RaLia

RaLia
Suami



Di salah satu ruangan sebuah hotel ternama. Seorang wanita berhijab paruh baya berdecak kagum melihat penampakan indah dihadapannya ini sekarang. Sebuah cermin besar dihadapannya menampilkan bayangan sosok bidadari yang sangat cantik mempesona. Ia yakin ketika dia turun nanti, seluruh undangan akan sangat memujinya.


Ya. Hari ini tepat nya hari pernikahan Ellia dengan Rafa. Gadis yang sudah sangat siap dengan penampilan anggunnya itu duduk diam tidak berekspresi menatapi pantulan dirinya dicermin. Awalnya Ellia terkejut melihat sosok dirinya yang sangat berbeda dicermin. Tapi keterkejutan itu hanya sebentar. kemudian gadis itu bersikap biasa.


Suara akad yang baru akan dimulai terdengar dari sebuah layar yang terpasang disana. Ellia tidak ingin melihat ke layar itu dan mendengarnya, meminta wanita yang menghiasnya untuk mematikan volume nya agar ia tidak mendengar apapun. Yang Ellia ingin sekarang adalah kesepian.


Gadis itu memejamkan mata mengosongkan pikiran menciptakan kesepian didalam kepala nya. Hanya ada kesunyian hingga seseorang menepuk pundaknya membuat Ellia tersentak.


"Ayo sayang, udah waktunya kamu datangi suami kamu!" Ujar Nandini tersenyum manis pada putrinya.


Suami. Dirinya telah resmi menjadi istri orang sekarang. Dengan pasrah dan memantapkan hati, Ellia mengikuti langkah Nandini menuju aula utama hotel yang dijadikan tempat akad. Kedatangannya membuat seluruh orang disana terpaku. Tidak sedikit dari tamu yang berupa rekan kerja Reynand merasa menyesal dalam hati tidak bisa mendapatkan bidadari itu terlebih dulu sebagai menantu. Sungguh beruntung keluarga Putra mendapatkan gadis itu.


Ellia diarahkan Nandini untuk duduk dikursi samping laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Tanpa menunggu perintah dari Nandini, Ellia langsung mengambil tangan lelaki itu untuk diciumnya. Kemudian Rafa menarik kepala Ellia pelan untuk dikecup kening nya. Acara dilanjutkan dengan tukar cincin setelah beberapa doa di bacakan. Acara terus berlanjut meriah sesuai urutan. Mata Ellia tiba-tiba berkaca kaca mengingat ini adalah hari penting dalam hidupnya. Pernikahan bukan lah sesuatu yang remeh. Kedua nya saling terikat dan saling memiliki batasan, satu langkah salah akan menghancurkan segalanya. Ellia menerima pernikahan ini, ini sudah terjadi. Menolaknya pun sudah percuma yang ada nanti ia malah menciptakan kerusakan sendiri. Ellia tidak ingin ada kerusakan lagi.


...



...


Acara disiang hari sudah selesai. Semua tamu yang diundang sudah disiapkan kamar masing-masing di hotel itu untuk bersiap untuk acara malam nanti. Semua fasilitas yang mereka butuh dan mereka inginkan pun disediakan.


Gadis itu, mata birunya terpejam menikmati acara berendamnya di kamar mandi kamar hotelnya. Ia ingin berlama lama seperti ini, air yang tadinya hangat sekarang sudah menjadi dingin karena gadis itu terlalu menikmatinya hingga terlelap disana. Ketukan, eh bukan. Gebrakan pintu yang menimbulkan suara keras berhasil membangunkan gadis itu. Orang diluar sana berteriak panik tidak menerima balasan apapun dari dalam kamar mandi setelah lama mengetuk.


Mengabaikan teriakan dan suara pintu itu, Ellia bangun lalu membilas tubuhnya dan mengenakan jubah mandinya. Membuka pintu dan disana terdapat Nandini, Roosie dan Aca yang menatapnya panik. Ada apa dengan mereka, apa sesuatu telah terjadi.


"Kenapa?" Tanya Ellia menatap ketiga orang itu bingung.


"Apa nya yang kenapa. Kamu tuh kenapa dari tadi diteriakin, pintu digedor gedor gak ada jawab Mama. Kamu..." Nandini meraih tubuh Ellia lalu diputar-putar meneliti tubuh putri nya dari atas ke bawah. Menyingkap lengan jubah Ellia. Nandini menghela nafas lega tidak menemukan apapun ditubuh Ellia. Ia pikir gadis itu melakukan hal yang tidak-tidak karena sudah lama sekali Ellia berada di kamar mandi dan tidak juga menjawab panggilannya.


"Kenapa sih,"


"Udah, kalo gitu cepetan siap-siap!. Udah jam berapa ini, sebentar lagi acara resepsinya dimulai," kata Roosie.


Acara dimulai. Untuk acara malam hari ini tamu yang datang jauh lebih banyak lagi. Mereka juga mengundang beberapa artis, penyanyi juga dj ternama untuk mengisi hiburan di acara itu. Seluruh anggota Cakrawala dan Bharta generasi mereka dan generasi baru juga turut diundang. Ngomong-ngomong tentang dua geng itu, empat tahun lalu terdengar bahwa keduanya yang sebelumnya rukun menjadi saling bermusuhan. Ellia dan Esther bahkan tidak mengetahui apa-apa saat itu, mereka mengetahuinya ketika dua geng itu melakukan aksi saling serang yang mengakibatkan keributan dijalan. Setelah mengetahui masalahnya, Ellia dan Esther langsung menyelesaikan nya dengan tenang hingga kedua geng itu kembali akur. Dan posisi nomor satu dipegang Bharta setelah itu hingga hari ini.


Setelah tamu-tamu penting, para rekan kerja, teman-teman sekolah dan kuliah mereka selesai menyalami dan memberi kado pada sepasang pengantin baru itu, saat nya Cakrawala maju dipimpin Malvin dan Esther menyalami dan meletakkan kado ketempat yang sudah disediakan. Ellia langsung menghambur ke pelukan Malvin saat lelaki itu berdiri didepannya.


"Adik kecil kawin. Lo harus bahagia terus habis ini," ucap Malvin mengusap kepala Ellia. Tidak menyadari suami gadis itu menatap tajam tangan Malvin yang berani menyentuh gadisnya.


Ellia mengangguk, "makasih. Lo juga cepetan ngikat Zera, orang dibelakang lo membahayakan," bisik Ellia melirik orang dibelakang Malvin. Ellia tau, orang dibelakang Malvin itu menyukai tunangan Malvin. Vian, sahabat Malvin sendiri.


"Tenang, dua hari lagi gue kasih lo undangannya," Malvin berlalu digantikan Vian menyalaminya.


"Nyonya nikah gak ada senyumannya sama sekali dari tadi perasaan," tangan Vian terangkat berniat menarik pipi Ellia untuk membentuk senyuman disana. Namun lelaki yang berdiri disamping Ellia lebih dulu memukul tangan itu.


"Gila sih, lo berdua cocok banget dah. Sama-sama galak, gue gak ngerti nanti anak lo bakal kek apa bentuknya," kata Vian lalu pergi dari hadapan pengantin baru itu. Kemudian dilanjutkan Esther yang sudah mengikhlaskan Ellia. Esther percaya suami Ellia itu sangat mampu membahagiakan nya. Dirinya itu apa?, hanya seorang lelaki cacat.


"Bahagia terus ya!" Esther tersenyum tulus.


"Lo juga," balas Ellia.


"Tolong jaga dia!" Ucap Esther pada Rafa.


Rafa mengangguk pasti. Akhirnya seluruh tamu sudah selesai bersalaman dan memberi selamat pada pengantin itu. Acara semakin meriah ketika penyanyi terkenal menyanyikan lagu yang sangat viral akhir-akhir ini. Ellia menjatuhkan bokongnya ke kursi pelaminannya yang empuk, meringankan kaki nya yang pegal dan nyeri karena sejak tadi berdiri dengan menggunakan alas kaki berhak tinggi.


Rafa yang peka pun langsung berlutut dihadapan Ellia. Mengangkat salah satu kaki istrinya kemudian dibukalah sepatu hak yang sudah menyiksa Ellia sejak tadi. Memijat lembut namun dengan tekanan kuat membuat gadis itu merasa lebih baik. Ellia menatap suaminya itu intens. Tersadar terasa ada seseorang yang datang, Ellia mendongak. Dibelakang Rafa berdiri seorang lelaki yang mampu membuatnya tidak bisa bergerak saat itu juga. Lelaki yang dicarinya, lelaki yang memiliki wajah sangat mirip dengan lelaki yang sedang berlutut dihadapannya sekarang ini. Raka?.


Lelaki itu mengulurkan tangannya tanpa mengatakan apapun. Hanya senyuman yang lelaki itu tampilkan. Senyuman aneh yang tidak dapat dimengerti. Seperti senyuman itu tidak sepenuhnya tulus.


Ellia menyingkirkan tangan Rafa yang masih berada dikakinya. Ia berdiri menatap Raka dengan tatapan menyakitkan. Lelaki itu seenaknya saja menghilang setelah menyelamatkan nyawanya. Tanpa kata, tanpa permisi dan tanpa mendengarkannya.


Lelaki itu beralih memeluk saudara kembarnya berusaha mengabaikan tatapan Ellia.


"Gue kira lo gak akan dateng sekarang," ucap Rafa.


"Gak mungkin gue gak dateng buat liat kebahagiaan saudara gue sendiri,"


"Gue mau ambil minum sebentar," sela Ellia menjauh dari kedua saudara kembar itu.


...⚘⚘⚘...


Dengan menenteng sepasang sepatunya hak nya, pengantin baru itu berjalan lesu menuju sebuah kamar hotel yang akan ia tempati untuk bermalam bersama suaminya malam ini. Mata cantiknya sudah terasa berat, sangat ingin cepat-cepat terpejam. Ia membuka pintu kamarnya, kamar itu gelap, semua lampu padam. Yang bisa ia lihat adalah serang lelaki yang berdiri membelakanginya menghadap keluar jendela besar yang memperlihatkan gedung gedung besar disekitarnya.


Tidak memperdulikan itu, Ellia melempar asal sepatunya lalu menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang empuk yang nyaman itu.


"El!"


"Hm. Gue cape, mau tidur. Kalo mau ngomong, besok ajah!" Jawab Ellia.


"Kesini!" Titah Rafa tidak mendengarkan ucapan Ellia.


Ellia berdecak kesal. Dengan berat hati gadis itu bangkit menghampiri suaminya dan berdiri dibelakang lelaki itu.


"Apa,"


"Gue dibelakang lo!" Ellia menoleh kebelakangnya. Tepat saat itu lampu langsung menyala. Disana terdapat Rafa yang masih belum mengganti pakaiannya. Apa ini, kenapa kedua saudara kembar itu berada disini.


Ellia menatap bingung kedua lelaki itu. Ellia beralih pada lelaki yang masih menggunakan jas pernikahannya.


"Maafin gue Nana. Gue bohong lagi," ucapnya.


"Ada apa?"


"Kalo lo disuruh pilih antara kita berdua siapa yang akan lo pilih?" Ucap lelaki yang mengenakan kemeja putih.


"Gue pilih suami gue," jawab Ellia tidak berpikir lagi.


Kedua lelaki itu sama-sama tersenyum. Mereka sama-sama mempesona. Siapapun akan membatu melihat pemandangan dihadapan Ellia sekarang ini.


"Pilihan lo sangat tepat El. Dia akan buat lo bahagia seumur hidup lo. Yang perlu lo lakuin hanya menerima nya," kata lelaki berkemeja putih yang Ellia percaya adalah Raka.


"Maksudnya?"


Rafa mengeluarkan sebuah kalung cantik dengan gandulan heart dan mahkota diatasnya. Lelaki itu mendekat dan memakaikan kalung itu ke leher Ellia yang hanya diam saja.


...



...


"Gue minta lo buat bisa nerima dia sebagai suami lo. Gue tau lo keberatan sama pernikahan ini, dan lo harus tau kalo orang yang jadi suami lo sekarang adalah Raka,"


" Saking kesal nya lo sama gue, lo gak mau dengerin orang-orang dan merasa kalo yang menemani lo selama beberapa minggu ini dan akhirnya jadi suami lo itu adalah Rafa. Lo matiin volume layar ruangan lo, gak mau dengerin ijab kabul nya."


"Gue udah banyak bohong sama lo. Gue minta maaf. Gue cuma mau ngasih tau kalo yang nikah sama lo itu Raka, orang yang lo tunggu. Gue minta maaf, lo berdua harus bahagia. Dan gue pamit. Gue mungkin akan pergi jauh setelah ini,"


Ellia tercengang. Gadis itu menatap lelaki dihadapannya itu, yang tak lain adalah Raka. Jadi dirinya salah sangka. Ellia terkekeh.


"Hebat!" Kata Ellia.


Rafa pun pergi dari sana meninggalkan pasangan itu untuk berdua. Tugas nya sudah selesai. Ia akan pergi agar dirinya tidak mengganggu pikiran Ellia lagi. Rupa nya gadis itu belum melupakan kebohongannya. Hingga membuat dia tidak bisa lagi membedakan antara dirinya dan Raka. Rafa terkekeh gemas.


"Aku Sasa. Sasa yang asli, Sasanya Nana nakal yang suka mencuri kue. Kamu kangen aku kan," Raka menggoyang goyangkan alisnya menggoda Ellia.


"Hahaha... gak sanggup aku tinggal sampe bisa berubah jadi manusia es gini,"


"Lo bohong!" Geram Ellia.


"Siapa yang bohong. Semua orang udah coba ngasih tau kalo perjodohan itu dibatalkan dan digantikan sama aku. Tapi kamu selalu sibuk bekerja dan berusaha menghindar. Yaudah kita semua ikutin ajah apa yang kamu percaya. Gimana sekarang, hmm?" Jelas Raka gemas pada pipi bulat memerah favorit nya itu.


"GAK TAU KESEL, MARAH!" pekik Ellia langsung berlari memasuki kamar mandi dan mengunci pintu.


"Marah sama diri sendiri. Haha..."


...-BERSAMBUNG-...