
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
Yunti duduk tegak di ruangannya. Matanya makin merah karena kurang tidur. Salah satu tangannya mengepal di atas meja, sementara yang lain menggenggam jepit rambut bunga berwarna merah yang ia berikan pada Hwa Ryong, yang tertinggal di gama sebelum Hwa Ryong dibawa pergi.
“Yang Mulia, ini saya. Pengawal Ma.”
“Masuklah!”
Pengawal Ma segera menunduk hormat. “Ada seorang pria di pasar yang melihat ada seorang gadis berpakaian bangsawan berjalan sendirian di lorong kota belum lama ini. Mendengar ciri-ciri yang ia berikan, saya cukup yakin bahwa gadis yang pria itu maksud adalah Nona Hwa Ryong, Yang Mulia. Apa yang sebaiknya kita lakukan?”
Yunti berdiri dari kasurnya. “Cepat siapkan kudaku. Aku yang akan mencarinya sendiri.”
“Baik, Yang Mulia.”
DI TENGAH GELAPNYA LORONG
Hwa Ryong berjalan dengan langkah gontai di tengah lorong pemukiman yang tidak ia kenal. Sesekali ia menemui beberapa orang mabuk tergeletak di jalan yang ia lewati. Dengan setengah ketakutan, ia melewati mereka.
Cuaca dini hari di musim gugur terasa begitu dingin di kulitnya. Ia sesekali menggosok-gosokan lengan bajunya dengan tangan. Bibirnya mulai gemetar karena kedinginan.
Tiba-tiba, kakinya terantuk batu dan ia pun terjatuh. Hwa Ryong berusaha berdiri setelahnya, tapi kakinya terkilir sehingga ia terjatuh lagi. Ia meringis. Ia memijat kakinya pelan, lalu sambil bersandar ke dinding di sebelahnya. Kemudian, dengan meringis kesakitan, ia mencoba berdiri lagi.
Tapi kemudian, ia merasakan bahunya ditepuk seseorang. Jantungnya serasa membeku sesaat. Baik Yunti atau Yoon Oppa, jika tertangkap mereka maka semua usahanya adalah sia-sia. Rencananya untuk melarikan diri dan bersembunyi akan gagal.
Tangan orang itu membuat badan Hwa Ryong berbalik ke arahnya. Hwa Ryong langsung terkesiap saat melihat orang itu. Yoon Oppa.
“Sudah kubilang untuk tidak kabur! Kau ini bodoh atau tidak punya telinga, aku sungguh tak mengerti.” ucap Putra Mahkota, keras.
Hwa Ryong langsung jatuh terduduk. Ia meringis dan memijat kakinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Berlari menjauh dengan kaki terkilir jelas mustahil. Entah apa yang bisa ia lakukan untuk kabur sekarang, ia sudah kehabisan rencana. Tapi ia tahu bahwa ia tak bisa menyerah begitu saja.
“Ada apa? Apa kakimu terkilir?”
Hwa Ryong menggeleng tegas. Ia berusaha berdiri. Putra Mahkota mengulurkan tangan untuk membantunya, tapi kemudian Hwa Ryong menampiknya, kasar. Hwa Ryong dengan terseok-seok dan di setiap langkahnya meringis kesakitan, ia berjalan meninggalkan Putra Mahkota di belakangnya.
“Hwa Ryong-ah! Kau mau pergi ke mana?”
Hwa Ryong tetap berjalan menjauh. Dengan langkah kaki kecil dan pelan, ia terus melangkah. Putra Mahkota tak tahan lagi dan segera menarik tangan Hwa Ryong untuk berhenti.
Hwa Ryong berbalik dan menoleh ke arah Putra Mahkota. “Biarkan aku pergi!”
Putra Mahkota mendesah. “Jika kau ingin pulang ke rumah orang tuamu sekarang, aku akan menyiapkan gama (tandu) untukmu sesegera mungkin. Jangan memaksakan diri seperti ini.”
Hwa Ryong melepas tangan Putra Mahkota dari tangannya, kemudian melanjutkan langkahnya lagi. Putra Mahkota langsung menghadang di depannya. Hwa Ryong pun mencoba melewatinya lewat samping. Tapi dihadang lagi oleh Putra Mahkota.
“Apa Oppa tidak dengar kata-kataku? Biarkan aku pergi.”
“Kau ingin ke mana dengan kaki terkilir begitu? Jangan membantahku lagi dan cepat ikut aku kembali dulu untuk mengobati kakimu.”
Hwa Ryong pun mendorong Putra Mahkota pergi. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini dengan setengah tergesa-gesa. Air matanya mulai mengalir. Dan dengan suara berdebum keras, ia terjatuh lagi ke tanah. Ia menunduk dan menangis.
Putra Mahkota segera berlari ke arahnya. Saat tahu Hwa Ryong sedang menangis, ia memeluk gadis yang ia cintai itu dengan erat. “Apa yang sebenarnya terjadi hingga kau keras kepala seperti ini?”
“Tenanglah dan ceritakan padaku satu persatu.”
“Aku berencana meninggalkanmu, tapi hatiku serasa pecah berkeping-keping walau hanya dengan memikirkannya. Dan aku hampir gila saat berusaha kabur darimu. Wajahmu, suaramu, bahkan pelukanmu, aku takkan sanggup kehilangannya. Karena itu, katakan padaku apa yang harus kulakukan.”
Putra Mahkota membelai wajah Hwa Ryong yang sembab, lembut. “Kalau begitu, jangan pergi dariku. Jika kau memang tidak sanggup meninggalkanku.”
Hwa Ryong menatap Putra Mahkota, sedih. “Tapi kau bisa mati jika aku tetap bersamamu.”
“Itu takkan pernah terjadi, aku janji. Jadi, tenanglah dan tetaplah di sisiku.” tegas Putra Mahkota.
“Tapi...”
“Aku tak tahu apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini, tapi aku berjanji takkan mati karena itu semua. Jadi, kumohon jangan pernah berpikir meninggalkan aku.”
“Yoon Oppa...”
“Aku mencintaimu dan ingin hidup bersamamu. Mati adalah sesuatu yang pasti terjadi, baik besok ataupun seratus tahun lagi. Kematian bukanlah hal yang kutakuti. Satu-satunya hal yang membuatku takut adalah kehilanganmu. Kehilanganmu... aku takkan sanggup lagi hidup. Jadi, tetaplah di sisiku. Jangan pergi dan aku akan tetap hidup.”
“Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan Oppa dalam bahaya.”
Putra Mahkota melayangkan ciumannya ke bibir Hwa Ryong. Hwa Ryong terbelalak kaget. Itu adalah ciuman pertamanya.
“Kau pikir dengan meninggalkanku, maka aku akan hidup? Kau salah. Aku bisa saja mengakhiri hidupku kapan saja. Karena bagiku, kaulah hidupku. Beradalah di sisiku, maka aku akan hidup, kau mengerti? Tak peduli siapapun yang mengincar leherku, aku akan berusaha tetap hidup dan bersama di dunia yang sama denganmu. Menghabiskan hari yang bahagia bersamamu, mempunyai anak denganmu, dan pada akhirnya meninggal bersama saat kita telah tua. Apa kau masih ingin mengakhiri semuanya dan juga hidupku dengan meninggalkanku sekarang?”
Hwa Ryong menatap Putra Mahkota, sendu. Ia membalas pelukan Putra Mahkota erat. Ia tidak pernah memikirkan semua perkataan Yoon Oppa sebelumnya. “Baiklah. Aku akan tetap di sisimu. Tapi, berjanjilah agar tetap hidup.”
Putra Mahkota tersenyum. “Tentu saja.”
Sementara itu, di balik semak, Yunti menatap seluruh kejadian itu dengan geram. Ia menggenggam erat pedangnya.
“Cari tahu siapa pria itu segera!” suruhnya pada Pengawal Ma dengan suara pelan namun penuh amarah.
DI KEDIAMAN KELUARGA SHIM
“Apa benar yang kudengar ini? Hwa Ryong berada di vila kerajaan pribadi milik Putra Mahkota?” ulang Tuan Yoon kaget.
“Iya, Tuan.” jawab pengawal di depannya. “Putra Mahkota secara resmi mengabarkan bahwa Nona berada di vila kerajaan. Dan ia meminta izin anda untuk membiarkan Nona tinggal di sana untuk beberapa waktu.”
Tuan Yoon memijat pelipisnya. “Apa yang harus kulakukan? Sudah terlambat untuk mencegahnya sekarang.” desahnya. "Di antara seluruh wanita di Joseon, kenapa harus anakku Hwa Ryong yang mengalaminya?"
__________________________________________
" Sungguh menakutkan mencintai sesuatu yang dapat mati kapan saja. "
- NN
Gambaran Pemakaian Hanbok untuk Pernikahan Masa Kini :