RaLia

RaLia
War?



Tuk... tuk... tuk..


Dengan bosan Ellia mengetuk ngetukkan jari telunjuknya ke meja sambil memperhatikan tanpa mendengarkan apa yang guru nya jelaskan di depan.  Kedua telinganya pun tersumbat earphone dengan musik lumayan kencang. Kepala nya sesekali mengangguk seakan paham dengan apa yang di terangkan guru. Padahal ia sedang menikmati alunan musik.


Melihat guru itu berberes, buru-buru Ellia melepas earphone dari telinga nya lalu menjawab salam guru itu dengan semangat nya. Esther yang duduk di samping gadis itu menggeleng-geleng melihat kelakuan Ellia. Setelah guru itu hilang di balik pintu, suara bel pun terdengar membubarkan murid-murid itu seketika.


"Cus, kita meluncur ke kantin!" Ujar Ellia semangat, merebut buku di tangan Esther meletakkannya sembarang di atas meja lalu mendorong kursi roda Esther keluar kelas.


"TUNGGU!" Teriak Aca merasa iri pada Esther. Semenjak ada cowok itu Aca sering di tinggal oleh Ellia. Gadis itu pun berlari mengejar dua orang itu.


Dua langkah lagi mencapai Ellia, Aca menarik bahu Ellia hingga gadis itu berbalik. Ellia menatap bingung Aca yang berada di hadapannya ini sedang menatap dirinya tajam. Gadis bermata biru itu mengangkat ke dua alisnya membalas tatapan Aca. Ellia kembali di buat bingung saat mata Aca yang menyorotkan tatapan tajam berubah berkaca kaca, lalu jatuhlah setetes cairan bening dari sana.


"Ellia ih. Kenapa sih gue di tinggal terus?. Sejak ada Esther lo ngelupain gue, terus ajah di tinggal. Abis gue di suruh pindah bangku, terus di lupain. Gue salah apa huaa.." Aca menangis sambil kaki nya menghentak hentak di lantai seperti anak kecil.


Hampir saja tawa Ellia meledak saat itu juga, tapi ia tahan tidak tega pada wajah menderita Aca. Ada sedikit rasa bersalah juga di dalam diri Ellia mengabaikan Aca akhir akhir ini. Kehadiran Esther mengalihkan dirinya, sampai sampai Aca si gadis sok galak itu merasa cemburu hingga menangis seperti ini.


Ellia mengusap pipi Aca yang basah, lalu menarik pipi itu kuat kuat membuat sang empu memekik. Gadis bernetra biru itu terkekeh.


"Iya iya maaf Aca ku. Gue gak bakal ulangin. Sekarang kita ke kantin barengan ajah yuk, terus nanti pulang sekolah kita jalan gimana?" Bujuk Ellia langsung menimbulkan senyum cerah di wajah Aca.


"Bener ya, janji!" Ellia mengangguk. Kemudian mereka bertiga melanjutkan kembali perjalanan nya menuju kantin.


"Kalian tunggu ya, biar gue yang pesen makan," ucap Ellia setelah mereka mendapatkan meja yang kosong.


Gadis itu pergi mendekat ke arah kerumunan Siswa yang sedang mengantri pesanan di depan sana. Terlihat sangat sesak, membuat Ellia berdiam dulu di bagian paling belakang. Beberapa saat kemudian setelah terlihat sedikit renggang, Ellia mulai menerobos sedikit demi sedikit ke depan. Dari arah depan, seseorang berbalik setelah mendapatkan makanan nya. Barisan pun semakin merenggang membuat Ellia tidak terasa pengap lagi. Seseorang lainnya lagi berbalik dengan mangkuk dan gelas berisi makanan dan minuman di tangannya. Orang itu melirik ke arah Ellia sebentar lalu perlahan melangkah mendekat. Posisi Ellia sedang menolehkan kepala nya kearah kiri berlawanan dari arah orang itu yang sudah semakin dekat.


Tiba tiba seorang cowok menerobos dan berdiri tepat di tengah tengah Ellia dan orang itu, sehingga kuah bakso yang masih sangat panas yang seharus nya mengenai Ellia jadi mengenai punggung cowok itu. Suara pecahan mangkuk pun seketika mengalihkan fokus beberapa orang ke sumber suara.


Ellia membelalak terkejut melihat apa yang terjadi di depannya yang bersamaan dengan ia menolehkan kembali kepalanya. Orang tak di kenal itupun seketika melarikan diri menghilang begitu saja dari tempat itu.


"Raka!"


Jantung gadis itu seketika berdegup kencang melihat posisi Raka yang begitu dekat dengan nya. Gadis itu ikut meringis saat cowok di depannya itu meringis kecil merasa perih di punggungnya. Buru buru Ellia menarik tangan Raka dan membawa cowok itu segera keluar dari kantin menuju ke UKS. Raka menurut saja mengikuti kemana gadis itu menariknya pergi. Dengan wajah datar nya yang masih sama seperti tadi pagi.


Ellia menggiring Raka untuk duduk di salah satu tempat tidur di sana. Dengan panik Ellia langsung mencari kotak obat di sana dan kembali menghampiri Raka yang menatapnya dalam diam sedari tadi.


"Gue obatin ya. Em... boleh buka dulu baju lo gue mau liat luka nya!" Ucap Ellia gugup meminta cowok itu melepas kemejanya.


Tanpa menjawab ucapan Ellia, Raka langsung melepas satu persatu kancing seragamnya dan langsung berbalik memunggungi Ellia guna memperlihatkan luka nya.


Ellia meneguk saliva nya susah payah melihat punggung kokoh tanpa penutup Raka terpampang jelas di depan mata nya. Perlahan lahan Ellia mengusapkan kapas yang sudah di beri alkohol ke luka memerah yang lumayan besar di punggung Raka. Setelah itu baru ia oleskan salep. Ellia heran, kenapa sedari tadi Raka tak juga berbicara.


"Sakit gak?" Tanya Ellia di jawab gelengan kepala oleh Raka. Cowok itu mengenakan kemeja nya kembali dan berbalik badan berhadapan dengan Ellia.


"Selamat!" Ucap Raka menatap sepasang mata indah Ellia.


"Hah?" Ellia tidak mengerti.


"Selamat buat pertunangan lo sama Rafa," kata Raka memperjelas kebingungan Ellia.


...🍃🍃🍃...


Pada jam pulang sekolah. Semua siswa berbondong-bondong keluar dari gerbang utama sekolah yang di buka lebar. Ada yang mengendarai mobil atau motor, juga ada yang berjalan kaki menuju halte depan dan juga menunggu jemputan. Sebagian besar dari perempuan yang melewati gerbang menyempatkan diri nya untuk memandang atau melirik sekelompok cowok tampan yang berdiam tepat di depan gerbang bersama kendaraan mereka masing-masing. Siapa lagi jika bukan Rafa dan teman-temannya. Pesona Rafa dan Robi yang lebih mendominasi pekikan tertahan beberapa perempuan.


Para cowok itu tetap bertahan di depan gerbang menunggu Rafa yang kata nya sedang menunggu seseorang. Dengan tingkah konyol nya, Anan sekali-kali menggoda perempuan yang melewati mereka. Dan tak jarang pula para perempuan itu ada yang salah tingkah.


"Kamu bisa peluk babang Anan yang tampan ini sepuas hati kalo kamu mau pulang sama aku. Hayuk, mau gak?. Enggak ada loh cewek yang pernah duduk di jok belakang aku." Goda Anan mengedipkan sebelah mata nya pada seorang gadis manis yang sudah memerah pipi nya sejak awal di goda cowok itu.


"Ayo pulang!"


"Iih abang apaan sih,"


Cowok itu tetap terus menarik gadis yang berstatus adik nya itu pergi menjauhi cowok macam Anan.


Gelak tawa langsung terdengar dari Robi, Dirga dan Raka. Anan kembali mendekat ke arah teman teman nya dengan wajah masam.


"Itu cewek manis banget. Keliatan polos lagi. Sayang pawang nya galak." Ujar Dirga.


"Sial. Baru pertama ketemu kenapa gue langsung deg degan gini," ucap Anan menyentuh dadanya.


Sungguh. Niat nya tadi hanya iseng-iseng saja menggoda beberapa perempuan yang lewat. Tapi cewek yang barusan, entah kenapa memberi dampak yang begitu aneh pada jantung Anan. Gadis itu sangat manis, pipi memerahnya sangat menggemaskan di mata Anan.


"Gas bos!, siapa nama nya?" Kata Robi.


Anan mengingat ngingat name tag gadis itu. Shelva!. Ya nama nya Shelva. Cowok itu tersenyum lebar.


"Shelva. Gue jamin tuh cewek bakal jadi milik gue."


Bersamaan itu seseorang yang di tunggu Rafa akhirnya datang. Gadis yang berstatus tunangan Rafa itu menghampiri Rafa berdiri tepat di hadapan laki laki itu.


"Lo pulang sama sopir gapapa kan?, dia udah nunggu di depan halte. Gue ada urusan sama Papa soalnya." Ucap Rafa.


Ellia mengangguk, tersenyum pada cowok itu.


"Iya gapapa. Gue pulang ya, lo hati-hati!" Jawab Ellia.


Tangan Rafa terangkat mengusap kepala gadis itu. "Iya, bilang sama sopir nya jangan ngebut!"


Ellia mengangguk dan berjalan pergi menghampiri mobil yang sudah menunggu nya di depan halte.


Tanpa pamit atau bicara apapun, tiba-tiba Raka pergi begitu saja menuju mobil nya di dalam gerbang dan meninggalkan teman temannya begitu saja.


Anan, Robi dan Dirga menatap kepergian Raka bingung. Ada apa dengan cowok itu. Rafa menghela nafasnya mengerti dengan apa yang terjadi. Ia hanya bisa membiarkan Raka sendiri beberapa saat sampai ia harus bicara pada kakak kembar nya itu.


"Ayo balik!" Kata Rafa. Sebenarnya urusan Rafa dengan Papanya masih satu jam lagi. Tapi cowok itu ingin mampir dulu ke markas Bharta.


Sedang santainya mereka mengendarai motor nya masing-masing sambil menikmati  suasana jalan sepi yang sengaja mereka lewati supaya lebih cepat sampai ke markas. Segerombol laki-laki dengan motor besar mereka tiba-tiba datang dari depan dan menghalangi jalan Rafa dan kawan-kawan. Mereka mengepung anggota inti Bharta itu di seluruh penjuru arah.


Anan turun dari motor di ikuti teman-temannya. Menatap seorang cowok yang memimpin para penghalang itu.


"Mau apa lo?" Tanya Anan sarkas.


"Mau gue. Mau gue adalah kalian berhenti dan jauhin Lucifer!. Ini adalah masalah kami, orang luar kaya kalian gak di harapin buat ikut campur." Jawab cowok yang sangat mereka tau itu.


"Dan ngebiarin orang yang gak tau apa apa  jadi korban atas ambisi gila lo itu?, gak bisa. Sekarang lo minggir dari hadapan gue!" Balas Anan.


Cowok di hadapan Anan mengangguk anggukan kepala nya sambil tersenyum miring. Kalau begini, berarti dirinya akan mendapat keuntungan lebih. Seperti... buy 1 get 1.


"Oke kalo kalian masih mau ikut campur juga. Lusa jam sepuluh malam, kasih tau temen-temen lo itu!" Kata cowok itu. Kemudian mereka berbalik dan meninggalkan tempat itu.


Anan sudah mengerti dengan apa yang di maksudkan orang itu. Mereka pun juga melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda itu.


...-BERSAMBUNG-...