Sakura's Petals

Sakura's Petals
Pulih



Malam hari pun berganti dengan pagi yang sibuk di istana. Pengawal-pengawal sedang berpatroli di sekitar istana. Beberapa dayang sedang memotong kain untuk membuat pakaian. Berpuluh dayang sedang memasak di dapur istana. Beberapa tabib berjubah biru dan beberapa asisten tabib sedang meracik obat. Kemudian tabib itu pun membawa ramuan itu ke sebuah bangunan istana.


Tampak Hyun memakai pakaian kasim, berdiri di luar bangunan itu bersama beberapa dayang. Dua dayang berdangui hijau tua dan empat dayang berdangui hijau muda, dan enam dayang berjeogori merah. Ia langsung mengumumkan kedatangan tabib itu. “Jeoha, tabib Seo sudah tiba.”


Putra Mahkota yang sejak tadi duduk di samping Hwa Ryong menjawab, “Cepat, bawa obatnya ke sini.” Tabib Seo pun memasuki ruangan, membungkuk memberi hormat sebelum mendekat ke kasur Hwa Ryong.


Begitu tabib Seo duduk mulai memeriksa nadi Hwa Ryong, Putra Mahkota langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan. “Apakah dia baik-baik saja? Kenapa ia belum bangun juga? Kurasa demamnya sudah turun, apa itu pertanda baik?”


Tabib Seo menunduk, memberi hormat. “Saya bisa pastikan kondisi Nona baik-baik saja, Yang Mulia. Nona akan baik-baik saja. Tapi Nona harus meminum ramuan ini segera setelah sadar.” Tabib Seo meletakkan ramuan itu di dekat Putra Mahkota.


Putra Mahkota menghela nafas dalam-dalam. “Baiklah, kalau begitu. Sekarang, keluarlah.”


Tabib Seo pun meninggalkan ruangan. Sementara itu, Hyun masuk. “Jeoha, kumohon kembalilah ke kediaman Anda, Yang Mulia. Luka Yang Mulia belum pulih dan Tabib Jang menyuruh Anda beristirahat selama dua hari penuh.”


Putra Mahkota terdiam sejenak. “Cepat siapkan satu kasur lagi.”


Hyun tampak bingung. “Kasur, Yang Mulia?”


“Oho! Kau tidak mendengar apa yang kukatakan? Cepat siapkan sekarang. Bukankah kau ingin aku istirahat?”


Hyun tampak mulai mengerti. “Jeoha! Saya ingin anda cepat beristirahat namun bukan berarti istirahat di sini bersama Nona.”


“Cepat laksanakan saja!”


Hyun pun dengan enggan memerintahkan para dayang menyiapkan kasur.


Sebuah kasur beremblem emas pun diletakkan dua meter jauhnya dari kasur Hwa Ryong. Putra Mahkota tampak tak puas, ia pun menarik kasurnya sendiri mendekat ke arah kasur Hwa Ryong hingga tersisa sepuluh senti. Hyun hendak protes, tapi Putra Mahkota langsung melotot padanya dan memberi isyarat dengan tangan menyuruh Hyun keluar.


Sementara itu, Putra Mahkota berbaring di sebelah Hwa Ryong. Tangannya menggenggam erat tangan Hwa Ryong. Kenapa hatiku bisa semudah ini bertekuk lutut padanya, pikir Putra Mahkota. Apakah karena ia menyelamatkanku? Tidak. Aku yakin walau ia orang yang membunuhku sekalipun, aku tidak akan membencinya. Argh. Ini membuatku gila. Aku bahkan tidak bisa tidur sama sekali saat melihatnya sakit seperti ini. Hari itu pun Putra Mahkota habiskan sambil terus berbaring di sebelah Hwa Ryong tanpa tidur sedikitpun.


DI KEDIAMAN KELUARGA SHIM


Tuan dan Nyonya Shim dikagetkan oleh kedatangan Seol tanpa kehadiran anaknya di belakangnya.


Seol dengan kepala menunduk, berjalan menuju majikannya. Air matanya pun mengalir. Ia berlutut. “Maafkan saya, Tuan, Nyonya. Nona menghilang saat kami beristirahat di sebuah penginapan. Saya sudah mencarinya ke seluruh kota semalaman, tapi saya tidak menemukannya di mana-mana.”


Saat itulah, Nyonya Shim terjatuh duduk, menangis meraung. Beberapa pelayan langsung memeganginya dari belakang. “Oh, anakku yang malang. Apa dosaku hingga aku harus kehilangan anakku satu-satunya, Seol? Cepat temukan dia, kau tidak boleh kembali sebelum menemukannya!”


“Cepat bawa Nyonya masuk!” perintahnya, lalu Tuan Shim berjalan ke arah Seol, menariknya berdiri. “Istirahatlah di kamarmu. Biarkan para pengawal yang mencarinya.”


“Tidak, Tuan. Saya ingin membantu mencari Nona bersama pengawal lainnya.”


Tuan Shim tampak pasrah, “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku hanya bisa berharap ia baik-baik saja."


Tuan Shim pun keluar dari rumah. Tepat di belakangnya, barisan pengawal dan Seol mengikutinya.


_____________________________________________


" Dengan cinta kita dapat menyelamatkan dunia "


- George H