Sakura's Petals

Sakura's Petals
Pernikahan



DI KEDIAMAN KELUARGA EO


“PRANG! PRANG!” Suara pecahan kaca terdengar di mana-mana. Nyonya Eo masuk ke kamar anaknya dengan tergesa-gesa.


“Mi Kyung-ah!”


Mi Kyung tidak menggubris ibunya. Ia terus membanting guci-guci yang ada dalam kamarnya. Ketika ia membanting vas bunga, salah satu serpihannya pun menggores telapak tangannya, membuat tangannya mengucurkan darah deras.


“Mi Kyung-ah! Hentikan! Biarkan Ibu obati lukamu dulu!”


Kaki Mi Kyung tiba-tiba lemas. Ia jatuh terduduk di lantai, Nyonya Eo langsung menyuruh pelayan mengambil perban dan obat.


“Apa yang sebenarnya terjadi hingga kau seperti ini, Sayang?”


Mi Kyung terdiam.


“Jika karena pemilihan itu, kau tidak perlu khawatir, Sayang. Posisi selir Putra Mahkota tidaklah terlalu buruk. Sekalipun kau tidak dipilih, ibu akan memastikan kau menikah dengan orang yang kau pilih tanpa bisa diketahui pemerintah. Ibu bisa pastikan itu.”


“Putra Mahkota. Kalau begitu, nikahkan aku dengannya, Bu. Aku tidak ingin menjadi selirnya, aku ingin menjadi istri pertamanya!” teriak Mi Kyung, sambil menatap ibunya kalut.


“Mi Kyung-ah! Sabarlah, Nak. Lupakan mimpimu untuk menjadi Putri Mahkota, kau mengerti? Tidak ada gunanya berperilaku seperti ini.”


“Tidak! Tidak!” teriaknya, sambil terus membanting barang-barang di kamarnya. “Aku takkan berhenti hingga aku menjadi Putri Mahkota. Aku akan pastikan, bagaimanapun caranya, untuk menjadi Putri Mahkota.”


DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI


“Apa surat dari Kaisar sudah tiba?”


Pengawal setia Yunti mengangguk. “Baru saja sampai di pesisir sore ini, Yang Mulia. Apa yang harus saya lakukan sekarang, Yang Mulia?”


“Berapa waktu yang dibutuhkan untuk membawanya ke sini?”


Pengawal itu terdiam, berpikir sejenak. “Kurang lebih seminggu, Yang Mulia.”


“Bawa surat itu dalam waktu lima hari.”


“Ah, tapi...” Pengawal itu langsung berhenti berbicara saat melihat pelototan Yunti ke arahnya. “Baik, Yang Mulia.”


DI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA


Pelatihan sebelum pelantikan Putri Mahkota, Seupui pun dimulai. Baik dari latihan berjalan, berbicara, maupun pelajaran sejarah dan peraturan istana harus diikuti Hwa Ryong. Walau Hwa Ryong sudah menguasai sebagian besar, namun tetap saja latihan yang memakan waktu seharian itu membuatnya cukup lelah.


“Latihan ini akan berlangsung terus hingga empat hari lagi, Mama. Jadi, Yang Mulia harus menjaga diri baik-baik. Istirahatlah lebih awal karena itu akan berguna untuk latihan besok. Kalau begitu, saya undur diri dulu, Mama.”


Hwa Ryong langsung menghela nafas panjang begitu para dayang pergi. Ia langsung merebahkan dirinya di kasur, menatap atap kamarnya lelah.


“Hwa Ryong-ah!”


Hwa Ryong langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Putra Mahkota berada di kamarnya. “Jeoha! Apa yang sedang Anda lakukan di sini?” Ia langsung memperbaiki posisi duduknya.


“Jika tidak ada orang lain, panggil saja aku seperti biasanya.”


“Aku dengar latihannya dimulai hari ini. Bagaimana? Apakah sangat melelahkan hingga kau menghela nafas panjang seperti tadi?”


Hwa Ryong merona, malu. “Hmmm, tidak.”


“Jangan berbohong.”


“Yah, sebenarnya agak berat, tetapi aku bisa mengatasinya. Jadi Yoon-Oppa tidak perlu khawatir. Aku akan menjadi Putri Mahkota yang layak bagimu.”


Putra Mahkota tertawa geli. “Apa itu saja yang kau khawatirkan?”


Hwa Ryong menatap Putra Mahkota bingung. “Memang, ada lagi?”


“Ibuku orang yang baik tapi sangat disiplin. Ia mungkin bukan ibu kandungku. Tapi ia orang yang sangat menyayangiku dan selalu melindungiku. Ia takkan mudah menerima orang lain. Jadi, kurasa ia akan sedikit bersikap seolah menolakmu.”


Tanpa sadar, Hwa Ryong langsung menurunkan bahunya, lelah. “Apa ada lagi yang harus kukhawatirkan juga?”


Putra Mahkota tertawa geli, lagi. “Tidak, aku hanya bercanda. Ibuku orang yang sangat baik. Ia takkan begitu jahat pada menantunya sendiri. Jadi, tenanglah.”


Hwa Ryong mendesah. Ia tahu bahwa ucapan Putra Mahkota yang pertama adalah benar. Memang siapa mertua di dunia ini yang bisa langsung menerima menantu perempuannya begitu saja? Sebuah kebenaran umum yang tak terbantahkan, bagi keluarga kerajaan sekalipun.


“Nah, sekarang berbaringlah. Aku akan menemanimu tidur.”


Hwa Ryong tersipu malu. “Jangan. Oppa bisa ketahuan nanti.”


“Aku sudah menyuruh para dayang di sini untuk tutup mulut. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Sekarang, tidurlah.”


Hwa Ryong pun merebahkan tubuhnya, kaku. Namun, kemudian Putra Mahkota merebahkan tubuh di sampingnya. Ia menggenggam tangan Hwa Ryong erat. Mereka tertawa bersama, sebelum kemudian tertidur lelap.


SEMINGGU KEMUDIAN


Perayaan besar-besaran pun telah disiapkan. Ratusan meja untuk para pejabat kerajaan digelar. Para pemusik dan penari bersiap dan berlatih untuk terakhir kalinya. Para dayang sibuk mempersiapkan makanan undangan. Bangsawan-bangsawan yang hadir sibuk berebut tempat yang nyaman. Semua kegaduhan pun berhenti ketika kemudian Raja dan Ratu memasuki tempat pesta dan duduk di singgasananya masing-masing, bersama beberapa keluarga inti kerajaan yang lainnya di depan Balai Istana.


Hwa Ryong yang sudah lama menunggu di dalam gedung, mulai menggigit bibirnya gelisah. Dayang Noh tersenyum dan meremas lengannya pelan. “Jangan khawatir. Yang Mulia akan menjadi pengantin kerajaan tercantik yang pernah ada.” ucapnya. Usaha Dayang Noh menenangkannya berhasil, Hwa Ryong langsung tersipu dibuatnya.


Tiba-tiba kasim pembaca prosesi acara berteriak memanggil dengan lantang, “Pengantin memasuki ruangan.”


Hwa Ryong pun menelan ludahnya, bulat. Ia tersenyum cerah sebelum kemudian menatap Putra Mahkota. Mereka pun berjalan beriringan bersama, menuju Balai Istana, melewati para pejabat dan para bangsawan. Keduanya tampak begitu menawan dan bahagia. Putra Mahkota yang gagah dan tampan tampak begitu serasi dengan Hwa Ryong, Putri Mahkota yang terlihat anggun dan rupawan. Prosesi demi prosesi pun berlangsung begitu cepat. Hingga kemudian, tiba prosesi malam pertama.


____________________________________________


" Sahabat dalam hidup : suami dan istri. "


- NN


Gambaran Pakaian Pernikahan Putra dan Putri Mahkota :