Sakura's Petals

Sakura's Petals
Pengkhianatan



DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI


“Wah, aku selalu dengar dari para pelayan rumah bahwa rumahmu sangat mewah. Tapi ini jelas lebih dari yang bisa kubayangkan. Rumahmu sudah seperti istana Joseon.”


Yunti tersenyum, kecil. Bibirnya masih terasa kaku untuk bisa tersenyum lepas, setelah tadi secara tidak langsung ditolak oleh Hwa Ryong. “Pakailah kamar ini untuk sementara. Istirahatlah, kau pasti sudah lelah mengembara seharian ini.”


Hwa Ryong tersenyum. Jantung Yunti dibuat berdebar karenanya. Ia pun sadar bahwa ia benar-benar tak bisa kehilangan Hwa Ryong. Ia bisa mati, jika kehilangannya. “Kau memang selalu mengerti aku.”


Yunti pun berbalik dan berjalan keluar. Sebelum pergi, ia berbisik pada pelayan kamar. “Kunci pintunya.” Pelayan itu mengangguk hormat. “Jangan biarkan siapapun masuk, kecuali ia telah mendapat ijin dariku.”


Hwa Ryong yang sedang menata bawaannya, terkejut saat mendengar suara kunci ditutup dari luar. Ia berdiri dan langsung mengecek pintu. Hatinya serasa ditikam saat mendapati pintunya telah dikunci. Apa-apaan ini, pikirnya. “Apa ada orang di luar? Ada orang di sini, jangan kunci pintunya! Kumohon!”


Yunti yang masih berjalan tak jauh dari situ, menoleh ke arah kamar Hwa Ryong. “Maafkan aku, Hwa Ryong-ah. Aku tak punya pilihan lain selain ini.”


Hwa Ryong jatuh terduduk di depan pintu. Kakinya terasa lemas, saat sadar bahwa ia telah ditipu. Ia duduk terdiam untuk waktu yang lama hingga matahari pagi pun tak terasa telah tiba. Terdengar suara kunci pintu dibuka, Hwa Ryong segera berdiri dan bersembunyi di balik pintu. “Agassi! Kami membawakan makanan.” panggil pelayan sambil masuk ke dalam kamar dengan nampan besar berisi makanan.


Hwa Ryong segera berlari keluar dari persembunyiannya menuju ke luar ruangan. Tapi alangkah kagetnya ia, ketika tak sampai dua meter ia melangkah di lorong, para pelayan wanita telah menangkapnya dan menyeretnya masuk lagi. “Lepaskan aku! Bawa Pangeran Yunti kemari. Bawa dia kemari sekarang! Lepaskan aku.”


Para pelayan itu seolah tak memiliki telinga, mereka tak menjawab satu kata pun dan menyeret Hwa Ryong duduk di kasur. Nampan berisi makanan diletakkan di depannya. Dan dengan penuh hormat, para pelayan itu mempersiapkan hidangannya. “Silahkan dinikmati, Agassi.” Dan seolah tidak terjadi apa-apa, mereka pun keluar dari ruangan dan mengunci kamarnya lagi. Hwa Ryong hanya bisa duduk di kasurnya, tak berdaya. Air mata yang telah ditahannya semalaman, akhirnya jatuh juga.


DI PASAR


Di sebuah kedai, Putra Mahkota meminum tehnya, cepat. Menuangkannya lagi dan lagi. Hingga Kasim Hyun menghentikannya. “Jangan minum terlalu cepat, Yang Mulia. Yang Mulia bisa tersedak.”


“Hatiku terasa terbakar, rasanya hingga terasa panas di sini.” Kedua tangannya ditepukkannya ke dada. “Apa yang harus kulakukan, Hyun?”


“Cepat atau lambat, para prajurit akan bisa menemukannya, Yang Mulia. Kumohon bersabarlah sedikit lagi, Yang Mulia.”


“Bersabar sedikit? Hatiku rasanya sudah mau meledak sekarang.” jawabnya, berang.


Tiba-tiba seorang jenderal datang mendekat dengan seorang pria berpakaian kumal di belakangnya.


“Lapor, Yang Mulia! Orang ini mengaku bahwa dia pernah melihat gadis yang ada di sketsa, Yang Mulia.”


Putra Mahkota tersenyum lega. “Benarkah itu?”


“Lalu, apa kau tahu ke mana dia pergi?”


“Maafkan hamba, Yang Mulia. Satu-satunya yang hamba tahu adalah dia pergi bersama dengan seorang pemuda menggunakan kuda. Pemuda itu terlihat begitu tergesa-gesa saat mengendarai kuda itu pergi. Saya saja hampir ditabraknya saat ia melintas.”


“Pemuda? Apa lagi? Apa lagi yang kau tahu? Coba ingat-ingat lagi.” desak Putra Mahkota, tak sabar.


Pria itu terdiam sejenak, terlihat berpikir keras sebelum kemudian menjawab. “Pakaian pria itu begitu mewah. Dan saya yakin bahwa ia bukan bangsawan biasa. Setidaknya, penampilannya seperti seorang menteri. Dan lagi kuda itu, saya yang pernah bekerja sebagai perawat kuda di rumah bangsawan, tahu persis bahwa kuda itu bukan kuda dari Joseon. Kuda itu terlihat begitu kokoh dan saya yakin bahwa itu adalah kuda dari Cina, Yang Mulia.”


“Cina?” ulang Putra Mahkota, kaget. Apa ini ada hubungannya dengan perdagangan ilegal Cina atau jangan-jangan... Kekaisaran Qing, pikirnya, kalut.


DI KEDIAMAN KELUARGA SHIM


Tuan Shim sedang duduk di teras depan, menatap lukisan yang pernah ia buat bersama Hwa Ryong saat Hwa Ryong masih berumur tujuh tahun, saat kemudian salah satu pengawal pribadinya dengan setengah berlari menuju ke arahnya. “Tuan! Anda harus melihat ini.”


Sebuah lembar bergambarkan sketsa wajah Hwa Ryong tercetak jelas di hadapannya. Mata Tuan Shim terbelalak seketika. “Apa yang terjadi sebenarnya?”


Sambil terengah-engah, pengawal itu menjelaskan. “Ketika kami sedang mencari Nona, ada seorang prajurit kota yang menempelkan kertas ini di papan pengumuman kota. Tidak hanya itu, prajurit-prajurit lainnya juga sedang membagikan selebaran ini ke seluruh tempat-tempat umum di kota.”


“Apa kau tahu siapa yang mengutus mereka?”


Pengawal itu terdiam sejenak. “Inilah yang membuat saya heran, Tuan. Saya dengar mereka diutus langsung oleh Putra Mahkota.”


Tuan Shim mendesah panjang. Hal yang ia khawatirkan akan terjadi akhirnya terjadi. Kemalangan dan tragedi pun dimulai dari sini.


_____________________________________________


" Hal tersedih dari suatu pengkhianatan adalah bahwa pengkhianatan tidak pernah datang dari seorang musuh, namun seorang teman. "


- NN


Gambaran Pakaian seorang Fujin :