RaLia

RaLia
Penerus Putra & Mahardika.



...-HAPPY READING-...


.......


.......


.......


USIA KEHAMILAN 9 BULAN.


Kedatangan Ellia dengan perut sang sudah sangat buncit itu ke kantor membuat semua orang menyingkir memberikan jalan untuk bos mereka. Melihat sebesar apa perut Ellia, membuat mereka semua mengidik ngeri. Tidak bisa membayangkan bagaimana sulit nya Ellia berjalan dengan perut sebesar itu.


Ellia menaiki lift khusus menuju lantai ruangannya berada. Begitu lift terbuka, ia disambut Aca yang sudah menunggunya.


"Benar kan dugaan gue. Lo pasti masih ajah datang. Lo gak sadar atau gak peduli sih, itu perut udah segede gentong. Beberapa hari lagi lo mungkin lahiran, masih ajah nakal ya. Harusnya lo tuh diam di rumah, udah ada laki kan yang kerja."


Omelan Aca itu membuat telinga Ellia merasa panas. Hari pernikahan Aca yang sudah dekat menjadi penyebab emosi gadis itu yang meluap-luap. Dia masih tidak bisa menerima pernikahannya.


Mendorong pelan tubuh Aca ke samping, Ellia melangkah menghiraukan omelan Aca barusan. Dia tidak tahu saja betapa bosan nya tidak bekerja selama lima bulan. Semenjak ia kembali bekerja tiga bulan lalu, Aca pasti selalu mengintil di sampingnya kemanapun ia berjalan di kantor ini. Sebenarnya sudah dari dulu gadis itu yang mengintil dengannya. Sepertinya Raka yang menyuruh Aca agar tidak jauh-jauh dari Ellia. Takut Ellia merasa kesulitan diwaktu yang mendadak.


"Cepet kerja!" Seru Ellia semakin menjauh dari Aca yang menatap heran sahabatnya itu. Apa tidak lelah bekerja dengan kondisi seperti itu.


Di ruangannya, kedua perempuan itu sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Kedua nya tampak sangat serius. Beberapa hari lagi akan ada pertemuan dengan kolega penting dari Istanbul. Mereka akan datang dengan membawa persahabatan dan keuntungan yang besar. Segala persiapan harus dilakukan dengan baik. Tempat, jamuan, pelayanan dan penjagaan sudah disiapkan. Berkas penting ini pun harus berkali-kali di cek ulang meminilisir kesalahan.


"Aw!"pekik Ellia membuat Aca terkejut dan langsung menghampiri meja Ellia.


"Ada apa?," tanya Aca panik.


"Mereka sangat nakal. Gak tahu apa, tendangannya kekencengan. Bikin kaget ajah. Kompak banget lagi nendangnya," gerutu Ellia mengusap perutnya menenangkan pergerakan kuat yang selalu membuatnya terkejut tiba-tiba.


"Dasar duo bocil!, untung Mak lo gak punya penyakit jantung. Kalo punya, jangan harap lo lahir ke bumi," ujar Aca gemas sambil mengusap perut besar Ellia.


Ya, dengan melihat ukuran perut Ellia yang melebihi orang hamil pada umumnya sudah dipastikan bahwa bayi Ellia adalah sepasang kembar. Soal jenis kelamin, sang dokter yang menangani Ellia pun sangat gemas ingin memberi tahu, namun pasangan itu melarangnya. Karena hal itu lah yang menyenangkan, ketika lahir mereka akan menjadi kejutan bagi kedua nya. Seperti membuka mystery box,


"Ngomong-ngomong lo kapan ngambil cuti. Gue takut sumpah, lo sebentar lagi bakal lahiran."


"Lima hari lagi ada pertemuan penting. Gue sebagai pimpinan harus menyambut mereka sendiri. Gak baik kalo diwakilkan." Jawab Ellia sambil kembali meneruskan fokusnya pada laptop.


"Om Reynand itu sudah cukup. Daripada ada apa-apa sama lo gimana?"


"Kembali bekerja!" Aca menghela nafas. Perempuan hamil ini memang sangat keras kepala. Dengan langkah menghentak hentak gadis itupun kembali ke mejanya.


"Jangan manyun gitu dong, habis ini gue traktir deh. Gimana?"


Mendengar kata traktir, senyum Aca mengembang.


"APA, TRAKTIR. GUE JUGA MAU," kehadiran orang tidak diundang secara tiba-tiba membuka pintu dengan kencang membuat senyum Aca pudar. Kenapa orang ini selalu membuat kehebohan, dan selalu diwaktu yang tidak tepat.


"Dasar pengganggu!" Gumam Aca.


Beberapa bulan lalu saat Ellia tidak bekerja, lelaki ini sangat sering berkunjung dan mengganggunya. Bahkan sampai sekarang. Hidup Aca yang sudah kelabu ini semakin gelap. Tidak ada ketenangan didalamnya.


"Boleh, mumpung gue lagi berbaik hati," balas Ellia.


Wajah Aca semakin suram mendengar jawaban dari Ellia.


"Kenapa lo bolehin sih, yang ada dia tuh cuma mengacau!" Desis Aca penuh emosi.


"Kenapa lo yang keberatan. Orang yang mau neraktir ibu bos kok, bukan lo,"


Sahut Vian.


"Lo itu benalu. Dimana pun tempat yang ada lo nya, pasti gak bakal ada ketenangan," kesal Aca.


"Salah, malah orang akan lebih tenang dimana itu ada gue. Sebaliknya, mulut rombeng lo itu yang malah bikin ketenangan orang lain hancur,"


Ellia memijit keningnya yang berkedut. Kedua orang ini mulai lagi. Dan lagi-lagi ruang pribadinya yang mereka jadikan arena adu  mulut.


"Lo berdua sama saja. Dimana kalian disatukan, di sana lah ketenangan orang lain terganggu. Gue udah cape, hitungan ketiga kalian gak diam, gue pergi makan sendirian." Setelah mengatakan itu, Ellia pun beranjak meninggalkan sepasang manusia bermulut bising itu.


"Gara-gara lo, coba lo gak mulai!" Ucap Vian.


"Dih, sembarangan. Ini tuh gara-gara lo, coba lo gak datang. Gue bakal tenang makan berdua sama El," balas Aca.


"DUA!" seketika kedua orang itu langsung berlari menghampuiri Ellia yang menghitung di luar ruangan.


"Ayo, makan-makan!" Seru Vian semangat seraya mengangkat tangan kanannya ke udara.


...⚘⚘⚘...


Di sinilah mereka bertiga berada sekarang. Duduk berdampingan dibangku panjang sebuah cafe sambil menikmati semangkuk eskrim beraneka toping. Tidak, hanya Ellia saja. Sudah satu jam lebih perempuan itu berada di sana dan sudah tiga kali memesan eskrim dengan rasa yang berbeda.


Ibu hamil itu seakan lupa dengan dunia nyata, asik sendiri dalam dunianya. Perempuan yang sangat suka kerja itu seketika lupa dengan waktu yang sudah lewat dari jam makan siang.


Mata Ellia tidak sengaja melihat pada jam yang menempel didinding cafe, dengan tidak sengaja ia menggebrak meja membuat dua orang di sampingnya tersentak.


"Ya ampun. Udah lewat jam makan siang!, gue ada rapat sama Papa. Kenapa lo gak ingetin gue?, gimana sih lo jadi sekretaris gue. Bukannya ngingetin!" Sembur Ellia buru-buru mengemas barang nya dan segera membayar tagihan.


Aca mencibir dalam hati, tidak tahu akan menjawab bos nya bagaimana.


"Baru sadar lo. Lo nya ajah kali yang gak dengar, dari tadi gue mau ngingatin. Tapi lo gak biarin gue ngomong ganggu makan lo,"


"Iya deh, gue salah. Maaf," jawab Aca mengalah.


"Emang lo salah!, ayo cepat balik ke kantor!" Kedua perempuan itu buru-buru pergi meninggalkan Vian yang masih duduk melanjutkan eskrim Ellia yang tidak habis tadi.


"Emang benar ya. Urusan sama ibu hamil emang ribet, apa-apa salah. Untung gue masih jomblo, gimana tuh nasib nya Raka tiap hari ngeladenin bumil macam gitu," Vian menggeleng, benar apa yang orang-orang bilang. Berhadapan dengan ibu hamil itu mengerikan, mood mereka yang berubah-ubah membuat orang-orang di sekitarnya menjadi serba salah.


Walau sudah telat, tapi Reynand masih bisa memaafkan Ellia. Dia terlambat sebab keinginan cucunya yang luar biasa itu, bila bersama Raka, pasti lelaki itu akan melarangnya makan eskrim dengan jumlah banyak seperti tadi. Rapat dimulai dengan profesional.


"Untuk proyek yang ini sudah hampir rampung, tinggal sepuluh persen lagi lalu bisa diresmikan," jelas Ellia diakhir rapat.


Reynand mengangguk. Anak gadisnya sudah besar dan sehebat ini. Proyek yang ditangani Ellia tidak pernah mengalami kegagalan. Seharusnya Ellia sekarang berdiam di rumah menunggu hari bayi kembarnya lahir. Tapi anak gadis keras kepalanya ini terus memaksa, Reynand hanya merasa khawatir bila terjadi sesuatu pada Ellia disaat yang tidak memungkinkan.


"Gimana kabar cucu Papa?, kamu sehat?" Reynand melirik perut besar Ellia.


"Alhamdulillah sehat. Cuma kayak yang Papa tau, mereka tambah nakal. Banyak maunya," jawab Ellia mengusap perutnya yang terasa sedikit nyeri.


"Besok kamu gak perlu pergi kerja lagi ya, kamu gak tau kapan mereka lahir. Papa takut kamu kontraksi di tempat yang gak memungkinkan,"


"Enggak Pa, beberapa hari lagi ada tamu penting kan. El harus mengurus dan menyambut dia sendiri," balas Ellia masih terus mempertahankan keras kepalanya. Rasa nyeri pada perutnya semakin terasa ditambah dengan rasa mulas yang baru terasa.


"Papa ada kan, kamu gak perlu khawatir. Papa akan menyambut dan melayani dia dengan baik. Papa sendiri sudah cukup, mereka pasti akan mengerti," jawab Reynand.


"Tapi dia pasti akan bertanya-tanya. Selama ini yang berhubungan dengan dia itu Aku,"


"El, denger..."


"Kamu kenapa?" Reynand tidak melanjutkan ucapannya, melihat raut wajah Ellia yang aneh serta butiran keringat yang menetes dari keningnya.


"Gapapa, mungkin ini kontraksi palsu kaya yang udah-udah," jawab Ellia masih menahan rasa sakit dan mulas seperti yang sudah ia rasakan kemarin-kemarin. Dokter bilang itu adalah kontraksi palsu, ibu hamil wajar merasakan hal seperti itu di bulan terakhir masa kehamilan.


Reynand menuntun putrinya untuk berpindah duduk di sofa yang lebih besar dari pada kursi kerja yang sedang didudukinya sekarang.


"Sebentar, biar Papa suruh ambilkan air buat kamu," Reynand pun keluar ruangan memanggil seorang OB yang kebetulan lewat dengan menenteng ember dan pel-an, meminta dibuatkan teh hangat.


Beberapa saat menunggu, OB itu kembali mengetuk pintu dengan nampan yang di atasnya terdapat dua cangkir teh.


Reynand menutup kembali pintu ruangan. Begitu berbalik badan seketika Reynand melepas nampan dari pegangannya hingga menimbulkan suara pecahan nyaring di lantai. Buru-buru ia menghampiri Ellia yang merintih kesakitan sambil meremas perutnya sendiri, Ellia bahkan menangis. Air mata bercampur keringat membasahi seluruh wajah cantiknya. Begitupun cairan yang membasahi bagian kaki nya, Reynand tau putri nya akan segera melahirkan.


Untung saja diusia nya sekarang ini Reynand masih tetap bugar dan memiliki tubuh kekar hingga ia bisa mengangkat Ellia cepat-cepat membawanya menuju rumah sakit.


"Kita ke rumah sakit, kamu sabar ya,"


Sambil menyetir Reynand menekan nomor menantunya di ponsel dengan masih fokus pada jalan. Sesekali ia melirik bangku belakang di mana Ellia menjerit dan menangis.


"Ke rumah sakit sekarang!" Setelah mengatakan itu Reynand memutuskan sambungan telepon lalu melempar ponselnya ke bangku samping.


"SAKIIT PAPA..."


"Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai," sahut Reynand menenangkan Ellia juga dirinya sendiri. Ia harus tetap fokus pada jalan raya.


Begitu mobil Reynand berhenti di depan rumah sakit, mereka langsung disambut beberapa perawat yang membawa brangkar dan langsung membantu Reynand.


Ellia dibawa menuju sebuah ruang persalinan. Beberapa detik setelah Ellia dibawa masuk, seorang dokter menyusul.


"Tolong lakukan yang terbaik!" Dokter itu mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan.


Ini adalah cucu pertama baginya. Reynand merasa sangat tegang sendiri. Ia bergerak tidak tenang sampai-sampai dirinya baru ingat untuk menghubungi Nandini. Untung saja ia masih sempat ingat untuk mengambil ponselnya yang ia lempar tadi.


"Halo!"


...


"Cepat ke sini, cucu kita sebentar lagi keluar,"


...


"Iya, kamu bawa barang El. Bilang sama sopir jangan ngebut!"


Baru Reynand mendudukkan dirinya di kursi, suara besar langkah kaki mendekat. Lelaki dengan kemeja yang berantakan dan keringat yang membanjiri wajahnya berdiri di hadapan Reynand.


"Dia di dalam," ucap Reynand sebelum lelaki itu bertanya.


Pintu ruangan terbuka mengalihkan keduanya.


"Suami pasien?"


"Saya, bagaimana Dok?" Sahut Raka.


"Mari masuk, anda bisa menemani istri anda di dalam. Sekarang masih pembukaan tiga, anda harus menenangkan pasien," kata sang Dokter.


Mata Raka berkaca-kaca begitu masuk ia melihat istrinya yang kesakitan sambil menangis. Langkah besarnya membawa Raka ke samping tempat tidur Ellia.


"Sasa..." lirih Ellia mengangkat tangannya berusaha meraih Raka.


Dengan cepat lelaki itu menggenggam erat tangan Ellia. Ia mengusap kening istrinya yang dipenuhi keringat, berkali-kali Raka layangkan ciuman di pipi Ellia bergantian.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi," ucap Raka lalu mengecup tangan Ellia.


"Sa... kit..."  Raka mengusap air mata Ellia, tapi air matanya sendiri keluar dari matanya.


Begitu tangan Ellia menyentuh rambut  Raka langsung ditariknya lah rambut indah lelaki itu dengan cengkeraman yang kuat. Sungguh, ini sangat menyakitkan. Ellia akan mengingat dan menikmati rasa sakit ini dalam hidupnya. Dirinya akan membawa nyawa baru terlahir ke dunia, membuat nya melihat keindahan dunia. Dengan rasa sakit ini ia akan membawa kebahagiaan bagi semua orang. Kebahagiaan yang ia nanti selama ini. Walau rasa sakit ini tidak tertahankan, tapi kebahagiaan yang menantinya pasti akan menghapus segalanya. Jadi dirinya harus bisa bertahan sebentar lagi.


"Ini yang gak aku mau, liat kamu kesakitan kayak gini. Tapi kamu gak mau operasi ajah. Tahan ya sayang,"


"Sebentar lagi mereka lahir, mereka pasti akan bangga sama Mama nya yang kuat ini. Ayo lampiasin rasa sakit kamu ke aku,"


"Jangan sakit sendirian, aku harus rasain juga sakitnya."


"Sa... sa... " rintih Ellia ketika rasa mulas dan sakit bercampur semakin terasa.


"Dokter, apa gak bisa, gak usah ada rasa sakit?. Atau enggak, kasih saya ajah sakit nya," ucap Raka tidak sanggup melihat wajah kesakitan istrinya.


Dokter mendengar itu tersenyum tipis sambil memeriksa kembali Ellia. Bukan hanya sekali dirinya mendapatkan pertanyaan seperti itu dari para suami beberapa pasiennya ketika menemani istri mereka melahirkan. Terlebih jika yang sedang dilahirkan adalah anak pertama mereka, kurang lebih seperti pasangan di hadapannya sekarang ini.


"Sabar dan tenang ya, waktunya sebentar lagi," dokter itu mulai bersiap di posisinya.


"Ibu, sudah waktunya. Sekarang tarik nafas dalam lalu dorong perlahan, jangan diangkat pinggulnya, oke,"


"Ayo dorong lagi!"


Ellia menjerit keras. Ia menarik tengkuk suaminya agar lebih menunduk. Tangan kiri Ellia mencengkeram lengan Raka kuat hingga lelaki itu rasakan kuku-kuku Ellia menancap pada kulitnya. Sedangkan tangan kanan kanannya menahan tengkuk Raka dan menggigit lehernya kuat sambil menjerit.


Rasa sakit pada lengan dan leher Raka bukanlah apa-apa dibandingkan rasa sakit yang tengah dirasakan istrinya. Ia akan menikmati rasa sakit ini bersama.


"AAKH..."


"Ayo, sayang. Terus, bertahan. Sedikit lagi," ucap Raka dengan air mata menetes melihat begitu sulitnya Ellia membawa anaknya untuk datang ke dunia.


"SAAKIT... HUH.. AAKH..."


"Satu dorongan lagi!"


Tepat seperti ucapan dokter, setelah Ellia mengejan satu kali lagi, suara tangisan bayi menggema diseluruh penjuru ruangan itu, layaknya suara dari surga yang langsung membuat Raka terasa damai begitu mendengar tangisan anak pertamanya. Air mata bahkan masih terus mengalir.


"Selamat, anak pertama kalian seorang putra," ucap dokter memberikan bayi merah itu pada suster untuk dibersihkan.


Pegangan erat Ellia pada tubuh Raka pun seketika terlepas, nafasnya memburu dan tubuh nya menjadi lemas.


"Maaf, leher kamu berdarah," lirih Ellia menangkap darah mengalir dari leher Raka akibat ulahnya.


"Tubuh aku hancur sekalipun, kalo itu buat kamu gak akan ada rasa apa-apa. Dibanding dengan hadiah besar yang kamu kasih hari ini, Terima kasih sayang. Terima kasih,"


Ellia sudah tidak bisa menjawab lagi, tubuhnya benar-benar lemas. Namun rasa nya sangat lega begitu suara tangisan anaknya terdengar. Tapi ini bukanlah akhir, masih ada satu anak lagi yang harus ia lahirkan.


"Awwh..."rintih Ellia begitu mulas dan sakit kembali terasa. Dirinya harus bertahan sebentar lagi. Harusnya kali ini tidaklah sesulit tadi.


"Ayo, kita harus menyambut saudara kembarnya," kata dokter kembali siap pada posisinya.


"Ini, gigit lagi. Kita berjuang bersama," ucap Raka memberikan lengannya untuk digigit istrinya.


"Dorong lagi!" Titah dokter.


Ellia kembali menjerit kuat, namun suaranya tertahan karena dia sambil menggigit lengan Raka.


"Sedikit lagi. Ayo Ibu, dorong!"


Benar. Kali ini tidaklah sesulit yang pertama. Suara tangisan bayi kembali menggema memberikan rasa lega bagi siapa yang mendengarnya.


"Selamat datang untuk seorang putri," ujar dokter dengan senyum lebarnya.


Senyum pasangan itu ikut melebar. Raka mengusap air mata di pipi Ellia, kemudian mengusap seluruh wajah istrinya lembut. Diciumlah kening, kedua mata, hidung, pipi dan bibir Ellia. Tidak ada sela sedikitpun yang terlepas dari bibir Raka. Lelaki itu terkejut begitu melihat Ellia memejamkan mata dengan nafas tidak teratur, begitupun tangan Ellia yang lepas begitu saja dari pegangannya. Ditepuk pipi istrinya itu, namun tidak mendatangkan respon apapun. Dia masih tetap memejamkan mata.


"Na!" Panggilnya.


"Dokter, ini...?"


"Tenang pak. Dia hanya kelelahan. Bapak bisa menemui anak-anaknya sekarang. Biar saya bersihkan dulu istrinya,"


Raka mengangguk. Ia mengecup sekali lagi pipi Ellia kemudian pergi mengikuti suster yang membawa bayinya menuju ruang bayi.


Begitu membuka pintu, mereka langsung dihadang sepasang suami istri yang tak lain adalah mertuanya, Aca, dan Vian.


Nandini sangat bersemangat langsung mendekati suster yang memegang tempat tidur cucunya. Matanya melebar seketika melihat sepasang cucunya. Kemudian dia menatap Raka dan kedua bayi itu bergantian.


"Mereka..." ucap Nandini.


"Kakak laki-laki dan adik perempuan," jawab Raka.


"Ini tidak adil," sahut Reynand setelah melihat wajah kedua cucunya.


Sementara di belakang mereka dua manusia berbeda jenis itu lagi-lagi sedang ribut. Mereka berebut untuk melihat bayi Raka setelah Reynand dan Nandini selesai melihat.


"Awas lo, gue duluan. Gue mau lihat keponakan gue, minggir!" Kata Aca mendorong Vian hingga lelaki itu bergeser sedikit dari posisi berdirinya.


"Apa-apaan lo. Gue duluan, lo siapa?" Balas Vian.


Mata Aca melotot, "Gue Aunty nya, lo yang siapa?. Orang gak jelas, gue yang harus duluan liat keponakan gue," seketika Vian menciut. Namun dia masih belum menyerah juga.


"Gak usah sombong lo. Raka ajah yang Bapaknya gak sesombong lo. Lagian itu bayi emang mau liat muka lo,"


"Kalo mereka ajah gak mau liat muka gue, sementara gue Aunty nya. Apalagi liat muka lo yang bukan siapa-siapa,"


Jengah dengan keributan itu, Raka menyuruh suster untuk kembali melanjutkan perjalanan ke ruang bayi.


"Loh... kan. Gara-gara lo sih,"tunjuk Aca pada Vian.


"Bodo amat!"


...⚘⚘⚘...


Pukul 8 malam...


Ruangan inap Ellia kedatangan orang ramai dan membuat tempat itu sangat berisik dimana ruangan lainnya hanya ada kesunyian.


Kedua orang tuanya, orang tua Aca, Aca, Vian, Anan, Robi, Dirga, Alan, Renita dan satu tamu istimewa yang sudah lama tidak muncul. Rafa, lelaki itu baru saja sampai dari Amerika. Dia memutuskan untuk menetap di negeri paman Sam itu dan menjalankan bisnisnya di sana. Begitu Raka memberikan kabar bayi kembarnya sudah lahir, Rafa langsung memesan tiket pesawat saat itu juga. Raka memintanya untuk datang, bagaimana bisa dirinya tidak akan datang ketika saudaranya memanggil untuk berbagi kebahagiaan.


Mereka semua terlihat sangat bahagia dan bersemangat melihat sepasang bayi kembar yang tengah tertidur di tempat tidur kecilnya.


Kondisi Ellia sudah sedikit lebih segar walau masih terasa lemas. Ellia bahagia melihat semua orang menyambut baik dengan penuh kebahagiaan akan hadirnya sepasang bayi Ellia.


"Gue rasa sangat gak adil dan kecewa sama ini Upin Ipin. Ellia bunting 9 bulan, kemana-mana dibawa, sakit waktu ngelahirin. Tapi kenapa mereka jadinya mirip Raka semua. Setidak nya nih ya, salah satu ini bocah harusnya mirip El kek. Muka Raka diborong semua," ucap Anan menggeleng menatapi bayi sahabatnya.


"Ellia saja yang ibunya cuma kebagian matanya saja. Apalagi saya, sebagai kakeknya saya rasa sangat tidak adil," sahut Reynand masih menyayangkan.


"El, anak lo cakep banget. Buat gue satu ya," kata Aca sangat mengagumi keponakannya.


"Buat apa kamu minta anaknya El. Bentar lagi kamu juga nikah, kamu bisa punya kayak gitu sebanyak yang kamu mau," balas Roosie tanpa merasa bersalah. Seketika wajah bersemangat Aca sirna, dia melirik sebentar ke arah Alan yang sedang berbincang dengan Robi dan Dirga.


Sedangkan Vian diam-diam menatap Aca dengan tatapan yang sulit untuk digambarkan.


"Lo boleh gendong dia, tapi jangan ambil dia dari gue," ucap Ellia mengizinkan seseorang menggendong anaknya setelah sedari tadi tidak ada satupun yang dibolehkan untuk menyentuh anak-anaknya kecuali suster dan Raka.


Wajah Aca kembali bersemangat, dia langsung meminta pada Roosie untuk membawakan salah satu bayi Ellia kedalam gendongannya. Aca sangat takut untuk menggendong bayi, apalagi yang masih baru lahir. Namun ia sendiri tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menggendong keponakannya.


"Gue boleh gendong dia?" Tanya Rafa meminta izin untuk menggendong bayi lainnya.


Ellia mengangguk sambil menerima suapan buah dari Raka. Dengan hati-hati Rafa membawa bayi Ellia ke dalam gendongannya. Ia menatap bayi itu penuh makna. Jika bukan untuk kebahagiaan saudaranya, mungkin seharusnya hari ini Ellia melahirkan anaknya.


"Aca senang banget bisa gendong dia, udah pantas juga kok. Kenapa gak dipercepat ajah nikahnya," ujar Nandini.


"Iya juga. Ide bagus itu," sahut Roosie menyetujui ucapan Nandini.


Alan dan Aca saling melempar pandang. Alan seketika bangun dari posisi duduknya. Dia berdehem kemudian berkata dengan wajah datar nya, "Terlalu buru-buru juga gak bagus. Ikuti saja waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Saya ada urusan pekerjaan, saya harus pergi sekarang," Alan berpamitan menghampiri orang tua Ellia dan orang tua Aca untuk menyalimi tangan mereka dengan penuh hormat.


Ellia memandangi punggung Alan yang semakin menjauh dari pandangannya.


Kenapa ia rasa lelaki itu, sahabatnya sejak kecil kini berubah. Sikap Alan menjadi dingin dan datar sejak kembali dari Inggris. Ellia merasa sangat kehilangan Alan nya. Alan yang dulu ia panggil Kakak, yang menyayanginya seperti kakak sendiri. Entah apa yang sudah terjadi pada lelaki itu sebelumnya, hingga membuat ia kehilangan Alan yang ia kenal.


"Oh ya, jagoan dan princess kita belum punya nama kan?. Gimana kita mau panggil mereka kalau belum punya nama?" Ucap Robi mendekat ke arah Rafa untuk melihat bayi perempuan yang di gendong Rafa.


"Cantik nya, masih baru lahir ajah udah secakep ini. Apalagi kalau udah besar, jadi primadona nih, pasti nanti banyak cowok yang ngincer ini anak," kata Robi mengelus pelan pipi putri Ellia.


"Lo ngomong kayak gitu sedangkan lo masih jomblo sekarang. Jangan-jangan lo itu pedofil, makanya sampe sekarang gak ada cewek yang gue lihat dekat sama lo," kata Dirga menatap curiga sahabatnya.


"Sembarangan lo, liat ajah besok gue nikah." Sanggah Robi.


"Hedeeh, cewek ajah gak ada, gimana mau nikah lo,"


"Gak percaya lo, liat ajah besok!"


"Oke, gue liatin,"


Raka menggeleng, dia melirik Anan yang sedang bermain-main menunjukkan wajah anehnya pada putranya. Percuma saja Anan lakukan itu, bayi itu belum bisa mengerti dan melihat dengan jelas. Pantas saja lelaki itu tidak rusuh seperti biasa, dia sedang sibuk mengajak putranya untuk bisa tersenyum, namun itu sia-sia. Bayi kecil itu masih memejamkan matanya damai dengan nafas teratur.


"Iya, kapan kalian siapkan nama buat cucu Mama?," kata Nandini.


Raka menatap Ellia meminta persetujuan. Ellia mengangguk menyetujui untuk menyebut nama anak kembar yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari.


"Nama nya udah ada. Raka yang siapkan nama anak perempuan dan Ellia yang siapkan nama anak laki-laki. Ternyata nama yang kita siapkan sama-sama terpakai," Sebelumnya Raka kira bahwa anaknya adalah sepasang laki-laki atau sepasang perempuan. Tapi yang dia dapatkan malah kesempurnaan. Tuhan sangat baik pada mereka, dengan memberi nya sepasang laki-laki dan perempuan.


"Angkasa Danendra Putra," Ellia menyebut nama putra nya.


" Shanaya Aurora Mahardika," sahut Raka menyebut nama putrinya.


.......


.......


.......


...-Tamat-...


.......


.......


.......


...-Atau bersambung?-...