
"Mah El mau ke mini market ya sama Alan, tadi lupa mau mampir," pamit Ellia menghampiri Nandini yang tengah asik menonton tv.
"Iya, Mama titip soto ya pulangnya!" pesan Nandini masih menatap tv.
"El di sini Mah, bukan di tv!" sebal Ellia karena mamanya tidak menoleh.
"Hehehe, asik ini El, nanti mama ketinggalan!" Nandini menoleh.
Ellia menggeleng geleng, "cuma sebentar doang juga noleh nya," kemudian Ellia menghampiri Alan yang berada di ruang tamu.
"Anterin gue yuk!" ajak Ellia berdiri di hadapan Alan.
"Kemana?" tanya Alan mendongakkan wajahnya.
"Mini market, cepet ah!" menarik tangan Alan supaya bangun.
"Yaudah ayo!" melangkah mendahului Ellia, dan gadis itu membuntut di belakang Alan.
Setelah menempati kursi samping kemudi dengan nyaman, begitu juga Alan yang sudah siap di kursi kemudi segera menjalankan mobilnya.
"Kenapa gak tadi pas pulang sekolah si?"
"Lupa!" jawab Ellia nyengir.
Setelah menghabiskan waktu 10 menit di perjalanan mereka pun sampai. Karena letak mini market itu cukup jauh dari kediaman Ellia.
Pas sekali dengan mobil Alan berhenti handphone Alan berdering membuat Alan bertahan sebentar dalam mobil.
"Halo, kenapa Ma?" Alan menjawab telfon.
....
"Di mini market sama Ellia!"
...
"Yaudah iya,"
Telfon terputus, dengan berat hati Alan menoleh ke sampingnya.
"Sorry ya El gue gak bisa antar lo pulang, Mama telfon minta anter, lo naik taksi gapapa kan?" ucap Alan perlahan. Ia merasa tak enak karena tidak bisa mengantar Ellia pulang karena tadi Alan dengar Ellia minta izin keluar bersamanya.
"Gapapa kok, gue keluar ya!" Alan mengangguk. Setelah melihat Ellia memasuki mini market Alan kembali menjalankan mobilnya.
***
Rafa mengambil apa yang di perlukannya di rak mini market dengan jumlah banyak. Dari pada nanti harus bolak balik lagi, lebih baik Rafa mengambil nya sekalian banyak saja, agar saudara nya itu tidak menghabiskan makanannya. Takut seperti biasanya saat Rafa membeli seperlunya saja, saudaranya itu yang malah menghabiskannya.
Juga di samping nya ada seorang cewek yang seperti biasa dengan dandanan tebal. Dia Emma pacar ke dua Rafa.
"Kamu yakin beli sebanyak ini yang... baru sekarang loh aku liat cowok belanja banyak," oceh Emma yang hanya memegang dua buah cemilan dan sekaleng soda.
"Kenapa, lo gak suka!" sarkas Rafa.
"Gapapa sih," dengan raut wajah yang aneh.
Rafa muak dengan ketiga pacarnya, mungkin setelah memutuskan satu persatu semua pacarnya membuat Rafa lelah dan akan lega jika ia mengakhiri hubungannya dengan ketiga cewek yang tersisa. Kemudian dia akan lanjut mencari gadis kecil itu.
Semua cewek itu hanya ingin ketenaran saja. Rafa berencana akan memutuskan ke tiga pacarnya tak lama lagi, setelah menemukan cewek incaran baru maka semua pacarnya akan ia putuskan.
Sampai menemukan gadis yang di carinya yang begitu berbeda dengan cewek lain, apa adanya, dan tulus Rafa tak akan berhenti mencari.
Setelah membayar semua belanjaan miliknya dan Emma, Rafa keluar dari mini market. Saat di luar Rafa berhenti sebentar lalu menengok ke Emma yang ada di belakangnya.
"Lo pulang sendiri ajah, gue masih ada urusan!" ujar Rafa.
"Yah kok gitu sih, terus aku pulang sama siapa dong?" manja Emma memelas.
"Lo bisa naik taksi!" dengan terpaksa Emma meninggalkan Rafa dan menyetop taksi. Rencana nya Emma akan mengajak Rafa pergi ke mall dan meminta barang yang di inginkannya, mungkin lain kali.
Hendak melangkah pergi dari mini market Rafa mendengar gumaman seseorang di dekatnya, seperti suara nya yang tidak asing.
"Udah mau malem, si Alan pulang duluan, mana jauh plus hp mati, Mama pesen soto harus muter-muter, gak cukup nih uang gue buat taksi, ah sial emang!" gumam Ellia tak sadar ada Rafa di dekatnya.
"Makanya belanja jangan kebanyakan!" ucap seseorang di dekatnya membuat Ellia terkejut.
"Ra-Rafa!" gugup Ellia.
"Kenapa, lo takut sama gue?, sampe gugup gitu," bingung Rafa.
"Nggak lah, gue cuma kaget," jelas Ellia. Ellia sendiri tidak tau kenapa saat berhadapan dengan Rafa ia menjadi gugup. Wajah tampan Rafa selalu terlihat menyeramkan di mata gadis itu.
"Oh. Lo mau pulang?" tanya Rafa karena mendengar gumaman Ellia tadi.
"Iya lah, siapa juga yang mau di sini terus,"
"Gue anter!" kata Rafa melihat tampilan Ellia dari atas sampai bawah. Hari sudah menjelang malam dan pakaian gadis itu akan membuat Ellia dalam bahaya nanti, apalagi Rafa tau saat waktu seperti ini preman-preman jalanan akan bertambah banyak saat malam hari berkeliaran merampok dan melakukan kejahatan lainnya.
"Gak usah tapi..." jawab Ellia merasa bingung.
"Gue denger uang lo gak cukup bayar taksi!" ucap Rafa memalingkan wajahnya menatap kedepan.
"Bukannya gak cukup, tapi gak bawa uang lebih!" menatap tajam Rafa.
"Yaudah, mau gue anter gak?" memutar bola matanya.
"Iya deh!" putus Ellia. Sekali kali merasakan bagaimana rasanya bersama most wanted idola Aca.
"Lo gak dingin apa, baju lo kayak gitu!" ucap Rafa karena melihat pakaian yang di pakai Ellia kaos lengan pendek yang agak longgar, hotpans, rambut di cepol ke atas, membuat lehernya terkena angin.
Ellia memperhatikan dirinya sendiri dan menggaruk lehernya tak gatal.
"Gue lupa, masih pake baju rumahan," kekeh pelan Ellia.
"Ayo!" Rafa melangkah meninggalkan Ellia menuju mobilnya.
Ellia pun mengikuti Rafa dan masuk ke kursi samping kemudi.
"Kenapa?, buat apa?" untuk apa Rafa memberikannya jaket.
"Pakek lah, dah mau malem, dingin." Sabar Rafa menghadapi gadis kecil ini. Biasanya para cewek yang bersama Rafa selalu meminjam jaket pada Rafa karena Rafa tidak peka atau tidak peduli terhadap kesengajaan mereka memakai pakaian terbuka dan mengode-ngode agar di beri jaket oleh Rafa. Tapi gadis ini terlihat seperti anak kecil.
Beberapa saat di perjalanan mobil Rafa berhenti di sebuah cafe membuat Ellia bingung.
"Ini bukan rumah gue!" ucap Ellia memperhatikan sekitar.
Rafa menghela nafasnya pelan. "temenin gue makan dulu, abis itu gue anter pulang!" bersiap turun dari mobil.
"Tapi entar anter gue mampir di penjual soto ya!" kata Ellia. Rafa mengangguk dan keluar dari mobil diikuti Ellia.
Ellia mengikuti Rafa dan duduk berhadapan dengan cowok itu.gadis bermata biru itu menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
"Gue tunggu di mobil lo ya, males di sini," Ellia hendak beranjak tapi Rafa menghentikannya.
"Lo di sini ajah!" tahan Rafa membuat Ellia berhenti.
"Ngapain, yang ada bosen gue, liatin lo makan doang!" masih berdiri.
"Duduk!" suruh Rafa. Jika di perhatikan gadis ini memang menarik seperti kata Raka.
Apakah gadis ini akan menjadi target selanjutnya?
Ellia menurut dan kembali duduk di tempat sebelumnya. Kemudian Rafa mengangkat tangannya memanggil pelayan. "iya mas, mau pesan apa?" tanya pelayan laki-laki itu siap mencatat apa yang di sebut Rafa. Cowok itu menunjuk nama makanan di buku menu "ini dua sama yang ini dua!" setelah mencatat pesanan Rafa pelayan itu dengan sopan meminta untuk menunggu sebentar dan meninggalkan meja Rafa dan Ellia.
Gadis itu mengeluarkan handphone saat ingin menyalakan, ia baru ingat jika handphone nya mati. "hmm lo ada powerbank gak?. Pinjem dong, boleh?" Ellia berkata ragu, dari pada mati karena bosan memainkan ponsel akan sedikit membantu ke gugupan nya di depan Rafa.
Rafa menyodorkan barang yang di butuhkan Ellia tanpa ekspresi, seperti biasa.
Dengan sedikit bergetar Ellia menerima powerbank dari Rafa ragu.
Entahlah Ellia sendiri tak mengerti, mengapa dirinya ragu dan selalu gugup saat berhadapan dengan Rafa.
Setelah ini Ellia akan berusaha supaya tak berurusan lagi dengan cowok ini. Ellia pikir dengan wajah datar Rafa cowok itu akan sangat galak. Tapi setelah kejadian tumpahan susu coklat itu membuat Ellia sedikit lega dengan sikap Rafa yang masih santai meski seragamnya kotor.
Tapi wajah cowok itu tetap saja sangat menyeramkan.
"Makasih!" cowok itu diam saja memainkan ponsel nya, tapi Rafa diam diam melirik gadis itu dari tempatnya.terlihat Ellia sudah mulai memainkan jarinya di layar ponsel.
Ellia membuka pesan dari Mama nya yang langsung muncul seketika ia membuka ponsel.
Ma2: pulangnya jangan malam malam!
^^^Iya,^^^
Juga beberapa pesan tak penting dari Aca yang sengaja di abaikannya. Paling paling gadis itu akan mengoceh tak jelas di chat juga beberapa VN yang tak berguna.
Ting!
Tiba tiba sebuah pesan masuk dari Alan.
Lalan:sorry ya gue gak bisa nganterin lo pulang.
Lalan: lo udah di rumah kan.
Lalan: udah sore, gue takut lo kenapa napa.
^^^EL: Gapapa^^^
^^^EL: Gue lagi di jalan.^^^
^^^EL: Ciee khawatir😋^^^
Lalan: geer. Siapa yang khawatir, gue cuma takut nanti kena jewer om Reynand lagi.
^^^EL: Alaah, gue tau lo beneran ^^^
^^^Khawatir kan.^^^
^^^EL:Lagian jeweran papa ^^^
^^^G^^^
^^^ak sesakit itu.^^^
^^^Lalan: serah lo dah^^^
"Hahahammpph!" tawa Ellia terhenti seketika saat cowok di depannya memasukkan sepotong makanan ke dalam mulutnya.
"Makan!" Rafa mendorong sepiring makanan ke hadapan Ellia yang tak disadari gadis itu kapan datangnya.
"Gue kan gak pesen," Ellia mengerutkan dahinya.
"Gue yang pesen!" kemudian Ellia mulai memakan makanannya dengan sedikit tidak tenang.
Sedang Rafa, sambil makan memerhatikan wajah Ellia yang terlihat masih seperti bocah.
"Gue selesai, ayo gue anter pulang!" Rafa hendak kembali mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan. Tapi ucapan Ellia menghentikannya.
"Eh bentar, itu makan lo belum habis, sayang tau kalo gak di habisin nanti juga cuma di buang, di luar masih banyak orang yang butuh makan. Kata Mama gak boleh menyia-nyiakan rezeki. Cepet abisin!" omel panjang Ellia bagai ibu yang mengomeli anaknya yang tidak menghabiskan makannya.
Gadis ini memang berbeda, sifatnya yang kadang kekanak-kanakan membuatnya terlihat seperti anak kecil yang polos. Ditambah ukuran tubuh nya yang pendek dan wajah yang seperti bocah. Kadang orang salah mengira Ellia masih SD. Gadis ini berbeda, kesederhanaannya membuat orang lain tak menyangka jika Ellia berasal dari keluarga ternama.
Tak salah jika Raka begitu cepat menyukai Ellia dan melupakan Naya. Dan Rafa makin tertarik pada Ellia.
.
.
.
.......
...BERSAMBUNG...