
Tibalah di hari ini. Hari di mana pensi di laksanakan. Acara yang di nanti-nanti sebagian siswa siswi tiap tahun nya. Karena acara di laksanakan siang hari, pagi-pagi sekali para panitia acara dan anggota Osis sangat sibuk meneliti kesiapan acara. Mengecek segala keperluan takut saja ada yang tidak selesai dan akan menimbulkan masalah nantinya.
Berbeda dengan Ellia dan Raka. Mereka sudah dangat siap untuk penampilan mereka nanti. Kedua nya kompak tertidur di ruang kelas yang di jadikan tempat bersiap bagi siswa siswi yang akan tampil. Entah apa yang mereka lakukan sebelum nya hingga pagi-pagi mereka sudah tidur seperti orang tidak tidur semalaman.
Ellia sengaja berangkat sangat pagi karena pasti kalau berangkat agak siang siswa siswi dari sekolah lain yang hadir akan memenuhi sekolah, dan Ellia tidak suka dengan keramaian. Jadi gadis itu melanjutkan tidurnya yang belum tuntas di sekolah.
Dan Raka, sebenarnya cowok itu tidak lah tidur. Saat Raka datang ia melihat Ellia yang sedang pulas dengan tidur nya. Dengan sengaja Raka meletakkan kepalanya di atas meja menghadap wajah Ellia, menatap dengan puas puas wajah itu. Hingga saat ada seseorang masuk ke ruangan itu, Raka berpura-pura tidur, tidak ingin ada orang yang mengetahui kalau ia memperhatikan gadis itu.
BRAK!
Suara gebrakan meja membuat kedua remaja itu tersentak dan seketika membuka mata mereka. Tatapan kedua nya pun bertemu, mata bulat Ellia melebar melihat wajah Raka yang berada tepat di hadapan nya.
Seorang gadis yang menggebrak meja itu cengengesan menatap wajah terkejut Ellia dan Raka.
Raka menyentuh dadanya yang terasa sakit, cowok itu berusaha menahan sakit nya sebisa mungkin di depan Ellia. Menarik nafas, lalu membuangnya perlahan berharap rasa sakitnya akan cepat hilang.
Mata Ellia mengerjap beberapa kali menatap bingung cowok di hadapannya yang sedang menahan sesuatu itu.
"Maaf ngagetin, aku cuma mau ngasih tau, acaranya hampir di mulai," ujar gadis yang menggebrak meja tadi.
"Lo kenapa?, lo gapapa?, Raka," tanya Ellia panik melihat Raka yang kini meringis mencengkram dada nya tidak bisa menahannya lagi.
Nafas Raka memburu membuat Ellia semakin panik, tidak tahu apa yang terjadi.
"Raka, hey lo kenapa?, Raka!"
"To-tolong, tas gu.. gue," ucap Raka terputus putus menunjuk tas nya yang tak jauh dari sana.
Dengan cepat Ellia mengambilkan tas Raka dan menyerahkan nya pada cowok itu.
"Tol... long tabung kecil di res... lething yangh pal... palingh beshar!" Ellia buru buru membuka resleting tas Raka yang paling besar mencari tabung kecil yang Raka maksud.
Dapat!. Obat?, Raka sakit?.
Ellia menggeleng lalu memberikan satu pil ke tangan Raka. Kemudian gadis itu membuka tas nya sendiri mengambil botol air mineral miliknya.
Ellia menyodorkan botol air mineralnya yang sudah di buka kepada Raka dan langsung di terima oleh cowok itu.
Perlahan lahan Raka sudah dapat mengontrol pernafasannya, Ellia pun lega dengan itu. Gadis bermata biru itu menatap tajam gadis yang mengejutkan mereka tadi.
"Maaf, aku gak tau, maafin aku!" Ucap gadis itu menyesal.
"Pergi lo!" Sentak Ellia. Gadis itupun langsung pergi dari sana dengan menundukkan kepalanya.
"Lo gapapa kan?, maaf..." Raka menggeleng sambil tersenyum manis pada gadis itu.
"Gue gapapa, makasih," tangan Raka mengelus kepala Ellia lembut.
"Itu obat apa?"
"Obat sesek nafas biasa ajah, yaudah ayo ke luar, acaranya udah mulai," Ellia mengangguk. Mereka pun berjalan beriringan, dan dengan tidak sadar Ellia menggenggam tangan Raka.
...🍃🍃🍃...
Ellia bersama Raka sekarang sedang duduk berdampingan di dekat panggung. Melihat penampilan siswa lain sambil menunggu nama nya di panggil untuk menaiki pentas.
Ada rasa sedikit gugup di dalam dirinya, tapi melihat seseorang yang duduk tenang di salah satu bangku para siswa sambil menyaksikan setiap acara, membuat rasa gugupnya berangsur angsur hilang. Digantikan senyum tipis sambil terus memandangi orang itu. Hingga Ellia tidak sadar saat namanya di sebut.
"Ellia Alsyana Mahardika, Fergio Andhika dan Reshi Nabila!, mari kita sambut!." Panggil pembawa acara di atas panggung.
"Ayo El!" Tepuk Raka pada pundak Ellia, membuat gadis itu langsung sadar dari lamunannya.
"Abis ini, lo kan?" Tanya Ellia bangkit dari duduk nya.
Raka mengangguk, "iya, sana naik!" Cowok itu tersenyum manis.
Ellia pun menaiki pentas bersama dua orang teman nya yang akan mengiringi nyanyiannya. Mereka mengambil tempat mereka masing masing. Gio siap dengan keyboard nya, begitu juga Reshi dengan gitar nya. Lalu Ellia?, sudah pasti dengan mikrofon di depannya. Gadis manis itu menatap Esther dan Rafa di bawah sana beberapa saat dan di balas dengan senyum hangat dari kedua cowok itu.
Musik mulai di mainkan, tatapan Ellia sekarang terpaku pada Rafa hingga ia membuka suara nya, dan mata biru itu terus memandang Sasa nya dari atas. Rafa pun juga sama, memberikan senyum terbaik nya untuk menyemangati Nana nya.
neoneun nae salm-e dasi tteun haesbich
(Kamu adalah sinar matahari dalam hidupku)
eolin sijeol nae kkumdeul-ui jaerim
(Impian masa kecil saya menjadi kenyataan)
moreugess-eo i gamjeong-i mwonji
(Saya tidak tahu apa perasaan ini)
hogsi yeogido kkumsog-in geonji
(Mungkin aku juga bermimpi)
kkum-eun samag-ui pureun singiru
(Mimpi adalah khayalan biru padang pasir)
nae an gip-eun gos-ui a priori
(Prioritas dari dalam diriku)
sum-i maghil deus-i haengboghaejyeo
(Itu membuat saya bernafas lega)
jubyeon-i jeomjeom deo tumyeonghaejyeo
(Lingkungan sekitar menjadi semakin transparan)
jeogi meolliseo badaga deullyeo
(Ada laut di kejauhan)
kkum-eul geonneoseo supul neomeoro
(Aku melintasi mimpi di atas cakrawala)
seonmyeonghaejineun geu gos-euro ga
(Dan pergi ke sana karena semakin jelas)
Take my hands now
(Raih tanganku sekarang)
You're the cause of my euphoria
(Kamu adalah penyebab euforia ku)
Ephoria
(Euforia)
Take my hands now
(Raih tanganku sekarang)
You are the cause of my euphoria
(Kamu adalah penyebab euforia ku)
Euphoria
(Euforia)
Close the door now
(Tutup pintunya sekarang)
When I'm with you I'm in utopia
(Saat aku bersamamu aku merasa di utopia)
neodo nacheoreom
(Kamu juga)
jiwojin kkum-eul chaj-a hemaess-eulkka
(Mencari mimpi yang terhapus seperti pelangi)
unmyeong gat-eun heunhan malgwandal-a
(Ini berbeda dari sebuah kata polos seperti takdir)
apeun neoui nunbich-i nawa gat-eun gos-eul boneun geol
(Kamu mencari ditempat yang sama sepertiku dengan sorot mata menyakitkanmu)
Won't you please stay in dreams
(Maukah kamu tetap dalam mimpi)
jeogi meolliseo badaga deullyeo
(Ada laut di kejauhan)
kkum-eul geonneoseo supul neomeoro
(Aku melintasi mimpi di atas cakrawala)
seonmyeonghaejineun geu gos-euro ga
(Dan pergi ke sana karena semakin jelas)
Take my hands now
(Raih tanganku sekarang)
You are the cause of my euphoria
(Kamu adalah penyebab euforia ku)
Ephoria
(Euforia)
Take my hands now
(Raih tanganku sekarang)
You are the cause of my euphoria
(Kamu adalah penyebab euforia ku)
molae badag-i gallajindaedo
(Meski tanah retak)
geunuga i segyel heundeul-eodo
(Tidak peduli siapa yang mengguncangkan dunia ini)
jab-eun son jeoldae nohji marajwo
(Jangan lepaskan genggamanmu)
jebal kkum-eseo kkaeeonaji ma
(Tolong jangan bangun dari mimpi)
jeogi meolliseo badaga deullyeo
(Ada laut di kejauhan)
kkum-eul geonneoseo supul neomeoro
(Aku melintasi mimpi di atas cakrawala)
(jebal kkum-eseo kkaeeonaji ma)
(Tolong jangan bangun dari mimpi)
seonmyeonghaejineun geu gos-euro ga
(Dan pergi ke sana karena semakin jelas)
Take my hands now
(Raih tanganku sekarang)
You are the cause of my euphoria
(Kamu adalah penyebab euforia ku)
Ephoria
(Euforia)
Take my hands now
(Raih tanganku sekarang)
You are the cause of my euphoria
(Kamu adalah penyebab euforia ku)
Euphoria
(Euforia)
Close the door now
(Tutup pintunya sekarang)
When I'm with you I'm in utopia
(Saat aku bersamamu aku merasa di utopia)
PROK!... PROK!... PROK!
Suara tepukan tangan dari para wali murid dan para siswa ramai terdengar untuk memuji suara indah Ellia. Gadis itu membungkukkan punggung nya dan mengucapkan terima kasih. Pipi Ellia merona melihat semua orang menyukai nyanyian nya. Terutama Alan, Rafa, Esther, Raka dan Aca. Gadis imut itu bertepuk tangan sangat keras untuk sahabat nya.
Ellia mematikan mikrofon nya hendak menaruh kembali benda itu ke tempat nya, namun benda hitam itu terjatuh dari tangan nya hingga mengharuskan diri nya berjongkok untuk mengambil benda itu. Dan tanpa di sangka, bersamaan dengan gerakan Ellia menurunkan tubuh nya suara ledakan terdengar sangat kuat.
DOR! DOR!
"ELLIA!"
.
.
.
BERSAMBUNG