Sakura's Petals

Sakura's Petals
Cemburu



DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA


Hwa Ryong yang baru saja mengganti pakaiannya dengan dangui beremblem naga perak berkuku empat berwarna merah muda dan berchima merah dengan cap emas di bagian bawahnya, duduk di depan sebuah meja jamuan.


Tak lama kemudian, Putra Mahkota memasuki ruangan. Putra Mahkota memakai pakaian resmi Putra Mahkota berwarna biru dongker dengan emblem naga emas yang sama. Ia tersenyum lebar, duduk di seberang Hwa Ryong.


Dayang Noh menuangkan minuman ke cangkir Putra Mahkota lalu Hwa Ryong. “Prosesi malam pertama akan ditunda hingga hari yang ditetapkan oleh Biro Rumah Tangga Istana. Jadi, malam ini Yang Mulia akan menghabiskan malam menikmati jamuan makan malam bersama. Saya harap Yang Mulia semua dapat memakluminya.”


Hwa Ryong tersipu sekaligus lega, mendengarnya. Jujur saja, ia tak pernah menyangka akan datang malam pertama secepat ini. Dan ia masih belum siap mengalaminya.


Mereka pun menikmati makan malam bersama dengan disuapi oleh para dayang. Sembari makan, sesekali Putra Mahkota tersenyum ke arah Hwa Ryong. Begitu juga sebaliknya. Mereka tampak begitu bahagia, membuat para dayang ikut tersenyum melihatnya.


DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI


“Jadi, kau berhasil menunda malam pertamanya?”


“Benar, Yang Mulia Pangeran. Sesuai yang Yang Mulia perintahkan, saya menghubungi Kepala Dayang Bagian Rumah Tangga Istana untuk menunda prosesi malam pertama.”


Yunti langsung menghela nafas lega. “Bagus. Sekarang, kau boleh pergi.”


Pengawal itu pun undur diri dan meninggalkan Yunti sendirian di kamar.


Yunti mengeluarkan sehelai saputangan dari lacinya. Di saputangan berwarna putih tulang tersebut terbordir gambar bunga sakura berwarna merah muda dengan bercak darah samar tepat di sebelahnya. Saputangan pemberian Hwa Ryong, saputangan pertama yang pernah ia buat. Yunti menatap saputangan itu, sedih.


“Aku takkan membiarkan siapapun memilikimu. Tidak seorangpun.”


DI BALAI UTAMA


“Ahahaha. Putri Mahkota kita lucu sekali.”


“Jeohna. Mohon jaga wibawa Anda.” ucap Yang Mulia Ratu, hormat.


“Wibawa? Apakah di antara keluarga harus seformal itu saat kunjungan pagi? Santailah, Ratuku.”


“Jeohna.”


Yang Mulia Raja menoleh ke arah Hwa Ryong, sayang. “Kini aku mengerti kenapa Putra Mahkota menyukaimu. Tidak hanya cantik, namun menyenangkan pula. Betapa beruntungnya negeri ini kelak, mempunyai Ratu sepertimu.”


Hwa Ryong tersipu. “Saya mohon agar Yang Mulia berhenti memuji saya. Saya masih mempunyai banyak kekurangan dibanding Yang Mulia Ratu, Yang Mulia.”


Hwa Ryong dan Putra Mahkota langsung membungkuk hormat, lalu undur diri dari ruangan dengan langkah perlahan, meninggalkan Balai Istana.


Begitu keluar dari kompleks Balai Istana, Putra Mahkota langsung menggandeng tangan Hwa Ryong, lembut. Hwa Ryong kembali tersipu malu, ia menoleh ke arah dayang yang berjalan di belakang sejenak. Mendapati para dayang langsung mengalihkan wajah sambil tersenyum geli, ia mendesah. “Ada banyak yang melihat, Oppa.” bisiknya, lalu berangsur menarik tangannya.


Putra Mahkota tetap mempertahankan tangannya. Ia menatap Hwa Ryong dari bawah ke atas dengan tatapan lembut. “Kau terlihat cantik sekali hari ini, seolah kau lahir di dunia ini untuk memakai dangui ini.” Hwa Ryong langsung menunduk, menatap danguinya. Dangui biru dengan chima abu.


“Sayang, kau masih belum memakai ini.” ucap Putra Mahkota, sambil menyerahkan binyeo kepada Hwa Ryong. Binyeo dengan ujung berbentuk phoenix berpermata warna-warni indah. “Aku tidak sabar menunggu hari di mana kau akan memakai binyeo ini. Hari di mana kau akan sepenuhnya menjadi milikku.”


Hwa Ryong tersenyum. Ia memeluk binyeonya, senang. “Aku juga tidak sabar menunggu hari itu.” Putra Mahkota langsung memeluk Hwa Ryong, erat.


“Jeoha.” panggil Hwa Ryong, panik.


“Ssst. Biarkan aku memastikan bahwa kau memang berada di sini sebagai istriku. Karena semua ini masih tampak seperti mimpi bagiku.”


Hwa Ryong tiba-tiba menitikkan air matanya, saking bahagianya. Sekarang, ia sadar bahwa cinta mereka akan abadi mulai dari sekarang. Putra Mahkota adalah miliknya dan ia adalah milik Putra Mahkota. Mereka bebas bertemu dan kini ia telah menjadi istri sah dari Yoon Oppa yang ia sayangi. Sesuatu yang tampak mustahil dulu, kini menjadi kenyataan. Ia tak bisa menahan rasa bahagianya yang meluap-luap.


PERJALANAN MENUJU KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA


Di dekat Hwa Ryong dan Putra Mahkota yang sedang berpelukan, Mi Kyung menatap mereka dengan tatapan tajam. Kedua tangannya mengepal keras. Matanya memerah, hendak menangis. Ia tampak marah sekaligus sedih.


Dalam hati, ia merasa lega karena telah meminta tolong pada Yang Mulia Ratu yang masih merupakan bibi jauhnya, untuk menolak Putri Mahkota. Awalnya, ia merasa tidak enak hati pada Hwa Ryong. Karena ia sadar bahwa ini bukan kesalahan Putri Mahkota. Tapi setelah melihat mereka berdua berpelukan, ia sadar bahwa Putri Mahkota memang pantas mendapatkannya, pikirnya. Rasa cemburu pun membutakan hatinya.


______________________________________________


" Kamu bisa menjadi bulan dan masih saja iri pada bintang-bintang. "


- Gary A


Gambaran Dangui Hwa Ryong saat Malam Pertama



Gambaran Dangui Hwa Ryong saat memberikan ucapan selamat pagi untuk Raja