
Disinilah Ellia berada sekarang. Dengan malas ia memperhatikan pergerakan ibunya yang sibuk memilih-milih gaun dan dicocokkan pada tubuhnya. Ellia sudah sangat lelah karena tidak ada habis nya gaun yang Nandini sodorkan padanya. Karena tempat persembunyiannya ditemukan oleh keluarganya, ia harus terjebak dalam semua persiapan pernikahan yang tidak diinginkannya ini. Masalah darimana keluarganya tau apartemen barunya, Ellia berdecak kesal pada dirinya sendiri karena lupa tidak mematikan lokasi didalam ponsel nya.
Ellia sudah sangat lelah, tidak ada juga gaun yang cocok dimata Nandini. Wanita itu sangat bersemangat seakan yang akan menikah adalah dia bukan putrinya.
Nandini berjalan kearahnya dengan menenteng sebuah gaun lebar berwarna ungu. Mencocokkan gaun itu ke tubuh Ellia, lalu wanita itu menggeleng lagi. Untung saja pemilik butik itu adalah adik Nandini, jika itu orang lain pasti mereka sudah diusir sejak tadi. Sudah beberapa jam lama nya, Nandini bahkan belum menemukan satupun yang pas dimatanya. Semua nya satu persatu dicobanya pada tubuh sang putri.
"Udahlah Ma, pilih ajah random. Cap cip cup, lagian semua gaun yang ada disini bagus. El cape!" Keluh Ellia.
"Yaudah kalo gitu mama cari sekali lagi ya, Mama bingung semua bagus. Tapi gak sesuai sama kamu," Nandini kembali meninggalkan Ellia menuju tempat lain bersama Roosie, adiknya yang menggeleng geleng kepala sambil terkekeh melihat kakaknya yang sangat bersemangat mengacak -acak butiknya.
Roosie maklum atas apa yang dilakukan Nandini, siapa yang tidak akan sebahagia itu ketika putri tunggalnya akan menikah. Dirinya pun pasti akan seheboh itu juga saat Aca menikah nanti. Roosie pun menunggu kapan putrinya itu akan menemukan lelaki dan menikah. Sampai saat inipun anak itu belum pernah sama sekali mengenalkan seseorang padanya. Apa perlu ia menjodohkan Aca seperti Ellia. Ya, akan ia bicarakan nanti dengan suaminya.
Beberapa saat kemudian Nandini kembali dengan gaun berwarna hijau elegan yang kalau dilihat dari jauh sangat cantik. Setelah beberapa kali memutar-mutar, bolak-balik tubuh Ellia. Walau gaun itu cantik namun Ellia tidak menyukai nya, model nya terlalu mewah.
"Ribet Ma, udah lah gajadi ajah nikah nya," ucapan itu membuat ia mendapat tatapan tajam dari Nandini.
"Jangan macam-macam kamu!" Jari telunjuk Nandini mengarah ke wajah Ellia.
"Habis nya ribet," gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang berada dibelakangnya.
"Bagaimana yang ini?" Suara seseorang terdengar dari balik tubuh Nandini. Lelaki tampan yang entah sejak kapan ada di sini, mungkin memang sudah sedari tadi tapi Ellia tidak sama sekali menyadarinya karena lelaki itu tidak datang bersamanya, dia datang terlambat. Dia mendekat kearah mereka dengan beberapa orang pekerja Roosie membawa sebuah gaun biru yang sangat indah. Para pekerja itu membawa gaunnya dengan sangat hati-hati sebab mereka bilang gaun itu adalah gaun terbaik yang baru diselesaikan Roosie.
"Ya ampun!, kenapa aku bisa melupakan gaun itu. Gaun itu emang spesial, rencananya akan aku tunjukkan pada Kakak. Aku lupa kalau gaun itu sudah jadi, seingatku gaun itu belum selesai jadi aku belum menunjukkan nya pada kalian," Roosie menepuk dahinya pelan. Ia pun heran, melupakan gaun penting itu. Gaun itu memang sudah jadi dan sudah ia tempatkan di tempat khusus. Tapi ada sedikit lagi bagian yang ingin Rossie tambahkan pada gaun itu.
"Kenapa kamu gak bilang, kalau gitu kan aku gak akan pusing-pusing mengelilingi butik ini," kata Nandini.
Roosie terkekeh sambil menggaruk lehernya." Maaf kak, tapi gaun itu masih kurang sedikit lagi. Bagaimana kalau El cobain dulu, nanti aku selesaikan kurangnya dan kalau sudah selesai aku kabari,"
Semua orang takjub melihat sosok bidadari yang muncul dari balik pintu ruang ganti. Meski kata Roosie masih ada sedikit yang kurang, tapi gaun itu sudah sangat sempurna ditubuh nyonya Mahardika itu. Terutama lelaki itu berdecak dalam hati melihat calon istrinya bak ratu kerajaan. Rafa bersumpah tidak akan melepas ratunya bagaimana pun, meski gadis itu sendiri yang ingin pergi darinya. Tapi ia yakin saat Ellia tahu seluruh kebenaran nya gadis itu tidak akan pernah berpikir untuk menolak dirinya lagi.
Rasanya Rafa ingin mempercepat waktu ke hari pernikahan, setelahnya lelaki itu akan mengurung istrinya hanya untuk dirinya sendiri.
"Ya ampun cantik banget. Aca kapan ya kayak gini. Aku gak sabar deh," puji Roosie.
"Suruh Aca cepet bawa pacarnya lah Roo!. Anak itu kerjanya ngintil El terus beberapa tahun ini. Gereget aku gak ada cowok yang dia intilin gitu," sahut Nandini.
Roosie membuang nafas, "Nah itu kak, gimana kalo aku jodohin ajah anak itu kayak Ellia. Biar cepet,"
"Bagus tuh!" Setuju Nandini.
"Nanti aku mau bicarain sama papanya Aca dulu,"
Bersamaan dengan itu di ruangan kerja Ellia di Gedung kantor Mahardika.
"HATCHIII!" Aca mengusap hidungnya yang memerah karena bersin.
"Siapa sih yang bersihin ruangan ini kok gak bersih. Masih ada debu, kalo El ada disini bisa ngamuk itu anak." Ucap Aca kemudian melanjutkan pekerjaannya.
...⚘⚘⚘...
Semua persiapan sudah matang. Disetiap persiapan itu, Ellia selalu saja mencari alasan untuk menghindar tidak ingin ikut campur memilih semua yang dibutuhkan. Meskipun Nandini selalu menanyakannya apakah ia mau warna ini untuk pelaminannya?, warna hijau atau biru yang lebih bagus untuk tirai-tirai?, undangan mana yang diinginkan Ellia?. Jika saja bisa menjawab, untuk pertanyaan terakhir ia tidak ingin ada undangan apapun!.
Tapi mau bagaimana lagi, Tuan besar Mahardika akan berceramah panjang lebar nanti. Mendongeng kan cerita tentang kisah Mahardika-Mahardika sebelum kakeknya. Tuan besar itu tidak lah mudah untuk dibantah.
Setelah melewati hari-hari melelahkan itu, malam ini tepatnya malam sebelum pernikahan. Kediaman Mahardika sudah diramaikan oleh para kerabat, rekan bisnis Ellia, seluruh karyawan dan bagian dari Mahardika's company, juga ada teman sekampus dan teman kelas Ellia saat SMA. Mereka datang untuk merayakan pesta malam pernikahan.
"Padahal kami sudah siap melamar Ellia untuk Alan, tapi kita keduluan. Kami terlambat, hingga gadis manis itu gagal untuk menjadi menantuku," ucap Ibu Alan menyayangkan Ellia tidak bisa menjadi menantunya.
Nandini mengusap pundak Ibu Alan dengan senyuman indah dibibirnya.
"Maafkan aku, aku yakin pasti sebentar lagi perempuan yang lebih baik daripada Ellia yang sudah tuhan siapkan untuk Alan akan datang. Alan anak baik, perempuan itu pasti tidaklah sembarangan." Balas Nandini.
Alan diam saja mendengar itu, matanya fokus pada seorang bidadari cantik yang duduk tanpa ekspresi sambil meminum jus bersama Aca di sebuah sofa. Ellia sangat cantik, Alan ingin menculik gadis itu untuk dirinya sendiri rasanya. Namun itu tidak mungkin. Ellianya besok akan resmi menjadi istri orang, dirinya sudah sangat gagal.
Kedatangan beberapa lelaki membuat kehebohan diantara perempuan-perempuan muda disana. Bagaimana tidak, sekumpulan dewa yunani memasuki tempat itu dengan pesonanya masing-masing. Dimana calon pengantin pria diantara mereka adalah tokoh utama acara ini.
Rafa datang bersama teman-temannya. Anan, Robi dan Dirga. Dan Anan datang dengan menggandeng seorang gadis bernama Shelva. Gadis manis berpipi merah yang dulu dia goda digerbang sekolah. Anan berhasil mendapatkan gadis itu. Sedangkan Robi dan Dirga, mereka berdua selalu nempel sejak dulu. Anan khawatir sahabatnya itu berkelainan.
"Calon suami datang tuh," Aca menyenggol lengan Ellia.
"Hm," sahut Ellia bodo amat.
"Halo Ellia!. Udah lama gak ketemu, gimana kabar lo yang besok bakal jadi nyonya Putra?" Sapa Anan heboh yang langsung duduk di sofa depan Ellia dan Aca.
"Bukan Ellia!" Sahut Robi.
"Ah iya, nyonya Mahardika," ralat Anan.
Ellia berdecih. Anan menanglah seperti itu, menyapanya seperti sudah lama saja tidak bertemu. Padahal terakhir kali mereka bertemu adalah sebulan lalu, mereka menjalin hubungan bisnis.
Rafa menggelengkan kepalanya heran. Sudah lima tahun terlewat, tapi sahabatnya itu masih tetap saja sama seperti dulu. Yang membedakan hanyalah Anan sudah tobat dari hobinya merayu banyak perempuan. Shelva sudah mengisi seluruh hati Anan hingga perempuan secantik apapun tidak bisa menggeser tempat Shelva. Mereka akan segera menikah, Ellia pun sudah menerima undangannya.
"Apa kabar?" Tanya Dirga mengulurkan tangan kearah Ellia.
"Baik," Ellia membalas salaman dari Dirga.
Kemudian Dirga beralih memberikan tangannya pada Aca. Aca pun membalas uluran tangan Dirga dengan pipi memerah. Rahasia besar yang Aca sembunyikan. Sejak SMA gadis itu sudah menyukai Dirga. Makanya gadis itu selalu mendekat ketika ada inti Bharta di sekolah dan beralasan karna ia salah satu fans Rafa.
Dirga semakin tampan dan dewasa. Lelaki itu sungguh banyak berubah, tapi debaran jantung Aca tetaplah tidak berubah.
"Kalian nikmati pestanya!" Ujar Ellia setelah sedikit berbincang dengan para lelaki itu, lalu bangkit menarik tangan Rafa untuk mengikutinya.
Ellia berhenti di dekat meja minuman. Ia melepas tangan Rafa dan menatap lelaki yang tersenyum miring sudah mengetahui maksud gadis itu.
"Gue mau tanya sama lo!"
"Tanya ajah,"
"Dimana Raka?"
Lelaki itu terkekeh pelan lalu mengangkat bahunya.
"Gak tau," jawab Rafa mengambil segelas minuman dari meja dan pergi begitu saja.
"Semakin manis saja,"
...-BERSAMBUNG-...