Sakura's Petals

Sakura's Petals
Permulaan (Season 2)



Seminggu pun berlalu setelah kejadian itu. Surat pembatalan dekrit pun tiba di Joseon siang itu. Nafas lega pun langsung dihela Hwa Ryong begitu mendengarnya. Senyuman menghiasi wajahnya. Tidak hanya Hwa Ryong, keluarga kerajaan dan seluruh isi Joseon pun sekarang sudah bisa bernafas lega.


“Kabar baik, Yang Mulia. Keadaan Putri Mahkota sudah pulih seutuhnya.” ucap Tabib Jang, kepada Ratu. Sudah semenjak seminggu lalu, Ratu selalu memantau keadaan Putri Mahkota. Rasa sedih membuncah di hatinya saat mendengar Putri Mahkota terluka parah. Oleh karena itu, ia begitu bahagia dan lega saat tahu bahwa Hwa Ryong telah sehat.


“Benarkah?” Tabib pun mengangguk, mengiyakan.


“Apakah itu berarti ia bisa menjalani ritual penyatuan?”


Tabib mengangguk kembali. “Tentu saja, Yang Mulia.”


DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA


Kabar mengenai malam pertama pun tersebar di istana. Berita itu pun terdengar oleh seluruh penghuni istana, tak terkecuali Hwa Ryong. Cangkir teh hangat yang sedang ia minum lantas terjatuh saat ia mendengar keputusan Ratu untuk menghelat malam pertama pada malam ini.


“Yang Mulia! Apakah Anda baik-baik saja?” ucap Kepala Dayang Noh yang kini telah resmi diutus bukan lagi sebagai kepala dayang sementara, tapi sebagai kepala dayang permanen pribadi Hwa Ryong.


“Ah. Aku baik-baik saja. Hanya terkejut.”


Seol yang sekarang juga telah dilantik menjadi dayang tingkat lima terkekeh geli di ujung ruangan. Hwa Ryong meliriknya, malu. Bayangan tentang malam pertama membuatnya pening. Apa yang harus kulakukan saat malam pertama, tanyanya dalam hati. Memikirkannya saja membuat jantungnya hampir lepas karena terus berdebar. Setelah malam ini, aku akan menjadi istri sejati Yoon Oppa, pikirnya. Ia menelan ludah khawatir. Apakah aku bisa melakukannya dengan baik, tanyanya dalam hati.


MALAM HARINYA


Hwa Ryong duduk di kamarnya dengan gelisah. Ujung rambut hingga kakinya telah dipoles sempurna. Pakaian yang ia kenakan juga bukan pakaian biasa melainkan pakaian ritual. Hiasan kepala yang berat membuatnya semakin tidak nyaman. “Hwa Ryong, tenanglah.” ucapnya, berusaha tetap tenang, walau nafasnya mulai berderu.


Tiba-tiba terdengar kasim berseru. “Yang Mulia Putra Mahkota telah tiba.” Hatinya langsung nyeri entah karena senang atau takut. Putra Mahkota tampak gagah saat memasuki ruangan. Hwa Ryong bahkan lupa bernafas saat melihat suaminya berjalan lalu duduk di sampingnya.


“Lalat bisa masuk ke mulutmu jika mulutmu terus terbuka seperti itu, istriku.” Hwa Ryong langsung tersipu malu.


“Oppa.” rengeknya.


Prosesi pun segera dimulai satu persatu. Hwa Ryong bisa merasakan wajahnya semakin memerah ketika prosesi inti semakin dekat. Putra Mahkota tampak khawatir melihat istrinya.


“Kau baik-baik saja?”


Hwa Ryong mengangguk, namun dalam hati tidak yakin.


“Kita bisa menundanya jika kau belum siap. Aku tidak terburu-buru."


Keraguan tampak jelas di wajah Hwa Ryong. Umurnya yang baru 14 tahun membuatnya benar-benar tak berpengalaman dan tidak berpengetahuan mengenai malam pertama. Bahkan, ketika ibunya datang bertamu kemarin, ibunya menjelaskan bahwa malam pertama itu menyakitkan. Hwa Ryong menggaruk lehernya, bingung.


“Baiklah, aku akan pergi keluar dan menunda prosesinya. Istirahatlah dulu untuk hari ini. Aku tahu bahwa keputusan Ibunda terlalu cepat.”


Tapi, tiba-tiba keinginan untuk bersama Yoon Oppa membuyarkan rasa bingungnya. Kenapa ia harus bingung? Kenapa ia harus takut? Bukankah bersama dengan Yoon Oppa adalah keinginannya selama ini? Ia bahkan rela hendak bunuh diri karena pria yang kini telah berdiri dan hendak berjalan keluar meninggalkannya. Dengan langkah cepat, ia memeluk Putra Mahkota dari belakang. Putra Mahkota terkesiap kaget.


“Hwa Ryong-ah?”


“Jangan pergi.”


Putra Mahkota berputar dan menghadap ke arah istrinya. Ia menatap wajah istrinya, lembut. Secercah rasa takut terlihat di mata istrinya, sehingga kemudian ia berkata, “Aku tidak akan pergi.”


Hwa Ryong pun memberanikan diri mengecup pipi Putra Mahkota. Wajah Putra Mahkota langsung berseri-seri. Ia pun membopong istrinya ke kasur beremblem emas yang terletak di tengah kamar. Detak jantung Hwa Ryong semakin kencang hingga ia bisa merasakannya.


“Kau ini memang. Tidak ada sedetikpun kau biarkan aku tidak berdebar-debar.” ucap Putra Mahkota. Hwa Ryong tersenyum geli.


Putra Mahkota mencium kening, kemudian pipi, lalu bibir Hwa Ryong bergantian. Ia melakukannya dengan pelan, khawatir Hwa Ryong ketakutan.


“Aku mencintaimu.”


Hwa Ryong merasa hatinya terasa hangat mendengar itu. Ia pun meraba wajah suaminya, lembut. “Aku juga mencintaimu.”


Hwa Ryong mengangguk, yakin dengan seluruh hatinya.


Lampu ruangan pun dimatikan, menyisakan keduanya bersatu di dalam keheningan malam yang damai. Dari kejauhan, Ratu tersenyum puas, senang bahwa kini Putri Mahkota resmi sebagai istri anak adopsinya. Dengan tulus, ia berharap akan kebahagiaan Putri Mahkota.


DI KEDIAMAN KELUARGA EO


Malam itu, di saat yang sama, Mi Kyung terduduk di kamarnya. Sambil memeluk badannya yang terasa dingin, ia menangis meratapi nasibnya. Kini, Putra Mahkota yang ia cintai, sedang menghabiskan malam dengan gadis lain selain dirinya. Hal ini seakan merobek hatinya.


Ia hanya bisa terdiam dan mulai menyesali kenyataan bahwa ia tidak bisa terpilih sebagai Putri Mahkota. Semalaman hingga pagi hari, ia terus menangis hingga kasurnya basah oleh air mata.


“Aku tidak akan membiarkan gadis itu hidup dengan bahagia. Akan kuajarkan rasa sakit dan kehilangan khusus untuknya.”


DI BALAI PENYATUAN


Binyeo phoenix telah tertengger di antara helaian rambut Hwa Ryong. Binyeo itu pun dipasangkan langsung oleh Putra Mahkota. Hwa Ryong tersipu malu saat suaminya memasangkannya untuknya.


KEESOKAN HARINYA


Mi Kyung datang ke istana, menghadap Ratu. Wajahnya masih sembab dan terlihat lelah saat menghadap. Ratu yang saat itu sedang memberi makan ikan koi di kolam, nampak tidak senang saat melihat Mi Kyung di hadapannya.


“Yang Mulia, aku akan melupakan mimpiku untuk menjadi Putri Mahkota. Tapi sebagai gantinya, bisakah kau menjadikanku dayang calon selir Putra Mahkota?”


Ratu menghela nafas kesal. “Malam pertama mereka baru saja terjadi kemarin malam. Tidakkah kau merasa malu?”


“Aku tidak bisa membiarkan klan kita berada dalam kondisi memprihatinkan seperti ini, Yang Mulia. Tolong pikirkan masa depan penerus keluarga Eo, Yang Mulia.”


Ratu mendesah keras dan berusaha melenggang pergi. “Lupakan niatmu.” Rasa sayang Ratu terhadap Putri Mahkota terlalu besar hingga ia tidak ingin menyakiti hati menantunya dengan melantik selir lain untuk putranya. Ia tahu benar rasa sakit yang dirasakan saat ada seorang selir baru dilantik. Karena dulu pun, Ratu mengalami rasa itu.


Mi Kyung dengan berani menghadang jalan Ratu, membuat Dayang Kepala Shim mengerutkan keningnya dan menegur, “Oho! Berani sekali kau di hadapan Ratu!”


“Kumohon, Yang Mulia. Apa Yang Mulia sudah mendengar kabar bahwa keluarga Eo akan mendanai biaya panti asuhan di Joseon tahun ini? Kurasa jika Ayahanda mendengar bahwa Ratu menolak permintaan kecilku ini, ia takkan senang dan mungkin akan merubah pikirannya.”


Ratu tahu benar bahwa ada ancaman di balik kata-kata Mi Kyung. Pendanaan panti asuhan telah menjadi permasalahan akhir-akhir ini saat kas Joseon banyak berkurang dikarenakan fokus terhadap pembiayaan perang. Dana dari luar, yaitu bantuan dari bangsawan adalah salah satu solusinya. Keluarga Eo adalah salah satu keluarga bangsawan terkaya dan telah berandil besar dalam membantu pembiayaan Keluarga Kerajaan. Keluarga Eo lebih dari mampu untuk mendanai hal-hal seperti ini. Ratu menatap Mi Kyung tajam. “Apa maksudmu?”


“Hamba tidak keberatan untuk membujuk Ayahanda untuk membiayai beberapa panti asuhan lagi jika Ratu berkenan.”


Ratu mendengus. “Kau benar-benar!”


Ratu kehilangan kata-katanya. Urusan negara lebih besar dari keinginan hatinya, ia tahu persis itu. Mengijinkan Mi Kyung menjadi Selir sama saja dengan membantu ratusan bahkan ribuan anak yatim piatu di luar istana. Hatinya resah. Akhirnya, setelah menelan ludahnya dalam-dalam, ia berkata lirih, “Dengarkan, karena aku hanya akan mengutarakannya sekali. Persiapkan dirimu. Bulan depan aku akan memasukkanmu ke istana. Tapi ini adalah bantuanku yang terakhir.” Ratu pun melenggang pergi segera setelah mengucapkannya. Dalam hati, ia berusaha keras untuk tidak menyesali keputusannya. Mi Kyung yang mendengar keputusan Ratu, segera tersenyum senang.


“Lihat saja, Putri Mahkota. Akan kuciptakan neraka di tengah surga yang sedang kau miliki.”


_________________________________________________


" Aku mengingat hari pertama aku melihat matamu dan merasa duniaku serasa berputar. "


- NN


SPESIAL penghormatan untuk SULLI


RIP Sulli, rest in peace dear! 🙏


Foto Sulli dalam hanbok modern untuk majalah W