RaLia

RaLia
Penjelasan



Pagi menjelang. Seluruh keluarga Mahardika, Putra dan keluarga Aca berkumpul di meja makan besar untuk sarapan bersama sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Para pegawai hotel disana pun dengan hormat melayani mereka. Seperti peraturan yang ada, tidak ada satupun orang yang membuka suaranya selama makan. Dan selama itu pun Ellia sambil makan sambil memperhatikan seluruh orang yang ada di ruangan besar itu. Ia penarasan akan satu hal.


"Kamu cari siapa?" Tanya Roosie tepat setelah seluruh makanan yang disajikan habis. Wanita itu memperhatikan gelagat gadis itu sedari tadi.


Ellia gelapan. Ia ketahuan. "Eng... gak ada tan," jawab Ellia.


"Rafa gak ada. Dia udah pergi dari subuh tadi," ujar Raka mengerti apa yang gadis itu cari.


"Oh udah tau sekarang. Gimana? Masih gak mau nerima pernikahan ini?," kata Kakek Ellia mengangkat satu alisnya.


"Enggak git..."


"Baiklah Raka!, saya rasa cucu nakal saya ini sungguh tidak menginginkan pernikahan ini. Saya tidak memaksa, kalau kamu mau menyerah..."


"Kakek apa-apaan sih!" Potong Ellia membuat semua orang terkekeh.


Ellia merasa mood nya kembali down setelah tadi malam. Sekarang semua orang malah menggodanya. Gadis itu dengan lahap memakan sarapannya hingga membuat mulutnya membulat karena terus diisi dengan jumlah banyak.


Raka tersenyum geli melihat itu. Nana nya sekarang malah kembali berubah menjadi anak kecil lagi. Dalam keadaan kesal seperti itu, malah membuat gadis itu sangat menggemaskan.


"Setelah ini kita bisa langsung pulang ke rumah masing-masing. Pasti sudah sangat lelah kan setelah acara kemarin," ucap Reynand.


"Saya, Roosie dan Aca mungkin akan pulang nanti sore,"balas Ayah Aca.


"Ada masalah?" Tanya kakek Ellia.


"Nanti akan saya beritahu kabar baiknya,"Ayah Aca tersenyum misterius.


...⚘⚘⚘...


Ellia menyeret koper nya menuju mobil hitam yang terparkir didepan pintu lobby yang Raka sudah menunggunya disana.


Raka langsung berdiri seketika itu dan langsung mengambil alih koper dari tangan Ellia. Setelah meletakkan koper itu kebelakang, Raka kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.


Mobil sport itu pun melaju dengan kecepatan normal di jalan raya yang tidak begitu ramai disiang hari ini.


Ellia diam tidak menanyakan apapun, karena yang ia tahu mereka akan pulang. Mungkin ke rumah Mahardika atau rumah Putra. Gadis itu memejamkan matanya. Baru beberapa detik mata itu terpejam, sebuah sentuhan ditangannya membuat gadis itu kembali membuka mata.


Raka mengelus lembut tangan Ellia sambil menyetir. Raka menoleh sebentar dan tersenyum kepada gadis itu.


"Kamu pasti ngantuk. Aku tau semalam kamu gak bisa tidur. Sekarang tidur ajah!, nanti kalau udah sampe aku bangunin," semalam Ellia memang tidak bisa tidur, ia baru tidur pukul empat pagi karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang lain diatas ranjangnya. Apalagi orang itu adalah Raka, suaminya. Ellia awalnya kecewa mengetahui kebenaran itu semalam. Tapi sekarang apa yang harus membuat ia merasa kecewa kalau kebenarannya adalah Sasanya kembali dan tidak mungkin bisa pergi darinya lagi.


Ellia pun kembali memejamkan matanya, dalam waktu singkat gadis itu sudah terlelap. Raka masih terus menggenggam tangan yang lebih kecil dari tangannya itu, tidak sedetikpun ia lepaskan.


Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di sebuah pekarangan rumah besar yang menjadi tempat yang akan laki-laki itu isi dengan banyak kebahagiaan didalamnya.


Impian nya sejak kecil untuk menjadikan Nana hanya miliknya seorang kini terwujud. Raka berjanji akan menjaga dan mencintai gadis itu dengan nyawanya sendiri.


Mata biru itu perlahan mengerjap. Seketika Ellia bingung, dimana dirinya berada sekarang.


"Dimana ini?, kenapa berhenti disini?. Bukannya kita mau pulang," ucap Ellia memperhatikan sekitar rumah itu yang nampak cantik. Rerumputan hijau sangat segar dimata nya.


"Iya, kita pulang ke sini. Ini rumah kita. Aku udah mempersiapkan rumah ini untuk kita isi dengan kebahagiaan." Jawab Raka.


"Ayo masuk,"


Ellia memasuki rumah itu bersama Raka yang menyeret koper Ellia dibelakangnya. Gadis itu menatap kagum semua yang matanya tangkap. Suasana dan perasaan nyaman dari rumah itu seperti yang Ellia inginkan. Walau tidak sebesar rumah orang tuanya, tapi ada perasaan sejuk dihatinya begitu memasuki rumah itu.


"Suka?" Tanya Raka memperhatikan Ellia.


Ellia mengangguk semangat, "suka,"


"Yaudah, kamu bisa liat-liat dulu kalau gak cape. Aku mau ke atas beresin barang kamu," Raka pun pergi menuju kamar mereka untuk meletakkan barang dikoper Ellia ke tempat yang sudah ia sediakan.


Gadis itu melangkah mengelilingi setiap sudut rumah itu. Ellia terpaku ketika melihat halaman belakang rumahnya. Halaman belakang dengan taman dipenuhi berbagai macam bunga, tapi bunga mawar lebih dominan disana. Ellia sangat menyukai bunga mawar.


Ellia kembali melangkah dan berhenti di dapur. Dapur nya besar, bersih dan rapih. Membuka satu persatu rak dan lemari es, ternyata semua bahan dapur bahkan cemilan, kopi, teh, susu dan banyak lagi lengkap disana. Melihat oven dan mixer seketika Ellia terpikirkan cookies dan tiba-tiba menginginkan itu sekarang. Karena setiap ada waktu luang, Nandini selalu membuat kue kering itu.


Perlahan Ellia mengeluarkan satu persatu bahan yang diperlukan. Menuangkan butter, gula pasir, gula palem dan vanilla ekstrak ke sebuah wadah dan mengaduknya menggunakan mixer.


Karena lupa Ellia menuangkan tepung langsung dari bungkusnya bukan disalin ke mangkuk terlebih dahulu, ketika menuangkan tepung seseorang memeluknya dari belakang secara tiba-tiba membuat Ellia terkejut dan secara tidak sengaja tepung ditangannya terlempar dan berhamburan mengotori dapur.


Melepaskan tangan Raka begitu saja dari perutnya, lalu Ellia menjauh dan memilih membereskan kekacauan dari tepung itu. Lelaki itu menghela nafas, sejak semalam Ellia seperti ini. Diam jika ia tidak memulai pembicaraan terlebih dahulu. Raka yakin gadis itu belum memaafkannya.


Raka mendekat kembali pada Ellia. "Kamu masih belum maafin aku?"


Seketika kegiatan Ellia terhenti. Ia berbalik, berdiri di hadapan Raka dan mendongak menatap wajah lelaki itu.


"Lo tau kesalahan lo?" Raka mengangguk.


"Kenapa?"


"Aku bohong dan berpura-pura menjadi Rafa seperti saat Rafa berpura-pura menjadi aku, aku gak bermaksud. Tapi..."


"Kenapa?" Ulang Ellia semakin menatap tajam mata Raka sambil berkacak pinggang.


"A-apa?" Tanya balik Raka bingung. Ia tidak mengerti, kenapa Ellia nampak sangat marah.


Raka menunduk dalam. Lelaki itu tidak pernah menunduk seperti ini selain pada mendiang ibunya dan Ellia.


"Kalau aku gak nyelamatin kamu hari itu, aku mungkin akan kehilangan kamu dan itu adalah penyesalan terbesar buatku Na..."


"Dan dengan cara lo itu malah buat gue yang merasa sangat bersalah. Kenapa?" Potong Ellia.


"Aku cinta sama kamu Na. Bahkan perasaan ini udah ada sejak kita kecil. Saat pertemuan kita di SMA hari itu aku bahkan gak tau kalau kamu adalah Nana. Tapi aku langsung merasakan perasaan yang sama seperti saat kecil dulu ketika melihat kamu. Aku dulu pernah janji kan sama kamu, gak akan pernah pergi dari kamu. Meskipun aku pergi aku akan segera kembali.


Setelah aku kembali dari korea dulu, aku langsung berusaha buat cari kamu. Tapi liat kan, kita ketemu lagi. Aku gak akan bisa kalau kamu menghilang, aku gak akan sanggup kalau kamu terluka. Jadi biar aku ajah yang menghilang dan terluka, karena kalau kamu yang seperti itu. Kamu pasti akan sulit untuk kembali. Tapi aku sudah terikat janji sama kamu Na, jadi walau dengan mempertaruhkan nyawa aku akan berusaha untuk memenuhi janji itu," jelas Raka. Mengingat lima tahun belakangan ini, lelaki itu pun menyimpan rasa bersalah yang sangat besar. Rasa bersalah yang akan terus melekat didalam dirinya selama-lamanya.


"Maafin gue Sasa. Gue takut, gue takut kehilangan lagi. Setelah kehilangan lo dulu, gue kehilangan Sky, lalu kehilangan Janu. Melihat keadaan lo terakhir kali, rasa takut gue menjadi jadi. Lo menghilang, mau berapa kali lo terus menghilang?"


"Gue cinta lo Sasa. Dulu, sekarang dan besok. " ungkapan Ellia barusan membuat seluruh jiwa Raka terasa bergetar.


"Kamu maafin aku?" Tanya Raka pelan.


"Oke, tapi ceritain tentang lo yang menghilang lima tahun ini. Dan janji sama gue jangan pernah menghilang lagi," Raka terkekeh lalu menggandeng gadis itu untuk ikut pergi bersamanya. Menuju taman halaman belakang, menceritakan seluruh nya.


Kondisi Raka saat itu sangat kritis, bahkan hampir sekarat. Masalah pada jantung nya sudah sangat parah ditambah luka dalam yang diberikan Janu. Alvino membawa Raka ke Russia, menemui dokter terbaik dunia yang sedang berada disana. Sangat sulit mencari donor jantung di indonesia saat itu dan Raka membutuhkan dokter itu saat itu juga. Setelah dokter itu mengatasi Raka, jantung sangat dibutuhkan dalam waktu dua belas jam. Dengan segala persiapan yang matang Alvino dengan sukarela memberikan jantung nya pada sang putra yang selalu ia abaikan itu. Sebenarnya adalah, Alvino tidak membiarkan Raka membantu dan mempelajari soal perusahaan dan ikut didalamnya. Serta mengharuskan Raka selalu bersama Rafa, bukan untuk menjaga Rafa, ahli warisnya. Tapi Alvino ingin Rafa memegang hak Raka dan menjaganya, kondisi Raka tidak diharuskan untuk melakukan pekerjaan berat itu. Alvino menempatkan Raka selalu bersama Rafa agar supaya Rafa bisa menjaga Raka dan selalu bersama nya jika keadaan buruk terjadi. Alvino tau tanpa mempelajari tentang perusahaan darinya Raka sudah sangat mengerti tentang itu karena diam-diam Rafa memberikan pelajaran itu pada Raka.


Hak kedua putra kembarnya sudah dipersiapkan Alvino sejak lama. Sejak Lea, istrinya tiada Alvino sibuk dan mengabaikan rumah untuk mempersiapkan segala kebutuhan putranya. Alvino sudah berjanji pada Lea untuk menjaga putra kembarnya dengan baik. Keadaan Raka membuat Alvino merasa gagal dan tidak bisa memenuhi janjinya. Setelah semua hal yang dibutuhkan Raka dan Rafa terasa cukup. Alvino memberikan jantung nya pada Raka. Dia memenuhi janji nya pada Lea. Menjaga putra kembar kesayangan istrinya dengan baik.


Mengetahui apa yang telah dilakukan Alvino. Raka merasa sangat bersalah dengan sikapnya pada Alvino selama ini. Raka merasa sangat durhaka pada Alvino dan Lea. Pertama, kecelakaan yang menimpa mereka dulu di korea membuat Lea berkorban menjadi perisai didepan Raka dan membuat dirinya terluka parah hingga tiada. Namun karena kecelakaan itu juga membuat jantung Raka bermasalah. Kedua, karena sebuah kecelakaan juga membuat Alvino pun mengorbankan dirinya. Raka sudah menjadi penyebab kedua orang tuanya tiada. Sangat durhaka sekali dirinya.


Lima tahun Raka memulihkan tubuh dan hatinya. Tapi hanya tubuhnya yang membaik, tidak dengan hatinya yang terus dihantui rasa bersalah.


Ellia mendengarkan cerita Raka dengan hati berdenyut. Itu sebabnya saat acara pernikahan kemarin, hanya ada paman dan bibi Raka. Tidak ada Alvino.


"Kamu gak boleh terluka Nana. Aku gak mau rasa bersalah ku makin besar karena gak bisa melindungi kamu,"


"Aku janji Sasa, untuk tidak terluka dan terus berada di sampingmu," janji tulus Ellia.


"Ayo kita jalani hidup baru yang bahagia bersama!" Kata Ellia lalu berhambur ke pelukan Raka.


...⚘⚘⚘...


Di suatu ruangan VVIP hotel yang sama seperti kemarin. Aca duduk sambil menunduk menantikan apa yang direncanakan kedua orang tua nya.


Beberapa saat menunggu, orang tua Aca datang bersama sepasang suami istri dan seorang pemuda dibelakangnya.


Seketika perasaan Aca tidak enak. Gadis itu menatap orang-orang itu bingung.


Roosie duduk disamping Aca dan merangkul putrinya itu. Senyum lebar tidak pernah luntur dari wajah wanita itu.


"Ada apa si Ma?" Tanya Aca.


"Nungguin kamu bawa calon mantu buat Mama kelamaan. Mama mau kamu cepetan nikah, biar gak ngintilin Ellia terus. Kasian El nanti udah punya suami tapi masih kamu ganggu terus. Mama sama Papa udah mutusin buat nikahin kamu sama dia. Kamu gak boleh NOLAK!" Di kata terakhir Roosie menekan kata nolak.


"Sama dia?" Tunjuk Aca pada pemuda itu.


"Aca gak suka sama dia Ma. Aca suka sama orang lain," rengek Aca.


"Bawa dia kesini sekarang juga!"


Bagaimana bisa Aca membawa Dirga begitu saja. Bahkan Aca baru bertemu dengan lelaki itu kemarin malam setelah beberapa tahun tidak pernah bertemu lagi sejak lulus SMA. Ia dan Dirga pun tidak pernah akrab sebelumnya. Tapi rasa suka Aca pada Dirga sudah tidak bisa dihapus karena sudah ada sejak lama. Aca tidak yakin Dirga akan melihatnya bahkan atau mengenalnya. Mengingatnya pun mungkin tidak, lima tahun pasti membuat lelaki itu sudah mengenal banyak orang baru. Atau mungkin Dirga sudah mempunyai seseorang dalam hatinya.


"Kenapa?, gak bisa kan?" Kata Roosie.


"Mama gak mau tau, kamu harus nerima ini Aca!"


"Kamu terima kan nak?" Lanjut Roosie pada pemuda itu.


"Kami akan sangat beruntung bisa berbesan dengan kalian. Putrimu sangat cantik Roosie," ujar seorang wanita yaitu ibu dari pemuda itu.


"Tentu saja. Bukankah mereka sangat serasi?" Jawab Roosie.


Ibu dari pemuda itu mendekat pada Aca. Mengambil sebelah tangan Aca dan memakaikan sebuah gelang ditangannya. Dia sudah mengikat Aca dengan gelang warisan dari mertua nya. Itu artinya jika seorang ibu sudah memakaikan gelang warisan dari keluarga itu pada seorang gadis, maka dia sudah memilih menantunya.


"Kamu akan menjadi menantu Bunda. Ya kan Alan?" Wanita itu menoleh pada putra nya menanyakan persetujuan pemuda itu.


..."Iya Bun," jawab Alan singkat....


.......


.......


.......


.......


.......


...-BERSAMBUNG!...