Sakura's Petals

Sakura's Petals
Lari



Dua hari kemudian...


“Kau sudah mendapatkan obatnya?”


Seol mengangguk dan memberikan bungkusan kecil berisi obat ke tangan Hwa Ryong. “Obat apa itu, sebenarnya, Nona?”


Hwa Ryong tersenyum. “Ini obat untuk menambah tenaga. Aku merasa bersalah pada penjaga-penjaga di luar yang selalu terkena amarah Ibu setiap aku pergi dari rumah. Karena itu, tolong campurkan obat ini ke dalam minuman mereka nanti malam.”


Seol tersenyum. “Baik, Nona.” Akhirnya, Nona sadar, pikirnya.


Begitu Seol keluar, Hwa Ryong segera berjalan menuju lemarinya. Ia menarik lacinya dan mengambil sebuah kantung berisi uang. Lalu, ia memasukkan kantung itu ke dalam tas di balik pembatas kamar yang berada di belakang kasurnya.


“Oppa, tunggu aku. Aku akan segera pergi bersamamu.” bisiknya, pelan. Lalu segera menyembunyikan tasnya lagi di balik pembatas kamar setelah mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah kamarnya.


Nyonya Shim terlihat berseri-seri saat melangkah masuk ke dalam kamar anaknya bersama dengan dua pelayan yang masing-masing membawa sebuah jeogori putih dan chima merah muda. “Bagaimana? Cantik, bukan?”


“Ibu, aku sudah punya banyak baju. Minggu ini saja, Ibu membelikanku tiga setel baju.”


Nyonya Shim duduk di samping anaknya. “Bukan begitu. Ini adalah pakaian khusus pada saat kau berangkat ke Beijing sebagai tunangan Pangeran Yunti nanti.”


Hwa Ryong menelan ludah. Aku harus bersikap patuh agar Ibu tidak curiga, ingatnya pada dirinya sendiri saat ia hampir saja ingin berdiri dan merobek baju itu.


Nyonya Shim menatap anaknya yang sedang melamun. “Bagaimana cantik, bukan? Penjahit istana dan penjahit biasa memang berbeda. Jahitan mereka begitu rapi dan detail.”


Nyonya Shim terus berbicara, sementara Hwa Ryong larut dalam pikirannya sendiri. Memikirkan apa yang akan ia lakukan pertama kali ketika ia berhasil kabur dari rumah. Memikirkan bagaimana perasaan Ibunya saat ia pergi nanti. Memikirkan bagaimana kehidupan yang akan menantinya nanti jika ia kabur dari rumah.


MALAM HARINYA


Hwa Ryong mengetuk-ngetukkan jarinya gelisah di meja. Akankah rencanaku berhasil, pikirnya.


Seol tiba-tiba masuk. “Ini makan malamnya, Nona.”


Hwa Ryong menikmati makan malamnya dalam diam. Seol menatap majikannya, heran. “Apa Nona baik-baik saja?”


Hwa Ryong meletakkan sumpitnya, lalu mendorong pelan nampan makanannya ke arah Seol. “Aku sudah kenyang, bawa makanannya pergi.”


Seol mendesah. “Apa terjadi sesuatu? Biasanya Nona akan menghabiskan kue pencuci mulut walau sudah kenyang.”


Hwa Ryong tersenyum kaku. Aku tidak bisa membiarkan ia tahu, pikirnya dalam hati. “Aku hanya sedang tidak enak badan. Kau boleh pergi, aku ingin pergi tidur sekarang.”


Seol menatap nonanya, khawatir. “Apa Nona ingin saya membawa tabib?”


Hwa Ryong menggeleng. “Tidak perlu. Aku hanya sedikit pusing. Biarkan aku tidur cepat malam ini dan aku pasti akan langsung sembuh. Oh, ya, obatnya sudah kau masukkan dalam minuman mereka, kan?”


Seol mengangguk. “Nona, tenang saja. Saya sudah memberikannya sebelum mengantarkan makan malam ini kepada anda.” Seol berdiri dengan tangan memegang nampan. “Saya pergi dulu, Nona.”


“Nona, apa yang sedang Nona lakukan di sini?” Sebuah suara mengagetkannya, membuatnya berdiri terpaku.


Hwa Ryong berpura-pura sedang ketakutan. “Itu... itu...”


Pengawal-pengawal itu mendekatinya, khawatir. “Nona baik-baik saja?”


“Itu... aku hendak tidur di kamarku, tapi ada suara aneh. Karena itu, aku pergi keluar mencari Seol. Tapi pengawal sudah terbaring di mana-mana dan aku takut... takut terjadi sesuatu pada Ayah dan Ibu.”


Pengawal yang berwajah bundar terkesiap. “Jangan-jangan ini...”


Pengawal satunya, yang bermata sipit, menatap ke arah Hwa Ryong. “Nona, tunggu di sini, ya? Kami akan memeriksa ke dalam. Jika ada orang yang berusaha masuk dari pintu ini, Nona harus berteriak, Nona mengerti?”


Hwa Ryong mengangguk. Pengawal-pengawal itu pun pergi tanpa merasa curiga sedikitpun. Hwa Ryong segera mengambil tasnya lagi, lalu melenggang keluar rumah dengan langkah ringan.


KEESOKAN PAGINYA


“Dasar tak berguna! Kenapa kalian baru memberitahuku sekarang?”


Tuan Shim terlihat berang, sementara Nyonya Shim duduk di tempatnya, terdiam tanpa kata dengan muka pucat pasi.


“Saat tahu bahwa Nona berhasil mengelabui kami, kami segera pergi keluar mencari, Tuan. Kami hanya tidak ingin membuat Anda khawatir. Karena itu, kami tidak memberitahu Tuan. Kami hanya...”


“Siapa sebenarnya kau sehingga kau berani mengambil keputusan seperti ini?!” Tuan Shim membanting buku yang sedang dibacanya tadi ke muka pengawal di depannya.


“Tolong ampuni kami, Tuan.” Kedua pengawal itu langsung bersujud di depan Tuan Shim.


Tuan Shim memijat keningnya, pusing. “Kirim seluruh pengawal pribadiku untuk mencarinya. Kalian berdua, kawal aku ke istana.”


Kedua pengawal itu mengangguk, hormat. “Baik, Tuan.”


Nyonya Shim menangis dalam diam.


___________________________________________


" Sangat menyakitkan untuk bernafas, karena pada setiap nafas yang kuambil membuktikan bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu. "


- NN


Gambaran Pakaian yang disiapkan ibunya untuk Hwa Ryong :