RaLia

RaLia
Kebenaran.



Seorang laki-laki berdiri di depan cermin sambil sesekali memutar tubuh nya, melihat di pantulan cermin apakah penampilannya sudah cukup baik. Sudah hampir setengah jam cowok itu hanya diam di depan cermin sambil memandangi dirinya sendiri. Padahal dia sudah sangat rapih dan tampan, tapi dia masih saja merasa kalau masih ada yang kurang. Apa memang seperti ini kah rasa nya pertama kali mengajak makan malam seorang gadis yang di cintai. Seperti ada suatu bagian dari tubuh nya yang berdegup tidak tenang. Sungguh, ini pertama kali nya dia merasakan hal aneh ini.


Merasa sudah pas, untuk mengakhiri keterdiaman nya itu dia menyemprotkan parfum beberapa bagian tubuh nya. Dia berbalik dan tepat saat itu pula pintu kamar nya terbuka dan berdiri di sana Alvino rapih dengan setelan jas nya. Ia kira pria paruh baya itu baru pulang kerja, tapi ayahnya itu hendak pergi.


"Oh kamu sudah rapih, kebetulan. Ayo cepat ikut Papa sekarang!" Ujar Alvino.


"Kemana?"


"Ke kantor, buat pengalihan saham Papa yang di Victory corp atas nama kamu. Papa punya saham di sana lumayan besar dan Papa mau kasih ke kamu sebelum kamu dan Ellia menikah. Dan pak Victor cuma ada waktu sekarang ini, setelah ini dia udah gak ada di indonesia," jelas Alvino langsung menarik tangan Rafa untuk mengikuti nya.


Rafa menurut dan tidak membantah. Ini hanya sebuah saham. Setelah Rafa memiliki seluruh perusahaan Alvino atas nama dirinya sendiri, ia sudah bertekad bahwa sebagian besar perusahaan itu nantinya akan ia berikan pada orang yang berhak. Raka.


Semua yang di dapatnya selama ini dari Alvino sebagian besar adalah hak Raka, kakak kembar nya. Raka selalu memberontak ketika ia berkeinginan untuk memberontak pada Alvino untuk memberikan hak Raka. Raka selalu merasa biasa saja dengan ketidak adilan yang terjadi selama ini. Tapi Rafa tidak bisa bersikap biasa saja.


Rafa mengangkat tangannya melihat jam tangan. Oh tidak, jam delapan lewat sepuluh menit. Selama itu kah ia berdiri di depan cermin. Acara nya dengan Ellia, gadis itu mungkin sedang menunggunya.


Cowok itu merogoh ponsel nya. Terdapat pesan dari Ellia di sana dua puluh menit lalu.


Na


Lo langsung ke sini ajah!, gue udah di purple cafe.


Pasti gadis itu sudah menunggu lama.


"Pa, Rafa ada janji sama Ellia," Rafa menoleh ke arah Alvino yang sedang menyetir.


"Kamu hubungin ajah dia sekarang, bilang kamu gak bisa!. Urusan ini lebih penting, Pak Victor akan segera pergi," jawab Alvino.


Rafa mengecek roomchat nya dengan Ellia. Gadis itu sudah tidak aktif sejak dua puluh menit setelah pesan terkirim. Cowok itu pun menghubungi Ellia. Tidak aktif.


Sementara itu di purple cafe. Ellia duduk dengan bosan, meminum susu coklat sembari menunggu tunangannya itu datang. Ia fikir Rafa tidak kunjung menjemput nya karena cowok itu sudah berada di tempat yang di tulisnya di sebuah kertas yang berada di paper bag yang di berikan cowok itu.


Ini bahkan sudah hampir setengah jam tapi Rafa tak kunjung datang. Gadis itu menepuk nepukkan ponsel ke tangan kirinya. Kebiasaan buruk ini masih terus saja menempel pada diri Ellia. Lupa mencharger ponsel nya sebelum pergi.


Sebentar lagi gadis itu akan menghabiskan segelas susu coklatnya. Dan Rafa tak juga kunjung datang. Hingga suara bel lonceng di pintu cafe berdenting, mengalihkan lamunan Ellia pada pintu cafe yang terbuka. Senyum nya terbit melihat orang yang di tunggu nya akhirnya datang juga. Dengan semangat gadis itu berdiri lalu langsung berlari mendekat pada cowok yang celingak celinguk itu.


"Ayo, lama banget sih. Lo gak tau berapa lama gue nunggu, emang nunggu itu enak," Ellia merangkul lengan cowok itu dan membawa nya ke meja tempat dia duduk tadi.


Cowok itu menatap Ellia bingung. Tapi tidak masalah, setidak nya dia tidak duduk sendirian seperti jomblo di cafe yang ramai itu.


"Gue kira lo udah di sini duluan karena gak jemput gue, eh tau nya malah telat. Lama banget lagi," ucap Ellia kesal pada cowok di hadapannya itu.


"Maaf!"


"Yaudah lah, gak masalah. Pesen makan ya, gue hampir kembung minum susu sambil nunggu lo," Cowok itu mengangguk. Ia baru mengerti sekarang. Ellia sedang menunggu Rafa untuk makan malam. Dan dirinya baru ingat kalau ia sedang tidak memakai kaca mata dan tidak memponi rambut nya seperti biasa. Jadi gadis di hadapannya ini sudah mengira kalau dirinya adalah Rafa.


Ellia pun memanggil pramusaji yang baru saja mengantarkan pesanan orang di meja samping Ellia. Gadis itu memesan dua macam makanan pedas, dan makanan manis tentu saja. Setelah itu mereka pun diam menunggu makanan mereka tiba.


"Ada powerbank gak?, hp gue mati," Raka pun melepas tas ransel yang di pakai nya dan mencari benda yang di minta Ellia.


Setelah menerima powerbank yang sangat di butuhkannya itu, Ellia langsung menghubungkan pada ponsel nya.


Baru Raka akan membuka mulut nya, Ellia langsung berkata lagi.


"Gue ada yang mau di tanyain dari lama, tapi lupa, dan sekarang mumpung inget gue mau nanya. Tapi nanti ajah, kita makan dulu," lagi lagi cowok itu hanya bisa mengangguk.


Kemudian mereka memakan makanan masing masing yang sudah datang beberapa saat lalu. Raka menyuapkan makanan nya perlahan sambil melirik memperhatikan gadis yang di suka nya itu sedang makan seperti anak kecil. Membuat mulut nya penuh dengan makanan, noda makanan di sekitar bibir nya. Mata bulat yang sejak awal menjadi pusat perhatian Raka. Mata itu sedikit ber air karena kepedasan. Tapi gadis itu tidak menghentikan makannya atau berhenti untuk minum. Wajah cantik yang memerah semakin membuat Raka gemas. Ingin sekali ia menjadikan gadis itu menjadi miliknya. Tapi... gadis ini sudah menjadi milik saudara kembar nya sendiri. Rafa mengingkari ucapan Raka untuk bersaing adil.


Ellia meneguk minuman nya hingga habis setelah makanan super pedasnya habis. Kemudian di lanjutkan dengan kue durian coklat hingga tidak menyisahkan apapun lagi.


"Gue bukan.." ucapan Raka terpotong.


"Stt... mumpung inget sekarang gue mau nanya. Lo jawab ajah jujur," Raka mengangguk.


"Dimana Rara?" Raka menatap Ellia tidak mengerti.


"Rara siapa?" Balas Raka bertanya juga.


"Masa udah lupa sih. Rara yang dulu sama lo itu loh. Seinget gue Rara saudara lo kan, adik atau kakak,"


"Kita dulu main bareng kan. Sebenarnya dari awal gue tau kalo lo itu Sasa nya gue, gue ngerasa ada yang kurang. Dan yang kurang itu ternyata Rara. Gue selalu lupa buat nanya tentang ini, jadi jawab gue!. Dimana Rara?" Ellia menatap wajah cowok di hadapannya ini serius. Sungguh, ia sangat ingin tahu dimana sahabat kecil nya yang satu itu berada. Sasa dan Rara bersaudara kan, tapi kenapa ia tidak menemukan Rara selama ini. Ellia ingin tahu seperti apa anak laki laki jahil itu sekarang, Ellia ingin bertemu dengan nya.


"Sasa!" Nama yang sama. Nama yang selalu melekat dalam dirinya. Raka masih diam tidak mendengarkan panggilan Ellia.


"Sasa!" Masih tidak ada jawaban.


"Sasa nya gue!" Diam.


"Sasa nya Nana!" Seketika lamunan Raka membuyar.


"Nana?" Lirih Raka.


"Iya Sasa!"


"Na-Nana embul?" Ellia mendengus, gadis itu cemberut.


"Masih inget ternyata, kirain selama ini lo udah lupa sama panggilan itu. Liat pipi gue, lucu kok, kecil enggak mbul,"


"Liat pipi Nana, lucu kok, kecil enggak embul. Sasa yang embul, pelut nya besal,"


Kalimat yang sama. Air muka Raka menegang. Jadi selama ini Rafa menyembunyikan kebenaran ini. Nana nya, gadis kecil gembul nya.


"Siapa gue?" Raka bertanya. Ellia mendengus, orang bertanya tentang Rara malah bertanya balik. Tidak penting pula.


"Sasa!" Jawab Ellia.


"Gue siapa?"


"Rafa!" Jawab Ellia lagi.


Benar. Rafa menyembunyikan Nana nya. Gadis kecil yang selalu di rindukannya. Dan lebih parah nya lagi bahwa Rafa mengaku dirinya sebagai Sasa pada Nana.


"Gue Raka!" Ellia terkejut. Gadis itu nenatap serius wajah Raka.


"Raka Sadewa Putra, kakak kembar Rafa," bagaimana bisa. Mata Ellia membola baru menyadari bahwa cowok di depannya ini memiliki tahi lalat di dekat telinga nya, yang tidak dimiliki Rafa. Dia bukan Rafa.


"Gimana bisa,"


"Iya, nggak ada yang tahu gue kembaran Rafa. Dan gue mau menjawab apa yang lo tanyain tadi dengan sebenarnya,"


Ellia diam tidak membalas, dirinya masih tidak percaya. Kalau begitu, cowok ini adalah Rara.


"Sasa nya Nana itu gue, Raka Sadewa. Dan Rafa adalah Rara. Lo di bohongi," tangan Raka mengepal kuat. Lihat lah apa yang akan dia lakukan pada penghianat Rafa itu nanti.


"Gak mungkin, Rafa itu Sasa nya Nana,"


"LO DI BOHONGI RAFA, GUE SASA. GUE YANG SELAMA INI NYARI DAN NUNGGU LO KEMBALI KE GUE," tanpa sadar Raka berteriak sebab kemarahannya.


"Gue yang selama ini mencari dan menunggu. Nana gue, Nana embul, Nana yang dulu suka banget permen kaki dan itu cuma gue yang tau, karena malu sama Rara dan Lalang yang jijik sama permen kaki karena menurut mereka jorok. Nana yang suka ngajakin Sasa ngintipin Lalang yang di omelin mama nya," lanjut Raka dengan suara pelan. Mengatakan semua yang hanya di ketahui oleh Sasa tentang Nana. Karena kedekatana mereka dulu yang layak nya seperti anak kembar.


Benar. Yang memanggil nya Nana embul dulu hanya Sasa, yang mengetahui bahwa dirinya menyukai permen kaki hanya Sasa. Karena Nana dulu pernah membawa permen kaki bermain dengan mereka, tapi Rara dan Lalang malah menyuruhnya untuk membuang itu karena menurut kedua bocah itu permen kaki menjijikan, seperti menjilat kaki sungguhan. Jadi Nana suka mengajak Sasa untuk pergi beli permen kaki berdua dan menikmati nya berdua. Kenakalan Lalang yang membuat anak itu di omeli oleh ibu nya pun menjadi tontonan seru kedua nya yang mengintip dari lubang pagar rumah Lalang. Sangat seru melihat bocah itu di omeli dan Lalang hanya bisa menunduk, berbeda dengan tingkah usil yang biasa nya.


Jadi benar, Rafa membohongi nya. Dan hubungan mereka sekarang itu salah. Bukan ini yang diinginkan Ellia. Ellia ingin Sasa nya, bukan orang lain. Sky juga ingin dirinya bersama Sasa, itulah pesan terakhir Sky. Sky menyuruhnya untuk mencari Sasa yang menurutnya mampu untuk menjaga dan melindungi Ellia, karena Sky sudah tidak bisa untuk melakukan itu lagi.


Tiba-tiba setetes air mata jatuh dari mata Ellia. Kenapa, kenapa Rafa berbohong tentang hal yang sangat besar. Pantas saja selama ini rasa bahagia nya saat bersama Rafa terasa cukup aneh. Sifat laki-laki itu sangat berbeda, tidak seperti Sasa nya. Memang benar orang akan mengalami perubahan, tapi tidak akan sampai merubah sifat asli nya kan. Ellia sangat kecewa. Gadis itu menatap benda bulat yang melingkar di jari manisnya itu. Hubungan ini, Ellia hanya ingin hubungan ini hanya mengikat dirinya dengan Sasa. Bukan orang lain. Cinta nya pada Sky, dan juga cinta nya pada sahabat kecilnya.


Raka beranjak mendekat pada Ellia. Tapi gadis itu mengangkat tangannya menghentikan pergerakan cowok itu.


"Bilang sama kembaran lo itu, gue kecewa!" Setelah mengatakan itu Ellia pergi meninggalkan Raka. Baru berjalan dua langkah ponsel gadis itu berdering.


Ellia mencabut kabel powerbank dari ponsel nya dan mengembalikan benda itu pada Raka yang berada di belakang nya tanpa membalikkan badan.


"Halo!" Sapa Ellia menjawab telepon.


Mata Ellia membola. Tiba-tiba?, sekarang juga. Tangan nya mengepal kuat. Emosi nya sekarang sedang tidak setabil, dan sebuah masalah datang di waktu yang tidak tepat.


...-BERSAMBUNG-...