RaLia

RaLia
Aneh



Tepat bel istirahat ke dua berdering Aca langsung menarik Ellia ingin cepat-cepat pergi ke kantin, Ellia yang sedang merapihkan bukunya terpaksa membiarkan saja buku itu berada di atas mejanya, dia yakin tidak akan ada yang mengambilnya.


Perut Aca sudah sangat lapar karena istirahat pertama tadi dia dia hanya makan makanan ringan saja. Ellia menurut saja mengikuti Aca dari belakang.


Koridor yang di lewati Aca dan Ellia terlihat ramai, gadis itu bingung ada apa, kenapa banyak siswi yang memekik heboh di sepanjang koridor. Ellia mengadarkan pandangannya mencari sumber kebisingan itu.


Dan ya! di depan sana ada Rafa dan kawan kawan. Rafa yang namanya di teriakan para cewek tetap tak menunjukkan ekspresi apapun, tapi berbeda dengan Anan dan Robi. Mereka berdua malah dadah dadah melambaikan tangan sambil tebar pesona senyum senyum ketika ada beberapa siswi yang meneriakkan namanya.


"Aww Anan manis banget gak sih! tuh liat dia senyumin gue!" pekik seorang cewek pada teman di samping nya.


"Robi lebih manis kok!" balas temannya itu.


Ellia menatap Rafa dan kawan kawan. Mereka memakai jaket hitam yang sama yang di punggungnya terdapat lambang kesatria memegang busur api dan terdapat juga sebuah nama di bawah lambang itu BHARTA Ellia mengernyit memperhatikan kelima laki-laki itu dengan teliti.


"Mereka keren banget gak sih El, ya ampun gang Bharta! lo taukan gang itu, mereka udah terkenal banget, dulu mereka adalah gang nomor satu, tapi gang Cakrawala ngerebut posisi itu. Dan ya, mereka itu tim intinya, keren banget dong," Aca menepuk nepuk heboh bahu Ellia memperhatikan kelima cowok keren itu.


"Kok gue baru tau?" kata Ellia. Dirinya bukanlah murid baru di SMA Mandala. Tapi kenapa selama ini dia tidak tau kalo kelima cowok itu adalah tim inti Bharta. Selama ini Ellia memang pernah sesekali melihat cowok-cowok itu dengan jaket nya, tapi dari belakang, dia tidak pernah tau kalau itu mereka.


"Lo emang kemana ajah sih, sibuk sama buku, novel dan susu coklat lo terus siih, ketinggalan berita kan."


"Kok lo baru cerita sekarang?"


"Ehehe, gue lupa. Kesibukan merhatiin babang Rafa sih," kekeh gadis itu. Ellia memutar matanya malas.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka ke kantin. Setelah sampai, mereka mengadarkan pandangannya ke seluruh kantin mencari meja yang kosong. Setelah menemukan meja di belakang sana, Ellia melangkah menghampiri meja itu sedang Aca pergi memesan makanan.


Sedikit lagi, beberapa langkah lagi mencapai meja itu, tiga orang laki-laki lebih dahulu mengisinya membuat Ellia mendengus kesal.


Tiba-tiba dirinya tersentak saat seseorang menarik tangannya hingga pinggang Ellia membentur ujung meja.


"Awwss..." ringis Ellia merasa sedikit sakit di pinggangnya.


"Aduh, maaf El. Sakit banget ya?" ucap Raka merasa bersalah mendengar gadis itu meringis.


Ellia menggeleng lalu tersenyum "Gapapa, gak sakit banget kok, nyeri doang dikit!" Ellia beberapa kali mengelus pinggangnya.


"Lo duduk di sini ajah!" Raka menggeser duduk nya memberi ruang untuk Ellia duduk di samping nya. Tak menolak Ellia pun menurut dan duduk di tempat yang di berikan Raka.


Lagi pun kantin benar-benar ramai siang ini membuat meja meja langsung terisi tak membiarkan satupun tersisa.


"Terus Aca nanti gimana Rak?"


Raka tersenyum.


"Gabung di sini ajah nanti." Ellia membalas senyum Raka dan mengangguk.


"Lho, Rafa, luka lo udah sembuh?" tanya Ellia melihat wajah Rafa yang bersih tanpa ada bekas luka dari perkelahian kemarin, bahkan sepertinya wajah cowok itu tak tersentuh sedikitpun.


Rafa menoleh ke arah Raka yang juga menatap nya. Tiba tiba Raka berdiri dan pamit ingin ke toilet.


"Udah," jawab Rafa singkat lalu meneruskan makan nya.


"Loh, kok sama mereka?" tanya Aca heboh setelah menemukan sahabatnya yang duduk semeja dengan para cogan idola Aca.


"Duduk Ca!" Aca menurut dan duduk di samping Ellia.


"Hai!" sapa Aca pada cowok cowok itu.


"Hai juga nweng Achaa!" jawab Anan dengan mulut penuh.


Karena Aca sudah datang, Ellia pun mulai menyantap makanannya dengan tenang. Mengabaikan bisikan bisikan yang terdengar dari meja lain di sekitarnya.


"Ka kalian mau tawuran?" ucap Aca memandangi tim inti Bharta itu.


"Bukan kita, tapi Cakrawala sama Lucifer, kita cuma mantau dari jauh," jawab Robi.


"Kenapa?" tanya Aca lagi.


"Kita mau cari kel.."


"Kita cuma jaga-jaga, kalo antara mereka ada yang curang kita langsung panggil polisi," ucapan Robi terpotong seketika oleh Anan setelah tau apa yang akan di katakan Robi.


Hal itu tidak boleh di bicarakan dalam keadaan seperti ini, bisa-bisa ada salah anggota Cakrawala yang mendengar dan akan fatal akibatnya nanti.


"Urusan kalian apa ngawasin dua geng itu tawuran, kalian sekutu dari salah satu mereka ya?" tanya tiba-tiba Ellia penasaran. Seketika anggota inti Bharta itu langsung menoleh menatap Ellia.


Kenapa dirinya tiba-tiba penasaran pada hal itu, Ellia menundukkan kepalanya merasa tidak enak karena cowok cowok itu menatapnya.


"Enggak, bukan.."


"Hmm,"


*****


Akhirnya bel pulang pun berbunyi, menimbulkan kegaduhan di beberapa kelas. Setelah beberapa jam otak mereka di pekerjakan memikirkan pelajaran-pelajaran yang membuat kepala mereka sakit.


Tapi di kelas XI B, bukannya kegaduhan karena senang jam pelajaran berakhir, melainkan karena guru yang tak kunjung juga selesai menjelaskan, mungkin saking seriusnya sampai bel yang nyaring itu tak terdengarnya.


"KRIIINGG!!" seorang cowok dengan sengajanya menirukan suara bel dengan kencang.


"Uwaayy, dah ngantuk ey, pen tidur di kasur nih," kata seorang lagi.


Guru di depan sana pun menghela nafasnya mengerti. "Baiklah, buat hari ini sampai disini dulu, jangan lupa kerjakan tugas yang sudah saya berikan tadi!"


Karena banyak orang yang berdesak di pintu, Ellia dan Aca pun menunggu sebentar memilih keluar terakhir.


Saat keluar dari kelas, Ellia di kejutkan oleh sosok Alan yang tiba tiba muncul tepat di depannya.


"Ngagetin ajah sih," ucap Ellia lalu melanjutkan langkahnya.


"Hehe, pulang sama gue yuk!" kata Alan mengikuti langkah Ellia dari belakang dan Aca di samping Ellia.


"Enggak deh Lan, gue bawa mobil, masih ada urusan lain," jawab Ellia.


"Jalannya pelan-pelan ngapa sih," ucap Aca tak bisa mengimbangi langkah Ellia yang semakin cepat.


"Gue duluan ya Ca, buru-buru!" ucap Ellia tak menjawab ucapan Aca, malah berjalan lebih cepat lagi hingga kemudian gadis itu berlari dan hilang di belokan koridor.


Alan mengerutkan dahinya melihat kepergian Ellia. Seperti nya urusan Ellia itu penting hingga gadis itu sangat terburu buru.


"Aneh!" gumam Aca.


.


.


.


.


Bersambung