Sakura's Petals

Sakura's Petals
Rencana Putra Mahkota



DI KEDIAMAN PRIBADI PUTRA MAHKOTA


“Oppa bisa kembali ke kamar jika Oppa lelah.” ujar Hwa Ryong yang terbaring di kasurnya setelah kakinya tadi diobati oleh tabib.


“Tidak, aku tidak lelah. Berada bersamamu takkan membuatku lelah.” jawab Putra Mahkota, terus memandangi Hwa Ryong dari sebelah kasur.


Hwa Ryong menggenggam tangan Putra Mahkota. “Tapi aku tetap saja khawatir pada Oppa. Aku tidak ingin kau terluka karenaku.”


Putra Mahkota mendesah. “Sudah berapa kali kubilang bahwa aku akan baik-baik saja. Sebagai Putra Mahkota Joseon, takkan ada yang berani menyentuhku sembarangan.”


Hwa Ryong mengangguk. “Ya, takkan ada yang berani menyentuh Putra Mahkota...” Ia kemudian terbelalak. “Putra Mahkota?”


“Iya. Aku adalah Putra Mahkota negara ini, Lee Yoon.”


Hwa Ryong terdiam, lalu bangun dari posisi tidurnya. Ia menatap Putra Mahkota dengan pandangan tak percaya. “Apa Oppa tahu bahwa bercanda seperti ini bisa mendapat hukuman mati di biro kepolisian?”


Putra Mahkota mendesah. “Aku tidak bercanda.”


“Berhentilah bercanda sebelum ada yang mendengar. Apapun posisi Oppa di istana, jika mengaku-ngaku sebagai Putra Mahkota, Oppa takkan bisa selamat.”


Putra Mahkota tersenyum. “Kasim Hyun!”


Kasim Hyun melangkah masuk, lalu langsung membungkuk hormat. “Ya, Yang Mulia. Silahkan beri perintah Anda.”


Hwa Ryong terdiam lama sebelum kemudian membuka mulutnya lagi. “Jadi yang kudengar tadi adalah benar. Orang-orang di rumah ini memanggilmu dengan panggilan Yang Mulia. Tapi bagaimana bisa Oppa, eh, bukan, Yang Mulia berada di luar istana?”


Putra Mahkota membelai rambut Hwa Ryong pelan. “Siapapun boleh memanggilku dengan panggilan Yang Mulia, tapi tidak denganmu. Aku ingin kau memandangku apa adanya sebagai seorang pria dan bukan sebagai putra mahkota.”


“Tapi...”


“Oho! Ini adalah perintah. Apa kau ingin mendapat hukuman dariku karena tidak patuh pada perintah Putra Mahkota?”


“Baiklah, Oppa.”


Putra Mahkota tersenyum mendengar jawaban Hwa Ryong. “Jadi, sekarang, beritahu aku siapa pria yang membawamu itu.”


Hwa Ryong terdiam sejenak. Hatinya yang sejak tadi berbunga-bunga berubah gelisah. Tidak ada gunanya menyembunyikan semuanya sekarang, tapi entah kenapa ia masih merasa takut. Bahkan untuk menyebutkan nama Yunti saja, ia sudah takut setengah mati. Takut bahwa ancaman Yunti benar-benar menjadi kenyataan. “Pangeran keempatbelas Dinasti Qing, Pangeran Yunti.”


Putra Mahkota tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya selama sesaat. Ia memang pernah memikirkan kemungkinan bahwa pria itu adalah seorang pangeran. Tapi tidak dengan pangeran keempatbelas, Pangeran Yunti. Putra kesayangan Kaisar Qing yang saat ini berkuasa. Melawan seorang pangeran dari negeri luar saja sudah merupakan hal yang sulit. Apalagi jika pangeran itu berasal dari Cina, ditambah lagi statusnya sebagai salah satu anak kesayangan kaisar. Tak hanya itu, prestasi yang ia dapatkan dari bidang militer membuatnya tak bisa diremehkan begitu saja. Karena pasukan dan pengikutnya pasti takkan berjumlah sedikit. Sangat besar, malah, mengingat ia merupakan Pangeran Qing. Sebagai pangeran, ia juga merupakan sosok yang dicintai rakyatnya. Seorang calon penerus tahta Kaisar Qing. Jelas, membuat masalah sedikit saja atau berurusan dengannya sama saja dengan mencari mati. Tak hanya mati saja, bahkan bisa berarti invansi kerajaan. Apalagi saat kondisi politik Joseon sedang tidak baik seperti ini, pikirnya. Putra Mahkota terdiam sesaat.


Satu lagi, Yunti adalah musuh terbesarnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Yunti, bahkan menemuinya untuk mempermalukannya sekalipun.


Hwa Ryong bisa merasakan perasaan gelisah dari wajah Putra Mahkota. Ia mencoba tersenyum walau dalam hati ia begitu kecewa dan sedih. Ia sudah tahu bahwa bahkan Putra Mahkota sekalipun takkan begitu berdaya di depan Yunti. Tapi tetap saja, rasa sedih tak lagi terelakkan. “Belum terlambat untuk mengantarku pulang dan mengakhiri semuanya. Hanya dengan melihat Oppa aman dan juga negara ini saja, aku akan bahagia. Aku takkan meminta lebih. Jadi, Oppa tak perlu khawatir. Aku memang tidak mencintai Yang Mulia Pangeran Yunti, tapi aku yakin aku akan sanggup hidup bersama dengannya. Rasa cinta mungkin akan tumbuh di hatiku, walau hanya sedikit saja jika aku telah menikah dengannya. Lagipula, kami telah berteman sejak kecil dan itu membuatku terbiasa dengannya. Kami juga berteman dekat. Aku akan mencoba merasa bahagia bersamanya, karena itu jika Oppa merasa kita takkan bisa menang, aku akan merelakan diriku bersamanya. Aku takkan pernah keberatan.”


“Tidak!” seru Putra Mahkota tiba-tiba. Matanya setengah melotot ke arah Hwa Ryong. “Apa kau tidak sadar betapa mengerikannya isi kalimatmu tadi? Menikah dengannya?”


“Oppa!” panggil Hwa Ryong.


Putra Mahkota menggeleng keras. “Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Menikah dengannya? Ia harus melangkahi mayatku dulu sebelum ia mendapatkanmu. Kumohon Hwa Ryong, jangan pernah katakan hal mengerikan seperti itu lagi di depanku.”


“Tapi Oppa...”


Putra Mahkota bangkit berdiri. “Tidurlah. Ini sudah larut malam. Kau harus memulihkan kakimu untuk mengikuti pemilihan besok lusa.”


“Pemilihan?”


“Pemilihan Putri Mahkota.”


Hwa Ryong terbelalak kaget. “Tapi, Oppa...”


Putra Mahkota telah melenggang keluar, meninggalkan Hwa Ryong yang masih terkejut di kasurnya. Hwa Ryong tersadar dari keterkejutannya, lalu dengan terseok ia mencoba mengejar Putra Mahkota. Tapi seperti yang sudah diperkirakan, ia pun terjatuh.


Putra Mahkota segera berlari kembali setelah mendengar suara jatuh berdebum dari dalam kamar. “Hwa Ryong! Kau tidak apa-apa?” tanyanya, khawatir, berjongkok di sebelah Hwa Ryong yang terjatuh.


“Lalu apa? Kau menikah dengannya?”


“Aku bukan gadis bodoh yang tidak tahu bahwa Yunti akan menimbulkan masalah besar pada Joseon, Oppa.”


“Itu tugasku sebagai Putra Mahkota, jadi tugasmu hanya mengikuti pemilihan itu dan menjadi Putri Mahkota. Hanya cara itulah yang bisa kita lakukan untuk bisa bersama.”


“Tapi...”


“Hanya dengan menjadi Putri Mahkota, ia takkan bisa berbuat macam-macam padamu. Karena Dinasti Qing dan Joseon memiliki hubungan yang cukup erat saat ini, ia takkan bisa dengan mudahnya membuat masalah tanpa mendapat izin dari Kaisar.”


Hwa Ryong terdiam.


“Semakin cepat kau menjadi Putri Mahkota akan semakin baik.”


Hwa Ryong hanya bisa terdiam. Semua yang dikatakan Putra Mahkota benar. Hanya inilah satu-satunya cara. Menjadi Putri Mahkota, sesuatu yang tak pernah dan takkan pernah muncul dalam pikirannya bahkan dalam mimpi tergilanya sekalipun. Posisi yang begitu tinggi hingga rasanya mustahil menggapainya sekarang berada di depan matanya. Apa aku akan sanggup, tanya Hwa Ryong dalam hati.


DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI


Yunti berjalan berputar-putar di depan kediamannya. Seorang pengawal berlari-lari kecil menuju ke arahnya. Pengawal itu tampak begitu gugup.


“Bagaimana hasil penyelidikannya? Apa kau mendapatkan informasi mengenai pria itu?”


Pengawal itu terdiam. “Soal itu, Yang Mulia... Saya...”


Yunti langsung melotot kepada bawahannya itu.


“Jangan buang waktuku. Cepat katakan informasi yang kau dapatkan sekarang!”


“Ia... ia adalah Yang Mulia Putra Mahkota, Yang Mulia.”


Yunti nampak sangat terkejut. “Putra Mahkota? Bagaimana mungkin Hwa Ryong mengenalnya, bahkan mencintainya?”


Pengawal itu menyela. “Apa yang harus kami lakukan sekarang, Yang Mulia? Kami tidak mungkin menyerang villa kerajaan. Hal ini akan membuat hubungan erat kedua negara hancur seketika.”


Yunti terdiam sejenak. Ia mendengus. “Untuk sementara ini, tarik mundur pasukanmu. Sebagai gantinya, gunakan bandit-bandit Joseon untuk mencari celah agar kita bisa membawa Hwa Ryong pulang.”


Pengawal itu mengangguk hormat. “Baik, Yang Mulia.”


Yunti melangkah masuk menuju kamarnya. Ia sesekali menghela nafas kasar. “Putra Mahkota.” ulangnya, pelan. “Betapa lucunya takdir mempertemukan kami kembali setelah hari itu.” Yunti pun mencoba mengingat masa-masa itu.


FLASHBACK


Sepuluh tahun lalu, seorang anak laki-laki kecil berpakaian Putra Mahkota dan seorang anak laki-laki kecil lainnya dengan pakaian kebesaran Pangeran Qing bermain di sebuah taman dijaga seorang dayang kepala wanita yang telah berusia paruh baya.


Dayang itu begitu perhatian menjaga kedua anak itu. Ia membantu Putra Mahkota yang tanpa sengaja jatuh tersandung untuk bangkit berdiri dan menghiburnya. Ia juga memeluk si Yunti kecil dengan hangat saat ia merindukan rumahnya di Beijing. Kedua pangeran itu dengan cepat menyayangi dayang itu, yang sudah mereka anggap seperti ibu mereka sendiri.


Suatu hari, mereka pun berebut perhatian si dayang. Putra Mahkota memulai perkelahian. Ia melemparkan kue ke kepala Yunti. Hingga kemudian, Putra Mahkota terjatuh dan mendapat luka di kepala karena kalah berkelahi melawan Yunti. Dayang itu pun dijebak oleh para utusan Kerajaan Qing yang dikirim untuk mendampingi Pangeran, ia dituduh bersalah karena telah membuat Putra Mahkota terluka. Para utusan itu melakukannya untuk menyelamatkan nama Dinasti Qing karena dengan sengaja Yunti melukai Putra Mahkota. Dayang itu pun dihukum mati. Sejak saat itu, Yunti dan Putra Mahkota semakin membenci satu sama lain. Mereka saling menuduh satu sama lain atas kematian dayang itu.


Yunti mendesah lagi. Ia tak pernah menyangka bahwa kejadian ini terjadi lagi. Mereka memperebutkan seseorang yang sama lagi. Tapi berbeda dengan yang dulu, Yunti takkan pernah tega membuat Hwa Ryong terluka. Tidak akan pernah, pikirnya.


___________________________________________


" Kita jatuh cinta karena takdir namun tetap kita sendiri yang memutuskan untuk mempertahankannya atau tidak. "


- Quotereel.com


Pakaian Pernikahan Joseon dan Qing