
Tiga hari kemudian, mereka pun bertemu lagi. Mereka berjalan di pasar, membeli berbagai macam makanan. Demikian pula pertemuan-pertemuan mereka berikutnya. Menonton pertunjukan jalanan, melihat-lihat di toko baju, mengajar anak-anak asuh Hwa Ryong bersama-sama. Hingga waktu tiga minggu berlalu begitu saja.
Dan sebanyak jumlah pertemuan mereka, Hwa Ryong harus menerima hukuman dari ibunya. Sementara Putra Mahkota, pada pertemuan terakhir, Ratu secara kebetulan memergoki Putra Mahkota baru saja kembali dari luar istana. Ratu memandang Putra Mahkota kesal. Dengan langkah cepat, ia menghampiri anak tunggalnya.
DI KEDIAMAN KELUARGA SHIM
Di rumahnya, Hwa Ryong dihukum mengangkat ember berisi air di atas kepalanya sementara ibunya memukulnya dengan tongkat bambu tipis.
“Aigoo, sudah berapa kali Ibu mengingatkanmu untuk tidak keluar rumah. Apa kau tidak punya telinga? Untung saja, Pangeran Yunti sedang pergi ke luar kota dua minggu ini. Jika tidak, apa yang harus kukatakan padanya bahwa pengantinnya kabur dari rumah setiap tiga hari sekali? Apa yang akan dikatakan para tetua Kekaisaran Qing jika tahu kau bersikap seperti ini? Kau ingin membuat keluarga kita malu?”
“Maafkan aku, Bu.” ucap Hwa Ryong, tanpa raut menyesal, ia terlihat bahagia.
Nyonya Shim menyabet kakinya, kali ini dengan keras. Hwa Ryong mengaduh. “Apa kau sudah tidak menginginkan kakimu? Lukamu yang dulu saja belum sembuh, sekarang sudah harus ditambah lagi.”
Hwa Ryong mendesah. “Kalau begitu, jangan larang aku pergi sendirian, Bu.”
“Sendirian? Apa kau ingin orang-orang menertawai kita? Apa kata orang jika kau pergi tanpa pengawalan? Statusmu saat ini adalah calon fujin Kekaisaran Qing. Dan tinggal seminggu lagi sebelum Pangeran Yunti resmi bertunangan denganmu. Kalau kau memang mau pergi, kau harus membawa setidaknya lima pengawal juga. Lagipula, jika kau memang hanya ingin mengunjungi anak-anak itu, membawa pengawal tidak ada yang salah, kan? Atau apa kau sedang melakukan hal yang tidak-tidak sehingga tidak boleh seorangpun tahu.” Hwa Ryong mendesah. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya bagaimana Ibunya bisa menebak dengan sangat tepat. “Oh, ya, mengenai anak-anak itu. Untuk sementara, jangan temui mereka lagi. Ibu tidak ingin kau merusak citramu sebelum pertunangan nanti.”
Hwa Ryong meletakkan ember itu ke lantai. “Fujin! Fujin! Dan fujin lagi! Apa Ibu tidak bosan berusaha menjadikanku fujin? Apa sebenarnya yang ingin Ibu dapat dari itu? Harta? Kita sudah punya banyak uang sehingga Ibu bisa membayar dua puluh lima penjaga di luar hanya untuk menjagaku. Oh, jangan-jangan kekuasaan? Setahuku, nama Ayah cukup terkenal di istana. Ayah adalah Menteri Pertahanan dan punya hubungan baik dengan Kaisar Dinasti Qing. Pasti akan lebih baik lagi jika Ibu punya putri yang menjadi...”
Ibunya berdiri. Plak!!! Nyonya Shim menampar anaknya dengan mata berkaca-kaca. “Apa serendah itu kau berpikir tentang Ibumu sendiri? Apa selama ini kau tidak mengerti alasan di balik ini semua? Ini semua demi kau, Hwa Ryong.”
Hwa Ryong memegangi pipinya, sedih. Air matanya menetes. “Demi aku? Jika Ibu memang benar peduli padaku, seharusnya Ibu biarkan aku tidak bertunangan dengan Yunti. Biarkan aku menikah dengan seseorang yang memang kucintai.”
“Kau memang tidak tahu terima kasih! Seol, cepat bawa Hwa Ryong ke kamarnya.” Seol memasuki ruangan dan segera menarik nonanya keluar. “Dan jangan biarkan ia keluar kamar sampai aku mengizinkannya keluar. Jika sampai ia kabur lagi, kau nanti yang akan mendapat hukuman dariku, kau mengerti?”
“Ya, Nyonya.” Ia pun segera mengantarkan nonanya ke kamar.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA
Di istana, Ratu duduk berhadapan dengan Putra Mahkota. Ia menatap anaknya, kesal. “Ibu tidak akan membahas mengenai berapa kali kau keluar istana diam-diam. Ibu hanya ingin tahu alasannya. Jadi, cepat beritahu Ibu sebelum Ibu marah.”
Putra Mahkota terdiam seribu bahasa.
“Berapa lama lagi kau akan membuat Ibu menunggu? Cepat beritahukan alasannya, Seja!”
Putra Mahkota menunduk. “Maafkan aku, Uhmamama.”
“Iya.” jawab Putra Mahkota pasrah.
“Membawa masalah seperti ini sebelum hari pemilihan Putri Mahkota, kau benar-benar tidak bertanggung jawab, kau tahu? Ibu ingin kau menjaga sikapmu beberapa hari ini, jika memang kau masih ingin Ibumu punya muka di depan pejabat istana.”
Ratu pun melangkah keluar dari kamar dengan raut marah. Putra Mahkota hanya bisa mendesah, saat Ibunya melangkah melewatinya.
DI KAMAR HWA RYONG
Hwa Ryong menangis di kamarnya, dengan Seol di sisinya.
“Agassi, berhentilah menangis.”
Hwa Ryong menangis semakin kencang.
“Agassi! Apa karena lukanya? Sebentar, aku akan ambilkan obatnya di gudang.”
Seol pun pergi dari ruangan, meninggalkan Hwa Ryong sendirian. Tangisnya mereda, berganti dengan isakan. “Kali ini aku tidak bisa diam saja. Menikah dengan Yunti dan tinggal di Beijing, yang selama ini tak pernah kudatangi? Aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku harus pergi bersama Oppa saat kami bertemu tiga hari lagi.” Otaknya berputar keras. “Tapi, apa yang harus kulakukan dengan pengawal-pengawal itu?” Tiba-tiba ia mendapatkan ide.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA
Di istana, Putra Mahkota duduk di kasurnya sambil memegangi kepalanya. Kasim Hyun memandangi wajah Putra Mahkota khawatir.
“Apa Anda baik-baik saja, Yang Mulia?”
Putra Mahkota mengangkat mukanya sebentar, lalu mengangguk pelan. Ia begitu pening memikirkan jalan keluar dari istana agar bisa bertemu dengan Hwa Ryong tiga hari lagi. Jelas kali ini lebih sulit dari sebelumnya. Ia tidak lagi bisa meminjam lempengan pegawai istana dan keluar begitu saja tanpa ibunya tahu. Putra Mahkota mendesah. Andai saja aku sudah memberitahukan jati diriku yang sebenarnya pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, pasti tidak akan begini, pikirnya. Ah, tidak. Apa yang kupikirkan? Hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Bagaimana jika ternyata ia malah membenciku? Ia terlihat begitu tidak senang mengikuti pemilihan. Tapi apa benar dia akan membenciku karena aku adalah Putra Mahkota, setelah sekian lama kami berpergian bersama? Putra Mahkota tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya dan semakin merasa frustasi.
___________________________________________
" Aku adalah orang yang tetap mencintaimu meskipun engkau memberiku beribu alasan untuk tidak lagi mencintaimu. "
- NN
Gambaran Pakaian Hwa Ryong dan Putra Mahkota saat bertemu :