
Karena hari libur taman bermain yang di datangi Rafa dan Ellia nampak ramai. Cuaca siang ini sangat bagus, sangat mendukung keadaan. Matahari yang tidak terlalu terik dan hembusan angin sepoy sepoy membuat Ellia setuju dengan ajakan Rafa untuk main. Jika cuaca nya seperti memarin kemarin yang mana matahari sangat terik maka Ellia akan lebih memilih tidur di ranjang empuknya, menyalakan AC, lalu saat bangun tidur ditemani cookies coklat dan susu coklat dingin. Dan sore harinya menyantap Cupcake buatan Mama Alan yang selalu mengirimkan makanan kegemaran keluarga Mahardika itu tiap sore hari di hari libur.
Tapi khusus hari ini, gadis itu ingin bersenang senang bersama sahabat kecil nya. Bermain dan membeli makanan dengan bebas.
Ellia terdiam, membeku, membatu, melongo melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya itu. Gadis manis itu melompat-lompat kegirangan sambil bertepuk tangan bahagia. Ellia menyukai ini, stand beraneka makanan berjejer rapi di sisi taman. Semua makanan kesukaan Ellia ada di sana.
Pikiran Ellia terbang ke masalalu saat melihat sebuah ayunan besi bewarna merah muda di bawah pohon di sudut taman bermain. Ellia tersenyum lalu menarik tangan Rafa untuk mengikutinya menghampiri ayunan itu.
"Ayo dorong Sa!" Ujar Ellia setelah nyaman dengan posisi duduk nya di ayunan itu.
Tanpa aba-aba Rafa mendorong ayunan itu dari mulai pelan hingga dengan jahil nya kian kencang membuat Ellia memekik sambil memegang tali rantai ayunan itu dengan kuat. Rafa terkekeh terus mendorong ayunan itu lebih kencang di iringi teriakan Ellia.
"SASAA!, UDAH JANGAN KENCENG KENCENG! NANTI GUE MENTAAL, HUAA!" Teriak Ellia memegang erat erat tali rantai takut tubuh nya terpental.
Tak tega melihat Ellia yang sudah lelah berteriak, Rafa pun menghentikan ayunan nya dan berjongkok di hadapan Ellia yang sedang memegangi dada mengatur nafasnya.
Dengan gemas Ellia terus memukul Rafa, tidak tahu apa jantung nya hampir copot. Bagaimana jika tubuh nya terpental dan jatuh?.
Ellia bangkit dan menatap tajam Rafa.
"Dasar nyebelin!" Lalu gadis itu melenggang pergi entah kemana.
Rafa tersenyum memandangi punggung Ellia yang semakin menjauh dan kemudian hilang di balik orang orang yang berlalu lalang.
Cowok itu berdiri lalu duduk menempati ayunan yang tadi di duduki Ellia. Rafa duduk tanpa menggerakkan ayunan itu.
Sekilas melintas wajah Raka dalam pikirannya. Memikirkan Raka, apakah ia harus memberitahu Raka semua ini, tapi jika ia memberitahu Raka maka keinginan nya selama ini tidak akan terjadi. Bukan tidak ingin memberitahu, Rafa pasti akan memberitahunya tapi tidak sekarang.
Rafa menghela nafas lalu bangkit dan memilih mencari Ellia. Entah kemana gadis itu pergi, tubuh nya yang mungil akan membuat orang bisa berpikir dia adalah anak SMP. Bisa bisa di kira anak hilang nanti.
Rafa celingak-celinguk mencari keberadaan gadis itu. Di lihatnya lah sosok yang di carinya sedang duduk di sebuah kursi panjang dan di kelilingi anak-anak kecil yang melingkar di sekitar gadis itu. Di pangkuan gadis itu pun nampak ada beberapa permen, coklat dan lollipop.
Rafa menghampiri Ellia dan langsung duduk di samping gadis itu, memperhatikan apa yang gadis itu lakukan.
Ellia tersenyum lebar menatap anak-anak yang dengan lucu nya mengunyah permen mereka.
"Oke, sekarang siapa yang mau lollipop?" Tanya Ellia, seketika anak anak itu mengangkat tangan mereka dan mulai ribut.
"Siapa yang bisa bikin wajah lucu bakalan kakak kasih lollipop, ayo siapa yang paling lucu!" Ellia tertawa melihat anak-anak itu menunjukkan wajah lucu mereka masing-masing. Ada yang memanyunkan bibir sambil mengembungkan pipi, juga ada yang memeletkan lidah sambil menarik hidung nya ke atas hingga dengan jelas memperlihatkan lubang hidung nya.
"Oke, Vira dapat satu lollipop yey!" Seru Ellia memberikan lollipop berukuran sedang pada anak perempuan yang sangat manis itu.
"Iih padahal Lio kan udah lucu, ganteng lagi, kok Lio dak dapat sih?" Gerutu seorang anak laki-laki gembul yang sangat menggemaskan. Pipi bulat, mata hezel bulat, dan perut gembul, mirip seperti kucing anggora gemuk milik Aca.
"Rio mau juga?, kan itu permen nya belum habis," karena anak itu cadel jadi Ellia yakin jika nama bocah itu adalah Rio. Sangat cocok.
"Lio mau itu kakak cantik," tunjuk anak itu pada coklat panjang di pangkuan Ellia.
"Mau ini?" Bocah itupun mengangguk.
"Coba ngomong 'Er' bisa gak?" Tantang Ellia menangkat sebelah alis nya.
" 'El' tuh kan Lio bisa," Rafa menggeleng.
" 'Er' Er i ri o Rio! Bisa gak!" Sekarang Rafa juga ikut-ikutan mengganggu bocah itu dengan mengajarkan anak itu mengeja namanya sendiri.
" El i li o Lio! Bisa kan, mau itu abang!" Rengek anak itu menunjuk coklat yang dengan jahil nya Ellia angkat tinggi tinggi dan berpura pura akan di berikan pada anak lain.
"Nama kamu Rio kan?" Tanya Rafa mengusap lembut rambut lebat hitam anak itu.
Anak itu menggeleng "bukan! Nama aku itu Lio bukan Lio tau!"
"SIAPA YANG MAU COKLAT!" teriak Ellia sontak Rio melompat ke pangkuan Ellia mencegah siapapun mendapatkan coklat itu sebelum dirinya.
"Bental dulu kakak, Lio bisa kok nomong 'El' nih dengelin ya!, 'El I Li O LIO' ,tuh kakak dengel kan," lagi-lagi bocah itu mengeja nama nya sendiri dengan bangganya.
"Ah Rio payah, masa kalah sama Vira sih, Vira perempuan loh udah bisa ngomong 'ER' masa Rio laki laki gak bisa sih," kata Ellia.
"Kakak cantik salah tau, nama aku tuh Lio bukan Lio, masa aku yang ganteng gini di panggil Lio telus sih, Lio kakak Lio bukan Lio!" Rafa dan Ellia saling menatap, bingung apa yang di ucapkan anak gembul itu.
"Kan yang dari tadi maen sama dia itu lo, masa lo gak ngerti sih," jawab Rafa.
"Oke Rio..."
"Abang ganteng, Lio pake 'El' bukan pake 'El' iih gemes aku tuh," ucap bocah itu menyela ucapan Rafa dengan gemas.
Rafa menepuk dahi nya baru mengerti apa yang di maksud anak itu.
Cowok itu terkekeh. " Ooh abang ngerti, nama kamu itu Lio bukan Rio iya!" Lio mengangguk semangat. Akhirnya dua remaja di hadapannya ini mengerti juga.
Ellia tertawa kemudian menarik pipi gembul Lio dan menguyel nguyelnya.
Di angkat nya tubuh kecil bulat Lio dan di bawanya berputar membuat anak itu tertawa.
Tidak lama Ellia kembali menurunkan Lio menapaki tanah.
"Huh huh Lio berat banget sih," keluh gadis itu lalu duduk dan menyandarkan kepalanya di pundak Rafa.
"Ngapain juga lo ngangkat anak itu, gak liat badan, besaran badan Lio daripada lo," kata Rafa.
"Habis nya gemes, pengen gue bawa pulang deh jadi nya, Sasa! Gue pengen ngarungin itu anak," mendengar ucapan Ellia, Lio langsung berlari bersembunyi di balik tubuh Vira yang masih duduk tenang di tempat nya sambil menjilati lillipop miliknya, sedangkankan anak anak lainnya sudah pergi menemui orang tua mereka masing masing.
"Lio apaan sih, sono napa, geli tau minggir ah!" Ucap gadis kecil itu mendorong pelan tubuh Lio menjauh.
"Vila tolonin Lio dong, masa Lio mau di kalungin sama kakak cantik. Nanti kalo Lio di kalungin telus kalung nya di itet, telus Lio dak bisa napas kan nanti Lio bisa meninggoy cimana?" Adu Lio pada gadis kecil itu.
"Kakak mau tulik Lio ya!, iih keren banget, kaya di pilem yang Vila liat sama abang semalem, pentulik nya ganteng kayak abang itu," ucap Vira menunjuk wajah Rafa.
"Kok kelen sih, Lio mau di culik tau, masa ada paculik malah kelen," balas Lio.
"Gak ada yang mau nyulik Lio kok, kakak cantik nya cuma becanda," kata Rafa membuat Lio menghela nafas lega.
Beberapa detik kemudian datanglah seorang wanita yang di ketahui adalah ibu nya Vira dan membawa gadis kecil itu pergi. Tersisah lah mereka bertiga.
"Mama Lio kemana?, temen temen nya udah pada pulang loh itu," tanya Ellia menunggu nunggu ibu anak ini datang.
"Lio dak sama Mama, Lio sama abang, tapi tadi abang tinggalin Lio katanya mau tetemu temen," jawab Lio.
"Abang sama kakak mau pergi, Lio tunggu abang nya di sini sendirian bisa?" Tanya Rafa. Hari ini adalah hari nya bersama Ellia, Rafa ingin menghabis kan waktunya dengan Ellia sama seperti yang di lakukan nya dulu bersama Ellia. Tapi dulu mereka ber empat, Rafa, Raka, Nana, dan Lalang. Dan sekarang Rafa ingin bersenang senang bersama Ellia berdua saja, sebelum Raka mengetahui soal Nana.
"Dak mau, Lio mau ikut Kakak sama abang main," jawab Lio.
"Nanti abang Lio cariin gimana?" Tanya Ellia.
"Bialin ajah, suluh siapa Lio di tinggal,"
"Yaudah ayo kita main bareng ber tiga!" Kata Ellia akhirnya menyetujui.
Seketika Rafa menampilkan wajah tidak enak nya. Kenapa harus ada bocah ini, dia ingin hanya berdua saja dengan Ellia tapi gadis itu sendiri tidak mengerti.
"Tapi..."
"AYO KITA MAINN, AYO MELUNCUUL!" Pekik Lio lalu berlari kencang mendahului dua remaja itu.
"Udah gapapa Sa, AYO SASA! MELUNCUUR!" pekik Ellia juga menarik tangan Rafa untuk ikut berlari dan mengejar Lio di depan.
Meskipun begitu, tanpa Ellia sadari Rafa tersenyum sangat lebar melihat tingkah gadis itu.
.
.
.
bersambung