
DI BALAI ISTANA RATU
Di saat yang bersamaan, Hwa Ryong dan Ratu sedang sibuk membuat bordiran bersama. Ratu sesekali mendongak, mengecek raut wajah menantunya dengan wajah khawatir. Namun tidak seperti yang ia duga, Hwa Ryong nampak datar dan santai. Tidak ada raut wajah khawatir atau sedih.
Ratu berdehem, membuat Hwa Ryong seketika berhenti menjahit. “Apa Anda baik-baik saja, Uhmamama? Apa Anda ingin meminum teh herbal?”
Ratu memandang menantunya, sayang. Ia menggeleng. “Tidak, Putri. Aku baik-baik saja.”
Hwa Ryong kemudian tersenyum lega dan melanjutkan kegiatannya. Ratu kembali menatap menantunya bingung. “Apa kau baik-baik saja, Putri Mahkota?”
Hwa Ryong nampak bingung. “Saya merasa sehat hari ini, Uhmamama.”
“Apa tidak ada rasa sedih sedikitpun di hatimu hari ini? Kau sudah mendengar kabar mengenai Eo Mi Kyung, bukan?”
Hwa Ryong mengangguk. “Iya, saya sudah mendengar dan bahkan bertemu dengannya, Uhmamama. Tapi Uhmamama tidak perlu khawatir. Hal ini tidak membuat saya sedih.”
Kerutan di dahi Ratu semakin mendalam. “Tapi, kau mencintai Putra Mahkota, bukan? Bukankah ini menyakiti hatimu?” tanya Ratu dengan nada hati-hati.
“Bagi saya, mencintai Putra Mahkota bukan berarti saya berhak untuk membatasi hatinya. Sejak awal, seperti yang dahulu saya utarakan, saya ingin menjadi Putri Mahkota yang mendukung Putra Mahkota seutuhnya. Bagi Putra Mahkota, mempunyai selir adalah hal yang sangat baik. Dan tidak ada alasan bagi saya untuk menolak atau bersedih akan hal ini, Yang Mulia. Karena kebahagiaan dan keamanan Putra Mahkota adalah prioritas bagi saya sebagai istrinya. Jika dengan bersabar dapat membantu Putra Mahkota, saya tidak keberatan untuk melaluinya. Lagipula, saya merasa Eo Mi Kyung adalah sosok yang baik. Saya ingin bisa berteman dengannya dan saya yakin kami dapat membantu Putra Mahkota bersama sebagai istri Putra Mahkota.”
Ratu kehabisan kata-katanya. Ia tidak menyangka menantunya begitu bijak dan sabar. Ia hanya bisa mendesah lega. “Tapi tetap saja, Putri, Ibunda merasa bersalah akan hal ini. Ibunda harap engkau sudi memaafkan keputusan ibunda ini. Jika ada sesuatu yang terjadi di kemudian hari, jangan segan meminta bantuan. Apa kau mengerti?”
Hwa Ryong mengangguk. “Ibunda tidak bersalah atas apapun. Apakah salah jika seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya? Tentu tidak. Putri malah begitu bahagia karena Ibunda telah mengusahakan yang terbaik untuk Putra Mahkota.”
Senyum hangat menghiasi wajah Ratu. Tak ada lagi raut khawatir di wajahnya. Sirna sudah seperti rembang pagi yang ditelan cahaya surya. Namun, senyum itu tak bertahan lama. Ratu tiba-tiba teringat akan ambisi Mi Kyung sesaat sebelum sayembara Putri Mahkota dimulai. Ia tahu benar bahwa Mi Kyung mengincar posisi Putri Mahkota. Ratu menelan ludah dalam-dalam. Hatinya lagi-lagi dirundung nestapa.
Berita bahwa selir baru tidak dapat menarik perhatian Putra Mahkota tersebar luas di istana. Bukannya menjadi dingin dan meninggalkan Putri Mahkota, Putra Mahkota semakin sibuk mengunjungi Putri Mahkota di tiap waktu senggangnya. Dayang-dayang pun sibuk bergosip mengenai kemesraan Putra dan Putri Mahkota yang begitu intim dan mesra. Kabar burung itu seolah memukul keras Mi Kyung. Ia tidak pernah menyangka bahwa Putra Mahkota adalah sosok yang begitu dingin dan tegas kepadanya.
Mi Kyung bukanlah gadis yang jelek. Ia tidak kalah cantik dari Hwa Ryong. Menari, kaligrafi, seni merangkai bunga, sastra, bahkan ilmu bela diri dapat dikuasainya dengan luar biasa baik. Kesempurnaan Mi Kyung begitu sesuai dengan kriteria Putri Mahkota yang sesungguhnya. Hal inilah yang membuat Mi Kyung merasa geram saat gadis lain yang menurutnya tidak lebih baik dari dirinya, terpilih sebagai Putri Mahkota. Apalagi Mi Kyung telah memiliki perasaan untuk Putra Mahkota sejak dulu.
Umurnya masih sepuluh tahun ketika ia baru pertama kali mengenal Putra Mahkota. Ada sebuah acara perayaan di istana dan keluarganya adalah salah satu tamu undangan. Bersama dengan keluarganya, ia mengunjungi istana Joseon untuk pertama kalinya. Di tengah perayaan itu, Putra Mahkota yang saat itu juga masih belia segera menangkap perhatian Mi Kyung. Putra Mahkota adalah pria paling tampan yang pernah ia temui. Tidak hanya tampan, Putra Mahkota juga begitu bijaksana walaupun saat itu ia masih belia. Banyak orang memuji kepintaran Putra Mahkota. Hal ini membuat Mi Kyung semakin menginginkan Putra Mahkota. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan Putra Mahkota adalah dengan menjadi istrinya, yaitu Putri Mahkota.
Tapi, kini harapan itu telah pupus. Ia harus menelan pahit-pahit bahwa posisi selirlah yang paling mungkin bisa ia dapatkan.
Mi Kyung dulu berpikir bahwa posisi selir akan bisa mendekatkannya kepada Putra Mahkota, namun nyatanya tidak. Posisi selir di hadapan Putra Mahkota nampak sama saja dengan posisi pengawal istana. Putra Mahkota bahkan tidak pernah melirik ataupun menatap Mi Kyung. Hal ini membuat Mi Kyung begitu geram.
“Takkan kubiarkan hal ini berlanjut.” ucapnya, dalam, sambil menggenggam cangkir tehnya erat.
____________________________________________
" Aku memilihmu, dan akan terus memilihmu lagi dan lagi. Tanpa jeda, tanpa ragu, aku akan terus memilihmu. "
- NN
Gambaran Pakaian Kepala Dayang Istana Joseon
Apa ada yang suka nonton Dae Jang Geum di sini?