Sakura's Petals

Sakura's Petals
Kembali



Pada dini hari, Hwa Ryong pun diantar pulang secara diam-diam oleh para pengawal Putra Mahkota.


“Janjilah padaku untuk datang akhir minggu ini.” kata Putra Mahkota sebelum Hwa Ryong beranjak pergi. Hwa Ryong mengangguk, meremas tangan Putra Mahkota sebelum kemudian melangkah keluar kediaman Putra Mahkota.


Begitu sampai di rumahnya, Hwa Ryong disambut tamparan dari ibunya, yang kemudian segera disusul oleh pelukan. Hwa Ryong terkejap sesaat sebelum kemudian membalas pelukan ibunya.


“Anakku! Astaga, kau hampir membuat ibumu mati jantungan! Jangan pernah mengulanginya lagi, kau mengerti?”


“Maafkan aku, Bu.”


“Mulai sekarang, kau akan mendapat pengawalan tiga kali lipat dari sebelumnya. Jadi, jangan coba-coba melarikan diri dari rumah.”


Hwa Ryong menatap ibunya. Dalam hatinya, ia teringat janjinya pada Putra Mahkota. Apakah ia akan bisa melewati penjagaan ketat ibunya? Tiga kali lipat, Hwa Ryong meragukan kemampuannya untuk menepati janjinya pada Putra Mahkota. “Tapi...”


“Tidak ada tapi, tapian. Hari pemilihan putri mahkota sudah dekat. Kau tidak boleh sampai terlihat oleh siapapun agar kau tidak perlu mengikuti pemilihan tersebut. Jadi jagalah dirimu baik-baik. Berkeliaran di luar bukan hanya tidak aman tapi juga merusak reputasimu, kau mengerti?” Hwa Ryong hanya bisa menunduk, bingung memikirkan cara apa yang bisa diambilnya untuk kabur dari rumah sekali lagi. “Sekarang, ayo, ikut ibu masuk ke dalam. Ibu sangat rindu padamu.”


“... sepuluh, sebelas, dua belas.” Hwa Ryong terduduk di samping jendela kamarnya, mengintip dari jendela. “Ah, apa yang harus kulakukan?”


Seol yang baru saja selesai menyiapkan air mandi nonanya, terlihat bingung. “Apa yang sedang Nona hitung?” Ia duduk di sebelah nonanya.


“Tidak, bukan apa-apa.”


Seol ikut menengok di jendela dan ia pun akhirnya mengerti. “Ah, pasti itu. Para pengawal, ya?” Hwa Ryong menunduk. “Jangan bilang Nona akan melarikan diri lagi.”


Hwa Ryong mengangguk. “Ya, aku akan kabur. Tapi berbeda dengan biasanya. Ada hal penting yang harus kulakukan di luar sana.”


“Sudah, jangan berpikiran macam-macam, Nona. Pangeran Yunti dari Cina akan datang hari ini. Jika sampai Nona kabur lagi, saya pasti akan diusir oleh Nyonya. Selain itu, apakah Nona ingin saya mati jantungan tiap kali karena memikirkan Nona?"


Hwa Ryong menghela nafas, ia pun berjalan menuju ruang mandi.


KEESOKAN HARINYA


Jeogori putih tulang dengan bordiran bunga sakura dan chima merah muda sewarna dengan bordiran jeogori, membuat Hwa Ryong tampak semakin menawan saat ia selesai berpakaian. Dibantu dua pelayan lain selain Seol, ia berias dan menggunakan jepit berbentuk bunga sakura di bagian samping kepalanya.


Ketika Hwa Ryong selesai dirias, salah seorang pelayan tersenyum puas. “Kecantikan Nona memang tiada tandingannya, sama seperti Nyonya. Saya yakin Nona akan menjadi istri utama Pangeran (fujin) yang paling cantik nanti di Kekaisaran Qing.”


Hwa Ryong mendesah, mendengar kata-kata pelayannya. “Andai saja aku bisa senang saat mendengar pujianmu tadi, hidupku pasti akan lebih bahagia. Masalahnya, hidupku tak lagi sesederhana itu sekarang.”


Pelayan itu terperangah. “Apa maksud Nona?”


Begitu sampai di depan pintu, ia mengetuk pintunya perlahan. “Abeonim, ini saya.”


“Masuklah.” ujar ayahnya.


Ketika masuk, matanya langsung tertuju pada Pangeran Yunti, pangeran keempat belas Dinasti Qing yang sudah menjadi temannya sejak ia masih berusia sepuluh tahun. Baru sekitar empat bulan lalu ia datang dan hari ini dia datang kembali, dengan diam-diam tentunya, ke Joseon. Seperti biasa, senyum Yunti berpendar seperti cahaya yang dihasilkan kunang-kunang di langit tak berbintang. Yunti memang orang yang sangat ceria. Apalagi dengan lafal Koreanya yang masih butuh banyak perbaikan, dia terlihat sangat lucu.


Hwa Ryong pun duduk di sebelah ibunya setelah tadi memberi hormat kepada Pangeran Yunti.


“Kaisar begitu merindukan kehadiran Tuan Shim di Beijing. Yang Mulia ingin sekali minum teh di taman istana seperti yang dilakukannya bersama Anda tahun lalu.”


Tuan Shim tertawa. “Ah, benarkah? Saya sejujurnya ingin mengunjungi Yang Mulia Kaisar sesegera mungkin karena saya sangat merindukan saat-saat itu. Tapi karena urusan istana akhir-akhir ini butuh banyak perhatian, saya harus menundanya hingga akhir tahun. Tolong sampaikan permintaan maaf saya yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia.”


Pangeran Yunti mengangguk. “Tentu saja. Jangan khawatir. Tapi soal tawaran Ayahanda untuk menjadikan Anda pejabat tinggi di Cina, apakah Anda benar-benar tidak dapat menyetujuinya? Saya tahu pindah ke Beijing sangat berat, tapi Ayahanda akan memastikan bahwa Anda tidak akan kekurangan suatu apapun. Anda adalah sahabat baik Ayahanda. Apa baiknya menolak permintaan sahabat? Apalagi, Hwa Ryong juga sebentar lagi akan menjadi istriku. Akan sangat baik bila kedua orang tuanya berada di sampingnya, bukan begitu?”


“Hamba sangat bersyukur atas kebaikan Yang Mulia Kaisar dan juga perhatian yang diberikan Yang Mulia pada anak hamba, tetapi saya lebih nyaman tinggal di Joseon. Lagipula, Joseon masih banyak membutuhkan saya. Saya yakin Beijing penuh dengan orang-orang yang lebih berbakat dari saya. Tapi jika memang Yang Mulia Kaisar membutuhkan saya, saya berjanji akan datang ke Beijing sesering mungkin.”


“Sama seperti cerita Ayahanda Kaisar, Anda memang orang yang keras kepala dan cinta negeri. Tapi, demi Ayahanda, tolong pertimbangkan kembali tawaran ini.”


“Baiklah, akan saya pertimbangkan kembali. Tapi saya tidak janji akan bisa menerimanya, Yang Mulia.”


“Tidak masalah. Hanya saja, tolong benar-benar pertimbangkan kembali.”


Tuan Shim mengangguk, lalu melirik ke arah Hwa Ryong yang sejak tadi duduk melamun, memikirkan Putra Mahkota. Nasi yang disumpitnya, gugur berjatuhan di meja.


“Oho! Gadis ini! Jangan melamun saat makan.”


Pangeran Yunti tertawa geli, membuat Hwa Ryong seketika malu.


_____________________________________________


"Dan malam ini, aku akan tidur denganmu di hatiku."


- NN


Gambaran Pakaian Hwa Ryong :