
DI GASEBO TAMAN ISTANA
Setelah berbulan-bulan tinggal di Joseon diam-diam, Pangeran Yunti datang secara resmi menyapa Raja sebagai perwakilan Dinasti Qing. Kedatangan Pangeran Yunti adalah momen yang berharga bagi kedua negara. Karena tidak seperti biasanya, Qing mengirimkan pangerannya secara langsung dan bukan utusan biasa. Apalagi Pangeran Yunti yang merupakan calon Kaisar Qing di masa depan. Raja dan Pangeran Yunti sedang membahas tentang politik kedua negara, kemudian tiba-tiba Pangeran Yunti membahas tentang Putri Mahkota.
“Ya, benar. Keluarga kerajaan Joseon baru saja mendapatkan anggota keluarga baru. Maaf bila aku tidak segera memberitahu kabar gembira ini kepada Kaisar. Aku harap kalian tidak salah mengerti, baru-baru ini terjadi beberapa konflik di daerah dan itu memakan semua perhatianku.” kata Raja, sambil duduk di gasebo taman istana, dengan Yunti duduk di sebelahnya.
“Tidak apa-apa, Yang Mulia. Tentu Ayahanda, sebagai sahabat Yang Mulia akan mengerti.”
“Baguslah.”
Yunti tersenyum. “Membicarakan hal ini membuat saya penasaran siapa istri Yang Mulia Putra Mahkota.”
“Ah, benar juga. Kau adalah teman masa kecil Putra Mahkota. Tentu kau merasa penasaran. Aku akan secara khusus mengenalkanmu dengan Putri Mahkota, untuk menebus kesalahanku kepada Dinasti Qing.”
“Anda begitu baik, Yang Mulia.”
Raja tersenyum. “Jadi, bagaimana pendapatmu mengenai Joseon saat ini?”
“Joseon sudah seperti rumah kedua bagi saya, Yang Mulia.”
“Benarkah? Aku tidak pernah menyangka bahwa kau begitu menyukai Joseon hingga mengganggapnya seperti rumah sendiri.”
“Tidak hanya pemandangan, makanan, ataupun pakaiannya. Orang-orang Joseon juga begitu menyenangkan. Terutama para wanita Joseon, hingga saya pernah berpikir alangkah beruntungnya bila saya terlahir di sini.”
“Ah, aku rasa kau terlalu berlebihan, Pangeran.”
Yunti menggeleng. “Tidak, saya tidak melebih-lebihkan.”
Raja tertawa, menyangsikan.
“Apa Yang Mulia ingin melihat buktinya?”
Raja berhenti tertawa, merasa bingung. “Bukti?”
Yunti mengeluarkan surat titah Kaisar yang berisi pernyataan bahwa Hwa Ryong adalah fujinnya. Raja menerima gulungan itu dan mulai membacanya. Ia terbelalak kaget begitu membaca nama Shim Hwa Ryong tertulis jelas-jelas di dalamnya. “Ini...”
“Bukankah namanya begitu cantik? Shim Hwa Ryong.”
Satu persatu kata dari Yunti seperti menohok jantung Raja.
“Dia adalah fujin saya. Saya sudah lama menyimpan perasaan kepadanya, bertahun-tahun sudah saya meminta izin dari Ayahanda untuk menikahinya. Dan akhirnya, ia dihadiahkan untuk saya. Saya begitu tidak sabar untuk menikahinya secara resmi dengan cara Joseon, mengingat ia adalah gadis Joseon, sebelum kemudian mengangkatnya secara resmi di Qing.”
Raja semakin pucat pasi. “Tapi...”
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Rombongan Putri Mahkota datang melewati gasebo taman istana. Hwa Ryong pun memberikan hormat kepada Raja. Namun, alangkah kagetnya ia, saat melihat Yunti berada di sebelah Raja. Kaki Raja pun mulai gemetar saat melihat menantunya.
Yunti tersenyum kecil, seolah sudah menantikan hal ini. Kemudian, ia berakting bingung. “Hwa Ryong-ah?”
Hwa Ryong terdiam.
Yunti menoleh ke arah Raja. “Yang Mulia, bukankah pakaian yang ia pakai itu dangui keluarga kerajaan Joseon?”
Raja hanya bisa mengangguk, pelan.
“Tapi...” Sedetik kemudian, suara penuh amarah keluar dari mulutnya. “Apakah dia Putri Mahkota yang Yang Mulia maksud?”
Yunti mendengus. “Ya, tentu saja. Hamba tidak pernah menyangka Joseon bertindak begitu licik terhadap Dinasti Qing. Bagaimana bisa Yang Mulia membiarkan hal yang tak terbayangkan ini terjadi? Istri hamba menjadi istri Putra Mahkota? Omong kosong apa ini? Dinasti Qing, terutama saya, Pangeran Keempat Belas tidak akan pernah melupakan penghinaan yang Yang Mulia berikan pada saya hari ini.” Yunti pun melenggang pergi sambil menyeret Hwa Ryong pergi.
Dayang-dayang mencoba melindungi Putri Mahkota mereka, namun tarikan Pangeran Yunti terlalu kuat. Putri Mahkota pun diseret pergi di hadapan dayang-dayang, pengawal, dan Raja sendiri. Para pengawal hendak mengejar, namun Raja melarang.
“Biarkan mereka pergi.” Walau Putri Mahkota adalah fujin sekalipun, Pangeran Yunti takkan berani membawanya keluar Joseon, mengingat persekutuan antara Joseon dan Dinasti Qing, pikir Raja sambil memijat pelipisnya yang terasa pening.
Sepanjang jalan, para dayang dan pengawal menatap mereka dengan raut bingung. Seorang berpakaian Qing menyeret Putri Mahkota. Setelah sampai di dekat gerbang istana, Yunti berhenti.
Hwa Ryong langsung mengentakkan tangan Yunti. “Apa yang sebenarnya kau lakukan?”
“Ikutlah denganku.”
“Kenapa aku harus mengikutimu?”
“Karena kita saling mencintai.”
Hwa Ryong menelan ludah. “Perasaanku kepadamu telah lama hilang, Oppa. Biarkan aku pergi, tinggalkan Joseon, dan cari gadis lain yang lebih baik dari aku, yang mencintaimu lebih dariku dulu. Tak bisakah kau melakukannya untukku?”
Yunti mendengus. “Tidak, aku tidak akan pernah bisa. Tak bisakah kau mengerti? Setiap malam, aku tidak bisa tidur, mengkhawatirkanmu. Setiap pagi, aku selalu terbayang wajahmu di setiap wajah orang yang kutemui. Bahkan, saat makan siang, aku merindukan masakan buatanmu. Apakah kau tega membuatku terus begini?”
Hwa Ryong terdiam. “Maafkan aku, Oppa. Sungguh, maafkan aku. Tapi, kumohon menyerahlah. Jika kau benar mencintaiku, kau seharusnya bisa rela melepasku.”
Yunti mendesah, frustasi. “Aku mungkin akan pulang tanpa dirimu hari ini, tapi aku berjanji akan membawamu pergi, ingat itu.”
Hwa Ryong balik mendesah. “Oppa.”
Namun, Yunti telah melangkah pergi melewati gerbang.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA
Berita bahwa Putri Mahkota memiliki status fujin beredar dengan cepat di istana. Namun, orang pertama yang tahu mengenai hal itu adalah Putra Mahkota. Ia mendesah cepat, begitu mendengar kabar dari kasimnya.
“Tak kusangka ia bergerak begitu cepat.”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Jeoha?” tanya Kasim Hyun, cemas.
Putra Mahkota tampak berpikir keras.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA
Hwa Ryong berjalan kembali menuju kediamannya sendirian, tanpa pengawal ataupun dayang. Sepanjang perjalanan, ia bisa melihat dayang-dayang hingga pejabat istana membicarakannya dari belakang. Ia mendesah.
Begitu sampai, ia duduk di singgasananya dengan pucat pasi. Tangannya terus mengepal, hingga kuku jarinya memutih.
______________________________________________
" Aku tidak membencimu, aku mencintaimu, tetapi mencintaimu membunuhku. "
- Nikita G
Gambaran Pakaian Hwa Ryong saat diseret