Sakura's Petals

Sakura's Petals
Pangeran Yunti



“Kau tampak begitu muram malam ini.”


Hwa Ryong yang memutuskan keluar lebih dahulu setelah usai makan malam, terperanjat sesaat sebelum kemudian mendesah. Ia kembali memandangi bintang di langit dengan kepala mendongak.


“Apa sesuatu terjadi saat aku pergi?” tanya Yunti.


Hwa Ryong menggeleng. “Bukan apa-apa, Oppa. Aku hanya frustasi akan penjagaan Ayah padaku sekarang.” katanya, memakai bahasa informal ketika mengetahui Yunti datang sendirian.


“Penjagaan?” ulang Yunti, sambil memosisikan diri di sebelah Hwa Ryong. Ia menatap Hwa Ryong dengan pandangan bingung.


Hwa Ryong mengangguk. “Iya.” Ia kemudian memutar kepalanya dan menunjuk ke arah belakang gudang di belakang tempat ia berdiri. “Ada sekitar empat orang di sana.” Kemudian ia menunjuk ke arah semak-semak lebat di sebelah timur rumah. “Dan tiga orang di sana.”


Yunti memicingkan matanya selama tiga detik, berusaha menemukan bukti, lalu tertawa geli. “Wow. Aku benar-benar terkesima. Kau memang belum berubah. Insting dan mata elangmu memang tiada duanya. Apa kau benar tidak tertarik menjadi komandan perang?”


“Kalau saja aku bisa menjadi komandan, aku benar-benar akan bersyukur. Jangankan jadi komandan, jadi prajurit baris depan pun aku mau. Asal tidak seperti ini, dikurung dalam rumah.”


Yunti terperangah mendengar jawaban Hwa Ryong. “Aneh, biasanya kau akan memarahiku karena menganggap kau seperti pria, lalu mengejarku mengitari halaman, dan melempar salah satu sepatumu ke arahku.”


Hwa Ryong meliriknya tajam. “Bukan waktunya bercanda, Oppa. Aku benar-benar sedang frustasi.”


Wajah Yunti berubah serius. “Aku dengar kau sempat menghilang, lalu dirawat di istana selama beberapa hari. Sebenarnya, apa yang terjadi?”


Muka Hwa Ryong melunak, ia pun menceritakan kejadian malam itu. Termasuk tentang Menteri Personalia, tapi tentu bukan mengenai perasaan yang ia pendam pada Menteri Personalia.


“Lantas, apa yang membuatmu merasa keberatan dengan penjagaan ini? Kau pasti cukup kalut saat itu dan tidak ingin mengalaminya lagi, bukan?”


Hwa Ryong tersipu. “Aku, aku hanya tidak nyaman saja. Selain itu, ada yang harus kulakukan di luar rumah. Dan ini benar-benar mendesak. Dengan penjagaan seperti sekarang, sulit bagiku untuk bisa keluar rumah tanpa ada seorang pun yang tahu.”


“Mengapa tidak mengajak pengawal saja untuk mengantarmu?”


“Ah, itu. Jika Ibu tahu siapa yang ingin kutemui, dia pasti tidak akan mengizinkanku pergi.”


Yunti mendesah. “Memang siapa yang ingin kau temui?”


Hwa Ryong terdiam sebentar. Apa sih yang ia pikirkan, pikirnya. Yunti adalah calon suamiku, bisa-bisanya aku bimbang mengenai pria lain di depannya? Wanita macam apa aku ini, umpatnya dalam hati. “Aku tidak bisa memberitahukannya pada Oppa. Maaf.”


Mereka terdiam, sebelum kemudian Hwa Ryong membuka mulut. “Udara malam sungguh dingin. Cepat masuk dan istirahatlah. Oppa pasti sudah lelah.” Ia kemudian berjalan kembali ke kamarnya.


Yunti tetap terdiam di tempatnya. Ia menatap bintang di langit, gelisah. “Siapa dia? Jangan-jangan... pria?” Yunti terbelalak.


KEESOKAN HARINYA


“Nona? Nona?” panggil Seol, pelan. Tapi saat ia mendapati kamar Nonanya kosong, tenggorokannya tercekat sesaat sebelum kemudian dengan setengah berteriak, kembali memanggil majikannya. “Nona?! Nona?!”


“Nona. Nona menghilang lagi, Nyonya.”


Nyonya Shim langsung tumbang. Pelayan-pelayan yang tadi mengikutinya dari belakang langsung menangkapnya sebelum membentur tanah. Sementara Seol menggigit jarinya, berpikir keras di mana ia bisa menemukan nonanya.


DI PASAR


Hwa Ryong tersenyum lebar, saat kakinya berhasil menjejakkan kakinya di pasar. Tidak banyak orang di pasar, mengingat ia berangkat dari rumah pada dini hari tadi. Masih banyak toko yang belum buka. Tapi untungnya, toko kue langganannya sudah buka.


“Tolong dua bungkus kue beras, Nyonya.”


Tak lama kemudian, ia sampai di sebuah bukit, yang menampakkan pemandangan istana dan pantai di kejauhan.


Hwa Ryong yang duduk di bawah pohon sakura, mulai membuka bungkusan kuenya dan memakannya perlahan sambil menikmati pemandangan.


Detik, menit, dan jam pun berlalu begitu cepat. Hingga mendekati tengah hari, tak tampak seorang pun muncul. Hwa Ryong pun berjalan menuju jalan pasar. Di saat yang sama, tiba-tiba muncul pengawal dari belokan gang pasar. Ia segera berlari dan sembunyi di balik batu besar yang ada di atas bukit.


“Nona! Nona! Anda harus segera pulang. Nyonya sakit karena cemas menunggu Nona pulang. Nona! Nona!” teriak pengawal-pengawal itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah lainnya. Kali ini sebuah suara yang sangat ia kenal. Suara Seol. “Apa kalian menemukannya?” Pengawal itu pasti menggeleng sehingga kemudian Seol menjawab. “Apa yang harus kita lakukan? Kau, cepat pimpin pasukan ke timur. Aku dan para pengawal lainnya akan mencari di barat. Kita harus cepat menemukannya, kau mengerti? Aku takut Nona akan menemui kesulitan seperti yang dulu terjadi.” Suara derap langkah pun terdengar menjauh setelahnya.


Hwa Ryong menghela nafas lega. Setelah beberapa kali menengok ke luar. Ia kembali duduk di bawah pohon sakura.


“Kenapa ia belum datang juga?” desahnya, pelan.


Hwa Ryong mulai merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berbentuk kotak. Ia membuka simpul pitanya, mengeluarkan sehelai sapu tangan dari bungkusan kertas di dalamnya. Bordiran burung phoenix berwarna merah menyala dengan corak emas yang tampak begitu indah di kainnya yang hijau lembut. Ia mendesah lagi dan mulai membungkusnya lagi.


Tengah hari pun mulai berganti sore. Hwa Ryong pun bertambah gelisah. “Apakah ia salah tempat?”


Hwa Ryong mengitari pasar, mencari bukit lain yang memiliki pohon sakura. Tapi setelah tiga kali mencari, ia tidak menemukannya. Ia pun kembali duduk di bawah pohon sakura, menunggu.


Sore hari pun berganti malam dan banyak hal yang melintas di benaknya. Apakah Oppa melupakan janji kami? Apakah aku terlalu percaya diri memercayai bahwa dia akan benar-benar datang? Apakah hanya aku yang menganggap hari ini penting? Perlahan, air mata Hwa Ryong menetes.


____________________________________________


" Jika aku tahu cinta itu apa, maka itu semua karena dirimu. "


- Herman H


Gambaran Pakaian Hwa Ryong :