Sakura's Petals

Sakura's Petals
Terluka



Beberapa hari pun berlalu, Hwa Ryong yang sudah sehat kembali melakukan tugasnya, yaitu belajar bersama Ratu. Kini, Ratu tak lagi memarahi atau memberinya tugas. Kini, tak seperti dulu, Ratu lebih banyak terdiam dan menatap Hwa Ryong dengan tatapan ingin menerkam ketika Hwa Ryong tanpa sengaja melakukan kesalahan. Hal ini tak memperbaiki keadaan. Suasana di antara Hwa Ryong dan Ratu terasa semakin dingin. Namun, Hwa Ryong tak berani berkata apa-apa.


Hanya saja, istana tidak terdiri dari dinding saja. Dayang dan kasim istana sibuk bergosip di waktu senggang mengenai ketidakakuran antara Ratu dan Putri Mahkota. Nama Putri Mahkota pun mulai menjadi bahan olokan. Entah sebagai menantu yang kurang ajar atau menantu yang akan segera dilengserkan atau olokan yang lebih buruk lainnya. Seringkali para dayang membicarakan dan mengolok Hwa Ryong di hadapannya sendiri. Hwa Ryong yang mendengar itu pun, hanya bisa mendesah dan menyimpan kesedihannya di dalam hati.


DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA


“Pergi ke kuil?” ulang Hwa Ryong, senang.


“Iya, dalam beberapa hari mendatang, keluarga kerajaan akan pergi ke kuil bersama-sama untuk meminta berkat terhadap kita, pasangan baru kerajaan.” jawab Putra Mahkota.


Hwa Ryong tersenyum lebar. Ia sudah begitu merindukan suasana luar istana. Melihat dan merasakannya sebentar tentu akan bisa mengobati rasa rindunya.


“Apa kau begitu tertekannya di istana hingga pergi ke kuil selama beberapa jam saja terasa begitu membahagiakan?”


Hwa Ryong terkesiap. “Tidak, aku hanya begitu bahagia karena bisa melihat dunia luar istana yang rasanya sudah lama kutinggalkan, Oppa.” jawab Hwa Ryong, jujur. Walau ia sadar, bahwa ada alasan lain di balik rasa bahagianya itu, yaitu karena pada hari itu ia tidak perlu bertemu dengan Ratu yang selalu menganggapnya seperti serangga penganggu.


“Maafkan aku, karena aku bukan rakyat biasa yang bisa membuatmu bebas berpergian ke mana-mana.”


Hwa Ryong tersenyum, geli. “Oppa lucu sekali. Aku tidak keberatan sama sekali. Oppa menjadi pedagang di pasar, aku tidak keberatan. Oppa jadi pengawal para bangsawan, aku tidak keberatan. Oppa jadi pengemis di jalan pun aku tidak keberatan, walau jujur saja, aku tak sanggup membayangkannya.”


Putra Mahkota tertawa. “Pemikiranmu begitu kreatif.”


Hari-hari pun berlalu hingga hari yang ditunggu-tunggu Hwa Ryong tiba.


“Senyum anda tampak begitu cantik hari ini, Yang Mulia.” ucap Dayang Noh, kepada Hwa Ryong.


“Benarkah?” tanya Hwa Ryong, malu-malu. Ia menatap dirinya di kaca, membenarkan tali dangui merah mudanya dan merapikan chima putih peraknya.


“Sayang sekali, Putra Mahkota baru akan berangkat sejam setelah rombongan wanita kerajaan beranjak dari istana. Sehingga Anda tidak bisa segera menunjukkan kecantikan Anda pada Yang Mulia. Yang Mulia Putra Mahkota, saya yakin pasti akan terkesiap takjub melihat Anda.”


Hwa Ryong tersipu malu, sambil terus memperbaiki penampilannya.


DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI


“Apa Yang Mulia yakin akan melakukan ini?”


“Aku harus memastikan siapapun yang menyakiti Hwa Ryong, sekalipun ia Ratu, mendapatkan ganjarannya. Bagaimana bisa ia membuat Hwa Ryong menderita di istana? Aku harus membalas perbuatannya dan memastikan ia mendapat ganjarannya.”


“Kau sudah siapkan para banditnya?”


“Ya, Yang Mulia.”


“Pastikan mereka tidak melukai Hwa Ryong sedikitpun, kau mengerti?”


“Siap, Yang Mulia.”


Yunti tertawa beringas. “Bagus.”


PERJALANAN MENUJU KUIL


Rombongan Ratu dan Putri Mahkota pun berarak melewati pasar dan jalanan kota. Rakyat berlutut di tanah, memberi hormat. Sesekali, ada beberapa orang yang mencuri pandang ke arah tandu Putri Mahkota, penasaran seperti apa sosok Putri Mahkota yang kabarnya begitu dicintai Putra Mahkota. Tapi, sebelum bisa melihat wajah Putri Mahkota, para pengawal telah menegur dan memperingatkan mereka untuk menunduk.


Tandu Ratu dan Putri Mahkota yang diiringi dengan beberapa kereta perlengkapan, berpuluh pengawal berkuda, dan beratus dayang dan pengawal, tiba di hutan, perbatasan antara ibu kota dengan kuil tepat di siang hari.


Hwa Ryong yang duduk di dalam tandunya, sibuk membaca buku pelajaran Putri Mahkota yang diberikan oleh Ratu untuk dipelajarinya. Ia baru saja hendak membalik halamannya, ketika kemudian ia merasa tandunya berhenti berjalan.


Ratu segera turun dari tandunya, dibantu oleh Dayang Kim. Begitu Ratu turun, Dayang Kim berseru, “Kita akan beristirahat di sini selama setengah jam.”


Kata-kata Dayang Kim disambut dengan desahan lega oleh para pengawal dan dayang di sekitar tandu. Mereka pasti sangat lelah, pikir Hwa Ryong. Hwa Ryong pun memutuskan ikut turun saat tanpa sengaja pelupuk matanya menangkap pemandangan danau yang indah di luar tandu.


“Apa Yang Mulia ingin minum atau menikmati jamuan kecil?” tawar Dayang Noh.


Hwa Ryong menggeleng. “Tidak, terima kasih. Kau bisa istirahat. Aku yakin kau lelah, Dayang Noh.”


“Baik, Yang Mulia.”


“Yang Mulia, Anda hendak pergi ke mana?”


“Biarkan aku sendiri.”


Dayang Kim, Kepala Dayang Ratu, hanya bisa menurut dan menunggu dari jauh.


Hwa Ryong melihat itu dari kejauhan. Ia berpikir inilah kesempatan yang tepat untuk membangun hubungan baik dengan Ratu. Hwa Ryong memanggil Dayang Noh. “Tolong ambilkan beberapa cemilan dan secangkir teh. Aku akan membawakannya untuk Uhmamama.”


Begitu Dayang Noh datang, Hwa Ryong segera mengambil alih nampannya dan berjalan ke arah jalan yang dilewati Ratu. Tindakannya membuat Dayang Kim angkat bicara. “Maafkan hamba, Mama. Tapi Yang Mulia Ratu sedang tidak ingin diganggu.”


“Aku tahu. Biar aku yang menanggung hukumannya.”


“Tapi...”


Hwa Ryong telah berjalan melewatinya sebelum Dayang Kim selesai berucap, meninggalkan Dayang Noh dan Dayang Kim cemas.


Ketika Putri Mahkota tiba di dekat Ratu, Ratu sedang duduk di salah satu batu besar di dekat danau. Ratu menatap danau lekat-lekat, melamun.


“Uhmamama.” panggil Hwa Ryong.


Ratu terkesiap kaget. “Kau! Siapa yang menyuruhmu ke sini?”


“Maafkan menantumu yang kurang ajar ini, Uhmamama. Saya hanya ingin menyajikan ini kepada Yang Mulia. Secangkir teh dan beberapa suap cemilan pasti akan meringankan rasa lelah Yang Mulia.”


Ratu terdiam. “Kau bisa taruh di sana. Sekarang, pergilah.”


Putri Mahkota mengangguk, mengerti. “Baik, Yang Mulia.”


Saat Putri Mahkota hendak meletakkan nampan makanan ke batu yang berada tak jauh dari batu yang diduduki Ratu, ia bisa melihat kilatan cahaya dari dalam semak-semak. Ia memicingkan matanya, heran. Dan alangkah terkejutnya, saat tahu bahwa itu adalah mata panah yang kini sedang diarahkan ke arah Ratu.


Di detik-detik berikutnya, bagaikan mimpi, kejadian terjadi begitu cepat. Hwa Ryong berlari ke arah Ratu, melemparkan tubuhnya melindungi Ratu, menarik Ratu menjauh, dan menyeret lari Ratu pergi.


Hwa Ryong dan Ratu dengan langkah terseok-seok di antara dangui yang berat, berlari melarikan diri dari bandit yang mengejar dari belakang. Tak lama kemudian, pengawal kerajaan melihat para bandit itu. Mereka pun bergegas melindungi Ratu dan Hwa Ryong. Sementara, dayang-dayang istana, sibuk membawa Ratu dan Putri Mahkota, menjauh dan bersembunyi di balik semak-semak.


Hwa Ryong yang terus menggenggam tangan Ratu, menatap Ratu khawatir. “Apa Yang Mulia baik-baik saja?” tanyanya, pelan, begitu mereka berhasil bersembunyi ke tempat yang aman.


Ratu, yang selama hidupnya tak pernah mengalami hal seperti ini, dengan setengah menggigil, mengangguk. “Aku baik-baik saja.”


“Baguslah.” ucap Hwa Ryong, tulus. Disusul kemudian, suara terkesiap dari Dayang Kim, yang berada tak jauh dari mereka.


“Astaga, apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia? Lengan Yang Mulia Putri Mahkota berdarah dan terluka cukup besar. Apa Yang Mulia baik-baik saja?”


Hwa Ryong segera mengalihkan pandangannya ke arah lengannya, yang jeogori dangui merah mudanya berganti merah basah. Ia seakan baru tersadar dan mulai meringis.


“Apa kau tidak apa-apa?”


Hwa Ryong menatap mertuanya yang kini tengah menatapnya dengan penuh rasa khawatir. “Saya tidak apa-apa, Mama. Hanya dengan memastikan Anda tidak terluka sedikitpun, luka seperti ini takkan berarti apa-apa.” ucapnya, pelan, sambil sesekali meringis.


Ratu, tiba-tiba, dengan sigap, merobak dalaman chimanya dan mengikatkannya ke lengan Putri Mahkota. “Perintahkan para pengawal untuk segera mencari tabib sebelum menuju kuil.” ucap Ratu, kepada Dayang Kim.


“Baik, Yang Mulia.”


Setengah jam kemudian, peperangan antara bandit dan pengawal istana berakhir dengan pengawal istana sebagai pemenangnya. Rombongan kerajaan pun tidak memiliki waktu beristirahat, ketika Ratu kemudian memperintahkan untuk segera berangkat lagi, untuk mengobati Putri Mahkota.


______________________________________________


" Evil is powerless, if the good are unafraid. "


- Ronald Reagan


Gambaran Pakaian Hwa Ryong