
"Kalian harus ingat, jangan sampe sedikitpun kalian nyakitin dia, jangan buat dia sampe terluka. Ngerti!" seorang cowok berbadan kekar memperingati orang-orang di sekitarnya. Mereka berada di sebuah gedung tua yang didalam nya begitu rapih bak rumah dengan isi keluarga bahagia.
"NGERTI!!" jawab orang orang di sana kompak mematuhi ucapan sang ketua, banyak orang laki-laki di tempat itu kira-kira sembilan puluh atau lebih dan semuanya laki-laki.
"Bos, sampe kapan dia terus kejebak salah paham, di tempat itu dia gak aman. Apa lo udah dapet buktinya?" salah seorang kepercayaan sang ketua berucap.
"Belum, kita harus segera dapet semua bukti itu atau dia akan terus ada dalam bahaya di sana!" cowok yang di sebut ketua itu memikirkan sesuatu, di mana penghianat itu menyembunyikan semua bukti kebenaran itu, dia tidak bisa terus membiarkan orang yang tak tau apa-apa itu terjebak dan akan terus membahayakan dirinya.
Orang tidak tau apa-apa itu sangat penting bagi cowok yang di panggil ketua itu, sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan orang itu terus dalam bahaya, tidak akan ia biarkan dia terluka.
"Dodit, terus lo awasi dan cari tau sampai dapet bukti itu di markas cakrawala!, jangan sampai lo ketauan kalo lo adalah Lucifer!"
"Menyamarlah sebaik mungkin!" titah sang ketua yang langsung di angguki Dodit cowok yang di sebut oleh sang ketua.
"Cepet selesain persiapannya, besok kita akan tawuran lagi sama Cakrawala, dan inget kata gue, JANGAN SAKITI DIA!!"
Setelah sang ketua mengatakan itu, semua orang di sana beranjak dari tempatnya mempersiapkan pertempuran yang akan terjadi besok.
****
Seperti biasa, markas Bharta masih ramai walau malam sudah larut, semua orang di sana masih asik dengan permainannya masing-masing. Biasanya markas itu akan sepi saat menjelang subuh, ada yang pergi ke kamar mereka, ada yang pulang kerumah masing-masing.
Termasuk kelima cowok anggota inti bharta, selalu ada di antara mereka yang menginap di markas dan ada yang pulang juga. Tapi malam ini kelima cowok itu memutuskan untuk menginap di tempat itu.
Kelima cowok itu langsung kumpul merapat setelah Anan memanggil mereka. "Gimana?, persiapan udah beres?" tanya Anan memastikan keperluan yang akan di gunakan untuk memata-matai tawuran besok sudah lengkap.
"Gue cuma buku sama pulpen doang mah gampang." Ujar Robi yang bertugas mencatat apa yang terjadi di tawuran itu, formasi mereka, dan hal-hal aneh yang berhubungan dengan ketua Cakrawala.
"Penyadap suara dan kameranya juga udah ada, tinggal di pasang tersembunyi di sekitar mereka," kata Raka.
Anan mengangguk paham, ia berharap semoga saja mereka segera mengetahui rahasia Cakrawala itu. Sebenarnya Bharta bukanlah geng yang egois dan haus posisi. Mereka ingin merebut posisi pertama karena sebuah Amanah dari ketua Bharta sebelum Anan yang berpesan bahwa Bharta harus tetap ada di posisi pertama atau Bharta harus bubar. Anan sudah berfikir dan memutuskan dalam hatinya jika mereka tidak berhasil mempertahankan dan merebut kembali posisi pertama maka Anan akan memilih opsi ke dua dari amanah seniornya. Bharta akan bubar.
"Oke!, kalo semua udah siap tinggal kita usahain buat mencari tau kelemahan mereka, kita gak perlu tawuran dulu sama Cakrawala sampai semua nya terungkap, apapun hasil nya gue udah fikirin. Dan kita semua harus sudah sepakat!" Rafa mengernyit bingung, sepakat, kesepakatan apa yang dimaksud Anan.
"Kesepakatan?" Rafa membuka suaranya juga menanyakan kebingungannya. Yang lainnya pun juga mulai berfikir. Sepakat apa.
"Sepakat apa?" tanya Dirga juga.
Anan tersenyum membuat mereka semakin bingung.
"Akan gue kasih tau pada waktunya!" jawab Anan membuat mereka pun percaya pada apa yang akan di lakukan ketua Bharta itu.
"Udah malem banget, sebaiknya kita tidur sekarang!" kata Anan dan bangkit dari duduknya meninggalkan ke empat sahabatnya.
Setelah kepergian Anan, mereka pun ikut menyusul memasuki kamar masing masing.
Tapi Rafa melihat Raka tidak pergi ke kamarnya, Raka berjalan menuju halaman belakang dan Rafa memutuskan untuk mengikuti kemana Raka pergi.
Rafa mengikuti Raka hingga mereka duduk di bangku yang ada di halaman belakang markas Bharta itu, Raka membiarkan Rafa mengikutinya. Biarkan saja.
Mereka sama sama diam, Rafa mendongak menatap langit malam yang gelap di hiasi ribuan bintang. Sedangkan Raka menatap sebuah foto di tangannya sambil sesekali tersenyum. Hawa dingin tidak sedikit pun mengusik keduanya.
"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Raka.
"Kenapa gak pergi tidur?" bukannya menjawab Rafa berbalik bertanya.
"Belom ngantuk," jawab Raka.
"Gak ngapa ngapain, pengen ikut ajah." Raka mengangguk, kemudian Raka kembali menatap lekat foto di tangannya. Rafapun kembali mendongak menatap langit, langit itu penuh dengan misteri, kadang membawa kebahagiaan dengan indahnya senja, hujan, pelangi dan bintang. Juga kadang membawa penderitaan dengan seramnya badai, gelapnya mendung, gelap gulitanya malam. Semua itu datang tak menentu.
Kita harus menghadapi gelap nya mendung untuk menikmati hujan, kita harus menikmati senja sebelum menghadapi gelap gulita nya malam.
Saat kita harus melepas kepergian senja, kita akan menantikan dan mengharapkan malam yang penuh bintang tapi bagaimana jika yang ada hanyalah gelap gulita...
"Lo masih inget sama Nana?" Rafa terdiam mendengar pertanyaan Raka tentang gadis itu dan beralih menatap Raka.
"Anak manja itu?" Raka mengangguk masih menatapi foto itu.
"Seperti apa dia sekarang ya, apa Nana masih jadi anak manja yang manis, atau jadi gadis pemberani," Raka menerawang mengingat gadis kecil manis yang dulu mewarnai masa kecilnya.
"Kenapa tiba-tiba lo ngomongin anak manja itu?" Raka menatap Rafa tak suka. "Lo dari dulu masih ajah bersikap kaya gini sama Nana," Rafa memutar bola matanya jengah.
"Karena gue mau selalu bareng dia, tapi sekarang dia ngilang dan cuma Nana yang selama ini gue cari, sampai kapanpun itu!" batin Rafa.
"Biarin ajah, dia nyebelin banget, selalu buat gue repot!" ucap Rafa.
"Itu karena lo duluan yang selalu ganggu Nana!" Raka terkekeh mengingat masa kecilnya yang menyenangkan bersama tiga sahabat kecilnya. Sekarang hanya tersisa Rafa saja di sisinya, dimana sebenarnya dua sahabat kecilnya yang lain.
"Lo gak perlu sampe cemas gitu mikirin Nana, paling juga dia masih sama Lalang sampe sekarang, inget ajah dulu Lalang terus ngikutin Nana kemana mana!" Raka tertawa mengingat itu saat dia dan Lalang berebut untuk ikut Nana ke kamar mandi, dan Nana dengan keadaan perut nya yang sakit memekik keras tak membiarkan dua bocah laki-laki itu mengikutinya.
Tapi tidak dengan Rafa, cowok berwajah datar itu menatap aneh Raka yang masih tertawa. Ya Rafa tau apa yang di tertawakan Raka, memang lucu saat mengingat dua anak laki-laki yang terus membuntut di belakang gadis kecil hingga mengikuti kemanapun gadis kecil itu pergi, meski mereka tau gadis kecil itu pergi ke rumah tetangga yang memiliki anjing galak tetap saja dua bocah laki-laki itu terus membuntut menahan rasa takut mereka. Hingga dua anak laki-laki itu saling berebut saat gadis kecil itu ingin memasuki kamar mandi. Dan dua anak laki laki itu adalah Lalang dan Raka. Sedang Rafa memperhatikan kebodohan mereka dari jauh.
"Iya, tapi gue berharap, gue bakal bisa ketemu lagi sama mereka, Nana yang manja," Raka membayangkan ia dan Nana akan bertemu dan bermain seperti waktu kecil dulu.
Mereka berempat. Nana, Rafa, Raka dan Lalang saat berusia empat tahun sudah bersahabat dekat bahkan orang lain mengira mereka adalah saudara kandung. Sepanjang hari mereka menghabiskan waktu dengan bermain bersama. Raka dan Lalang sangat suka memanjakan Nana, memberikan apa yang Nana inginkan, menemani Nana tidur, melindungi Nana. Tapi Nana lebih condong kepada Raka membuat Lalang kadang iri.
Sedangkan Rafa selalu saja menjahili Nana hingga menangis dan akhirnya mengadu pada Raka atas apa yang di perbuat Rafa. Rafa selalu mencari gara-gara pada Nana, berdebat hal tidak penting yang membuat Nana marah, mengejek Nana bahkan sesekali merusak mainan Nana, tapi pada akhirnya Nana selalu berlari dan mengadu pada Raka dan Raka menarik telinga Rafa kencang membuat Nana tertawa. Tapi kebersamaan mereka hanya berlangsung selama lima tahun lalu mereka berpisah.
"Mungkin suatu saat kita akan ngumpul lagi, gue juga kangen banget sama Nana!" kata Rafa.
"Kalo kita ketemu lagi, gak bakal gue biarin lo ngusilin Nana lagi, gue bakal tarik kuping lo sampe putus!" ancam Raka lalu tertawa tapi tidak dengan Rafa.
Kemudian mereka diam tak bersuara memikirkan sesuatu yang ada di kepala masing masing.
Raka menatap lekat lagi foto ditangannya yang menggambarkan kebersamaan mereka di waktu kecil.
"Nana, gue kangen!" gumam Raka lalu tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
.
Bersambung