Sakura's Petals

Sakura's Petals
Collide (2)



Seol akhirnya berhasil keluar juga. Ia menatap lekat-lekat ke arah nonanya. “Nona baik-baik saja? Ah, perkelahian di siang hari, benar-benar kekanak-kanakan. Ayo, Nona. Kita harus segera pergi.”


Dengan enggan, ia pun berjalan meninggalkan lorong itu. Sesekali, ia menoleh ke belakang. Pikirannya masih penuh oleh pria itu. Tak lama kemudian, ia sampai di sebuah rumah kumuh. Dua gadis kecil langsung menyambutnya begitu sampai.


“Nona sudah datang! Nona sudah datang!”


Nona itu pun tersadar dari lamunannya, dan berjalan masuk ke dalam dan langsung disambut sekitar sepuluh gadis dan lima laki-laki yang berpakaian kumuh. Mereka membungkuk bersamaan.


Nona itu membalas dengan mengangguk pelan, lalu menggendong salah satu dari gadis kecil yang menyambutnya tadi, begitu juga Seol. “Bagaimana kabar kalian?”


Salah satu dari mereka menjawab. “Baik sekali, Nona.”


Nona itu tersenyum. “Baguslah. Oh, ya, seperti keinginan kalian kemarin karena kalian semua sudah rajin mengerjakan tugas, aku membawakan kue kesukaan kalian. Tebak apa ini.”


Mereka langsung berteriak bersamaan. “Kue plum!”


Tak lama kemudian, mereka pun mulai berebutan menikmati kue plum yang tadi dibawa Seol. Nona itu pun duduk di dalam balai dan mulai menata buku di mejanya. Lalu, Nona itu memanggil dua gadis di antara mereka yang sedang makan. “Ha Neul, Ra Eun! Kemarilah.”


Ha Neul dan Ra Eun membungkuk lalu duduk di depan meja Nona itu. Nona itu tersenyum. “Beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahun kalian, bukan?”


Ha Neul dan Ra Eun mengangguk. “Iya, Nona.”


“Ini adalah hadiah untuk kalian.” Nona itu memberi masing-masing satu kotak pada mereka. Mereka pun dengan wajah bahagia mulai membuka kotak itu. Isinya adalah hiasan rambut. Mereka pun mulai membungkuk hormat sekali lagi, hanya saja lebih dalam dari yang tadi. “Sudah, duduklah. Jangan membungkuk lagi. Hiasan rambut ini kuberikan karena sekarang kalian sudah berusia cukup untuk disebut sebagai gadis. Kalian harus menyimpannya dengan baik. Ini bisa dijadikan tabungan untuk kalian suatu saat nanti. Apa kalian mengerti?”


Mereka membungkuk sekali lagi dan mengangguk. “Tentu saja, Nona.”


“Sekarang, panggil kawan-kawan kalian. Kita mulai belajarnya.”


Tak lama kemudian, pelajaran pun dimulai. Si nona mengajar di balai, sementara Seol mengajar bocah laki-laki dan perempuan di gasebo depan rumah. Sesekali Nona itu berkeliling mengecek pekerjaan menulis kaligrafi mereka, sementara Seol mengajar anak-anak itu untuk menulis beberapa huruf di buku.


Sekitar dua jam kemudian, pelajaran pun usai. Nona dan Seol sudah mulai meringkas barang-barang mereka dan berjalan keluar rumah. “Aku ingin kalian menghafalkan apa yang kuajarkan hari ini, terutama kau, Hyun Ae. Kau mengerti?”


Muka Hyun Ae pun memerah, disambut tawa temannya. “Dan, aku minta tolong seperti biasanya, Eun Hee dan Il Dong, kalian yang paling tua, aku ingin kalian menjaga adik-adik kalian.”


“Tenang saja, Nona. Mereka sudah seperti ayah dan ibu kami di rumah ini.” ucap Ha Neul.


“Baiklah, jangan lupa mematikan api setelah masak nanti. Oh, ya, jangan lupa kunci pintunya setelah aku pergi.”


Dengan berat hati, Nona itu pun meninggalkan anak-anak yatim piatu asuhannya. Di perjalanan, ia menemui pohon sakura yang indah, beberapa helai bunga jatuh ke bawah. Dan anehnya, ia seakan teringat akan pria itu.


DI SAAT YANG SAMA...


“Jeoha, Anda harus segera kembali ke rombongan kerajaan.” ucap seorang laki-laki tengah baya kepada pria yang sekarang di hadapannya sedang meminum tehnya. Mereka memakai pakaian bangsawan. “Lingkungan pasar sangat berbahaya pada malam hari. Apalagi setelah serangan tadi.”


Putra Mahkota tertawa geli. “Apa kau lupa aku ini jago berpedang? Ini masih sore hari, jadi tenanglah dan minum tehmu."


 


“Jeoha!” panggilnya, kesal. “Ini bukan saatnya minum teh, Jeonha akan marah besar jika tahu Jeoha tidak segera kembali ke istana.”


 


“Anggap saja, saat ini kita tersesat dan sedang dikelilingi penjahat sehingga kita tidak bisa segera pulang. Kurasa Ahbamama takkan punya alasan untuk marah.”


“Tapi, Jeoha. Jika sampai kita diserang lagi, bagaimana?” tanyanya, sambil memandang sekelilingnya.


Putra Mahkota tertawa lagi. “Kalau begitu, aku bisa memraktekkan jurus yang baru kupelajari kemarin.”


Pria di depannya mulai gemas. “Jeoha!” Ia pun menyeret Putra Mahkota berdiri dari kursinya.


“Apa yang kau lakukan? Kau lupa aku siapa?”


“Hamba, kasim Anda, Hyun, tahu benar siapa Anda, Yang Mulia. Karena itulah hamba melakukan ini.”


Dengan susah payah, Hyun menyeret majikannya pergi. Mereka pun menyusuri jalan menuju istana yang kebanyakan merupakan lorong pasar yang sepi. Putra Mahkota tampak begitu kesal. Sementara Hyun tetap berwajah penuh tekad sambil sesekali menarik majikannya yang berjalan sangat lambat.


________________________________________


" Ketika kamu bertemu seseorang yang spesial, kamu akan tahu. Jantungmu akan berdetak lebih cepat dan kamu akan tersenyum tanpa alasan untuknya. "


- Protip