyaman.”


“Tidak, aku menyukainya. Jadi kau tidak perlu repot.”


Dayang kepala itu mengangguk, senang. “Baik, Yang Mulia. Kalau begitu, saya akan memperkenalkan diri saya. Untuk sementara ini, saya Dayang Noh, akan menjadi pelayan pribadi Anda sampai Anda menyelesaikan prosesi pernikahan kerajaan dan diperkenankan memilih kepala dayang pribadi Anda sendiri.”


Hwa Ryong pun berganti pakaian dengan dangui berwarna putih dan chima berwarna merah muda polos yang terbuat dari sutera, pakaian terbagus yang pernah ia pakai. Setelah membantu Hwa Ryong berganti pakaian, para dayang pun meninggalkan Hwa Ryong sendirian di ruangannya. Hwa Ryong pun memuaskan diri melihat ke sekeliling.


Ia menyusuri tiap sudut kamarnya. Membuka laci-laci yang berisi perhiasan. Membaca beberapa buku yang ada di rak. Hingga masuk ke dalam ruang gantinya yang sangat besar, sebesar kamarnya dulu, berisi puluhan dangui berwarna-warni nan indah, chima dengan emblem emas dan perak, sepatu kulit, hingga perhiasan-perhiasan yang biasa dipakai oleh Putri Mahkota. Hwa Ryong tiba-tiba sadar bahwa ia kini adalah seorang Putri Mahkota. Ia takkan bisa bertemu dengan orang tuanya semudah dulu. Ia juga harus tinggal di istana selamanya. Ia harus menaati peraturan istana dan bahkan menjadi pedoman seluruh wanita istana. Ia juga harus menjadi menantu kerajaan yang perhatian kepada Yang Mulia Raja maupun Ratu. Dan tugas yang paling berat adalah melahirkan anak laki-laki sebagai penerus Putra Mahkota. Begitu banyak beban yang kini ia sadari berada di genggaman tangannya. Ia merasa sesak seketika.


Dengan gontai, ia berjalan kembali menuju kasurnya.


Begitu sampai, ia menjatuhkan diri duduk di kasur. Apa yang sudah kupikirkan, pikirnya. Hingga aku tidak berpikir bahwa menjadi istri Yoon Oppa sesulit ini? Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menghadapi semua ini? Ia menatap kamarnya yang kosong dan seketika merasa sedih. Andai ada Ibu di sini, pikirnya. Ia pun menangis dan menundukkan kepalanya ke meja.


Tiba-tiba ia merasa sedang dipeluk seseorang. Ia mendongak dan mendapati Putra Mahkota sedang tersenyum ke arahnya.


“Jeoha?” panggilnya.


Putra Mahkota langsung terlihat panik. “Ssst! Aku tidak seharusnya berada di sini. Jadi jangan berbicara terlalu keras.”


Hwa Ryong langsung mengangguk.


Putra Mahkota mengusap air mata Hwa Ryong yang tersisa. “Aku tahu semua ini akan berat bagimu. Aku juga tahu persis betapa menderitanya dirimu karenaku. Aku juga tidak bisa menjanjikan masa depan yang selalu indah di istana. Tapi aku janji aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Hwa Ryong tertegun, menatap Putra Mahkota lekat-lekat. “Kau bisa pegang janji itu. Jadi, jangan takut dan ingatlah bahwa akan ada aku di sisimu.”


Hwa Ryong pun memeluk Putra Mahkota erat. Mereka berpelukan sepanjang malam hingga kemudian Kasim Hyun datang dan menjemput Putra Mahkota.


______________________________________________


" Dan kemudian aku tahu bahwa inilah waktunya untuk memulai sesuatu yang baru dan percaya akan keajaiban-keajaiban yang akan terjadi. "


- NN


Gambaran Dangui Sementara Hwa Ryong :