
Mereka pun terdiam lagi. Putra Mahkota mencoba membaca buku yang ada di rak, menelusuri kata-kata di dalamnya tanpa benar-benar membacanya. Buku hanya sebagai alasan untuk tidak menatap Hwa Ryong. Ia takut Hwa Ryong menangkap rona merah di wajahnya. Tapi ketika Hwa Ryong terdiam juga. Putra Mahkota mulai merasa gelisah. Apakah Hwa Ryong sedang menatapku, tanyanya dalam hati, penasaran.
Wajahnya semakin merona. Tak tahan lagi, Putra Mahkota mendongak. Dan kaget setengah mati saat tahu Hwa Ryong terbaring di lantai. Sebagian bawah chimanya berubah warna dari biru menjadi merah. Saat itulah, Putra Mahkota ingat saat tadi ia melihat langkah kaki Hwa Ryong agak aneh. Ia pun tanpa memedulikan luka di lengannya, langsung menyingkap chima Hwa Ryong dan mendapati sebuah luka sayatan besar memanjang dari betis hingga pergelangan kaki yang masih terus mengeluarkan darah.
Putra Mahkota seketika merasa kehilangan akalnya. Dalam waktu sekejap, ia tiba-tiba sudah berada di luar rumah peristirahatan berpesan pada penjaganya dan kemudian berlari sambil menggendong Hwa Ryong, mencari tabib. Sayangnya, di sepanjang jalan, tak didapatinya satupun toko obat atau klinik. Berusaha mengabaikan luka di lengannya, ia terus menggendong Hwa Ryong dan berkeliling jalanan.
Tak lama kemudian, ia akhirnya menemukan sebuah toko obat. Tapi ketukan paling kencang yang bisa ia lakukan saat lengannya masih sakit pun tak bisa membangunkan pemilik toko. Akhirnya, Putra Mahkota memutuskan untuk mencari yang lain.
Di tengah-tengah perjalanan, nafas Hwa Ryong semakin tersengal. Putra Mahkota begitu khawatir dan mendudukkan Hwa Ryong di pinggiran toko untuk melihat kondisinya. Ia mengecek suhu badan Hwa Ryong. Panas. Seketika itu, Putra Mahkota merasa jantungnya tertikam.
Dengan lengan yang bebatnya mulai basah penuh darah, Putra Mahkota menggendong Hwa Ryong lagi. “Bertahanlah, Oppa pasti akan mendapatkan tabib untukmu.”
Sekitar satu jam, Putra Mahkota berkeliling. Ia pun mulai merasa pusing. Ia mendudukkan Hwa Ryong di pinggiran toko, menatap gadis itu sedih. Setelah apa yang dilakukan Hwa Ryong untuknya, yaitu menyelamatkannya. Putra Mahkota tak bisa membalas budi Hwa Ryong.
“Aaargh!” teriaknya, kesal. Ia merasa begitu tak berdaya. Tidak seperti yang biasa ia rasakan. Ketika ia berada di istana, sebuah sakit perut biasa saja tabib berbondong-bondong menolongnya. Tidak seperti sekarang, ia merasa bukan apa-apa.
Kemudian terdengar, suara langkah kaki yang berjumlah banyak mendekat. Putra Mahkota pun mulai menyembunyikan Hwa Ryong ke balik gerobak padi, sementara ia bersembunyi di gerobak satunya.
Tapi nyatanya, ia tidak perlu sembunyi untuk waktu yang lama. Ia sadar itu adalah rombongan penjaga istana yang diperintahkan untuk mencari dirinya. Ia bisa mengenali suara Hyun yang khas dari suara kerumunan itu.
“Yang Mulia! Yang Mulia! Jawab kami, Yang Mulia!”
Putra Mahkota pun keluar dari persembunyiannya. Para pengawal pun menangkap sosok Putra Mahkota dari kejauhan dan mulai berlari menuju Putra Mahkota. “Yang Mulia! Anda tidak apa-apa?”
DI KEDIAMAN SHIM
“Sudahlah, ia pasti kembali, Sayang. Tenanglah. Aku yakin para pengawal akan segera menemukan putri kita.”
Nyonya Besar yang sejak tadi menangis di balik saputangannya, mendongak. “Tidak, itu tidak akan cukup. Kau harus mengirim lebih banyak lagi. Atau sebaiknya, bagaimana jika aku sendiri yang mencarinya?”
Tuan Shim mendesah, langsung menarik istrinya duduk lagi. “Jangan berlebihan! Sudah ada lima puluh orang pengawal yang mencarinya, masa kau perlu turun dan menemukannya juga?”
Nyonya Besar menangis lagi. “Kau memang tidak sayang padanya!” jeritnya, kesal. “Dia putri kita satu-satunya, apa kau lupa? Bagaimana jika ia terluka di luar sana?”
“Sayang, di sampingnya ada Seol. Kau tahu persis itu. Seol adalah pelayan berkeahlian bela diri paling baik di antara pelayan lainnya. Ia bahkan bisa mengalahkan dua pengawal pria sekaligus. Kalau hanya melawan beberapa pencuri di jalanan, ia pasti tidak apa-apa.”
Nyonya Besar itu menangis semakin kencang. “Pencuri? Astaga, apa yang sudah kulakukan? Harusnya, aku sudah mencarinya sendiri sejak tadi.” Nyonya Shim beranjak lagi dari bantal kursinya.
Tuan Shim langsung mendesah, menyesali ucapannya barusan. “Ah, apa yang sudah kukatakan.” Nyonya Shim sudah keluar dari bilik kamarnya. Tuan Shim pun dengan tergesa-gesa segera mengikuti istrinya.
_______________________________________
" Tidak ada hal yang lebih rumit dari cinta di dunia ini."
- Gabriel GM