
Para pengawal sibuk berkeliling kesana kemari, sebagian mengelilingi istana dan sebagian bergegas mencari ke luar istana. Putra Mahkota tampak pucat saat memimpin pasukannya mencari istrinya di luar istana. Ia tampak kalut dan geram.
“Apa kau berhasil menemukan petunjuk dari kediaman Putri Mahkota?”
“Tidak, Yang Mulia. Namun, saya menemukan bercak darah dari dalam kediaman Yang Mulia Putri Mahkota.”
“Darah?” Putra Mahkota semakin kalut.
Kasim Hyun mengiyakan. Tak lama kemudian, seorang pengawal tampak bergegas ke arah Putra Mahkota.
“Jeoha, di sisi barat istana, tampak sebercak darah yang seakan menunjukkan jalan menuju luar istana. Apa Yang Mulia ingin memeriksanya lebih lanjut?”
Putra Mahkota nampak sedikit cerah. “Segera kirim pasukan, mengikuti jejak darah itu.”
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
“Kenapa lama sekali?”
“Harap bersabar, Yang Mulia. Yang Mulia Putri Mahkota sedang dalam perjalanan ke sini. Lebih baik Anda menunggu di dalam.”
Yunti menggeleng. Ia tidak cukup sabar untuk bisa dengan santai menunggu di dalam rumah. Semenit kemudian, rombongan penculik Putri Mahkota tiba. Mereka membawa gerobak yang berisi Hwa Ryong di dalamnya. Yunti langsung bergegas menghampiri. Ia segera membuka ikatan tali yang mengikat erat karung yang menyelubungi tubuh Hwa Ryong.
Hwa Ryong yang kelelahan dan kekurangan udara pingsan di dalam karung. Yunti pun langsung menggendongnya di dada. Baru saja ia beranjak masuk, salah seorang bawahannya yang bertugas menjaga pergerakan istana berlari mendekat. “Maafkan hamba, Yang Mulia. Namun, para pengawal istana sedang bergegas menuju ke sini.”
“Apa? Bagaimana bisa?”
Di saat yang sama, matanya tanpa sengaja menangkap noda darah di belakang gerobak yang kemudian seperti membuat jejak di tanah. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah tangan Hwa Ryong yang masih terikat erat namun berdarah hebat. Yunti mendengus.
“Cepat hapus jejak darahnya!”
“Baik, Yang Mulia.”
JALAN MENUJU KEDIAMAN YUNTI
Putra Mahkota berhenti dan turun dari kudanya, saat ia menyadari bahwa jejak darah berhenti di tengah jalan. Rombongan pengawal yang mengikuti di belakang ikut berhenti. Kasim Hyun berjalan mendekat ke arah Putra Mahkota.
“Jejaknya hanya sampai di sini, Yang Mulia. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?”
Putra Mahkota terdiam. “Kurasa aku tahu ke mana jejak ini mengarah.” Ia kemudian, menaiki kudanya lagi dan dengan cepat mengarahkan kudanya pergi.
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
“Apa kau sudah kehilangan akalmu?” cecar Hwa Ryong begitu ia tersadar dari pingsannya. “Kau bisa kehilangan nyawamu jika sampai hal ini terdengar di istana.”
Yunti hanya terdiam. Ia membalut luka di tangan Hwa Ryong dengan lembut.
“Antarkan aku ke istana. Aku akan mengaku bahwa aku kabur dari istana, sehingga kau tidak perlu terlibat masalah apa-apa.” usul Hwa Ryong tiba-tiba.
Yunti menggeleng, melanjutkan dengan menuangkan ramuan obat ke cangkir. Ia menyodorkan cangkir itu, namun Hwa Ryong menampiknya hingga cangkir itu terjatuh dan tumpah di lantai. Yunti terkesiap kaget.
“Dengarkan aku. Kau mungkin membenciku, tapi aku tidak membencimu. Kau adalah sahabatku. Aku tidak bisa membiarkanmu terluka karena aku.”
Baru saja Yunti ingin menyergah, ketika kemudian salah satu bawahannya mengetuk pintu dan merangsek masuk. “Yang Mulia. Ada masalah di luar.”
Hwa Ryong menangkap maksud pesan bawahan Yunti. Ia pun berjalan menuju pintu. Namun, Yunti segera menangkap tubuh Hwa Ryong dan menggendongnya ke kasur. “Apa ada orang di luar? Tahan agar Putri Mahkota tidak pergi ke mana-mana.” Bersamaan dengan kata-katanya, beberapa pelayan berpakaian khas Qing masuk ke kamar. Dua orang memegangi kedua tangan Hwa Ryong erat, sementara Yunti melangkah keluar. Namun, Hwa Ryong tidak menyerah. Ia berteriak memanggil Putra Mahkota. “Yoon Oppa! Yoon Oppa!” panggilnya, namun, salah satu dari pelayan mulai mengikat mulutnya.
SEMENTARA ITU
Putra Mahkota bisa mendengar suara teriakan samar-samar dari dalam rumah. Namun tak ada yang bisa dilakukannya, pengawal-pengawal Dinasti Qing berjaga mencegahnya merangsek masuk. Pengawal yang ia bawa tidak sebanding dengan pengawal yang ada di dalam rumah. Hatinya bagaikan pecah berkeping-keping. Yunti menemuinya tak lama kemudian dengan beberapa pengawal di belakangnya.
“Apa kau tidak merasa bahwa ini sudah terlalu malam untuk berkunjung ke kediaman orang lain, Yang Mulia?” ucap Yunti.
Putra Mahkota mendengus. “Lalu kau, apa menurutmu tindakan menculik istri orang lain adalah tindakan yang sopan?”
“Tidak perlu berpura-pura, aku tahu kau menculik istriku.”
“Maksudmu, Putri Mahkota?” Yunti terlihat terkejut.
“Aku sudah cukup lama berkawan denganmu, untuk bisa membedakan apakah kau berdusta atau tidak. Jadi, jangan permainkan aku.”
Yunti tertawa. “Untuk apa aku berbohong? Aku tidak menculik istrimu.”
“Hentikan, kataku. Berhenti membohongiku!” teriak Putra Mahkota, marah.
“Jujur saja, aku tidak pernah menganggap Putri Mahkota sebagai istrimu.”
Putra Mahkota mendesah. “Sudah cukup, Yunti-ah. Aku tahu kau membenciku, tapi tidak denganku. Hentikan semua ini, sebelum kau sendiri terluka.”
Yunti terdiam, lalu terkekeh. “Apa-apaan ini, kenapa kalimat kalian begitu sama?”
“Lepaskan dia.”
Yunti berhenti tertawa. “Kalau begitu, tunjukkan buktinya. Tunjukkan bukti bahwa Putri Mahkota memang berada di sini. Kau tahu persis, aturan teritori di antara Dinasti Qing dan Joseon. Kau tidak bisa begitu saja masuk wilayah kedutaan Dinasti Qing.”
“Apa peraturan itu penting sekarang?” ucap Putra Mahkota, merangsek maju. Namun, para pengawal Qing langsung mengarahkan pedang ke arah lehernya. Membuat para pengawal istana yang berjaga di belakang terkesiap dan langsung mengeluarkan pedangnya.
“Kau bisa memilih mati di sini dan hubungan antara Qing dan Joseon hancur atau kembali ke istana. Kalau aku berada di posisimu, aku akan memilih kembali ke istana, karena jujur saja aku tidak sedang main-main. Aku bisa saja membunuhmu di sini tanpa peduli hubungan baik antara Qing dan Joseon. Tapi karena aku mengingat hubungan pertemanan kita dulu, karena itu aku masih memberimu kesempatan untuk memilih.”
“Jangan membuatku tertawa.”
Putra Mahkota mulai melawan para pengawal Qing, namun sayangnya pihak Putra Mahkota kalah jumlah. Semuanya terlihat kewalahan. Kasim Hyun menarik Putra Mahkota mundur. “Jeoha, kita tidak bisa melawan mereka sekarang. Mereka terlalu banyak.”
Putra Mahkota melihat ke sekelilingnya. Satu persatu pengawalnya ditumbangkan oleh pengawal Yunti. Ia mendesah. Ia tak punya pilihan lain. “Baiklah, kita mundur.”
Rombongan Putra Mahkota pun mundur. Yunti yang mengamati dari dalam pagar tersenyum menang.
DI ISTANA DALAM
“Sudah dua hari, apa masih tidak ada kabar mengenai Putri Mahkota?”
“Maafkan hamba, Jeohna.”
Ratu yang duduk di singgasana di sebelah kanan Raja mendesah panjang. Ia mengusap air matanya yang sejak tadi mengalir. “Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa seorang Putri Mahkota diculik di dalam istana?”
“Maafkan hamba, Yang Mulia.”
Putra Mahkota yang juga duduk di singgasana kiri sebelah Raja hanya bisa duduk terdiam. Berbagai cara telah ia lakukan mulai mengirim mata-mata ataupun prajurit untuk memasuki kediaman Yunti, namun tidak ada seorang pun yang berhasil kembali. Ia tampak begitu frustasi.
“Kau dan istrimu pasti sangat khawatir akan Putri Mahkota, Menteri Shim. Aku sebagai raja merasa tidak becus menjaga menantuku sendiri. Aku begitu malu sebagai besan. Maafkan aku yang telah lalai dan membiarkan hal ini terjadi.”
“Hamba begitu terharu mendengar ucapan Yang Mulia. Namun, ini semua bukan kesalahan Yang Mulia. Jadi, jangan menyalahkan diri sendiri, Jeohna. Hamba sendiri, akan berjuang dan mengerahkan pasukan hamba untuk menemukan Yang Mulia Putri Mahkota.”
“Ya, kau benar. Tidak ada gunanya menyesal di saat seperti ini. Kita harus segera menemukan Putri Mahkota. Benar, kan, Putra Mahkota?”
Putra Mahkota hanya bisa mengangguk, sedih. Ia merasa begitu malu sebagai suami.
____________________________________________
" Air mata adalah kata-kata yang yang tak bisa diungkapkan. "
- Paulo Coelho
Gambaran Singgasana Raja Joseon