Sakura's Petals

Sakura's Petals
Serangan



Tanpa mereka sadari, ada dua orang berpakaian serba hitam mengikuti dari atas atap toko-toko yang sudah tutup.


“Kau masih ingat hukuman karena lancang pada keluarga kerajaan, kan?”


Kasim Hyun mendesah. “Tentu saja, Hamba tahu. Tapi lebih baik Hamba dicambuk beberapa kali daripada Hamba kehilangan kepala Hamba, Yang Mulia.”


“Kau terlalu berlebihan, kau tahu itu?”


Mereka terus berjalan. Hingga kemudian mereka tiba di persimpangan. Di tengah persimpangan itu, ada sebuah pohon sakura yang besar. Tapi bukannya terpesona pada keindahan bunga sakura yang berjatuhan seperti yang dilakukan Hyun, Putra Mahkota terpesona pada gadis yang sekarang sedang menangkapi bunga yang berjatuhan. Gadis itu, pikirnya. Gadis yang ada di pasar tadi.


Tapi di saat yang sama, kedua orang berpakaian hitam itu pun turun dari atap dan bersiap menyerang mereka. Tebasan pertama ditujukan pada Putra Mahkota yang masih terkesima akan kecantikan si Nona.


PANDANGAN HWA RYONG


“Indah sekali, bukan begitu, Seol?” katanya, sambil membuka tangannya yang penuh bunga.


Seol hanya bisa mengangguk, saking kagumnya.


Nona itu baru saja akan mengambil bunga yang jatuh lagi, ketika ia melihat dua orang berbaju hitam itu tepat sepuluh meter darinya sedang berusaha menebas dua pria di hadapannya.


“Awas!” teriaknya. Ia pun menutup wajahnya ketakutan, membiarkan bunga yang ada di tangannya berjatuhan di tanah.


Seol mengeluarkan pedang kecil dari balik sepatunya dan mulai menyerang penjahat itu. Penjahat itu awalnya begitu susah dikalahkan, Putra Mahkota pun terluka gores di lengan atasnya. Putra Mahkota menjerit kesakitan, membuat Hyun lemas seketika, sementara Nona yang hanya bisa berdiri menonton memalingkan wajahnya. Ia tidak pernah menyangka bisa menemui adegan pembunuhan seperti ini di depan matanya.


Setelah dilukai, ayunan pedang Putra Mahkota semakin lemah. Kedua penjahat itu semakin menjadi. Tapi tidak seperti Seol yang berhasil mengatasi penjahat yang satunya sampai terkapar, Putra Mahkota lengah dan ia terjatuh. Pedang penjahat itu kini tertempel dekat dengan lehernya. Seol hendak menolongnya, tapi penjahat itu mulai mengancamnya.


“Jangan mendekat atau kutebas kepalanya!”


Seol hanya bisa terpaku di tempatnya.


Nona yang tadi hanya bisa terdiam, sadar bahwa posisinya tepat berada di belakang penjahat itu. Ia pun mengambil batang kayu bakar dari salah satu rumah dan secara perlahan berjalan mendekat ke arah sang penjahat.


Seol menyadari rencana si Nona. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian sang penjahat. “Apa yang kalian inginkan? Uang?”


Penjahat itu termakan umpan yang dilontarkan Seol. “Uang? Apa serendah itu yang kau pikirkan tentang kami? Dia adalah apa yang kami...” Ia tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Si Nona telah memukulkan batang kayu pada kepalanya. Sayangnya, penjahat itu masih sanggup berdiri dan ia pun menghempaskan badan si Nona ke samping. Tubuh Nona itu pun melayang dan mendarat di tumpukan kayu bakar. Seol pun merangsek maju dan mulai melayangkan pedangnya pada penjahat itu.


_________________________________________


" Ketika dua insan ditakdirkan untuk bertemu, tak ada satupun hal di dunia ini yang dapat mencegah mereka untuk bertemu, tak peduli di mana pun mereka berada. "


- Jaime TL