
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
Tiga orang pelayan sibuk mendandani Hwa Ryong di kamarnya di rumah Yunti. Satu orang menghias rambutnya, satu orang memperbaiki letak pitanya yang miring, dan yang satu lagi sibuk membubuhkan perona pipi pada wajah Hwa Ryong. Sementara itu, pikiran Hwa Ryong melayang jauh. Ia duduk di kasurnya seperti boneka tak bernyawa sejak hari di mana Yunti menyatakan perasaannya.
Di hadapannya, Yunti mengamatinya, penuh sayang. “Kau begitu cantik. Pilihanku pada jepit bunga merah itu memang tak salah. Kau begitu cantik hingga sanggup mengalahkan semua bunga yang ada di taman Istana.” Hwa Ryong hanya terdiam. Tak terlihat sedikitpun raut senang di wajahnya. Karena tahu bahwa Hwa Ryong takkan menjawab, Yunti melanjutkan, “setelah ini, kita akan pulang ke rumah ayah dan ibumu, eh, bukan, maksudku, ayah dan ibu kita. Kita akan memberi salam pada mereka dan mengabarkan hal menggembirakan ini bahwa kau telah menyetujui pernikahan kita. Mereka pasti akan sangat senang.”
Hwa Ryong meremas chimanya. Ya, Abeonim dan Eomonni pasti akan sangat senang, pikirnya. Tapi bagaimana denganku? Apakah keputusan ini tepat? Seumur hidup bersama Yunti, walau ia adalah sahabatku sejak kecil dan juga mantan cinta pertamaku, tapi apakah aku akan bahagia? Tak ada sedikitpun rasa cinta yang tersisa yang bisa kuberikan padanya, tak hanya aku, ia pun juga akan menderita. Apakah ini sudah takdirku? Hwa Ryong memegangi kepalanya, pening.
Hati Yunti sakit setiap kali melihat Hwa Ryong terlihat begitu sedih dan lemah seperti kali ini. Ia begitu sedih saat menyadari bahwa semua penderitaan yang Hwa Ryong alami sekarang, semua karena dirinya. “Apa masih ada yang sakit lagi?”
Mencoba membuat hati Yunti sedikit tenang, Hwa Ryong tersenyum. “Aku hanya merasa takut menemui Abeonim dan Eomonni setelah kemarin kabur dari rumah. Aku merasa menjadi anak yang sangat jahat dan tidak berbakti kepada mereka.”
Yunti mendesah. “Jika kau masih belum siap, kita bisa mengundur waktunya sehari. Aku tidak ingin kau pingsan lagi seperti kemarin.”
Hwa Ryong segera menyela. “Tidak, aku tidak apa-apa. Aku memang khawatir mereka akan marah, tapi aku juga tidak ingin berlama-lama membuat mereka khawatir. Aku sudah siap, ayo kita pulang.” ajak Hwa Ryong. Jika aku mengundurnya sehari lagi, entah apa aku bisa mempertahankan niatku ini, pikirnya. Bisa saja nanti malam aku akan mendobrak pintu atau loncat dari jendela dan kabur lagi.
“Baiklah.” balas Yunti, dengan raut tetap khawatir.
“Aku akan menyuruh pembawa gama (tandu) untuk berjalan cepat sehingga kau bisa segera sampai dan beristirahat di rumah.”
DI PASAR
Putra Mahkota mengendarai kudanya di tengah pasar. Kasim Hyun yang berada tak jauh di belakang berhasil menyusul. “Jeoha, hamba mohon berhentilah dan pergilah beristirahat. Para prajurit akan mencarikannya untuk Yang Mulia. Jangan buat hamba mati sebelum waktunya karena khawatir, Yang Mulia.”
“Apa kau sudah lupa perintahku agar tidak memanggilku seperti itu di tempat umum?”
Kasim Hyun mendesah. “Jeoha, itu bukan hal yang penting lagi. Yang Mulia tidak tidur semalaman, Yang Mulia juga tidak sempat makan malam kemarin. Tubuh Yang Mulia terlahir lemah, jika Yang Mulia terus begini, Yang Mulia bisa sakit.”
“Jika kau memang punya banyak waktu sehingga bisa menceramahiku seperti ini, pergunakanlah waktumu untuk membantuku, apa kau mengerti?” bentak Putra Mahkota, frustasi. Ia mulai mengendarai kudanya lagi.
Ia mencari Hwa Ryong di antara belantara orang di pasar. Putra Mahkota menilik wajah para gadis satu per satu. Sesekali ia harus turun dari kuda untuk memastikan wajah beberapa gadis di pasar. Tak sedikit pula, ia menerima bentakan dari gadis yang tak ingin dilihat wajahnya oleh Putra Mahkota. Ia hampir saja merasa menyerah saat kemudian ia melihat sebuah tandu yang begitu mewah di depannya. Ada delapan orang pengawal yang menjaga tandu itu. Tiga orang pelayan yang berjalan tak jauh dari tandu. Juga seorang pemuda yang hampir berusia sama dengan dirinya, menaiki kuda yang kemudian ia ketahui merupakan kuda dari Cina. Putra Mahkota tak bisa menekan rasa penasarannya. Ia pun menuntun kudanya mendekat.
Tandu itu berjalan menelusuri pasar. Namun ketika hampir sampai di luar area pasar, tandu itu berhenti. Pria yang menaiki kuda langsung berhenti dan turun dari kudanya, menyuruh pembawa gama untuk menurunkan tandunya. Putra Mahkota langsung menghentikan laju kudanya dan bersembunyi di dekat semak-semak rimbun.
“Apa kau baik-baik saja, Hwa Ryong-ah?”
Hati Putra Mahkota serasa meloncat saat mendengar nama orang yang ia cintai disebut. Benarkah ia adalah Hwa Ryong-ku, tanyanya dalam hati.
“Apa sebaiknya kita kembali saja?”
“Baik, Yang Mulia!” jawab para pengawal serempak. Kemudian rombongan itu pun pergi dengan terburu-buru. Yang Mulia? Putra Mahkota menatap kepergian mereka dengan heran. Siapa pria itu hingga pengawalnya memanggilnya dengan sebutan itu?
Putra Mahkota hendak merangsek maju, memastikan Hwa Ryong yang berada di dalam tandu adalah Hwa Ryong-nya saat kemudian Kasim Hyun menghalangi jalan kudanya.
“Berhenti sampai di sini, Yang Mulia. Kami tak bisa membiarkan Anda mencelakai diri Anda sendiri, Yang Mulia.”
Putra Mahkota mendengus. “Aku akan berhenti. Tapi biarkan aku memeriksa sekali ini saja.” Putra Mahkota pun membelokkan kudanya ke samping. Tapi Kasim Hyun menghalanginya lagi.
“Beraninya kau menghalangiku? Minggir sekarang!”
Kasim Hyun menoleh ke arah pengawal-pengawal yang berada di belakang Putra Mahkota. “Cepat bawa Yang Mulia kembali ke istana.”
Pengawal-pengawal pun mulai berjalan mendekat. Beberapa memegangi kuda Putra Mahkota dari belakang. Beberapa bersiap dari samping untuk menarik Putra Mahkota turun. Putra Mahkota segera membawa kudanya ke arah tandu tersebut.
Para pengawal yang sedang berjaga di dekat tandu, langsung siaga begitu melihat Putra Mahkota. “Siapa kau?”
“Aku ingin melihat siapa yang berada di dalam tandu, jadi menyingkirlah.”
Pemimpin pengawal-pengawal itu mendengus. Sementara pengawal-pengawal lain bersiap menarik pedang dari punggungnya. “Kami tidak bisa biarkan kau memeriksa begitu saja. Yang Mulia telah memerintahkan kami untuk melindungi tandu ini dari siapapun. Jadi, cepatlah pergi sebelum kami menyakitimu.”
Putra Mahkota mendesah. “Kuperintahkan padamu sekali lagi, menyingkirlah dan biarkan aku melihat siapa yang berada di dalam tandu itu. Apa kau tidak mendengarnya?”
“Kami tidak bisa biarkan itu. Kami sudah memintanya baik-baik, jadi jangan salahkan kami jika kau terluka.” Pemimpin pengawal itu pun mulai mengarahkan pedangnya ke arah Putra Mahkota. Putra Mahkota mendesah. Ia pun turun dari kudanya dan mulai mengeluarkan pedang.
“Aku juga sudah mengatakan niatku secara sopan padamu, tapi kau tidak memberiku pilihan lain.” Putra Mahkota dan pemimpin pengawal itu pun bertarung. Pengawal yang lain sibuk mencari celah untuk menyerang Putra Mahkota. Tapi mereka segera dihentikan oleh para pengawal Putra Mahkota yang merangsek maju dan menyerang mereka. Para pengawal itu pun berhasil dilumpuhkan, begitu juga pimpinan mereka.
_____________________________________________
" Kamu memelukku hangat dan seketika aku tahu bahwa kamu adalah rumahku. "
- NN
Gambaran Pakaian Hwa Ryong :