
DI BALAI KEDIAMAN RAJA
Raja dan Ratu duduk dalam diam di Balai Istana. Sesekali Raja mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, cemas. “Kepala Kasim Noh!” panggil raja.
Seorang berpakaian kasim memasuki ruangan. “Ya, Yang Mulia.”
“Apa masih tidak ada kabar mengenai Putra Mahkota?”
“Hingga saat ini, belum, Yang Mulia.”
Ratu yang sejak tadi terdiam, meledak. Ia mulai terisak, tangannya mengelap air matanya dengan saputangan. “Apa saja yang pengawal lakukan di luar? Kenapa belum juga bisa menemukannya?”
Kasim itu langsung berlutut. “Maafkan hamba, Yang Mulia Ratu.”
“Bersabarlah, istriku. Sudah ratusan pengawal dikerahkan. Seharusnya, sebentar lagi mereka akan menemukan putra kita.”
Ratu mendesah. “Berapa lama lagi hamba harus menunggu lagi, Jeonha? Sudah enam jam pencarian dilakukan dan tidak ditemukan satupun petunjuk mengenai keberadaan Putra Mahkota. Bagaimana jika... bagaimana jika... Hee-bin sudah menitipkan anaknya padaku. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Apa yang harus kukatakan pada Hee-bin di akhirat nanti?” Tangis Ratu semakin menjadi. Raja bangkit dari kursinya dan memeluk istrinya.
“Tenanglah, Sayangku. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu. Jadi bersabarlah sedikit lagi. Aku yakin ia akan baik-baik saja. Ia sudah cukup dewasa untuk bisa melindungi dirinya sendiri. Aku melihatnya sendiri saat ia melawan beberapa pria sekaligus di pasar. Ia pasti baik-baik saja.”
Terdengar suara derap langkah di lorong. Seorang jenderal masuk dengan tergesa-gesa. “Jeoha, Mama, Putra Mahkota telah kembali ke kediamannya”
Ratu langsung berdiri dari kursinya dan berlari keluar, disusul kemudian Raja. Rombongan mereka pun berjalan cepat meninggalkan Balai Istana menuju Istana Timur.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA
“Biarkan saya mengobati luka anda dulu, Jeoha.” Kediaman Putra Mahkota dipenuhi oleh rombongan tabib.
Putra Mahkota menggeleng. Ia berjalan keluar kamarnya dan menuju ruang lain di kediamannya. Tabib pun mengikuti di belakangnya. Dua orang dayang pun membuka pintunya. “Obati lukanya dulu.” Tampak di dalamnya, Hwa Ryong terbaring. Hanboknya telah diganti dengan pakaian tidur.
Putra Mahkota mendesah. “Oho! Tabib Seo! Kau tidak mau mendengarkan perintahku?”
Tabib Seo langsung membungkuk dan beringsut memasuki ruangan. Ia pun memeriksa denyut nadi Hwa Ryong. Lega melihat Hwa Ryong dirawat, Putra Mahkota berjalan menuju kamarnya dan mulai menerima perawatan dari tabib lainnya.
Tak lama kemudian, setelah lengan Putra Mahkota selesai dibebat, Raja dan Ratu tiba.
Kasim Hyun mengumumkan kedatangan Raja dan Ratu. “Yang Mulia Raja dan Ratu tiba.”
Putra Mahkota langsung berdiri dan membungkuk, menyambut kedua orang tuanya. Ratu langsung memeluk erat putra tirinya. Putra Mahkota membalas pelukan ibunya sambil meringis kesakitan karena lukanya tanpa sengaja tertekan. “Maafkan anakmu ini, Uhmamama, karena telah membuat Uhmamama khawatir begini.”
Ratu menilik wajah anaknya. “Apa kau terluka? Kenapa suaramu bergetar, anakku?”
Putra Mahkota mendesah. “Hanya luka kecil, Uhmamama.”
Ratu pun menemukan perban di lengan anaknya. “Luka kecil? Ah, kau pasti kesakitan, anakku. Maaf, ibu tidak bisa melindungimu.”
“Uhmamama, putramu ini sudah menjadi pria dewasa. Luka seperti ini bukan apa-apa, Uhmamama.”
Raja yang sudah sejak tadi duduk, menambahkan. “Benar, Sayangku. Sekarang, ayo, kita kembali. Biarkan Putra Mahkota istirahat.”
Ratu mengangguk. "Benar! Kau harus istirahat." Rombongan Raja dan Ratu pun meninggalkan Istana Timur.
___________________________________________
" Cinta tidak membuat dunia berputar, namun cinta membuat dunia menjadi tempat yang layak dihuni. "
- Franklin PJ