
Raka berjalan di koridor yang sudah sepi, di tangan nya terdapat susu coklat dingin dan sepiring nasi goreng. Tujuannya sekarang adalah uks.
Setelah membawa Ellia ke uks tadi, Raka berusaha menenangkan gadis itu, dia harus segera menemukan kalung itu. Benda itu sangatlah berharga bagi Ellia, terlihat sekacau apa gadis itu saat kehilangan kalung nya.
Dia sudah berjanji akan membantu mencarinya hingga ketemu. Tadi pun Raka sudah meminta pada pihak kebersihan kalau mereka melihat kalung itu untuk segera di berikan padanya.
Cleek...
Raka menutup kembali pintu uks dan berjalan menuju berangkar yang di tempati Ellia tadi.
Pandangannya pengedar ke seluruh penjuru uks, gadis itu tidak ada di manapun. Di ketuklah pintu kamar mandi yang terdapat di sana, namun tidak ada jawaban hingga pintu terbuka sendiri karena tidak terkunci. Di sana pun tidak ada.
Raka berusaha berfikir positif, mungkin gadis itu sedang pergi menenangkan dirinya. Atau dia pergi mencari kalung itu lagi.
Cowok berponi itupun kembali keluar mencari keberadaan Ellia ke tempat tadi gadis itu mencari kalung nya.
Tidak ada juga. Mata Raka juga tak lepas mencari benda emas itu di lantai yang di lewatinya.
"Lo di mana!" batin Raka.
...🌹🌹🌹...
BUGH!...
"lo sadar apa yang udah lo lakuin hah!" ujar seseorang berpakaian tertutup misterius menatap seorang cowok yang terduduk di lantai kotor gudang.
"Gue beneran gak sengaja," jawab cowok itu sedikit gemetar setelah mengetahui siapa dua orang misterius di hadapan nya sekarang.
"Jalan tuh mata di pake!" kata salah satu orang misterius itu. Sedangkan orang satu nya lagi sedang bersandar di pintu gudang yang terkunci.
"Maaf," kata cowok itu.
"Gue gak mau tau, lo gak boleh nunjukin muka di hadapan gue sampai lo dapetin apa yang gue maksud,"
"Waktu nya dua puluh empat jam, kalo enggak, lo tau sendiri apa yang bakal lo dapet," cowok itu mengangguk. Dan orang misterius itu tersenyum miring di balik masker nya.
Dua orang misterius itu pun menjauh, membuka pintu gudang itu hendak pergi.
Cowok itu menghela nafas lega, dia tidak menyangka apa yang barusan terjadi.
Wajahnya pun sudah sangat perih akibat lebam yang memenuhi wajahnya.
Tapi tubuhnya kembali menegang saat salah satu orang tadi berbalik dan menghampirinya lagi.
"Oh ya, jaga mulut lo jangan kasih tau siapapun tentang kita!" jari telunjuk orang itu mengarah pada si cowok.
"I-iya," cowok itu mengangguk tidak ingin bermasalah lebih besar lagi.
Kemudian dua orang itu benar benar pergi meninggalkan cowok itu di gudang.
"Gila, gak nyangka gue sumpah,mereka..." gumam cowok itu.
...🌹🌹🌹...
"Huaa, ya ampun sayang, bagus banget, pasti itu buat aku kan, sweet banget sih, ayo dong pakein..." tiba tiba seorang cewek dengan suara cempreng nya muncul di depan Rafa yang sedang duduk di bangku yang terdapat di koridor sepi.
Cepat cepat cowok itu menyimpan kembali benda yang ada di tangannya ke saku celana. Tadi saat dia baru sampai di sekolah, ketika kakinya hendak menaiki tangga tiba tiba ada sesuatu yang terjatuh di kaki nya. Setelah menoleh ke kanan ke kiri tidak ada orang yang mencari nya, Rafa pun membawa nya pergi.
Tadi nya Rafa tidak peduli, tapi di lihat lihat, benda emas itu pasti sangat berharga, siapa sih yang tidak menghargai perhiasan. Dan pasti pemilik nya adalah perempuan.
"Gak ada," ucap Rafa datar.
"Iih pelit banget sih sama pacar sendiri," cewek itu mencebikkan bibirnya berlagak sok imut.
"Ini punya sodara gue," kata Rafa tapi cewek itu memicingkan mata nya tak percaya.
"Masa!" ucap cewek itu. Rafa berdecak kesal. Kemudian cowok itu bangkit dan melangkah meninggalkan cewek itu. Baru tiga langkah Rafa berhenti, tanpa menoleh ke belakang cowok itu berkata.
"Kita selesai!"
Mulut cewek itu terbuka lalu berdiri. "Maksud nya,"
"Putus!" jawab Rafa tegas lalu melanjutkan langkah nya meninggalkan cewek bernama Ana itu.
...🌹🌹🌹...
Dahi Rafa mengerut bingung melihat teman teman nya yang terlihat kelelahan.
"Kenapa?" tanya Rafa ketika mendudukkan diri nya di samping Dirga.
"Eh Abang Rapa ku, capek nih, dari mana sih kamu," ujar Anan membuat teman temannya mengidik.
"Jijik anjay," kata Robi.
"Abis ngapain?" tanya Rafa lagi.
"Bantuin Raka nyari kalung," jawab Dirga setelah meneguk sodanya.
"Kalung?" Raka mengangguk. Sampai saat ini benda itu belum juga di temukan, dan Ellia yang tidak terlihat dari tadi. Raka sudah mencari gadis itu tapi belum juga ketemu.
"Kalung apa?" tanya Rafa lagi memastikan sesuatu.
"Kalung emas ada gandulan mawar," jawab Robi menjelaskan ciri ciri kalung yang di jelaskan Raka tadi.
"Punya siapa?" mengapa teman temannya begitu serius mencari benda itu.
"Ellia, itu kalung kesayangan dia, sampe berantakan banget tuh cewek nangis tadi nyari kalung nya gak ketemu," Raka tidak bisa melihat gadis itu kacau seperti tadi. Rasa nyeri berhinggap di dada nya melihat air mata yang terjatuh dari mata indah gadis itu.
"Eh, Ellia udah ketemu belom?" tiba tiba Aca datang dengan hebohnya bersama Alan.
Aca pun mencari gadis itu di manapun setelah Raka mendatanginya menanyakan keberadaan Ellia.
Aca pun sudah menelfon sopir keluarga Ellia menanyakan apakah Nona nya ada di rumah. Tapi sopir itu menjawab tidak ada.
Dan Alan pun yang tadi saat bel istirahat berbunyi pergi ke kelas Ellia, menanyakan keberadaan nya pada Aca dan gadis itu menceritakan apa yang terjadi seperti yang di katakan Raka.
"Gimana bisa hilang sih, El gak pernah lepas kalung itu selama ini. Bahkan dia selalu masukin kalung itu di dalem bajunya." ucap Alan mengerti mengapa Ellia bisa menghilang sekarang.
"Seberharga apa sih kalung itu sampe tuh cewek kayak gitu," kata Robi mewakili pertanyaan Raka dan Rafa.
"Berharga banget, kalian mah gak tau kalung itu dari siapa," jawab Aca dengan beraninya dalam kondisi seperti ini masih saja memperhatikan, menatap wajah seorang cowok di antara mereka.
"Siapa?" tanya Rafa dan Raka kompak. Semua orang di meja itu pun menoleh menatap dua cowok itu aneh.
"Pacar nya!" jawab Alan sambil terus tangannya menari di layar ponselnya mencoba menghubungi Ellia dan memberinya pesan, tapi tak satupun di jawab. Oh ya, masalah Alan dengan Raka sudah mereka anggap selesai. Lagian dari mereka pun tidak ada yang mendapatkan Naya. Juga karena Naya mendatangi dua cowok itu beberapa waktu lalu dan meminta keduanya berbaikan.
Raka tersentak mendengar jawaban Alan. Jadi apakah dirinya tidak mempunyai kesempatan, dan nama yang terus di sebut Ellia...
"Sky?"
Aca mengangguk "Ellia manggil dia Sky,"
"Tapi..." ucapan Aca menggantung, wajahnya tiba-tiba terlihat murung mengingat apa yang terjadi pada sahabatnya waktu itu.
"Kenapa?" kata Anan kepo.
"Sky meninggal setahun yang lalu, Ellia hancur banget waktu itu," jelas Aca.
"Lo tau dari mana nama nya Sky?" tanya Robi pada Raka.
"Tadi pas Ellia nangis, dia terus minta maaf dan nyebut nama Sky," jelas Raka membuat Aca semakin khawatir.
Jadi pacar Ellia sudah meninggal, itu sebab nya gadis itu sangat kehilangan kalung itu.
Gadis itu pasti sangat sedih. Raka tak bisa membiarkan Ellia bersedih. Dalam hati, Raka semakin merasa bersalah sendiri. Jika tadi dia berjalan dengan benar, tidak terlalu fokus pada bukunya, maka dia tidak akan menabrak Ellia dan kalung itu tersangkut pada bajunya yang mengharuskan gadis itu melepas barang yang kata Alan tidak pernah gadis itu lepas selama ini.
"ITUU..."tunjuk Anan heboh ke arah pintu kantin.
.
.
.
.
.
Bersambung