
"PAPA!" Orang yang dipanggil tersentak di tempat duduk nya. Reynand mengalihkan pandangan nya dari televisi ke pintu yang terbuka lebar dengan seorang gadis yang nampak memerah wajah nya berdiri diambang pintu.
"Dua minggu lagi?, tiba-tiba tanpa ada kabarin aku dulu. Aku udah bilang aku gak mau Pa. Gimana sih," protes Ellia menatap Ayah nya.
"Gak mau apa, hm. Kamu itu Mahardika, inget kan?. Kamu gak akan menyesal Nona Mahardika," ujar seorang pria tua yang muncul dari pintu dapur. Walau sudah tua, aura ketampanan nya masih terlihat pada pria itu.
Ellia terkejut. Bagaimana bisa Kakek nya ada disini. Sejak kapan.
"Kenapa Kakek gak mau dengerin aku. Aku udah berkali-kali bilang kan sama Kakek, aku menolak pernikahan ini. Dan tiba-tiba dia datang dan bilang acara itu akan dilakukan dua minggu lagi. Kakek benar-benar!" Kemudian Ellia pergi menuju kamar nya, memikirkan apa yang akan ia lakukan.
Rafa kembali. Apakah Raka juga kembali?. Mata Ellia membulat. Gadis itu memikirkan sebuah ide sekarang. Melempar tas nya asal gadis itu langsung terbirit memasuki kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian, Ellia merentangkan tubuh nya diatas ranjang empuk yang sangat nyaman. Dua jam lagi, ia akan melakukan apa yang selama ini ada di pikirannya.
Dirasa sudah cukup untuk beristirahat. Ellia bangkit menuju lemari besar nya. Mengambil beberapa potong pakaian dan dimasukkan ke dalam sebuah tas ransel. Bukan hanya itu. Ia memasukkan ponsel dan dompet tipis yang tapi didalam nya terdapat beberapa kartu penting. Semuanya sudah selesai, Ellia mengambil sebuah helm dari lemarinya dan pergi menuju balkon. Menengok kanan kiri memastikan keadaan aman, semua nya aman. Ia harus hati-hati karena Kakek nya ada di rumah ini.
Ellia melempar tas nya terjun ke tanah dan kemudian bersiap untuk ikut terjun juga. Gadis itu menghitung sampai tiga lalu ia meloncat.
HAP!
Sempurna. Seperti yang diperhitungkan sebelumnya. Ellia mendarat dengan posisi aman dibawah. Buru-buru Ellia melangkah ke garasi dengan tidak menimbulkan suara dari kakinya. Karena terburu-buru dan tidak memperhatikan yang ada didepannya, gadis itu menabrak sesuatu yang tinggi dan keras hingga membuat tubuhnya terjungkal kebelakang namun dengan gesit seseorang menangkap tubuh mungil Ellia.
"Mau kemana, hm?" Suara berat itu.
"Lo..."
Ellia menormalkan wajah nya dan menatap Rafa dengan berani.
"Motoran, minggir!" Bukannya menyingkir, Rafa malah merampas kunci motor dari Ellia dan memasuki garasi menaiki motor hitam milik gadis itu.
"Ayo naik, gue ikut."
"Gue bilang minggir!" Rafa tidak mendengarkan dan memainkan gas motor itu hingga menimbulkan kebisingan ditengah malam seperti ini.
"Naik sekarang, atau gue bangunin seisi rumah!" Ancam Rafa menatap tajam gadis itu.
Ellia berdecak kesal dan menuruti ucapan cowok itu. Rafa melajukan motor Ellia cepat menuju suatu tempat. Beberapa menit saja mereka telah sampai karena Rafa yang seperti kesetanan mengendarai motor itu. Mereka duduk disebuah kursi di taman yang masih terdapat beberapa orang disana. Ellia berdecak sebal mengetahui cowok disampingnya terus saja menatapnya.
"Pintu rumah sebesar itu, kamu bosan keluar lewat pintu sampai-sampai harus keluar rumah loncat dari balkon lantai dua?" Ujar Rafa. Ia sudah tau apa yang akan Ellia lakukan. Jika dirinya tidak datang tadi, dipastikan gadis nakal itu akan kabur dari rumah dan menggagalkan rencanya.
Rafa menoleh ke sampingnya, melihat Ellia menatap sesuatu diujung jalan dengan wajah datar namun mata nya penuh binar. Diujung jalan sana terdapat seorang pedagang cimol mendorong gerobaknya semakin dekat dengan tempat mereka duduk.
"PAK!" seru Ellia memanggil bapak penjual yang sudah terlihat sangat lelah itu. Penjual itupun berhenti didepan Ellia dan Rafa.
"Masih ada?" Tanya Ellia.
Ellia mengangguk,"mau lima puluh ribu, pedas!"
"Siap, sabar ya dek digoreng dulu," bapak itupun dengan semangat nya langsung menyiapkan pesanan Ellia. Rezeki tidak kemana, walau sudah larut malam seperti ini dan sudah waktunya untuk pulang, masih saja ada jalan untuk menjemputnya.
"Udah malam gini baru mau pulang pak?" Tanya Rafa memperhatikan kegiatan si bapak menggoreng cimol.
"Iya dek, biasa lah." jawab si bapak.
"Saya juga mau lima puluh ribu," si bapak pun makin bersemangat mendengar pesanan Rafa.
Cowok itu teringat seseorang, ia memang tidak suka dengan jajanan satu ini. Tapi seseorang dirumah nya pasti akan dengan senang hati menerima dan menghabiskannya dengan lahap.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka selesai dan mereka menerima nya tidak lupa memberikan bayaran nya. Berbeda dengan Rafa, Ellia langsung melahap cimol nya hingga membuat dirinya terkejut sebab masih panas.
"Pelan dek, baru matang itu," kekeh si bapak sambil kembali merapihkan gerobaknya.
"Yaudah, bapak pergi dulu ya," pamit si bapak.
"Langsung pulang pak udah malam," pesan Rafa diangguki si bapak.
Ellia memakan cimol nya dengan berbalik badan membelakangi Rafa, cowok itu terkekeh melihat tingkah calon istrinya itu.
Gadis itu terus menerus melahap cimolnya tanpa jeda karena kekesalannya terhadap Rafa. Hal itu membuat Ellia tersedak, sambil terbatuk tangannya memukul lengan Rafa keras memberi kode untuk membelikan nya air. Mengerti maksud gadis itu, Rafa langsung berlari mencari warung atau apapun yang menjual air mineral di sekitar taman.
Melihat Rafa sudah pergi, Ellia langsung mengambil botol minum miliknya dari dalam tas ransel yang dibawanya. Setelah merasa lebih baik, Ellia langsung mengambil kunci motor yang Rafa tinggalkan ditempat duduknya dan pergi dari tempat itu meninggalakan Rafa yang entah mencari air kemana.
Motor hitam itu terparkir rapi di salah satu parkiran gedung apartemen. Satu-satunya apartemen baru Ellia yang tidak diketahui oleh keluarganya. Setelah menyalakan semua lampu, Ellia masuk kedalam kamarnya. Meletakkan tas dan sisa cimol nya di atas meja, kemudian gadis itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk yang mungkin akan menjadi tempat tidurnya beberapa saat. Karena sudah merasa lelah, mata biru indah itu terpejam dan gadis itu mulai masuk kedalam dunia mimpinya.
Sinar matahari menyelinap masuk lewat jendela kamar Ellia, menganggu tidur gadis itu. Rasa panas pun mulai terasa, padahal dirinya menyalakan AC sepanjang malam, dan tirai jendela juga semalam tertutup. Siapa yang mematikan AC dan membuka tirai nya, bukankah tidak ada orang lain lagi di apartemen nya.
Mata Ellia terbuka lebar dan terkejut ketika melihat siapa yang sudah berdiri didepannya sekarang dengan menatapnya tajam. Bagaimana bisa, kenapa dia bisa mengetahui tempat persembunyian nya. Apartemen ini cukup jauh dari rumah, dan sebelumnya ia sudah memastikan tidak ada siapapun yang tahu tempat ini, tapi...
"Mama!"
...-BERSAMBUNG-...
.......
.......
.......