
DOR!, DOR!
"ELLIA!"
Seketika semua orang terkejut dan bagun dari kursi nya masing masing. Ellia sontak menutup kedua telinga nya dengan kedua tangannya sambil menunduk dalam. Gadis itu meringis lalu memegang salah satu lengannya yang terasa sangat perih dan mengeluarkan banyak darah. Tidak hanya lengan, bahunya pun juga mengucurkan darah.
Rafa, Alan dan Raka langsung berlari menghampiri Ellia yang masih terduduk di atas panggung sambil merintih kesakitan. Esther pun cepat-cepat menggerakkan kursiroda nya hendak menghampiri Ellia. Esther sempat menoleh ke arah darimana suara tembakan itu berasal. Mata nya sempat menangkap siluet seseorang yang melarikan diri di salah satu jendela gedung sekolah. Cowok itu kembali menatap ke arah Ellia yang sekarang sudah lemas di dalam gendongan Rafa yang buru-buru membawa gadis itu pergi, di ikuti Raka, Alan dan Aca di belakang nya.
Sementara di kursi paling belakang, ada Malvin dan Vian yang memang datang keacara itu bersama beberapa rombongan dari sekolahnya. Malvin mengepalkan tangannya kuat hingga urat-urat tangannya menonjol. Cowok itu sangat marah karena tahu siapa pelaku penembakan itu. Malvin menatap Esther yang bergerak pergi dari tempatnya, Malvin melirik Vian yang berada di sampingnya.
"Suruh anak-anak yang ada di depan buat awasin Esther!, jangan sampai itu orang sempet-sempetnya lukain Esther!," Vian mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya.
Keadaan seketika tidak terkendali, orang orang masih diam di tempatnya namun dengan keadaan ricuh. Kepala sekolahpun langsung mengambil tindakan dan menaiki panggung.
"Harap tenang semuanya, semuanya di persilahkan kembali duduk di tempat masing-masing!, kami sudah menyuruh beberapa staf kami untuk segera pergi mencari siapa pelaku penembakan itu, dia pasti masih ada di lingkungan sekolah. Gerbang utama dan gerbang belakang pun sudah saya perintahkan pada keamanan untuk langsung di tutup. Orang itu tidak bisa kabur," ucap kepala sekolah menenangkan kembali siswa siswi, orang tua, dan siswa siswi dari sekolah lain.
Acara di hentikan beberapa saat. Dan akan di lanjutkan lagi nanti.
Mobil Rafa berhenti di rumah sakit. Rafa bergegas turun dan membukakan pintu belakangnya membantu Alan keluar membawa Ellia yang sudah lemas namun masih sadar. Alan berlari memasuki rumah sakit dan langsung meletakkan tubuh Ellia di atas tempat tidur yang di bawa oleh dua suster yang menyambut mereka.
Wajah Ellia pucat dengan keringat membasahi kening nya karena menahan rasa sakit di tubuhnya. Tangan mungil itu memegang tangan Rafa erat selagi suster membawanya ke UGD. Rafa mengusap tangan Ellia lembut menyalurkan rasa hangat pada gadis itu.
Langkah ketiga cowok itu berhenti setelah suster membawa Ellia masuk, lalu datanglah Aca bersama Esther mendekati mereka.
"Gimana Ellia?, dia gapapa kan?" Tanya Aca khawatir.
"Suster baru bawa dia masuk," jawab Alan.
Mereka terdiam di posisi nya masing-masing. Rafa, Alan dan Aca duduk di kursi tunggu, sedang Raka berdiri di dekat pintu. Mereka memikirkan hal yang sama. Siapa yang tiba-tiba menyerang Ellia, itupun saat Ellia tepat berada di atas panggung. Apa itu hanya peluru nyasar?, atau memang benar di sengaja. Itu bukan peluru nyasar. Keamanan sekolah sudah di pastikan sebelumnya oleh kepala sekolah.
Suara langkah kaki terdengar nyaring mendekati mereka. Mereka menoleh dan mendapati orang tua Ellia menghampiri tempat mereka berada. Alan, Rafa dan Aca langsung berdiri. Aca menyalimi tangan paman dan bibi nya itu di ikuti para cowok di sana.
"Gimana Ellia?" Tanya Nandini cemas. Mereka sedang menghadiri rapat penting tadi, jadi tidak sempat datang ke acara sekolah. Tiba-tiba saja kepala sekolah menghubungi mereka dan mengabari kabar putrinya.
"Kenapa bisa?, El gapapa kan Raf?," tanya Nandini beruntun.
"Kami gak tau tante," jawab Rafa menunduk.
"Tiba-tiba ajah, Tante jangan khawatir ya, El gak bakal kenapa napa kok," sambar Aca lalu menarik Nandini agar duduk.
"Esther!, kamu di sini?," tanya Reynand menatap Esther yang terdiam dengan fikiran nya tentang siluet yang di tangkap nya di jendela sekolah tadi.
"Iya Om."
"Saya tadi sempet lihat sedikit, pelakunya langsung kabur pas orang-orang mau noleh ke arah dia, dia laki-laki dan dia sepertinya adalah penembak handal, karena peluru bisa mengenai pas di bahu dan lengan Ellia, meski jarak penembak itu lumayan jauh, " jelas Esther.
Reynand mengangguk, pria itu berpikir. Orang yang menyerang putrinya itu memang orang yang pandai. Selama perjalanan ke rumah sakit tadi kepala sekolah menceritakan semuanya. Orang-orang suruhan kepala sekolah dan keamanan yang menjaga sekolah sudah berpencar ke seluruh penjuru sekolah, tidak ada satu titikpun yang terlewat, tapi orang itu masih bisa lolos, padahal gerbang utama dan bahkan gerbang belakang yang tidak pernah dibuka sudah di jaga dan di kunci. Tidak ada seorangpun yang dibiarkan keluar dari daerah sekolah sebelum di cek. CCTV yang terpasang di setiap titik bagian sekolah pun tiba-tiba juga rusak dan tidak dapat menangkap apapun.
"Apa kalian tahu, ada yang mencoba mencari masalah sama Ellia sebelumnya?" Tanya Reynand menatap teman teman putrinya bergantian.
"Enggak Om, Aca selalu sama El di sekolah, kalo lagi gak sama Aca pasti El lagi sama salah satu mereka. Tapi emang gak ada yang gangguin El kok, gak ada yang berani ganggu El," tutur Aca.
Suara pintu terbuka tiba-tiba langsung membuat mereka mendekati dokter yang keluar.
"Bagaimana dok?" Tanya Nandini cepat.
"Orang tua pasien?" Nandini mengangguk masih dengan tetesan air matanya.
"Untuk sekarang kondisinya sudah baik-baik saja, peluru nya sudah di angkat. Peluru itu cukup dalam, membuat pasien sempat pendarahan tadi. Mungkin bahu dan lengan kirinya tidak akan bisa di gunakan dalam waktu beberapa hari. Suruh pasien untuk istirahat saja sampai rasa sakitnya hilang. Sudah tidak ada yang harus di khawatirkan lagi, dia baik-baik saja." Jelas dokter itu lalu pergi dari hadapan mereka disusul ranjang Ellia yang di bawa keluar oleh beberapa suster untuk di pindahkan ke ruang rawat.
Nandini masih menangis melihat putri nya yang terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit.
Mereka semua mengikuti ke mana Ellia di bawa oleh suster itu, hingga mereka telah sampai di sebuah ruangan VVIP yang telah di pinta Reynand sebelumnya.
"Jika ada masalah langsung panggil kami ya!" Kata suster itu sebelum meninggalkan ruangan Ellia.
Nandini berlari cepat menghampiri Ellia, wanita itu mengusap kepala putrinya lembut lalu mengecup keningnya.
"Kamu buat Mama takut, sayang!" Reynand pun mendekati Nandini, dia mengusap pipi Ellia sebentar lalu mengusap punggung istrinya.
"Aku mau ke kantor lagi sebentar ya, kamu pesan makan di kantin dulu sana!" Nandini mengangguk kemudian menyalimi tangan Reynand. Pria itu pun pergi setelan menatap teman teman Ellia sebentar.
"Ayo tante, Alan anter ke kantin!" Ajak Alan.
"Yaudah, sebentar ajah tapi, tante gak mau ninggalin El lama-lama,"
"Sama Rafa ajah tante, sekalian ada yang mau di beli," ucap Rafa membuat Alan kembali duduk setelah Nandini mengangguk. Mereka pun pergi keluar dari ruangan itu.
Esther menggerakkan kursi rodanya ke samping tempat tidur Ellia. Memandang wajah pucat itu lalu beralih ke lengan kiri gadis itu yang tertutup baju pasien lengan panjang.
"Sorry!" Gumam nya menatap Ellia sendu. Esther merasa gagal dan tidak berguna. Dia harus nya menjaga Ellia, bukan sebaliknya. Dirinya lemah sekarang, tidak seperti dulu yang bisa berdiri di depan Ellia dan melindunginya.
"Kenapa lo minta maaf?" Tanya Alan menatap bingung Esther.
"Bukan salah lo kalo sekarang lo begini, ini takdir, kalo pun bukan karena peluru, pasti Ellia akan ngalamin ini dengan alasan yang lain," ucap Raka tanpa melihat pada Esther.
Esther tersenyum masam, "sejak awal ini semua memang salah gue," gumam Esther.
Cowok itu jadi teringat kejadian di hari dimana kebahagiaan Ellia lenyap. Semua ini memang salahnya.
"Emmh," lenguh Ellia mulai membuka matanya. Mata nya langsung menemukan Esther di dekatnya. Cowok itu tersenyum padanya.
"Lo gapapa?"
Ellia mengangguk pelan "iya, lo baik-baik ajah?" Esther mengangguk pelan. Raka menatap kedua nya bingung. Ellia baru saja bangun dan gadis itu langsung menanyai keadaan Esther.
"Ada yang sakit?" Tanya Raka dan Alan bersamaan. Alan mendengus dan bangkit mendekati Ellia. Gadis itu terkekeh mendengarnya.
"Gue mau minum," pinta Ellia dan langsung di dilakukan Alan. Cowok itu perlahan lahan membantu Ellia duduk. Gadis itu meringis dan hampir menangis. Tapi tangisan nya harus di tunda dulu sampai setelah minum.
Alan membantu Ellia minum lalu mengembalikan gelas itu lagi ke atas nakas. Alan akan membantu Ellia untuk berbaring lagi, tapi gadis itu menolak, ingin duduk bersandar saja. Gadis itu terus meringis menyentuh lengan kirinya.
Hingga Nandini dan Rafa tiba tiba datang. Nandini seketika mendekati Ellia memeriksa putrinya itu. "Kamu udah bangun?, ada yang sakit sayang?, gapapa kan?" Bukannya menjawab, Ellia malah menangis keras dan memberi isyarat pada Mama nya untuk memeluk dirinya.
"Lengan sama bahu El sakit banget Maa... huhuhu.." adu gadis itu menangis merasakan rasa sakit yang sangat di bahu dan lengannya.
"Gapapa sayang, ini udah gapapa kok, tahan sebentar ajah ya, besok udah gak sakit kok. Kamu makan dulu ya!," ucap Nandini mengelus rambut Ellia.
"Enggak mau, gak mau makan," rengek gadis itu sekarang menjadi manja pada Nandini, pelukannya pun makin erat di sertai dengan ringisan nya.
"El, makan dulu!" Tegur Aca.
"Apa!, gak usah ngatur!, lo kalo mau makan, makan ajah sono!" Aca yang berlagak sok tegas barusan malah ciut sekarang dengan tatapan tajam Ellia.
"Maa... mau pulang, pulang yuk!" Rengek gadis itu lagi.
"Besok baru pulang, sekarang makan dulu!" Nandini melepas pelukan Ellia dan mengambil kotak makanan yang di belinya di kantin tadi. Nandini tau Ellia sangat tidak suka makanan rumah sakit.
Ellia menggeleng "gak mau makan!"
Raka tercengang melihat sosok Ellia sekarang, bagaimana bisa gadis itu semanja ini. Kan Raka jadi gemas sendiri.
Rafa memutar bola matanya. Cowok itu merogoh sesuatu dari kantong yang di bawa nya dari kantin. Membukakan bungkus lollipop dan memberikannya pada Ellia.
"mau makan?" Ucap Rafa menyodorkan permen itu tepat ke depan mulut Ellia.
Mata gadis itu berbinar, permen. Rasa nya sudah lama tidak memakan permen.
Ellia membuka mulut nya hendak melahap permen yang masih di pegang Rafa di depan mulutnya. Tapi cowok itu dengan cepat menariknya kembali menjauh dari jangkauan gadis itu.
"Makan dulu!" Titah Rafa dan malah memasukkan permen yang di pegangnya itu ke dalam mulutnya sendiri.
Mulut Ellia menganga lebar, kesempatan Nandini menyuapkan makanan ke mulut Ellia. Ellia langsung menerimanya.
"Permen El!"
"Habisin dulu, atau lo gak kebagian!" Ancam Rafa mulai membagikan satu persatu permen pada orang-orang yang ada di sana.
"Gue mau dua!" Kata Alan.
"Gue juga mau dua!" Sahut Aca.
"Gue suka banget sama permen ini nih, gue minta tiga Raf!" Kata Raka ikut-ikutan.
Melihat itu Ellia menyuruh Nandini mempercepat menyuapinya, Ellia pun mengunyah makanan nya buru-buru.
"Tunggu, jangan di habisin!, Sisahin punya gue!" Tegur Ellia buru-buru menghabiskan makanan nya. Setelah habis, Nandini menyodorkan gelas berisi air pada Ellia dan langsung di teguk gadis itu. Ellia mengusap mulut nya yang basah dengan punggung tangan nya, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Rafa meminta hak nya.
"Permen!"
"Habis!"
Mata Ellia mulai berkaca-kaca.
"Cengeng!" Kata Esther memberikan permen miliknya yang masih utuh pada Ellia setelah membuka bungkusnya.
"Dasar bocah!"
.
.
.
BERSAMBUNG