
Pagi ini berbeda dengan pagi sebelum nya, jika biasa nya Ellia berangkat sendiri atau dengan sopir, terkadang dengan Reynand atau Alan. Pagi ini gadis itu duduk tenang di kursi penumpang samping kemudi yang di samping nya terdapat cowok dingin yang di idolakan cewek SMA Mandala, Rafa.
Cowok itu pagi pagi sekali sudah nangkring di meja makan nya sambil berbincang dengan Nandini dan Reynand.
Sejak Rafa tahu bahwa Ellia adalah Nana nya, sikap cowok itu berubah sangat lembut pada Ellia, mudah tersenyum, sama seperti saat dulu mereka kecil.
Mobil sedan putih Rafa berhenti dengan rapih di parkiran sekolah, teman teman Rafa pun langsung menghampirinya dari parkiran motor. Mereka bingung saat Ellia keluar dari mobil Rafa. Ellia yang di tatap seperti itu menunduk merasa tidak nyaman.
"Gue ke kelas duluan!" Pamit Ellia langsung pergi.
"Na!" Panggil Rafa menghentikan langkah gadis itu.
Ellia menoleh "kenapa?" Tanya Ellia.
Rafa merogoh sesuatu dari saku hoodie nya, lalu memberikan benda panjang manis itu pada Ellia.
"Coklat!" Dengan semangat gadis itu menerima coklat itu. "Makasih," ucap Ellia tersenyum lebar pada Rafa.
Cowok itu mengangguk sambil membalas senyuman Ellia. Kemudian gadis itu pun pergi dengan riang gembira memeluk coklat pemberian Rafa, melihat itu Rafa pun tersenyum senang sekaligus gemas.
Di belakang cowok itu, Raka menatap adik kembarnya dan gadis yang di sukainya dengan tatapan aneh, sikap Rafa pada Ellia hari ini sangat berbeda dari sikap nya kemarin kemarin. Ada sesuatu yang meledak ledak di dadanya melihat Ellia sangat bahagia mendapat coklat dari Rafa, dan wajah adik nya itu yang nampak berseri seri.
Berusaha menampik pikiran buruk, Raka mendekati Rafa dan menepuk pundak cowok itu. "Ada apa nih?, gue kelewat sesuatu?" Ucap Raka.
"Wiis, Ellia nih yang baru, " goda Robi.
Anan bersiul menggoda " ternyata ini alasan lo putusin semua pacar lo, PJ lah!" Kata nya.
Wajah Rafa kembali dingin, menatap Raka yang nampak menyembunyikan sesuatu.
"Gue gak ada apa-apa sama tuh cewek," kata Rafa menimbulkan wajah masam dari teman temannya, terutama Anan.
"Gak jadi PJ dong," kata Anan.
"Terus kenapa bisa berangkat bareng?, terus coklat tadi?" Tanya Dirga.
"Mogok," Dirga mengernyit tidak mengerti.
"Apa nya yang mogok? Yang bener bego lo kalo jawab," kata Robi berdecak.
"Mobil dia mogok di jalan," jawab Rafa lalu meninggalkan mereka begitu saj.
"Terus coklat nya?" Teriak Anan mengejar cowok itu tang berjalan cepat memasuki koridor.
"Alan titip," bohong Rafa lagi tidak ingin membuat Raka berpikir buruk.
Mendengar jawaban Rafa, cowok berkaca mata itu pun merasa sedikit lebih tenang.
Selama ini Rafa tidak begitu peduli pada perempuan sehingga memberikan barang dengan inisiatif tanpa di minta perempuan itu, Rafa tidak pernah membelikan barang untuk pacar nya jika tidak di minta oleh pacarnya itu, dan dengan tidak tahu malu nya, perempuan perempuan itu terus saja meminta minta dengan manja pada Rafa.
"Kalian duluan!, gue mau ke ruang musik," pamit Raka lalu berbelok ke arah berlawanan dari teman temannya berbelok.
^^^Hari ini bisa latihan El?^^^
Raka membuka ponsel nya mengirimi pesan pada Ellia. Beberapa detik kemudian pesan itu terbalas.
Bisa kok, jam berapa?
^^^Pulang sekolah ajah, ^^^
^^^Lo langsung ke ruang musik!^^^
Oke!, siap bos hehe...
Raka tersenyum membayangkan wajah manis menggemaskan milik gadis itu.
...⚘⚘⚘...
Permainan keyboard Raka berakhir, begitu juga suara indah Ellia. Sudah satu jam mereka latihan, tidak buruk, hanya ada sedikit perdebatan saat Ellia salah mengambil nada.
"Lo hebat banget ya soal musik, bisa ngajarin gue sampe gue bisa, lanjut lagi yuk," ujar Ellia semangat.
Raka terkekeh, "biasa ajah kali, kan emang tugas gue sebagai ketua ekskul ngebimbing para anggotanya,"
Ellia tersenyum dan berjalan mendekati tempat Raka duduk. Jari tangannya jahil menekan tuts keyboard di sertai senyum bahagianya. Sesekali gadis itu tertawa senang saat tekanan yang di lakukan jarinya menimbulkan suara tidak beraturan. Raka ikut tertawa kecil melihat tingkah Ellia yang seperti anak anak itu. Menggemaskan. Wajah manis dengan mata biru yang sangat bersinar itu tepat berada di samping Raka, cowok itu begitu menikmati pemandangan indah ini, Raka sangat kagum dengan makhluk ciptaan tuhan yang satu ini. Saat dirinya merasa terpuruk dengan keadaan jantung nya, Raka selalu berpikir bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, Raka selalu menantikan hari itu tiba, tapi kehadiran gadis ini, membuat pikiran Raka berubah, ia ingin hidup lebih lama lagi, untuk menikmati hari harinya bersama gadis ini.
"Hihi, udah yuk main nya, katanya mau lanjut?" Kata Raka menyentuh tangan Ellia menghentikan kegiatan seru gadis itu.
"Hehe, sekarang gantian, lo yang nyanyi, dan gue yang main alat musik nya,"
"Emm... gue main gitar ajah ya," Raka mengangguk menuruti keinginan gadis itu.
Ellia beranjak dari tempat Raka dan mengambil tempat di tempat sebelumnya setelah mengambil sebuah gitar yang terletak di sudut ruangan.
"Falling, Trevor daniel," Ellia mengangguk dan mulai memetik senar gitar nya.
Dengan tetap fokus pada permainan gitarnya, Ellia sambil memejamkan matanya manikmati suara merdu Raka. Sangat menenangkan, tidak salah jika cowok itu menjadi ketua ekstra musik. Setiap nada dan bait yang di nyanyikannya sangat menyentuh jiwa. Siapapun yang mendengarnya akan merasakan bahwa itu bukan sekedar nyanyian, tapi juga sebuah ungkapan rasa yang sebenarnya.
Tanpa di sadari gadis itu, sambil bernyanyi, Raka juga menatap lekat lekat wajah Ellia yang terlihat sangat menyukai nyanyiannya. Gadis ini pun sangat hebat, dengan memejamkan matanya sambil menikmati nyanyian, gadis itu masih bisa memainkan gitarnya dengan baik.
"Tear me up inside, and you break me down
Tear me up inside, and you break me down"
Hingga berakhirnya nyanyian Raka, tak sedikitpun cowok itu memalingkan mata nya dari Ellia, hingga gadis itu membuka matanya kembali, barulah Raka mengalihkan pandangannya.
Ellia menaruh gitar yang di pegang nya di samping bangku yang ia duduki, lalu gadis itu bertepuk tangan dengan kencang sambil tersenyum lebar ke arah Raka.
"Bagus banget," pujinya.
"Gue ada sesuatu buat lo," ucap Raka sambil merogoh sesuatu dari saku jaket nya.
Raka menyodorkan benda dengan bungkusan warna ungu berbentuk persegi panjang pada Ellia.
"Coklat?, makasih," dengan senang hati Ellia menerima coklat itu, benda manis itu sama sekali tidak bisa untuk di tolak.
"Karena lo udah bagus banget di latihan pertama ini, jadi itu adalah sebagai hadiah dari gue," kata Raka tersenyum senang melihat Ellia sangat bahagia memakan coklat pemberiannya.
"Enak, pulang yuk udah sore," kata Ellia melihat waktu dari jam tangan hitam di pergelangan tangannya.
Raka mengangguk dan mulai merapihkan barang barangnya. Buku, pena, dan beberapa kertas di masukkan ke dalam tas nya.
"Pulang gue anter ya," Ellia berpikir sebentar, lalu mengangguk menyetujui.
Selama perjalanan tidak ada obrolan apapun selain suara merdu mereka yang bernyanyi mengikuti lagu yang berputar di radio mobil Raka. Mereka berdua hanyut di dalam dunia lagu itu, hingga mereka merasakan makna dari lagu yang sedang berputar itu.
Lagu dari Devano Danendra-Lovin U, menghiasi perjalanan mereka hingga Raka menghentikan mobil nya di depan sebuah kedai. Mata Ellia seketika membola dengan binar kebahagiaan di manik biru itu saat tahu bahwa itu adalah kedai Es krim.
Raka menyuruh Ellia untuk turun dan mengikutinya memasuki kedai dan memilih sebuah meja yang di inginkan Ellia sedangkan Raka sedang memesan.
Setelah menunggu, semangkuk Es krim coklat dengan topping bermacam macam muncul di depannya bersama Raka yang menduduki kursi di depan Ellia dengan Es krim vanila porsi sedang milik cowok itu.
Ellia memandangi Es krim itu terlebih dahulu sambil menahan air liur nya yang akan menetes. Ah sudah lah dirinya sudah tidak tahan lagi. Dengan lahap dan penuh sukacita Ellia memakan Es krim yang dengan beribu godaan nya itu tidak membiarkan Ellia melepas nya sedetikpun.
Oh Tuhan, inikah surga dunia?, begitu nikmat tiada tara.
"Suka?" Tanya Raka yang menatap kegiatan gadis manis di depannya itu, bahkan Es krim miliknya pun tidak tersentuh hingga sedikit mencair, manis nya es krim vanila itu tidak bisa mengalahkan gadis manis di hadapannya ini.
Ellia mengangguk antusias dan terus melahap Es krim miliknya.
"Itu adalah hadiah ke dua dari gue,"
"Makasih, ini bener-bener luar biasa," Raka terkekeh gemas dengan gadis satu ini, rasa nya ingin memakan Ellia saat ini juga.
"Masih kurang?" Tanya Raka menggoda.
"Emang boleh?" Tanya Ellia polos.
"Boleh," Ellia berpikir sebentar. Hari sudah mulai senja, tadi pagi ia habis memakan coklat dari Rafa, lalu traktiran Milkshake coklat dan Lollipop dari Alan saat waktu istirahat tadi di sekolah, lalu coklat pemberian Raka serta Eskrim penuh coklat dari Raka saat sore hari. Ingin sekali Ellia menambah Es krim nya lagi, tapi pasti nanti Mama nya akan marah karena ia sudah cukup banyak makan makanan manis hari ini. Sudah lah pasti Nandini tidak akan tahu, tapi... setelah ini pasti dirinya akan merasa sakit perut dan Nandini pasti langsung tahu apa yang di perbuat Ellia.
"Enggak deh, nanti Mama marah, pulang ajah yuk!" Jawab Ellia murung.
"Beneran gak mau nambah?" Tanya Raka sekali lagi
"Iya, nanti sakit perut terus di marahin Mama deh, mending pulang ajah yuk," Raka mengangguk dan menggenggam tangan Ellia membawa gadis itu kembali ke mobilnya.
"Emm latihannya kapan lagi? Acara pensi udah deket kan?" Tanya Ellia dengan sebatang Lollipop di tangannya. Entah lah Ellia tidak bisa tahan saat melihat masih ada satu Lollipop lagi di dalam tasnya.
"Lusa gimana?" Ellia mengangguk setuju.
"Boleh tanya?" Ucap Ellia meminta izin.
"Tanya ajah," jawab Raka masih terus fokus pada jalan raya.
"Lo beneran salah satu anggota geng Bharta?" Raka menoleh sejenak.
.
.
.
Bersambung.