RaLia

RaLia
Makan-makan.



"Kamu mau kemana?" Tanya Raka begitu memasuki kamar melihat Ellia yang sudah rapih dengan setelan kerjanya.


"Kantor lah," jawab Ellia mengambil tasnya diatas ranjang.


Raka menyambar tas itu dan menyimpannya kembali diatas meja. Lelaki itu melepas jas dari tubuh Ellia. Diangkatlah tubuh mungil itu dan membaringkannya diatas ranjang. Ellia merasa bingung, apa yang dilakukan Raka sebenarnya.


"Aku gak izinin kamu kerja mulai sekarang sampai beberapa bulan kedepan. Aku udah bilang ke Papa kamu dan minta izin,"


Ellia menurut dan pasrah berbaring diatas ranjang. Pasti akan sangat bosan. Setelah meminta untuk menunggu, Raka pergi meninggalkan Ellia. Beberapa saat kemudian lelaki itu kembali dengan nampan yang berisikan sarapan, susu dan juga semangkuk biskuit.


"Sekarang sarapan dulu aku suapin, baru abis itu aku berangkat kerja." Raka menyodorkan sesendok nasi goreng buatannya ke mulut Ellia.


"Aku bisa makan sendiri, ini udah siang. Kamu berangkat ajah," Ellia hendak mengambil alih sendok dari Raka, namun lelaki itu menjauhkannya.


"Ayo buka mulut!" Elliapun menurut dan melahap hingga habis makanan yang Raka suapi. Setelah itu Raka memberikan segelas susu dan langsung diteguk habis oleh Ellia. Mengambil selembar tisu dinakas, Raka lalu mengusap area bibir Ellia untuk membersihkannya.


"Pintar!, aku berangkat dulu," ucap Raka tersenyum sambil membelai kepala istrinya.


"Tunggu, aku gak suka susunya. Nanti ganti rasa strawberry ya," pinta Ellia menghentikan langkah Raka.


Raka mengangguk "nanti kalo ada yang lain yang kamu mau, bilang aku ya!"


Rakapun pergi. Dan ya, belum juga sepuluh menit, wanita hamil itu sudah merasa bosan tidak tahu apa yang ingin dilakukan.


Beberapa saat berdiam, Ellia memutuskan untuk menonton tv saja. Lagi-lagi entah sudah yang ke berapa kali ia menghela napas tidak menemukan kegiatan yang ia suka.


Suara bel berbunyi, Ellia bangkit dari tempatnya untuk membukakan pintu. Begitu membuka pintu ia langsung dikejutkan dengan serangan seseorang yang langsung memeluknya.


"Mama!"


"Tadi pagi Raka telfon Papa buat minta izin cuti kamu. Kata Raka tadi beneran kan?, Mama bakal punya cucu. Secepat ini?," ujar Nandini semangat. Begitu mendengar Reynand yang mengatakan apa yang disampaikan Raka lewat telepon tadi Nandini tidak bisa menahan diri untuk tidak langsung pergi menemui putrinya.


Dengannya Nandini membawa beberapa hadiah untuk Ellia. Wanita itu menyeret putrinya untuk duduk disofa. Dengan semangat Nandini menunjukkan satu persatu hadiahnya.


"Tadi Mama langsung pergi ke mall, Mama liat baju ini lucu banget, jadi Mama ambil buat kamu. Bagus kan?" Kata Nandini menunjukkan sebuah dress selutut warna biru pastel.


"Iya bagus,"


"Nih liat juga yang ini!. Sepatu nya lucu banget, Mama ambil juga sekalian sama selimut baby nya," kali ini Nandini menunjukkan tiga pasang sepatu bayi dengan warna cerah, juga beberapa selimut yang sangat lucu.


"Umur dia masih lima minggu loh Ma," Ellia heran pada ibunya itu. Nandini sangat bahagia dan bersemangat hingga membelikan sepatu dan selimut bayi secepat ini. Padahal baru tadi pagi kabar bahagia itu disampaikan Raka, dan Nandini seakan-akan cucunya akan lahir besok saja.


Waktu sudah menunjukkan sore hari. Pekerjaan Raka sudah selesai, waktunya pulang. Sebelum itu Raka harus mampir ke minimarket terlebih dahulu. Saat sedang akan meraih sebuah susu ibu hamil seseorang menepuk pundaknya. Raka menoleh.


"Wih, mau beli susu itu. Buat siapa nih, bini lo hamil?" Ujar orang itu.


Siapa lagi yang memiliki kehebohan itu jika bukan Anan. Raka menghela nafasnya ketika harus bertemu dengan sahabatnya yang satu ini.


"Iya,"


"Gila bro, bibit unggul. Cepet banget udah jadi ajah. Mesti ada pesta nih," ucap Anan heboh langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sahabat-sahabatnya.


"Woy, entar malem ada pesta di rumah Raka. Pada dateng semua lo, sayang makan gratis," kata Anan. Raka melanjutkan memilih susu dihadapannya kemudian beralih mengambil troli untuk memilih banyak makanan ringan, minuman, soda, mie instan, daging, sosis, sayur dan macam-macam. Para sahabatnya pasti akan menjadi seperti hewan kelaparan datang ke rumahnya nanti malam.


Kedatangan Raka di rumahnya ia langsung menemukan istri tercintanya yang sedang duduk anteng menonton netflix bersama ibu mertuanya sambil memangku setoples kue kering.


Menyadari suatu hal Nandini menoleh dan mendapati menantunya yang sudah datang menenteng banyak kantong belanjaan.


"Eh Raka udah pulang?," mendengar ucapan Nandini, Ellia pun ikut menoleh lalu meletakkan toplesnya ke atas meja dan langsung menghampiri Raka.


"Mama udah lama?" Tanya Raka setelah menyalimi tangan Nandini.


"Iya, udah dari siang," jawab Nandini.


"Banyak banget belanjanya, bahan di dapur kan masih banyak. Tadi kan aku cuma minta susu doang," ujar Ellia melihat tangan Raka yang penuh langsung mengambil alih beberapa.


"Tadi gak sengaja ketemu Anan, temen-temen nanti malam mau ke sini. Mereka gak akan pulang sebelum kenyang, jadi sekalian." Jawab Raka.


"Mereka mau kesini?. Aku ajak Aca juga ya," pinta Ellia diangguki oleh Raka.


"Oke, siniin belanjaannya!. Aku bawa ke dapur, kamu mandi dulu sana. Abis itu makan, Mama tadi udah masakin kamu." Kata Ellia.


Raka menyerahkan semua kantongnya dan mengikuti apa yang istrinya bilang. Tangan lelaki itu mengusap lembut kepala Ellia terlebih dahulu sebelum melangkah ke kamar.


"Udah sore. Mama pulang ya, Papa juga bentar lagi pulang. Mau masakin Papa juga," pamit Nandini mengambil tasnya dari sofa.


"Iya deh, hati-hati. Atau mau diantar Raka ajah?" Tawar Ellia.


"Gak usah, suami kamu baru pulang. Mama udah hubungin sopir suruh jemput kok,"


Setelah beberapa lama menunggu sopir Nandini datang. Wanita itu pun pulang setelah menghabiskan waktu bersama putrinya.


...⚘⚘⚘...


Suasana rumah yang tenang itu seketika menjadi heboh dengan kedatangan teman-teman Raka. Juga teriakan Aca yang baru datang dan berlari ke arah Ellia.


"HALO BUMIL. GILA, SECEPAT INI GUE BAKAL PUNYA PONAKAN," teriakan Aca lalu mengelus perut rata Ellia sebentar.


"Ya iyalah, benih siapa dulu gitu. Bibit Raka emang terbaik, bisa langsung jadi. Gue bakal jadi Om. Eh, enggak. Masa Om sih kayak apa ajah. Uncle, ya gue bakal jadi uncle." Balas Anan lebih heboh lagi.


Ellia hanya bisa tersenyum saja sebagai balasan.


"Gue ambil makanannya dulu ya," langkah Ellia dihentikan Aca dan membawa perempuan itu untuk duduk disofa.


"Lo duduk ajah oke, biar gue yang urus semuanya." Ucap Aca berlari menuju dapur.


Beberapa saat kemudian Aca pun kembali, namun tidak ada apapun ditangannya.


"Maaf, kalian datangnya dadakan sih. Jadi gue gak sempet masak, gapapa kan masak-masak sendiri," Ellia terkekeh tidak enak.


"Gak masalah kali. Lo emang sebaiknya gak boleh banyak kerja berat-berat. Ayok!, lo liat nanti hasil karya gue," kata Robi mengankat lengan sweeternya.


Anan, Robi, Dirga dan Aca pun pergi ke dapur dan memulai aksi mereka. Entah Ellia sedikit merasa ragu, apakah dapurnya akan baik-baik saja nanti?. Ya memang kemampuan masak Aca sudah cukup lumayan tidak seperti dulu. Tapi apakah ketiga lelaki itu dapat dipercaya.


"Sasa!. Dapur aku?"


Raka terkekeh mengetahui kekhawatiran istrinya.


"Kamu disini ajah, biar aku yang cek mereka,"


Raka berjalan santai menuju dapur. Raka tidak begitu khawatir karena ia tahu keahlian Robi dan Dirga yang ternyata mempunyai bakat memasak. Tapi entah bagaimana dengan Anan, apakah lelaki itu masih belum bisa membedakan garam dan gula.


Begitu sampai di dapur, sesuai bayangannya. Robi dan Dirga tengah sibuk berkutat dengan bahan makanan sambil berduet bersenandung sebuah lagu. Sedangkan Anan dan Aca?, tidak bisa diselamatkan. Mereka berdua malah saling serang melempar tomat dan telur, membuat seluruh tubuh keduanya kotor.


"Anjing, sini lo!. Lo bilang apa tadi?, gue gak kaya lo ya. Bedain gula sama garem ajah gak bisa," pekik Aca kembali melempar sebuah tomat kearah Anan.


"Hemm!" Gumam Raka menyadarkan teman-temannya.


"Gue gak mau dapur istri gue berubah jadi kapal pecah. Awas ajah makanan selesai tapi dapur masih berantakan, gue jamin lo semua pulang dengan perut kelaparan," tegur Raka menunjuk kekacauan yang diciptakan Anan dan Aca.


"Lo sih!" Tunjuk Aca pada Anan.


"Lah kok gue?. Lo duluan yang ganggu gue," balas Anan.


"Bacot lo berdua!. Cepet bantuin gue elah!" Sembur Robi mengacungkan pisau yang dipegangnya membuat Anan dan Aca menegang ditempatnya. Tanpa ada perdebatan berkepanjangan, keduanya langsung mendekati Robi dan mengambil alih beberapa pekerjaan.


"Bagus, jangan lupa bersihin semuanya nanti!" Ucap Raka lalu berbalik meninggalkan dapur. Namun...


"Eh, lo tuan rumah disini dan kita tamu. Harusnya lo yang nyiapin makanan buat tamu, bukannya kebalik. Gak akhlak emang lo jadi tuan rumah," lanjut omelan Robi menghentikan Raka hingga terpaksa lelaki itu ikut andil dalam memasak. Tapi tidak apa-apa, selagi Ellianya tidak melakukan apapun.


"Waah!. Ternyata kalian bisa masak juga ya, padahal tadi gue meragukan kalian. Gue takut, nih anak gak ada pecahin piring gue lagi kan?" Tunjuk Ellia pada Aca.


Sekarang didepannya sudah tersaji bermacam-macam makanan buatan teman-temannya. Bukan, bisa dibilang ini adalah masakan Robi dan Dirga. Karena yang lainnya hanya membantu beberapa.


"Gak ada kok!" Tapi kalo pecahin telur sama tomat, ada. Lanjut dalam hati Aca.


"Bagus deh, ayo dimakan!. Udah gak sabar banget mau makan. Selamat makan!" Kata Ellia.


Mereka pun berdoa terlebih dahulu dan mulai melahap makanan dipiring masing-masing. Semuanya tampak sangat menikmati. Namun tidak dengan Raka. Baru satu kali suap, sesuatu bergejolak dari dalam perutnya. Rasanya sangat mual. Lelaki itu langsung beranjak dan berlari menuju toilet.


"Loh kok?. Inikan enak banget," kata Ellia lalu menyusul Raka.


Tidak ada apapun yang keluar, tapi rasa mual itu masih terus ada dan tidak pernah hilang. Tubuhnya sudah sangat lemas sekarang, Raka terus memuntahkan cairan dibantu Ellia yang memijat tengkuknya dari belalang.


"Kamu kenapa?. Makanannya gak enak?, atau ada alergi?." Ellia sungguh merasa tidak tega melihat wajah pucat suaminya.


"Kedokter ajah yuk,"


Raka menggeleng "gak usah, mungkin masuk angin doang. Aku mau langsung ke kamar ajah,"


"Kamu selesain makannya dan minum susu dulu. Kalo udah selesai langsung ke kamar istirahat. Besok kita harus kerumah sakit buat cek kandungan. Temen-temen mungkin bakal nginep, kamar tamu udah rapi," Dengan langkah pelan Raka berjalan lalu menaiki tangga menuju kamar. Sedangkan Ellia kembali menemui teman-temannya.


"Kenapa Raka?" Tanya Dirga.


"Gak tau, sekarang dia lagi istirahat di kamar. Lanjutin ajah makannya, kalian bisa nginep. Kamar tamu udah siap, tapi kalo masih mau main-main juga gapapa. Di ruang tengah ada PS, kartu sama game punya Raka. Mainin ajah," jawab Ellia.


"Gapapa nih?" Tanya Anan.


"Santai ajah, anggap rumah sendiri. Kalian kan sahabat Raka. Aca, lo jangan macam-macam!" Balas Ellia kemudian melanjutkan makannya lalu meminum susu nya.


Dibantu Aca, Ellia membereskan kembali piring-piring dan gelas. Kedua perempuan itu pun ikut menyusul para lelaki ke ruang tengah.


"Main sama gue Dir!" Ujar Ellia duduk disamping Dirga yang bermain sendirian dengan PS. Sedangkan Anan dan Robi bermain kartu.


"Jangan gitu lah sama cewek, masak gue kalah terus sih. Ngalah kek," rengek Ellia mengguncang-guncangkan stik PS ditangannya.


"Gak bisa nyonya. Ini permainan, siapapun pasti ingin menang," balas Dirga menyeringai puas melihat wajah kusut Ellia yabg sangat menggemaskan.


"Muka cantik gue!" Pekik Aca ketika ia kalah main kartu dan wajahnya dicoret dengan spidol.


"Haha gapapa. Biar makin gak laku lo," ejek  Anan.


"Siapa bilang gue gak laku," sahut Aca mengangkat wajah belepotannya.


"Buktinya, sampe sekarang masih ajah tuh lo jadi buntut Ellia."


"Gue udah mau tunanangan tau," mendengan jawaban Aca barusan. Ellia menoleh sebentar ke arah Dirga. Melihat wajah lelaki itu seketika berubah menjadi lebih serius menatap layar dihadapannya.


"Jangan diem ajah kalo gak mau kalah lagi!" Tegur Dirga terus fokus pada game yang ia mainkan.


"Udah ah, cape gue. Gue gak bisa ngalahin lo, pengen tidur ajah. Kalian main ajah, kalo cemilan sama minumannya abis, ambil sendiri ajah di dapur!" Ellia kemudian beranjak dari posisinya.


"Aca!. Inget, jangan macam-macam. Lo cewek sendiri," pesan Ellia kemudian perempuan itu pergi menuju kamarnya sendiri.


"Tunangan sama siapa lo?" Tanya Anan.


"Alan. Males banget sebenarnya gue harus nikah sama itu orang. Gue gak mau sama dia!" Jawab Aca melepar satu kartu miliknya ke atas meja.


..."Kalo sama gue?, Mau?"...


...-BERSAMBUNG-...