
Hari sudah gelap, gadis manis berpiyama pink dengan motif spongebob kesukaannya sudah siap untuk menjelajahi dunia mimpi.
nyaman sekali ranjang empuk nya ini, kasihan sekali pasti tempat tidur ini sudah sangat merindukan nya hari ini. Kini Ellia siap menutup matanya dengan memeluk boneka spongebob tapi baru saja menutup mata, suara seseorang yang sangat di kenalnya terdengar bersamaan dengan ketukan pintu kamar.
"El, bukain pintunya!"
"Ngapain sih, udah malem juga!" gerutu Ellia beranjak dari tempat tidurnya.
setelah memutar kunci pintunya, Ellia kembali melempar tubuh nya ke tempat tidur tanpa membukakan pintu. Biar saja, pintunya sudah tidak di kunci biar orang itu sendiri saja yang membukanya.
Ckleek...
Ellia diam saja memejamkan matanya mencoba tidur, terserah orang itu akan melakukan apa dengan kamarnya. Ia tidak menoleh ke orang itu.
"Udah tidur ajah sih, baru jam sembilan, masih sore, cupu amat!" kata orang itu merebut paksa boneka Ellia. Gadis itu berdecih sebal.
"Iih ganggu ajah sih, gue mau tidur awas lo!" Ellia kembali merebut bonekanya dan berbalik membelakangi orang itu.
"Kata tante, lo belum makan El. Makan dulu nanti lo sakit!" terasa belaian lembut di rambut Ellia.
"Males tau, udah ngantuk!" gadis itu menenggelamkan wajahnya di boneka berwarna kuning yang besar itu.
"Lagian lo ngapain ke sini?"
"Di rumah gak ada orang, bosen gue, makanan dah pada abis. Gue mau ngajak lo makan di luar,"
Orang itu masih tak beranjak duduk di pinggiran tempat tidur.
Ellia bangkit duduk menghadap orang itu. "Yaudah deh ayo, gue mau makan soto, sate, siomay yang di pinggir jalan sana itu ya!"
Orang itu mengangguk.
"Traktir tapi hehehe..." cengir Ellia dan orang itu ikut tersenyum sambil mengacak rambut Ellia. Dia tak pernah menghiraukan degupan jantung yang cepat ini saat bersama Ellia. Tapi semakin hari degupan ini semakin cepat kala gadis manis itu tersenyum padanya.
"Iya, sebagai ganti yang kemaren gue gak bisa nemenin sampe anter lo pulang dari mini market,"
"Sana keluar dulu!" Ellia mengibas kan tangannya menyuruh Alan keluar dari kamarnya.
"Kenapa?"
"Gue mau ganti baju dulu Lalan. Masa gue keluar pake piyama gini!" Alan menurut lalu keluar menunggu Ellia di bawah bersama Nandini yang sedang memakan cemilan di ruang tv.
***
Suasana warung soto di malam ini tak begitu ramai membuat Ellia merasa sedikit lebih nyaman dari biasanya.
dengan keadaan yang ramai di warung sederhana pinggir jalan membuat Ellia merasa sedikit pengap. Tapi hal itu terlupakan dengan soto panas yang nikmat di warung itu.
Tapi malam ini suasana angin malam yang mendukung serta warung yang sedang tak begitu ramai pembeli membuat gadis itu jauh lebih nyaman dari sebelumnya.
Alan dan Ellia duduk berhadapan menikmati soto panas yang begitu nikmat. Selama makan hanya ada keadaan hening di antara mereka memakan makanan masing-masing. Tapi tanpa di ketahui Ellia, Alan diam-diam menatap dalam wajah cantik pemilik mata biru itu yang selama ini menjadi sahabat nya.
Entah sejak kapan perasaan aneh ini ada pada diri Alan ketika bersama Ellia. Bahkan sejak kecil bersama sekarang Alan baru merasakan hal aneh yang mengganggunya hingga membuat nya berfikir keras.
Dulu Alan sempat berfikir bahwa dia menyukai sahabat kecil nya itu, bahkan sejak kecil Alan tidak bisa berjauhan dengan Ellia hingga dari TK sampai SMA Alan terus satu sekolah dengan Ellia. Tapi kehadiran Naya membuat Alan mempunyai alasan untuk tidak jatuh cinta pada sahabat nya, ia takut Ellia akan menjauhinya jika mengetahui Alan menyukai sahabat kecilnya. Tapi setelah menjalani hubungan dengan Naya, Alan menyadari bahwa fikiran bahwa ia menyukai Ellia itu salah.
Dan sekarang perasaan aneh itu hadir lagi entah sejak kapan. Apakah yang di fikirkan Alan sekarang itu benar.
Ellia berdehem menyadarkan Alan dari lamunannya. "makan nya kok pelan banget sih, cepetan dong gue masih mau siomay!"
"Lo belum kenyang, tadi kan udah makan sate," Alan bingung dengan perut gadis itu, dia sudah menghabiskan sepiring sate dan sekarang semangkuk soto lalu masih menginginkan siomay. Perut Alan sendiri saja sudah terasa penuh.
Ellia menggaruk pipinya canggung. "Lo gak mau nemenin gue?"
Alan tersenyum mengusap lembut rambut Ellia "bukan gitu, itu perut gak penuh?" Ellia menggeleng lucu membuat Alan makin gemas.
"Bentar, gue abisin dulu," dengan cepat Alan menghabiskan sotonya. Setelah selesai, Alan bangkit menghampiri penjual nya yang sedang membuatkan pesanan orang lain.
Setelah membayar Alan berbalik ketempat Ellia duduk tadi, tapi gadis itu tidak ada di sana. Cowok itu memutar kepalanya mencari-cari dimana gadis mungil bermata biru itu. Itu dia di sana dengan tenang bersandar di mobil Alan sambil memainkan ponsel nya.
Dengan segera Alan menghampiri Ellia, membukakan pintu untuk gadis itu "ih Alan, gue kan bisa buka sendiri!" Ellia masuk ke dalam mobil.
"Tuan putri harus di layanin dengan baik," kembali Ellia merasakan usapan lembut di rambutnya.
"Gue bukan tuan putri!" Alan langsung menutup pintu itu dan berlari membuka pintu untuknya.
Setelah sabuk dan posisi duduk sudah nyaman Alan mulai menghidupkan mesinnya.
"Tuan putri nya kakak Lalan," kekeh pelan Alan setelah mengucapkan itu dan melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata.
Dalam perjalanan tak ada obrolan apapun,yang ada hanya suara kendaraan lain.
Ting!!
suara notifikasi pesan di ponsel Ellia.
Melihat siapa yang mengiriminya pesan membuat Ellia langsung membuka isi pesan tersebut.
Tubuh gadis itu menegang tiba-tiba setelah membaca pesan itu. Sudah pasti jika orang itu mengiriminya pesan seperti itu, akan ada sesuatu yang akan terjadi nanti. Tapi apapun yang terjadi nanti tak akan membuat Ellia mundur dengan tanggung jawabnya. Dan tidak boleh ada orang lain yang mengetahui hal itu.
"Alan!" panggil Ellia pelan, Alan berdehem menjawab panggilan Ellia tanpa menoleh.
Gadis itu menunduk memainkan jari jari tangannya sendiri gelisah.
"Suatu saat nanti kalau lo tau sesuatu apapun tentang gue, gue minta lo terus ada buat gue ya. Jangan tinggalin gue, apapun yang terjadi!" memikirkan masalah itu, Ellia kadang merasa takut jika orang orang tau apa yang ada pada dirinya, dan akan menjauhi dirinya.
Ellia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, orang-orang akan tahu pada saatnya. Tapi sekarang bukan saat yang tepat. Orang-orang akan memandangnya aneh dan menjauhinya, dan orang tua nya pasti tidak akan membiarkan Ellia keluar bebas sendirian.
jadi misterius gini deh!. Gue juga gak bakal ninggalin lo. Kecuali..." Alan memutus ucapannya. Ellia mengernyitkan dahinya bingung.
Gadis itu menaik turunkan alisnya meminta jawaban.
"Kecuali ... kalo lo abisin isi dompet gue malam ini, gimana gue ngisi bensin kalau gitu. Gue bakalan tinggalin lo di tengah jalan, biar di gondol cowok idung belang!" Ellia tersenyum berharap Alan benar tidak akan meninggalkan nya.
"Kucing kali idung belang, lo kali nanti gue kasih ke cewek-cewek itu di sekolah," kemudian Ellia tertawa membayangkan Alan yang cool itu di kerubuni cewek-cewek haus belaian di sekolah, dan Ellia ingat cowok itu benci dengan cewek-cewek macam itu.
Tangan Ellia menepuk pipi Alan pelan di sela tertawanya, lalu turun memegang tangan Alan. Cowok itu terdiam memandangi wajah manis Ellia yang tertawa lalu melihat tangannya yang di genggang oleh tangan mungil itu.
Alan menyentuh dadanya dengan satu tangan nya yang lain merasakan degupan yang kuat ini. Alan mengerti dan menyadari perasaan ini!
Dia mencintai sahabatnya!
Dia berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang terjadi ia tidak akan meninggalkan Ellia seperti apa yang di pinta gadis itu.
****
Suara ramai dalam sebuah bangunan besar yang terlihat seperti rumah namun mereka menyebutnya markas dan keadaan di dalamnya benar benar berantakan membuat seseorang di sana berdecak.
Kira kira tiga puluh laki laki berkumpul seperti membentuk sebuah kelompok masing masing.
Ada kumpulan laki-laki bermain kartu, bermain karambol, bermain game online di ponsel, bermain ps, dan bergosip.
Suasana di sekitar bangunan itu sepi jadi mereka tidak takut mengganggu para tetangga karena keramaian yang selalu ada setiap malam. Bangunan itu terletak di tengah-tengah bangunan sepi terbengkalai lainnya.
Di kelompok yang sedang main game online salah satu mereka berdecak kesal. Dia sudah lelah merapihkan tempat itu sejak sore!, tapi sekarang sudah hancur kembali. Kaleng kaleng dan botol soda juga bungkus snack, toples kue berceceran di lantai, bantal sofa yang tidak berada pada tempatnya, juga lantai kotor sebab remah remah makanan.
Cowok berkaca mata itu memijat keningnya pelan berharap rasa pusingnya hilang.
"WOOIII!" teriaknya membuat semua orang di sana berhenti dan menoleh ke arah cowok itu. "Gue gak mau tau, kalian gak gue ijinin tidur malam ini sebelum semua sampah itu kalian bersihin!" kata cowok itu menunjuk semua sampah dan barang barang yang berantakan.
"Iya nanti!" mereka melanjutkan permainan masing masing.
"Kalian juga!" tunjuk cowok itu pada empat sahabatnya yang masih memandangi layar ponsel masing masing.
"Lo nyuruh ketua?" bantah sang ketua tersenyum jahil, ketua itu salah satu anggota mereka yang menyebalkan. Tapi dalam masalah serius, dia akan sangat serius menanggapinya.
"Terserah!" jawab cowok itu lagi.
"Iye Rak santuy, gue bersihin juga ntar," kata Robi tanpa berpaling.
Cowok berkaca mata itu menghela nafas pelan.
Baru saja dia hendak beranjak tiba-tiba dari sebuah kamar seorang cowok berjalan cepat menghampiri mereka.
Cowok itu menjatuh kan dirinya di depan Anan
Bersandar di sebuah meja.
"Kenapa lo?" tanya Anan bingung.
"Kalian pasti udah tau kan, kalau katua geng Cakrawala yang tersembunyi itu bakal muncul dan ikut tempur di perang selanjutnya dan ada di barisan terdepan!" mendengar hal itu keempat sahabat Anan ikut mendengarkan dengan seksama.
Anan mengangguk "gue punya informasi dari teman di SMA Adijaya, kalau Cakrawala dan Lucifer bakal perang lagi dalam waktu dekat, kalian penasaran banget kan siapa ketua baru Cakrawala yang masih jadi rahasia itu!" jelas cowok itu bangkit dan duduk di ruang kosong samping Raka.
Anan tersenyum "Cakrawala udah buat Bharta turun tingkat di posisi dua!, mereka hebat mereka gak pernah berbuat curang dalam kepemimpinan Langit!"
"Tapi kita harus merebut posisi pertama lagi, terlebih Langit udah gak ada di Cakrawala sekarang!" kata Robi sambil menyimpan ponselnya dalam saku celana.
"Kepergian Langit hampir membuat Cakrawala lemah waktu itu, tapi karena adanya ketua baru itu Cakrawala malah semakin kuat,"jeda Anan sebentar.
"Dia bakal muncul!, ini kesempatan kita cari tau siapa dia," lanjut Anan.
"Kapan mereka tempur?" Rafa membuka suaranya.
"Gue gak tau, tapi yang pasti dalam waktu dekat ini, bisa seminggu lagi atau kurang!" jawab cowok pemberi kabar tadi. Kelima cowok itu mengangguk.
"Setelah kita tau siapa dia, kita cari kelemahannya dan rebut lagi posisi kita," kata Anan.
"gini ajah!. Kita pasang kamera tersembunyi di tempat kejadian tawuran itu, juga penyadap suaranya, kita akan merhatiin dari tempat lain!" saran Raka. Mereka harus mengetahui siapa ketua Cakrawala itu.
"Itu tawuran besar!, mereka itu ganas, kalo sampe gak sengaja kamera itu hancur gimana?" ucap Robi.
Raka tersenyum "Gak akan. Serahin ke gue!"
Mereka terkelompok dalam satu gang bernama BHARTA. Dulu mereka berada di urutan posisi pertama geng paling kuat di jakarta. Tapi gang Cakrawala berhasil merebut posisi Bharta membuat mereka bertahan di posisi ke dua.
Mereka hendak meruntuhkan Cakrawala dimana Langit si ketua geng Cakrawala pergi menghilang membuat Cakrawala lemah. Tapi kehadiran ketua baru, Cakrawala malah makin kuat. Bharta sampai kewalahan menghadapi kekuatan Cakrawala dengan formasi perang yang kuat.
Anan si menyebalkan itu lah ketua dari Bharta siapa sangka cowok itu lah ketua nya. Rafa sebagai wakil dari Anan. Raka sebagai pengatur strategi dan pemberi saran. Raka si siswa pintar itu di percaya karena kecerdasannya mengatur setiap hal membuat Anan menjadikannya sebagai penasehat.
Juga Dirga dan Robi sebagai anggota inti.
.
.
.
.
.......
...Bersambung....