
Begitu Putra Mahkota mendekat, para pelayan wanita yang sejak tadi menjaga tandu, membuat barisan untuk mencegah Putra Mahkota mendekat. “Maafkan kami, tapi kami tidak bisa biarkan Anda mendekat.”
Putra Mahkota menoleh ke arah pengawal-pengawalnya. “Tarik mereka menjauh.” Pengawal Putra Mahkota pun menarik para pelayan itu pergi dengan mudah.
Kini, tinggal Putra Mahkota dan tandu itu. “Nona, maafkan jika saya lancang membuka tandu Anda dan menyakiti bawahan Anda, saya berjanji saya akan memeriksa dengan cepat.”
Tak ada jawaban dari dalam tandu. Putra Mahkota segera membuka jendela tandu dan menengok ke dalam tandu. Dan seperti perkiraannya, wajah gadis yang berada dalam tandu adalah wajah Hwa Ryong, yang selama ini ia cari. Jantungnya serasa kembali berdetak setelah sekian lama membeku. Senyum menghiasi wajah Putra Mahkota. “Hwa Ryong! Hwa Ryong-ah!” panggil Putra Mahkota. Tapi gadis itu tak bangun juga. “Hwa Ryong-ah!” panggilnya, lagi. Dan hanya dalam sepersekian detik, jantungnya kembali membeku. Ia begitu panik dan segera menarik Hwa Ryong keluar dari tandu. Ia memeluk Hwa Ryong yang masih tak bangun juga dengan erat. “Hwa Ryong-ah! Bangunlah! Hwa Ryong! Ini aku. Yoon. Hwa Ryong! Kumohon, bukalah matamu.”
Tak lama kemudian, Hwa Ryong mulai membuka matanya. Ia terkejut begitu sadar bahwa dirinya sedang dipeluk seorang pria. “Kenapa kau begitu lancang? Cepat lepaskan aku!”
Begitu mendengar suara Hwa Ryong, Putra Mahkota segera melepas pelukannya dan menatap wajah Hwa Ryong lekat-lekat. Hwa Ryong terkejut saat tahu bahwa pria yang memeluknya adalah Yoon Oppa. “O... Oppa? Apa yang Oppa lakukan di sini? Bukannya tadi aku...” Ia tiba-tiba dilanda kecemasan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Yunti? Yunti, di mana? Matanya pun mencari keberadaan Yunti, tapi ia tak bisa menemukannya. Apa yang terjadi? Kenapa Yunti tidak ada di sini? Ia pun melihat para pengawal dan pelayan yang tadi mengawalnya, diikat di tanah. Ia terbelalak sejenak. Apa-apaan ini? Tidak, tidak. Apapun yang terjadi, aku tidak bisa membiarkan Oppa berada dalam masalah. Bagaimanapun caranya, aku harus menjauh darinya, pikirnya.
Putra Mahkota memeluk Hwa Ryong lagi. “Kau hampir saja membuatku mati jantungan. Jangan pingsan lagi seperti tadi.”
Hwa Ryong mencoba tertawa, Putra Mahkota menjauhkan dirinya untuk melihat wajah Hwa Ryong.
“Kenapa kau tertawa? Apa kau tidak tahu betapa cemasnya aku tiga hari ini? Jantungku rasanya berhenti saat melihatmu tak sadarkan diri tadi.”
Tawa Hwa Ryong semakin keras. “Aku tidak pingsan, Oppa. Aku tidak tidur semalaman, karena itu aku mengantuk dan akhirnya tertidur di tandu.” Hwa Ryong pun beranjak berdiri dan melihat sekelilingnya. “Huh, kenapa mereka lama sekali menjalankan tandunya? Badanku rasanya sakit semua sekarang.”
Putra Mahkota menatap Hwa Ryong, tak percaya. “Jadi, kau sebenarnya tertidur?”
Hwa Ryong menoleh ke arah Putra Mahkota dan mengangguk. Tapi tak seperti perkiraannya, Putra Mahkota terdiam dan mengerutkan dahinya.
“Tapi kau begitu pucat, apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Tidak, aku hanya kelelahan.”
Putra Mahkota mengangguk, memaklumi. “Kau pasti lelah setelah sekian lama kabur. Oh, ya, mengenai kau kabur, apa kau ini bodoh? Apa kau tidak sadar kau bisa saja celaka?”
Hwa Ryong mendesah. “Jangan memarahiku, Oppa. Orang lain boleh melakukannya, tapi Oppa jelas tidak boleh.”
Putra Mahkota pun menangkap balutan perban di tangan Hwa Ryong. “Kenapa kau sampai terluka?”
“Aku terjatuh, itu saja.”
Putra Mahkota terdiam. Ia begitu kesal akan keputusan Hwa Ryong untuk kabur dari rumah, tapi ia juga merasa bersalah karena ini semua disebabkan oleh dirinya sendiri. “Kau melakukannya untukku, bukan?”
Hwa Ryong bingung mau menjawab apa, ia pun hanya mengangguk. Anggukan Hwa Ryong langsung membuat Putra Mahkota menghela nafas kesal. “Apapun yang terjadi, seharusnya kau tidak kabur. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku mencarimu tiga hari ini? Kau hampir membuatku gila, kau tahu itu?”
Tiba-tiba hujan turun. Putra Mahkota segera membuat payung dari lengan bajunya ke atas kepala Hwa Ryong. “Sudahlah. Sekarang, katakan di mana rumahmu.”
“Sekitar setengah jam dari sini.”
Putra Mahkota terdiam dan berpikir keras, sementara itu hujan turun semakin deras. “Kita ke rumahku dulu saja, rumahku cukup dekat dari sini.”
Hwa Ryong mengangguk, mengiyakan. Ia masih belum siap rasanya menghadapi orang tuanya jika pulang nanti. Seperti apa wajah yang ia pasang dan apa yang harus ia katakan di depan orang tua yang pasti sangat khawatir dan kecewa padanya. Ia sangat membenci orang yang tidak berbakti pada orang tuanya dan saat ini sosok yang paling ia benci ternyata juga termasuk dirinya.
Putra Mahkota menaiki kudanya, lalu menarik Hwa Ryong naik juga. Mereka pun berkendara menuju vila kerajaan.
SEMENTARA ITU
Yunti kembali dengan tergesa-gesa. Matanya melotot saat melihat para bawahannya terikat ke pohon. Ia segera turun dari kudanya dan berlari ke arah salah satu pengawal yang ada.
“Apa yang terjadi?” tanyanya, pelan setelah berjongkok di depan pengawalnya.
Pengawal itu memandangi tuannya gelisah. “Nona Hwa Ryong dibawa pergi seseorang, Yang Mulia.”
Yunti langsung bangkit. “Apa?”
“Ampuni saya, Yang Mulia. Kami sudah berusaha semampu kami untuk menjaganya. Tapi jumlah mereka terlampau banyak.”
"Apakah mereka adalah kiriman Tuan Shim?"
"Bukan, Yang Mulia. Pemimpinnya adalah seorang pria muda."
Yunti langsung menghujamkan pukulannya ke pohon. “Sial!” teriaknya. Darah pun menetes dari tangannya.
____________________________________________
" Taklukkanlah dunia dan kembalilah padaku malam ini. "
- NN
Gambaran Tandu bagi Bangsawan Joseon :