RaLia

RaLia
Kalung.



Seorang gadis bermata biru itu sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia berdiri di depan cermin besar memperhatikan dirinya sendiri. Semua nya sudah rapih.


Di tatapnya lah benda yang menggantung indah di leher putihnya. Kemudian tangannya terangkat menyentuh benda itu, di usap nya liontin berbentuk mawar emas yang begitu indah menghias lehernya.


Kali ini entah kenapa dia ingin membiarkan kalung itu berada di luar seragamnya. Biasanya Ellia selalu menyembunyikan nya di balik baju.


Gadis itu tersenyum sambil meringis pelan mengingat apa yang tersimpan di balik kalung itu. Kenangan!. Kenangan yang begitu indah, yang tak mungkin hilang sampai kapanpun dari dalam hati Ellia.


Ellia mengambil tas nya di meja belajar lalu keluar dari kamarnya menuruni tangga menemui orang tua nya di meja makan.


Dan ternyata bukan orang tuanya saja yang ada di sana, seorang cowok yang sangat di kenalnya pun ada di sana.


"Pagi!" ujar Ellia menyapa tiga orang itu.


"Pagi!" jawab ketiganya kompak.


Ellia menarik kursinya di samping Alan.


"Mau sarapan pake apa sayang?" tanya Nandini mempersiapkan sarapan untuk puteri semata wayangnya.


"Nasi goreng ajah deh sama telur ceplok nya," jawab Ellia.


Nandini meletakkan piring dengan isi yang Ellia sebutkan di depan gadis itu.


Dengan lahap Ellia langsung menyantapnya. Rasa yang tak pernah membuat nya bosan meski Nandini sering memasak itu.


"Pelan-pelan kali El!" ucap Alan menghentikan suapan Ellia.


"Hehehe.." kekeh Ellia, lalu kembali memakan makanan nya dengan santai. Alan pun ikut terkekeh pelan melihat nya.


"Tumben kalung nya di keluarin," ucap Nandini memperhatikan Ellia. Biasa nya gadis itu tidak akan membiarkan kalung itu terlihat orang. Kalung itu adalah benda yang begitu beharga bagi putrinya itu. Ellia tidak ingin jika kalung itu terlihat bahkan hilang. Sejak dulu kalung itu masih tergantung cantik di lehernya, tidak pernah sekalipun dia melepasnya.


"Gak tau," jawab Ellia mengedikkan bahunya. Dia memang tidak mengerti, kenapa hari ini dia ingin mengeluarkan nya. Ellia ingin terus menatap kalung berliontin mawar emas itu. Rasa rindu nya akhir-akhir ini sangat besar. Hanya kalung itu lah penawarnya. Seakan akan dia hadir si hadapannya, memberi senyum manis dan menjaganya.


Ellia terdiam menatap kalung itu dalam. Rasa rindu ini tidak pernah bisa hilang. Mata birunya mulai berkaca-kaca.


Tangan besar terasa mengusap lembut bahu Ellia, gadis itu tersadar, dia mendongak menatap balik Alan yang tersenyum padanya.


"Ayo cepetan, nanti telat!" ucap Alan. Ellia menuruti Alan, bersegera dan berpamitan pada orang tuanya.


"Hati-hati Lan!" kata Reynand setelah memberikan tangannya untuk di cium Alan.


Alan mengangguk dan melangkah keluar bersama Ellia.


⚘⚘⚘


"Gak kenyang juga lo," heran Alan melihat Ellia yang kini tengah memakan roti coklat dengan sebotol susu coklat. Mungkin itu adalah pemberian Alan kemarin.


"Enggak, eeuuk..." Ellia terkekeh kecil dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.


Alan pun ikut terkekeh. Gadis itu menjawab dirinya tidak kenyang tapi lalu dia mengeluarkan suara sendawa yang tidak begitu keras.


"Ini nih istimewa nya, doyan banget manis tapi gak gendut-gendut," kata Alan.


"Iya dong, gue itu spesial," bangga Ellia lalu melanjutkan makan rotinya.


Mobil Alan terparkir rapih berjejeran dengan mobil milik siswa lain di parkiran sekolah. Dan pas sekali dengan roti yang di makan Ellia sudah habis.


Sebelum keluar dari mobil Alan, Ellia meneguk susu coklatnya lalu keluar menyusul Alan yang sudah di luar menunggunya.


Mereka berjalan beriringan di koridor yang mulai ramai. Setelah menaiki anak tangga hingga lantai tiga, Alan melambaikan tangan pada Ellia karena kelas mereka yang berlainan arah.


Ellia melangkah santai sambil berdendang pelan menyanyikan sebuah lagu. Matanya memperhatikan sekelilingnya yang sudah mulai ramai siswa siswi berlalu lalang. Mata nya terpejam sebentar menghayati lagu yang sedang dia senandungkan saat ini.


BRUKK!


tiba tiba dari arah depan ada seseorang yang menabraknya. Untung saja Ellia bisa mengendalikan keseimbangannya, jadi tidak ada adegan jatuh yang sangat memalukan.


Buru-buru Ellia menjauhkan tubuhnya, tapi ada sesuatu yang menyangkut hingga dia masih bertahan pada tempatnya. Ellia mendongak menatap orang yang lebih tinggi dari nya itu.


"Sorry," ujar cowok itu menatap dalam manik indah Ellia.


Keadaan mereka sekarang sangat dekat. Cowok berkaca mata itu merasa jantung nya berdegup kencang. Dia tau ini bukan karena penyakit nya. Ini terjadi saat berada di dekat gadis di hadapannya ini.


Ellia mengangguk sambil berusaha melepas kalung nya yang tersangkut di kancing seragam Raka. Kenapa tidak lepas juga!, batin Ellia terus berusaha melepasnya.


"Sini biar gue ajah, sorry sekali lagi, gue sambil baca buku soalnya tadi," ujar Raka mengambil alih menggantikan Ellia mencoba melepas tautan itu.


"Iya gapapa, bisa gak?" jawab Ellia. Raka terus mencoba melepakan kalung itu, tapi kenapa tersangkut seperti ini, hingga sulit di lepas.


"Bisa lo lepas dulu gak dari leher lo," Ellia terdiam memikirkannya. Selama ini dia tidak pernah melepaskan kalung itu, meski dalam kondisi apapun. Tapi apakah dia akan berada terlalu dekat dengan Raka seperti ini terus.


Sebenarnya Raka ingin terus berada sedekat ini dengan Ellia. Tapi melihat raut tidak nyaman di wajah Ellia, maka dia harus bisa melepasnya.


"Hey," Ellia kembali tersadar. Dia harus apa sekarang, apa Ellia harus melepas kalung berharga ini.


"Ah iya, bentar," jawab Ellia lalu melepas kan kalung itu dari lehernya perlahan, takut akan merusak benda terpentingnya itu.


"Hati-hati ya Rak, jangan sampai rusak," ucap Ellia lalu mundur menjauh sedikit dari tubuh Raka. Raka mengangguk dan mencoba melepas kalung indah itu dari kancing seragamnya.


Beberapa saat Ellia memperhatikan dengan serius Raka yang terus mencoba melepas kalung itu. Hingga berhasil, benda berwarna emas itu sudah lepas tanpa ada yang rusak sesikitpun.


"Makasih Rak," kata Ellia tersenyum ke arah Raka.


"Iya, gue yang maaf," jawab Raka.


Tapi karena pegangannya tidak terlalu erat pada benda itu, yang terjadi sekarang adalah kalung itu terjatuh ke lantai.


Dengan cepat gadis itu mengambil nya kembali tapi dengan cepat pula seseorang melewati tempat itu dan tidak sengaja menabrak tubuh Ellia, untung saja Raka langsung menangkap Ellia hingga gadis itu tidak terjatuh, namun kalung mawar itu yang terlempar dari tangan Ellia jatuh hingga ke lantai bawah.


Mulut Ellia terbuka lebar. Tidak!. "SKY,," teriak Ellia buru buru mendekati tembok pembatas.


Matanya memerah menandakan akan ada sesuatu yang akan meledak.


"LO!" teriak Ellia menunjuk cowok yang menabrak nya tadi.


Cowok itu bangkit dari jongkok nya karena mengambil earphone nya yang terjatuh.


Tak buang buang waktu Ellia mendekati cowok itu dengan langkah lebarnya. Tangan gadis itu terangkat menunjuk cowok itu dengan jari telunjuknya.


"LO KALO JALAN LIAT-LIAT DONG!!" pekik Ellia dengan mata memerah dan dada yang naik turun.


"Ya sorry, gue gak sengaja," jawab cowok itu tenang. Mata Ellia menatap nametag orang itu di seragamnya sebelum berlari menuruni tangga mencari kalung itu.


Air mata nya jatuh seiring langkahnya yang cepat. Raka melihat itu langsung mengejar Ellia.


Cowok itu tidak bisa berlari dari lantai tiga ke lantai bawah. Raka berjalan secepat mungkin menyusul Ellia.


Setiba nya di lantai bawah, mata nya menangkap gadis bermata biru itu kelimpungan kesana kesini merangkak di lantai berusaha mencari benda itu. Air matanya pun terus turun tak henti-henti, dia tidak peduli orang orang yang menatapnya aneh, yang penting barang kenangan itu ketemu.


"Sky ... Sky ... maafin aku," gumam gadis itu terus meminta maaf entah ke siapa sambil terus mencari kalung mawarnya.


Raka tak tinggal diam melihat Ellia yang begitu menyedihkan. Cowok itu pun mendekat dan membawa tubuh mungil Ellia untuk berdiri.


"Awas, gue mau cari kalung itu hiks...gue gak bisa kehilangan kalung itu hiks.." Ellia memberontak terus ingin mencari benda emas itu.


"Shuut tenang, duduk di sini dulu, biar gue yang cari ya..." ucap Raka lembut menuntun Ellia ke sebuah bangku yang tak jauh dari situ. Tangan Raka mengusap lembut kepala Ellia lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku celana nya dan memeberikan itu pada Ellia yang masih menangis sesegukkan.


Ellia mulai tenang, dan Raka yang bolak balik menatap ke seluruh tempat itu. Kolong bangku, bawah tangga, kesetiap sela sela kecil yang memiliki kemungkinan benda itu jatuh di sana.


Raka yakin kalung itu bukanlah kalung biasa. Pasti kalung itu sangat spesial bagi Ellia, jika tidak, gadis itu tidak akan menangis separah itu dan mencari kalung itu dengan keadaan yang begitu menyedihkan.


Ini salah nya, harusnya tadi dia berjalan dengan benar hingga tidak menabrak Ellia dan membuat keadaan seperti ini.


Bel masuk berbunyi menghentikan pencarian Raka yang tak membuahkan apa apa.


Cowok itu mendekat ke arah Ellia. Masih terdengar gumaman gadis itu di telinga Raka. Sedari tadi Ellia terus bergumam menyebut nama Sky dan maaf.


Raka yakin Sky adalah nama seseorang yang begitu penting bagi Ellia. Entah kenapa Raka merasa sesuatu yang aneh. Siapa Sky!, batin Raka.


"Maaf ... Sky,"


"Sky,"


"Sky,"


Racau gadis itu seakan tidak menyadari dirinya sendiri.


"Ayo El, sebaiknya lo istirahat di uks ajah, nanti biar gue cari lagi ya," bujuk Raka merangkul tubuh mungil Ellia membawa nya ke uks, tidak mungkin gadis itu bisa masuk kelas dengan keadaan yang tidak baik baik saja.


"Gak mau, gue mau Sky, lepasin gue,"


"Kalo lo gak bisa cari, biar gue cari sendiri..." Ellia terus memberontak. Tenaganya begitu kuat mendorong Raka menjauh. Tapi cowok itu terus bertahan semakin erat merengkuh dan membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapan nya.


Tenaga Ellia semakin lemah dan kemudian pasrah membenamkan wajahnya di dada Raka.


Cowok berponi rapih itu mengelus kepala Ellia hingga gadis itu diam tak memberontak lagi. Hanya ada isakan tangis yang yang masih terdengar, juga suara Raka yang berusaha menenangkan Ellia.


"Tenang, tenang Ellia. Kalung lo bakal baik-baik ajah, tenang ya!" suara lembut Raka masuk ke dalam telinga Ellia membuat gadis itu semakin tenang. Dekapan hangat Raka begitu nyaman membuat Ellia semakin tenang dan kembali dapat mengendalikan dirinya.


"Shut... gapapa tenang ajah ya, nanti gue sama temen-temen gue bakal cari sampe ketemu."


"Ayo El,"


Tiba tiba seorang guru wanita paruh baya menghampiri mereka.


"Ellia kamu kenapa?" tanya guru itu melihat kondisi lemas Ellia di dekapan raka.


"Ellia lagi gak enak badan buk, saya mau bawa dia ke uks," jawab Raka sopan pada guru itu.


"Yaudah, abis itu kamu langsung pulang ajah ya El abis istirahat, biar Raka yang ngurus surat izin ke kantor," kata guru itu di angguki pelan Ellia.


"Minum obat dan istirahat yang cukup, jangan sampai sakit ya, ibu pergi dulu," kata guru itu sebelum pergi meninggalkan dua remaja itu.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.