Sakura's Petals

Sakura's Petals
Racun



Mi Kyung yang sedang sibuk mengipasi wajahnya, terkesiap kaget ketika mendengar suara teriakan tadi. Namun, tidak seperti kebanyakan wanita istana yang langsung berlari menuju arah sumber suara. Ia tidak peduli. Mungkin itu suara anak tercebur di danau, pikirnya. Anak-anak memang sungguh nakal dan merepotkan. Kira-kira begitulah yang ada di benaknya.


Namun, ketika ia melihat kepanikan para dayang istana. Ia mau tidak mau merasa ingin tahu. Ia pun bertanya kepada salah satu dayangnya.


“Putri Mahkota terluka, Nyonya. Ia diserang ular saat berusaha melindungi anak-anak.”


Mi Kyung mengerutkan keningnya dalam. “Melindungi, katamu?”


“Anak-anak sedang bermain petak umpet. Dan salah satu dari mereka bersembunyi di balik semak-semak, tempat ular bersarang. Teriakan anak itu membuat ular kaget dan menyerangnya. Tapi sebelum anak itu dipatok, Putri Mahkota melindunginya dengan tangannya.”


Mi Kyung tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Akan lebih baik jika ular itu berbisa, harapnya.


DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA


“Kau ini.” desah Putra Mahkota. “Untung saja, ular itu tidak berbisa. Bagaimana jika ular itu berbisa? Kau bisa kehilangan nyawa, Hwa Ryong-ah.”


“Oppa,” panggil Hwa Ryong, geli. “Yang penting aku tidak apa-apa, bukan? Kalaupun berbisa, aku tahu bahwa tabib istana bisa menyembuhkanku dengan mudah.”


“Aku sudah ikut berburu dengan Ayahanda sejak kecil dan belum pernah sekalipun diserang ular. Dan kau, yang biasanya menjahit di dalam ruangan, bisa diserang ular. Kurasa malapetaka begitu menyayangimu, Hwa Ryong.”


“Sebesar engkau menyayangiku, Oppa?” goda Hwa Ryong.


“Tidak. Cintaku lebih besar.” kekeh Putra Mahkota, geli. Dengan lembut, ia mencium pergelangan tangan Hwa Ryong yang terluka. “Apakah masih terasa nyeri?”


Hwa Ryong menggeleng. “Tidak lagi sejak kau menciumnya.”


DI ISTANA DALAM


Kisah keberanian Putri Mahkota yang mau berkorban melindungi anak yatim piatu menjadi desas-desus hangat di seantero negeri. Banyak orang yang merasa kagum akan keberanian Hwa Ryong. Tidak hanya rakyat, dayang-dayang istana juga semakin hormat kepada Hwa Ryong. Tidak terkecuali dayang-dayang Mi Kyung. Mi Kyung merasa sangat iri ketika Raja dengan terang-terangan memuji Putri Mahkota di hadapan seluruh menteri. Dasar munafik, pikirnya. Ini pasti adalah akal-akalan Putri Mahkota untuk meraih simpati rakyat dan orang lain.


Kebencian di dadanya, menyeruak panas. Keinginan hatinya bulat untuk menyingkirkan Hwa Ryong. Apalagi ketika permintaannya untuk diangkat menjadi selir tak kunjung dikabulkan oleh Ratu. Ratu yang kecewa akan sikap Mi Kyung di hari itu, malah memarahinya saat ia mengutarakan permintaannya menjadi selir. Tidak hanya itu, dayang-dayang bawahannya pun ikut memuji-muji dan berpihak pada Hwa Ryong. Kenapa tidak ada seorangpun yang berpihak padaku, tanyanya dalam hati. Semua karena dia. Putri Mahkota.


“Kepala Dayang Kim!”


“Iya, Nyonya?”


“Panggilkan Tuan Nam menghadap padaku. Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya.”


“Baik, Nyonya.”


Tuan Nam adalah salah satu orang yang bisa membantunya meraih ambisinya. Dengan keahliannya dalam bidang racun, Tuan Nam adalah orang yang tepat, pikir Mi Kyung.


DI DAPUR ISTANA


“Yang Mulia! Yang Mulia tidak boleh melakukan ini.”


Hwa Ryong mendesah. “Kenapa? Aku hanya ingin memasakkan sesuatu untuk Putra Mahkota. Itu saja.”


“Sudah menjadi aturan istana bahwa wanita istana tidak seharusnya melakukan pekerjaan kasar seperti itu. Tangan Yang Mulia akan terluka dan kotor jika memasak.”


“Oho! Membuat masakan bagi suamiku kotor katamu? Jangan membuatku menghukummu! Sudah! Jangan hentikan aku. Diam dan biarkan aku menyelesaikan ini.”


Tekad Hwa Ryong untuk memasakkan masakan kesukaan Putra Mahkota sudah bulat. Apalagi saat ia ingat bahwa Putra Mahkota dulu juga memasakkan sesuatu untuknya di hari ulang tahunnya secara sembunyi-sembunyi. Setidaknya, ia ingin juga melakukan itu untuk suaminya.


Hwa Ryong begitu sibuk memotong bawang hingga tidak menyadari bahwa Mi Kyung sedang mengawasi dirinya dari kejauhan. Tangan Hwa Ryong yang tidak terlatih membuat jarinya terluka tanpa sengaja.


“Yang Mulia! Apa Anda baik-baik saja? Yang Mulia Putra Mahkota akan marah kepada hamba jika ia tahu bahwa saya membiarkan Anda terluka.”


Bukannya ringisan kesakitan, senyum menghiasi wajah Hwa Ryong. “Setidaknya ia tahu, bahwa aku juga berdarah-darah untuk membuatkan ini untuknya seperti saat ia membuatkannya untukku.” kekehnya, pelan.


Mi Kyung pun kemudian mendapatkan ide. Pisau masak. Pisau akan menjadi alat yang sempurna, pikirnya dalam hati. Ia pun melenggang pergi kembali ke kediamannya dan menemui Tuan Nam.


DUA HARI KEMUDIAN


Ayam berkokok dan dentuman bel istana berbunyi, menandakan hari telah beranjak pagi. Dayang-dayang pun sibuk bersiap dan membersihkan diri mereka. Namun, tidak seperti dayang yang lain, seorang dayang telah siap lebih awal dan melenggang pergi dengan langkah cepat menuju dapur istana.


Wajahnya penuh dengan rasa khawatir. Genggamannya pada botol kecil di tangannya semakin erat saat memasuki ruang dapur istana. Ia segera mencari pisau yang biasa dipakai oleh Putri Mahkota. Begitu menemukannya, dengan cepat ia melumurinya dengan cairan yang terdapat di dalam botol itu dan mengembalikan pisau itu ke tempatnya semula. Bagaikan bayangan, ia kemudian menghilang.


_____________________________________________


" Jika aku telah melakukan hal yang benar dalam hidupku, hal itu adalah ketika aku memberikan hatiku kepadamu. "


- NN


Thor, dari mana sih sebenernya thor suka dgn kerajaan Joseon?


- Drama Korea, dong!


Beberapa drama Korea dengan tema kerajaan Joseon :



Dae Jang Geum



Mulai dari jadi juru masak sampai jadi tabib, Jang Geum selalu jadi yang terbaik. Kerja keras dan kesabarannya menginspirasi kita, terutama author sendiri. Dari sinilah juga author belajar bahwa budaya Joseon sangat menarik dan indah.




Dong Yi



Ya, sempat diputar di Indosiar, menampilkan kehidupan seorang pelayan hingga menjadi selir terhormat yang nantinya anaknya akan menjadi Raja tentu sangat menarik! Author adalah salah satu penonton setianya. Apalagi Dong Yi menampilkan kisah sisi lain dari sejarah ternama antara Jang Hee Bin dan Queen In Hyun yang selama ini menjadi inspirasi banyak drama masa Joseon. Wajib nonton!




Jang Ok Jung, Living by Love



Kalau tadi pada sudut pandang Selir Sukbin, sekarang di sudut pandang Jang Hee Bin, wanita yang bisa dibilang paling ternama sebagai wanita yang terkenal kecantikannya namun terkenal juga kejahatannya. Di drama ini, lagi-lagi kita dibuat berpikir tentang sudut pandang seorang Jang Hee Bin, yang sempat dulu menjadi kekasih hidup Raja.




The Princess's Man



Menurut thor, ini drama tersedih dan ter"kasihan" yang pernah author tonton! Kalau suka mellow, wajib nonton nih! Tapi siapin tissue yang banyak ya! Ceritanya overall kayak antara Romeo and Juliet tapi di masa Joseon.



dan masih banyak beberapa drama lainnya lagi...



The Crowned Clown





Queen for Seven Days





The Moon that Embraces The Sun





Hwang Jin Yi





My Sassy Girl





The Flower in Prison