Sakura's Petals

Sakura's Petals
Benih



DI BUKIT DEKAT ISTANA


“Apa? Anakku ada di istana?”


Seorang pengawal istana yang membawakan berita itu mengangguk. “Benar, Tuan.”


“Atas perintah siapa kau mengabarkan ini padaku?”


“Atas perintah Yang, eh, Menteri Personalia Keempat, Tuan.” Tuan Shim mengerutkan keningnya. Setahunya, Menteri Personalia hanya ada tiga orang. Namun hal aneh ini tak begitu menarik perhatiannya. Baginya, hal yang terpenting adalah anaknya telah ditemukan. “Kalau begitu, antarkan aku ke sana.”


Pengawal itu membungkuk hormat. “Maafkan saya, Tuan. Tuan Menteri Personalia mengatakan bahwa Anda tidak perlu repot-repot menjemput Nona. Tuan akan mengantarkan Nona sendiri nanti jika kesehatan Nona telah membaik.”


“Tapi...” Tuan Shim berusaha menyergah.


Pengawal itu menambahkan, “Nona baik-baik saja. Tapi untuk berjaga-jaga, sebaiknya Nona istirahat penuh dan tidak berjalan jauh sementara ini, karena itulah Tuan meminta agar Tuan tidak menjemput Nona sekarang.” Lalu ia menyerahkan surat yang telah ditulis Hwa Ryong.


Tuan Shim menyambarnya, lalu membaca isinya cepat. Kemudian ia berpikir keras. Rasa khawatirnya masih belum reda walaupun Hwa Ryong berulang kali menulis bahwa ia baik-baik saja. “Apa benar putriku baik-baik saja?”


Pengawal itu mengangguk. “Ya, Tuan.”


“Baiklah.” Tuan Shim pun berbalik pulang menuju rumahnya bersama puluhan pengawal yang sejak tadi membantunya mencari putrinya. “Ayo kita pulang!”


Para pengawalnya membungkuk hormat. “Baik, Tuan.”


Kemudian ia teringat akan Seol. “Mana Seol?”


Salah satu pengawal menghadap. “Seol sedang mencari di pasar, Tuan.”


“Bawa dia pulang.”


Pengawal itu membungkuk hormat dan pergi menjalankan tugasnya.


DI KEDIAMAN KELUARGA SHIM


“Semudah itu kau percaya bahwa anak kita berada di istana? Menteri Personalia Keempat? Aku saja tahu bahwa tidak ada jabatan semacam itu di istana. Lagipula tidak semudah itu membawa masuk seorang gadis ke dalam istana. Harus ada persetujuan dari Yang Mulia Ratu, kau tahu itu kan?”


Tuan Shim mendesah, menghadapi istrinya. Ia tahu benar bahwa akan menjadi begini. “Hwa Ryong menulis surat bahwa ia baik-baik saja. Dan aku hanya bisa percaya padanya. Lagipula, pengawal istana takkan semudah itu berbohong.”


Nyonya Shim nampak sangat tidak puas akan jawaban suaminya. Ia mendengus tajam. “Aku akan menjemputnya sendiri.” katanya, sambil berdiri.


Tuan Shim menggeleng, lelah melihat istrinya. “Duduklah! Apa kau ingin anak kita dihukum?”


Nyonya Shim menatap suaminya, tak percaya.


“Jika kau membuat keributan sekarang di istana, apa yang harus kukatakan pada para pengawal istana? Bahwa anak kita tanpa persetujuan istana dalam, masuk ke dalam lingkungan istana? Kita, memang, berhak memasuki istana, tapi bagaimana dengan Hwa Ryong? Lagipula, kau akan mencarinya di mana? Memasuki setiap gedung istana? Jangan gegabah! Dan duduklah dengan diam di sini. Apa kau mengerti?”


Nyonya Shim yang selama ini tidak pernah melihat suaminya marah, terdiam.


“Sekarang keluarlah.”


Nyonya Shim pun melangkah keluar. Tuan Shim mulai mereka ulang kejadian tadi. Pakaian pengawal istana yang memberi kabar untuknya itu bukanlah pakaian pengawal biasa. Terdapat 3 pilihan pengawal khusus, antara pengawal khusus raja, ratu, atau putra mahkota. Ia yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi, Tuan Shim tak berhasil mengingat pakaian pengawal yang mana itu.


“Tuan, Seol sudah pulang.”


“Bawa dia kemari.”


Tak lama kemudian, Seol sudah duduk di hadapan Tuan Shim.


Tuan Shim mendesah. “Seorang pengawal mendatangiku sore tadi. Ia memberitahuku bahwa Menteri Personalia Keempat merawat Hwa Ryong di istana. Ia juga membawakan surat yang ditulis Hwa Ryong untukku. Hwa Ryong berkata bahwa ia baik-baik saja. Dan aku bisa menjemputnya setelah beberapa hari istirahat di sana.”


Seol mendesah, lega. “Syukurlah, Nona baik-baik saja. Saya tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri jika sampai Nona terluka karena kelalaian saya.”


“Tapi, Seol, bisakah kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi sehingga Hwa Ryong menghilang seperti ini?”


Seol pun menceritakan semua yang terjadi pada malam itu. Tuan Shim sesekali mengangguk atau mendesah. “Jadi, ia dan pria itu menghilang tepat setelah kau dan pelayan yang bernama Hyun berhasil menemukan obat untuk pria itu?”


Seol mengangguk. “Benar, Tuan.”


“Apa kau bisa mengingat ciri-ciri pria itu atau pelayan itu?”


“Pria itu setidaknya lebih tinggi sejengkal dari Nona. Wajahnya tampan dan parasnya sedikit bidang, walau kulitnya putih, tidak seperti orang-orang kekar biasanya. Sementara pelayan itu, tingginya sedikit lebih tinggi dari saya, Tuan. Badannya sedikit gemuk. Oh, ya, ia juga memiliki tahi lalat yang besar di lehernya.”


“Tahi lalat? Baiklah. Sekarang, kembalilah ke kamarmu.”


Seol pun meninggalkan ruangan, sementara Tuan Shim duduk sambil mengkhawatirkan anaknya.


DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA


Hwa Ryong sedang menikmati makan malamnya, sementara Putra Mahkota mengawasinya di seberang meja. Senyum lebar menghiasi wajah Putra Mahkota.


“Apakah ada sesuatu di wajah saya sehingga Oppa tersenyum melihat saya? Apakah ada biji wijen yang menempel di muka saya?” tanya Hwa Ryong dengan wajah tersipu.


Putra Mahkota seperti tersadar dari lamunannya, lalu menggeleng. Ia menunduk, malu. “Tidak.”


Wajah Hwa Ryong makin tersipu. “Oppa tidak makan?”


Putra Mahkota mendongak, lalu menggeleng. “Ah, aku bisa makan nanti. Habiskan saja makananmu.”


Hwa Ryong meletakkan sumpitnya. Ia merasa tidak enak hati. “Tidak, saya tidak akan makan jika Oppa tidak makan juga.”


Putra Mahkota terperangah kaget. Ia bingung harus bagaimana. Hwa Ryong tertawa geli melihat raut wajah Putra Mahkota. Ia mengangkat sumpitnya, mengambil lumpia, lalu mengarahkan sumpitnya ke mulut Putra Mahkota.


“Aaah.” kata Hwa Ryong, menyuruh Putra Mahkota membuka mulutnya.


Putra Mahkota menoleh ke arah sekelilingnya, tidak ada orang lain. “Untukku?”


Hwa Ryong tersenyum geli, mengangguk. Putra Mahkota pun membuka mulutnya, lalu memakan lumpia yang disuapkan Hwa Ryong padanya. Hwa Ryong pun mengambil bulgogi dan menyuapkannya lagi pada Putra Mahkota tanpa Putra Mahkota sempat menolak. Begitu terus hingga hampir seluruh jenis makanan, Putra Mahkota telah mencicipinya. Putra Mahkota pun berhasil menghentikan Hwa Ryong menyuapinya lagi. Dengan detak jantung yang tak keruan, ia memegang erat tangan Hwa Ryong, menghentikannya. “Aku sudah kenyang. Sekarang makanlah.”


Hwa Ryong tersenyum. “Baiklah.” Ia kemudian mulai makan lagi. Tapi di sela-sela makan malamnya, ia tiba-tiba berhenti. Mengambil sapu tangan, lalu dalam waktu sekejap tangannya sedang mengelap sudut bibir Putra Mahkota yang terkena saus. Pipi Putra Mahkota merona seketika, begitu juga Hwa Ryong.


Hwa Ryong langsung dengan cepat melanjutkan makannya lagi. Saking gugupnya, ia tersedak. Putra Mahkota langsung menghampirinya, membawakan minum. “Hati-hati makannya.”


Hwa Ryong tersenyum malu. “Maaf..”


Mereka pun saling tertawa geli.


___________________________________________


" Mari kita selalu bertemu satu sama lain dengan senyuman, karena senyuman adalah sebuah awal dari rasa cinta. "


- Mother Teresa